
Setelah berkendara beberapa menit, Citra menyinggahkan mobilnya, di sebuah rumah makan yang letaknya tidak terlalu jauh dari pantai.
Pantai yang bukan sembarang pantai, bagi Bagio sekarang ini.
Karena akibat dari 'pantai' itu, hingga walaupun sudah beberapa waktu berlalu, bekas dari lipgloss Citra masih terasa di mulut Bagio.
Entahlah!
Mungkin juga karena Bagio yang memang tidak mengelap bekas ciuman Citra tadi, sehingga saat ini, Bagio merasa seolah-olah dia juga sedang memakai pelembab bibir, yang mengkilap milik Citra itu.
Sudahlah!
Biarkan saja Bagio menikmatinya lebih lama, sebelum dia memakan udang tempura, yang akan membuat mulutnya seret dan berminyak, dan mau tidak mau, Bagio harus mengelap bekasnya.
Sesekali, Bagio melirik Citra, yang tampaknya sudah lupa kalau dia baru saja menarik lepas jantung Bagio, lewat mulutnya tadi.
Oh, iya! Bagio harus memeriksa dadanya, apa masih ada yang berdetak di sana atau tidak.
Deg! Ternyata masih ada, walaupun irama degupannya tidak beraturan, kacau balau seperti bunyi gendang yang sudah rusak.
Astaga!
Bagio masih belum bisa percaya, kalau wanita seperti Citra bisa jadi pacarnya.
Senang? Tentu saja Bagio senang, tapi ... Bercampur dengan harap-harap cemas.
Bagaimana kalau Citra nanti hanya akan mematahkan hati Bagio, yang memang sudah patah dari sananya?
Kalau sampai terjadi demikian, maka Bagio mungkin tidak mau jatuh cinta lagi. Ehhem!
Mungkin ... Karena mana tahu, jika nanti Bagio sampai ketemu wanita yang lain lagi, yang bisa merapikan hati bagio yang mungkin akan hancur berantakan.
Ah! Bagio tidak boleh berpikiran negatif.
Karena, kalau pacarannya sampai bisa berjalan lancar, selain bisa membahagiakan, juga bisa jadi trofi kebanggaan, jika Bagio memamerkan Citra di kampungnya.
"Ada apa? Kenapa kamu belum makan?" tanya Citra, membuyarkan lamunan Bagio. "Apa kamu mau memesan makanan yang lain?"
"Eh! Nggak! ... Nggak usah! ... Ini saja sudah cukup," sahut Bagio buru-buru.
Citra lalu tampak menatap Bagio lekat-lekat.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Citra lagi, sambil memasang wajah datar.
"Nggak ada apa-apa," sahut Bagio, lalu mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Apa kamu memikirkan kejadian di pantai tadi?" tanya Citra. "Maafkan aku ... Aku memang seharusnya segera menjelaskannya kepadamu."
Menurut Bagio, kelihatannya apa yang sedang dipikirkan olehnya, dan Citra adalah dua hal yang berbeda.
__ADS_1
Dan kemungkinan, memang benar dugaan Bagio itu, karena Citra lalu berkata,
"Leon itu pernah berpacaran denganku, waktu kami masih di USA. Tapi aku memutuskan hubungan kami, karena sifatnya yang terlalu posesif."
"Dia bahkan tidak segan untuk memukulku, kalau dia sedang merasa cemburu. Meskipun aku hanya bertemu dengan teman-temanku saja....
... Padahal, justru dia yang sudah beberapa kali tertangkap basah olehku dan teman-temanku, saat dia sedang berselingkuh dariku di sana-sini," lanjut Citra.
Citra tampak menarik nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar, lalu meminum sedikit air putih kosong dari gelasnya.
"Dengan dibantu selingkuhannya, Leon bahkan menyebarkan gosip, kalau aku adalah wanita murahan, yang mau melakukan hubungan s*x dengan siapa saja, hingga mengidap penyakit infeksi kelamin....
... Isu itu tidak terbendung, dan menyebar hampir ke seluruh mahasiswa di kampus, walaupun aku sudah lama nggak ada hubungannya dengan Leon lagi," kata Citra.
Walaupun Citra berbicara dengan nada suara yang tenang, namun dari raut wajahnya, masih bisa terlihat kegusaran yang bercampur dengan kesedihan di sana.
"Maafkan aku ... Aku tadi memang memanfaatkanmu, agar dia berhenti menggangguku, dan berhenti memaksa agar aku kembali berpacaran dengannya," kata Citra pelan.
"Aku hendak menunjukkan kepada Leon, kalau aku masih bisa menemukan lelaki lain yang mau menerimaku, walaupun dia menebarkan fitnah di mana-mana, hingga aku mengaku-ngaku kalau kamu itu pacarku," lanjut Citra.
Bagio yang sedari tadi mendengarkan perkataan Citra, benar-benar tidak mengerti akan jalan pikiran dari Leon, jika memang benar dan sesuai dengan penuturan dari Citra.
Namun mengingat bagaimana gelagat Leon, saat Bagio sedang bersama dengan Citra, dan teman-teman Citra yang lain, rasanya Bagio memang bisa mempercayai perkataan Citra.
Leon berarti masih mengharapkan Citra untuk bersamanya. Tapi kenapa dia harus memakai cara yang seburuk itu?
Tindakan Leon itu, adalah sebuah tindakan pengecut dari seorang laki-laki, yang sama sekali tidak ada harga dirinya.
Dan Bagio menganggapnya sebagai hal yang sangat memalukan bagi seorang laki-laki, jika sampai melakukan hal-hal yang seperti itu.
Menurut Bagio, laki-laki seperti Leon, jangankan dijadikan sebagai kekasih, hanya sekedar teman pun, Leon tidak layak.
Tapi ... Bagio lalu teringat sesuatu.
"Teman-temanmu yang di pantai tadi, apa mereka semua tahu permasalahanmu dengan Leon?" tanya Bagio.
"Iya," jawab Citra. "Kenapa?"
"Hmm ... Nggak apa-apa. Aku cuma merasa bingung saja, kenapa mereka masih mau berteman dengannya," jawab Bagio.
"Kamu ternyata memang bisa berpikiran kritis," celetuk Citra.
"Aku memang sudah tahu kalau hanya Ody dan Marten saja yang masih bisa aku percaya. Sedangkan sisanya, adalah orang-orang yang munafik....
...Itu sebabnya, hingga aku nggak mau diajak berkumpul dengan orang-orang itu lagi. Aku mau saja pergi ke situ tadi, karena kamu sedang bersamaku....
...Karena jika aku nggak memperkenalkanmu kepada mereka, aku khawatir kalau kamu nanti salah paham....
... Aku nggak mau, jika kamu sampai mengira bahwa aku nggak menganggapmu siapa-siapa, hingga aku seolah-olah menyembunyikanmu dari kenalanku."
__ADS_1
Citra lanjut berbicara dengan panjang lebar, menjelaskan pada Bagio, bersama dengan alasannya.
Dan menurut Bagio, karena belum adanya komunikasi yang jelas di antara mereka berdua lah, sehingga baik Citra dan dirinya sendiri, sama-sama saling menjaga perasaan.
Bagio yang tidak tahu permasalahan Citra dengan teman-temannya, tadinya terpikir kalau dia seolah-olah hanya akan jadi penghalang Citra, untuk bertemu dengan teman-temannya.
Sebaliknya, Citra justru terpikir kalau Bagio mungkin akan tersinggung, jika Citra tidak mengajak Bagio, untuk berkenalan dengan orang-orang yang ada hubungannya dengan Citra.
"Kalau begitu, kita berdua sama-sama telah salah paham," kata Bagio.
"Apa maksudmu?" tanya Citra.
"Karena aku nggak tahu kalau hubunganmu nggak terlalu baik dengan mereka, hingga tadinya, aku justru mengira karena adanya aku yang sedang bersamamu...,
... mungkin hanya akan jadi penganggu saja, di antara kamu dan teman-temanmu itu," kata Bagio menjelaskan, apa yang sedang dipikirkan olehnya kepada Citra.
Citra tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hmm ... Sekarang aku akan memberitahumu sesuatu. Tolong dengarkan ini baik-baik!" ujar Citra.
"Walaupun kita baru saja berkenalan, tapi asal kamu tahu saja, kalau aku menganggapmu lebih penting bagiku, dibandingkan dengan semua kenalanku yang tadi....
...Aku benar-benar menyukaimu, dan aku nggak mau kalau kamu hanya mempermainkan perasaanku, karena aku pasti akan sangat membencimu nantinya....
...Sekarang aku memang jadi sangat penasaran. Apa kamu memang sungguh-sungguh menyukaiku? Atau hanya terpaksa saja menjadi pacarku, karena kekacauan tadi....
... Aku juga nggak mau, kalau kamu berpacaran denganku, hanya karena kamu merasa kasihan setelah mendengar ceritaku," lanjut Citra.
"Hmm ... Kelihatannya ada yang salah," celetuk Bagio, yang tanpa sadar telah mengeluarkan isi dalam kepalanya.
"Apa maksudmu?" tanya Citra, dengan memasang raut wajah tidak senang.
"Eh! Jangan marah dulu! Dengarkan dulu penjelasanku!" ujar Bagio buru-buru.
Citra lalu tampak menatap Bagio lekat-lekat, seolah-olah di memang menunggu Bagio untuk menjelaskan kepadanya, secepatnya.
"Aku menyukaimu, sejak pertama kali kita bertemu di rumahmu waktu itu. Tapi jujur saja, aku sadar diri kalau aku bukan siapa-siapa, jadi aku nggak berani untuk berharap banyak....
...Jadi maksudku tadi, bukan kamu yang seharusnya merasa nggak percaya diri, kalau ada orang seperti aku, lalu bisa jatuh cinta padamu....
...Ditambah lagi, bagaimana mungkin aku bisa terpikir untuk mempermainkan wanita sepertimu? Tentu itu adalah hal yang mustahil bagiku....
... Karena, jika kamu mau menerimaku apa adanya, sampai aku bisa menjadi pacarmu saja, aku sudah merasa kalau aku mungkin masih berada di alam mimpi, dan sulit untukku mempercayainya."
Tanpa merasa ragu, ataupun malu-malu lagi, Bagio menjelaskan panjang lebar, akan apa saja yang terlintas di dalam pikirannya, agar tidak ada lagi salah paham, antara dirinya dan Citra.
Dan seketika itu juga, Citra lalu terlihat senang, dan seolah-olah dia sedang merasa gemas dengan Bagio, sampai-sampai dia terlihat menggigit bibirnya sendiri, sambil tersenyum lebar.
"Bagio! ... I think, I really fell in love with you!" ujar Citra, dengan menggunakan bahasa asing.
__ADS_1