
"Mau jalan-jalan denganku?"
Itu kata-kata pertama yang keluar dari mulut Sucitra ketika Bagio baru tiba di Dorm, dan berpapasan dengannya.
Pengambilan gambar Bagio, di lokasi ke-dua, hanya memakan waktu satu jam lebih sedikit saja, hingga Bagio bisa lekas pulang, dan bersiap-siap untuk bertemu dengan Citra nantinya.
Kelihatannya, Sucitra juga baru saja diantarkan manajernya ke Dorm, hingga Bagio dan Sucitra, hampir secara bersamaan melewati pintu pagar Dorm.
"Mumpung masih sore," kata Sucitra lagi.
Aroma yang bisa tercium dari Sucitra, bercampur aduk, antara harumnya parfum dan pekatnya bau rokok, sampai-sampai rasanya, Bagio seolah-olah sedang berjalan bersama seorang laki-laki.
"Nggak bisa. Aku sudah ada janji malam ini," sahut Bagio.
"Ooh! ... Dengan anaknya Madam Sally?" tanya Sucitra.
Perasaan, Bagio tidak pernah bercerita tentang Citra, tapi Sucitra, wanita yang ada di sebelahnya ini, bisa-bisanya mengetahui, kalau Bagio membuat janji bertemu dengan Citra.
"Malam itu aku nggak sengaja melihatmu diantarnya pulang," kata Sucitra, yang seolah-olah bisa membaca pikiran Bagio.
"Apa kamu berpacaran dengannya?" tanya Sucitra, lagi.
"Iya," jawab Bagio, singkat.
"Jadi yang begitu seleramu, ya?!" ujar Sucitra, sambil tersenyum.
Bagio tidak mengerti akan ke mana arah pembicaraan dari Sucitra.
Karena menurut Bagio, nada suara dari perkataan Sucitra barusan, seolah-olah sedang merendahkan Bagio, atau merendahkan Citra.
Tapi Bagio tidak mau memusingkan kepalanya, dengan berlama-lama memikirkannya, karena mengingat Sucitra yang memang suka bicara, atau berbuat semaunya sendiri saja.
Setelah menyambungkan ponselnya di pengisi daya, Bagio segera pergi ke kamar mandi, meninggalkan Sucitra, yang sempat terlihat oleh Bagio tadi, sedang melepaskan pakaiannya di dalam kamar.
Sembari menggosok-gosok badannya dengan sabun, di bawah jatuhan air pancuran, Bagio teringat akan Dirga.
Yang selama beberapa waktu belakangan ini, semenjak Dirga dirawat di rumah sakit waktu itu, Bagio tidak pernah lagi bertemu dengannya.
Bagio tidak pernah melihatnya di kamar mandi, atau di bagian manapun di dalam Dorm.
Apa Dirga memang berhenti bekerja menjadi model?
Bagio menyesalkan waktu itu, karena dia tidak terpikirkan untuk meminta kontak Dirga.
Kalau Bagio memiliki nomor ponsel Dirga, paling tidak, walaupun hanya sekedar saling bertanya kabar, mereka masih bisa saling menghubungi.
Apalagi di saat-saat seperti sekarang ini, ketika Bagio butuh teman bicara, karena Bagio tidak mungkin bercerita tentang tingkah Sucitra kepada Citra.
Citra pasti tidak akan senang mendengarnya, dan kemungkinan besar, Citra malah hanya akan menduga-duga, kalau Bagio mungkin akan melakukan sesuatu yang tidak senonoh dengan Sucitra.
Bagio juga tidak bisa menceritakan apa yang dipikirkannya kepada Hana atau Andi, karena kalau Bagio sampai salah bicara, bisa-bisa, Sucitra dikeluarkan dari Dorm.
Bukan karena Bagio tidak bisa lagi melihat Sucitra, yang hanya memakai segitiga pengaman yang jadi pertimbangannya, hingga Bagio khawatir kalau-kalau Sucitra dikeluarkan.
__ADS_1
Melainkan, Bagio tentu tidak mau Sucitra terkena masalah, hanya karena Bagio yang masih belum bisa mengerti, akan jalan pikiran dari wanita itu.
***
Bagio sudah selesai mandi, namun dia masih menunggu pakaiannya, yang masih belum selesai dibersihkan di dalam mesin cuci.
Bagio masih berdiri menunggu di dalam ruang cuci, ketika Bagio melihat Sucitra berjalan di luar.
Sucitra kelihatannya baru selesai mandi, dan hanya berlilitkan handuk menutupi sebagian badannya, sedang berlalu pergi dari kamar mandi, yang letaknya berdekatan dengan ruang cuci.
Apakah sebuah keberuntungan, ataukah kesialan? Hingga Bagio mendapatkan teman sekamar yang modelannya seperti Sucitra ini.
Dua teman sekamar Bagio yang lain, juga sama tidak beres otaknya.
Iya ... Tidak beres.
Karena sejak Juno, mengganggu Bagio pagi itu, rekan sekamar Bagio yang satunya lagi, tampak seolah-olah memusuhi Bagio.
Kalau ada kesempatan bagi Bagio berpapasan dengannya, pasangan gay dari Juno itu, pasti akan memasang raut wajah tidak senang, dan seolah-olah dia akan memukuli Bagio.
Yang mengganggu siapa, yang dimarahi siapa.... Ckckck!
Bagio menggeleng-gelengkan kepalanya, saat memikirkan tentang rekan-rekan sekamarnya itu.
Mesin cuci sudah berhenti beroperasi, Bagio lalu segera mengeluarkan pakaiannya dari sana, dan berjalan kembali ke kamar, sambil membawa pakaiannya itu.
Di dalam kamar, seperti biasanya di waktu-waktu belakangan ini, Sucitra pasti hanya memakai pakaian dalam untuk menutupi sebagian kecil, bagian bawah perutnya.
Tapi kali ini, kelihatannya wanita itu akan berpakaian lengkap, karena dia terlihat membongkar kopernya, dan mengeluarkan pakaian dari dalam sana.
Bagio memakai pakaiannya, tanpa mau terlalu memperhatikan gerak-gerik Sucitra, yang berada di sampingnya, bersela satu tempat tidur.
"Bagio!"
Sucitra tiba-tiba memanggil nama Bagio, dan Bagio menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Bagio.
"Ini! ... Aku membelinya, tapi ternyata aku sudah memiliki barang yang sama," kata Sucitra. "Apa kamu mau?"
Sucitra menyodorkan selembar kemeja berwarna biru, bermotif kotak-kotak, berbahan flanel, dan satu lembar kaos oblong berwarna putih polos.
Dan kedua lembar pakaian, yang diberikan oleh Sucitra itu, terlihat masih ada kertas label harga yang bergelantungan di sana.
Tinggi badan Bagio dan Sucitra, kurang lebih sama, hanya saja, badan Bagio masih lebih berisi dengan otot, yang padat dan kencang.
Dengan begitu, menurut dugaan Bagio, kaus dan kemeja dari Sucitra, kemungkinan besar akan muat di badannya.
Bagio lalu menerimanya, sambil berkata,
"Nggak apa-apa, kalau kamu cuma memberikannya begitu saja? Kalau aku ganti harganya, bagaimana?"
"Tsk! ... Nggak usah membayarnya. Coba kamu lihat ini!" Sucitra memperlihatkan kemeja dan kaos yang sama persis, dengan yang sedang dipegang oleh Bagio.
__ADS_1
"Saranku, kalau kamu memakainya nanti, untuk celananya, pakai celana panjang blue jeans. Jangan dipasangkan dengan celana seperti itu!"
Sucitra lanjut berbicara, sambil menunjuk dengan matanya, celana berbahan kain drill yang sedang Bagio pakai sekarang ini.
"Kamu pasti terlihat lebih keren, untuk casual date night," kata Sucitra lagi, sambil memakai kaus dan kemeja, yang mirip dengan yang dia berikan kepada Bagio tadi.
"Terima kasih!" ucap Bagio.
"Nggak perlu dipikirkan. Aku sering salah belanja, dan aku pasti akan memberikannya kepada orang lain," sahut Sucitra. "Mau kemana rencananya kalian nanti?"
"Paling-paling pergi makan malam saja," jawab Bagio, sambil lanjut bersiap-siap.
Sucitra manggut-manggut seolah-olah mengerti, lalu berkata,
"Aku sudah mengenal Citra cukup lama, ketika dia masih tinggal di USA ... Jadi, kalau-kalau kamu mau tahu, apa saja kesukaannya saat berkencan, aku bisa memberitahumu nanti."
Sucitra terlihat sudah selesai berpakaian, dan begitu juga Bagio yang sudah siap untuk bepergian.
"Aku akan pergi ke pub malam ini. Lain kali, aku akan mengajakmu ikut denganku," kata Sucitra.
Bagio tidak menanggapi perkataan Sucitra, dan hanya melenggang keluar dari dalam kamar, dan Sucitra juga ikut menyusul keluar bersamanya.
Sembari berjalan bersebelah-sebelahan, keluar dari kamar mereka, Bagio memandangi Sucitra, yang terlihat tidak memakai riasan wajah sama sekali.
Pakaian yang di pakai Sucitra pun, adalah celana jeans panjang, kaus oblong berlapis kemeja yang digulung sedikit di bagian lengannya, dan dipadankan dengan sepatu kasual.
Ditambah lagi dengan sebatang rokok yang menyala di tangannya, membuat Sucitra benar-benar terlihat seperti seorang laki-laki yang tampan.
Tanpa sadar, Bagio menggeleng-gelengkan kepalanya, hingga tampaknya ikut menarik perhatian dari Sucitra.
"Ada apa?" tanya Sucitra.
"Kamu seperti laki-laki," jawab Bagio.
"Ooh! ... Biasa saja. Memang sudah begini adanya. Mau diapakan lagi?!" sahut Sucitra, enteng.
Seolah-olah sudah janjian, Sucitra dan Bagio berdiri bersama-sama di luar pagar, sambil menunggu jemputan masing-masing, dan ketika Citra datang dengan mobilnya, Sucitra juga terlihat dijemput seseorang di sana.
***
"Kamu mengenalnya?" tanya Citra tiba-tiba, setelah mobilnya mulai melaju di jalan raya, sambil membawa Bagio bersamanya.
"Ugh ...?" Bagio kebingungan, akan apa dimaksud dari pertanyaan Citra barusan.
"Sucitra ... Apa kamu mengenalnya?" Citra mengulang kembali pertanyaannya.
"Ooh! ... Dia sekamar denganku di Dorm," jawab Bagio.
Seketika itu juga, raut wajah Citra tampak berubah drastis, namun wanita itu tidak mengatakan apa-apa kepada Bagio.
Sehingga membuat Bagio merasa curiga, kalau sepertinya ada sesuatu antara Citra dan Sucitra.
Walaupun demikian, Bagio juga tidak mau memaksa Citra untuk menceritakan, akan apa alasan yang membuatnya, sampai bisa terlihat seperti orang yang sedang merasa cemas.
__ADS_1
Dengan begitu, Bagio memilih untuk diam saja, dan bertingkah seolah-olah dia tidak menyadari, perubahan di raut wajah Citra sekarang ini.