Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 29


__ADS_3

Berlanjutlah sesi pemotretan di kolam renang yang ada di rumah Citra itu, meskipun giliran pengambilan gambar Bagio sempat tertunda, dan digantikan model lain lebih dulu.


Citra tampak bersikeras, bahwa dia tidak mau mengambil gambar Bagio, selama Bagio belum bisa berkonsentrasi.


Jangan ditanya lagi tatapan tajam dari mata orang-orang yang ada di situ, yang sudah seperti kucing yang siap bertarung dengan anjing, gara-gara kegugupan Bagio yang mengganggu sesi pemotretan itu.


Sampai-sampai, Bagio rasanya mau meloncat dari pagar pembatas dan terjun bebas tanpa parasut, ke dasar lembah yang ada di balik pagar, saking malunya.


Apa yang salah dengan Bagio hari ini?


Kenapa Bagio bisa sampai gemetar hebat di depan Citra?


Ah! Sudahlah!


Sesi pemotretan juga sudah berakhir. Yang sudah terjadi, yaa sudah!


Seperti yang dibilang Citra tadi, Bagio tidak segera pergi dari lokasi pemotretan itu, walaupun sesi pengambilan gambar sudah berakhir.


Bagio diantar oleh salah satu asisten Citra, masuk ke dalam sebuah ruangan, yang tampaknya juga dijadikan sebagai studio foto.


"Anda bisa duduk di situ!" Asisten Citra menunjuk ke arah sofa diletakkan dekat dinding.


"Tunggu saja di sini sebentar! Kata Miss Citra tadi, dia tidak akan lama." Asisten Citra itu kemudian beranjak pergi dari dalam ruangan itu, meninggalkan Bagio sendiri di sana.


Bagio menunggu kedatangan Citra, dengan duduk di sofa yang ditunjukkan kepadanya tadi, dengan rasa gugupnya yang semakin menjadi-jadi.


Rasanya benar-benar tidak lama, Citra sudah terlihat berjalan masuk melewati pintu, lalu ikut duduk dengan Bagio, di salah satu bagian sofa yang kosong, dan posisinya yang berhadapan dengan Bagio.


"Dari beberapa model yang diajukan padaku, aku memilihmu secara khusus. Aku bahkan mencari tahu latar belakangmu....


... Jadi aku tahu kalau kamu masih anak baru. Tapi, bukan berarti kamu bisa bersikap tidak profesional," ujar Citra.


"Maafkan aku...." ucap Bagio pelan.


Citra terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu bisa jadi model yang diperhitungkan, asalkan kamu bisa mempertahankan profesionalitas mu!" ujar Citra.


"Aku tidak pernah berhubungan dengan model-modelku di luar jam kerja. Tapi rasanya kali ini, aku masih ingin bertemu denganmu lagi....


... Saat kamu tidak sedang bekerja, apa kamu mau bertemu denganku?" lanjut Citra blak-blakan.


"Eh?!" Bagio tersentak.


"Hmm ... Kamu tidak mau?" tanya Citra.


"Mau!" sahut Bagio buru-buru.


Citra lalu tampak tersenyum lebar.


"Kalau begitu, nanti aku hubungi manajermu agar kita bisa bertemu. Karena sekarang kamu pasti sudah ditunggu, untuk pekerjaan selanjutnya."


Setelah Citra selesai mengatakan apa yang dia ingin bicarakan dengan Bagio, Citra lalu berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


Bagio pun ikut berdiri, dan berjalan menyusul Citra, keluar dari dalam ruangan itu.


"Jangan terlalu memikirkan kekacauan tadi! Bekerjalah dengan baik! Okay?!" ujar Citra, sambil tersenyum.


"Iya. Terima kasih," sahut Bagio. "Aku pergi dulu!"


Citra menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga Bagio segera keluar dari rumah Citra, dan menemui Hana yang sudah menunggunya di dalam mobil.


"Apa kamu tahu siapa Miss Citra itu?" tanya Hana kepada Bagio, setelah Bagio masuk ke dalam mobil, dan kendaraan itu segera berlalu pergi dari kediaman Citra.


Bagio menggelengkan kepalanya. "Nggak."


"Dia anak satu-satunya dari Madam Sally," kata Hana.


Bagio terbelalak.


Pantas saja Hana tidak ribut saat Bagio harus menunda waktunya, dengan menemui Citra tadi.


"Kamu bisa berbangga. Karena selama ini, baru kamu saja, model yang kelihatannya bisa menarik perhatian Miss Citra," lanjut Hana, sambil tersenyum.


Perkataan Hana, seakan-akan mengkonfirmasi kebenaran dari pernyataan Citra tadi.


Spontan, Bagio jadi tersipu-sipu malu.


Ah! Bagio! Bagio ...!


Jangan jadi kebiasaan, untuk terlalu banyak bermimpi!


Karena kalau cuma bentuk tubuh dan wajah Bagio saja, sebagai seorang fotografer, tentu Citra tidak merasa asing, untuk bertemu dengan laki-laki yang tampilannya seperti Bagio.


Jadi, belum tentu Citra tertarik dalam hal fisik, seperti bagaimana ketertarikan Bagio, yang rasanya ingin menjadikan Citra sebagai pacarnya, kan?


Eh! Pacar?


Ckckck ... Bagio harus segera sadar, sekarang!


Ingat! Wanita yang cantik, pintar, dan kaya seperti Citra, tentu berada di luar jangkauan orbit Bagio.


Citra itu adalah planet Saturnus, sedangkan Bagio hanyalah sebutir debu di antara bongkahan batu di cincin planet itu.


Bagio bisa mendekat, tapi tidak bisa mendarat ataupun menyentuh permukaannya.


Sudahlah!


Kecuali Bagio sudah bisa menjadi matahari, barulah Bagio bisa berharap agar planet-planet seperti Citra, akan mengelilinginya karena membutuhkan cahayanya.


***


Setelah pemotretan di rumah Citra, Bagio hanya memiliki satu lokasi kerja yang lain, yang sudah terjadwal untuk hari itu.


Bagio yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri lagi, tidak mengalami kesulitan yang berarti saat sesi pemotretan berlangsung.


Seperti biasanya, Bagio merasa santai saja saat diambil gambarnya, dengan berbagai macam gaya.

__ADS_1


Ternyata, di antara model yang bekerja bersama Bagio di lokasi pemotretan yang ke-dua itu, ada salah satu dari mereka yang ikut ambil bagian, dalam sesi pemotretan di rumah Citra tadi.


Salah satu model laki-laki itu kemudian menghampiri Bagio, dan mengajak Bagio bercakap-cakap dengannya, saat mereka sama-sama menunggu gilirannya untuk dipotret.


"Kamu kali ini kelihatannya baik-baik saja. Lalu, kenapa tadi pagi kau bisa mengacau?"


"Aku juga nggak tahu," sahut Bagio pelan.


"Apa kamu dimarahi fotografer?" tanya model laki-laki itu. "Kamu dipanggil untuk bertemu dengannya, setelah sesi tadi, kan?"


"Nggak juga. Dia hanya memberiku teguran," jawab Bagio.


"Lain kali, kamu harus lebih berkonsentrasi kalau sedang bekerja," kata model laki-laki itu, kemudian berjalan menjauh dari Bagio, karena sudah dipanggil untuk berdiri di set.


Walaupun model laki-laki tadi tidak memberikan Bagio nasihat pun, Bagio sudah tahu tanggung jawabnya.


Bagio tidaklah pernah berencana, untuk mengacau dalam pekerjaannya, tapi mau bagaimana lagi?


***


Entah berapa lama sesi pemotretan di situ berlangsung, Bagio sudah tidak menyadarinya lagi, karena dia yang benar-benar terfokus untuk bekerja sebaik mungkin.


Menurut Bagio, produk pakaian jadi yang dipotret untuk katalog mode kali ini, model-model dan bahannya bagus.


Hampir semua pakaian yang dikenakan oleh Bagio untuk diambil gambarnya, terasa nyaman dipakai, dan benar-benar cocok rasanya kalau dipergunakan saat jalan-jalan, atau pergi ke acara yang tidak resmi.


Padahal menurut penuturan Hana, pakaian-pakaian itu dijual dengan harga yang tidak terlalu mahal.


Jika Bagio membutuhkan baju baru, maka produk pakaian dari merek itu, akan masuk dalam keranjang belanja pilihan Bagio nantinya.


***


"Miss Citra menghubungiku tadi," celetuk Hana.


"Dia mau bertanya tentang jadwalmu hari ini. Katanya dia sudah membuat janji untuk bertemu denganmu, kalau pekerjaanmu sudah selesai," lanjut Hana lagi.


Mobil yang ditumpangi Bagio dan Hana, terasa sedikit berguncang, ketika roda-rodanya masuk ke dalam lubang-lubang jalan raya yang rusak.


Rencananya, Bagio akan diantar kembali ke Dorm, sekarang ini.


"Hmm ... Lalu, apa yang kamu bilang?" tanya Bagio.


"Ya, aku beritahu kalau pekerjaanmu hampir berakhir. Miss Citra akan menjemputmu di Dorm, jam setengah delapan nanti," jawab Hana.


"Jam berapa sekarang?" tanya Bagio lagi.


Hana lalu melihat tampilan layar ponselnya. "Jam enam, lewat sedikit."


"Eh! Kalau begitu, aku mungkin nggak akan sempat berolahraga," sahut Bagio ragu.


"Sepulangnya kamu nanti, kan masih bisa?!" ujar Hana. "Aku nggak mungkin membatalkan rencana Miss Citra."


Bagio akhirnya hanya bisa manggut-manggut mengerti, tanpa mau berbantahan dengan Hana lagi.

__ADS_1


__ADS_2