Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 31


__ADS_3

Anak panah pertanyaan Citra, melesat tepat mengenai ke dada Bagio hingga menembus ke bagian punggungnya.


Walaupun Bagio tidak mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya, namun Citra seolah-olah bisa mengetahuinya, hanya dengan melihat wajah Bagio saja.


Lalu, apa sekarang akan lebih baik, kalau Bagio mengaku saja?


Apa yang akan jadi tanggapan Citra nanti?


Tidakkah nanti Bagio hanya akan dianggap seolah-olah dia tidak tahu diri?


"Nggak jadi masalah bagiku, kalau memang benar begitu. Karena aku justru merasa senang, kalau ada orang yang bisa tertarik padaku, meski baru bertemu untuk pertama kalinya....


... Tapi yang jadi masalahnya, kalau kamu nggak bisa mengendalikan dirimu seperti tadi pagi, maka kamu hanya akan merusak nama baikmu saja nantinya," kata Citra.


Bagio hanya bisa terdiam.


"Aku sudah bilang, kalau aku melakukan pengecekan latar belakangmu, kan?! Jadi aku tahu, kalau kamu itu kemungkinan besar adalah pemuda yang baik....


... Dengan begitu, bekerjalah dengan baik ...! Aku ingin melihat, kalau kamu memang sesuai dengan ekspektasi ku, hingga kamu bisa berhasil," lanjut Citra.


Bagio kemudian menganggukkan kepalanya, pelan.


"Jangan terlalu kaku ...! Santai saja ... Paling nggak, kamu anggap saja seolah-olah kita berdua sudah saling mengenal dalam waktu yang lama. Bisa, kan?!" ujar Citra, sambil tersenyum.


Wajah Citra yang cantik, jadi semakin menarik ketika dia tersenyum lebar seperti itu, hingga Bagio juga ikut tersenyum melihatnya.


"Apa lain kali, kamu masih mau bertemu denganku lagi?" tanya Citra.


"Eh?! ... Iya, aku mau ... Tapi bagaimana denganmu?" Dengan rasa ragu, Bagio balik bertanya.


"Pffftt ...! Tentu saja aku juga mau! Makanya aku sampai bertanya padamu," jawab Citra, sambil tertawa kecil.


Melihat reaksi dari Citra, Bagio jadi sedikit percaya diri, untuk mencoba mengakrabkan diri, dan berbincang-bincang dengan wanita itu.


"Kapan lagi kamu ada waktu?" tanya Bagio.


"Oh, iya!" Citra tidak menjawab pertanyaan Bagio, melainkan tampak sibuk melihat isi di dalam tasnya.


Citra lalu mengeluarkan sebuah kotak bergambar ponsel dari dalam tasnya, dan meletakkannya ke atas meja, kemudian menggesernya mendekat pada Bagio.


"Ini ponselku yang nggak terpakai," ujar Citra.


Bagio tidak segera mengambilnya, melainkan hanya menatap benda itu lekat-lekat.

__ADS_1


Kelihatannya benda itu masih baru, karena plastik bening yang jadi pembungkus bagian terluarnya, tampaknya masih menutupi semua bagian kotak ponsel itu rapat-rapat.


"Apa kamu nggak mau? Apa aku hanya membuatmu merasa tersinggung?" tanya Citra, dengan raut wajah cemas.


"Eh! Bukan begitu!" jawab Bagio buru-buru.


Bagio lalu mengambil kotak ponsel itu dan melihatnya baik-baik, dengan sedikit memutarnya, hingga Bagio bisa melihat semua bagiannya.


"Terima kasih! ... Tapi ... Aku nggak tahu cara memakainya," lanjut Bagio pelan.


Citra lalu kembali tersenyum lebar. "Kamu sudah selesai makan? ... Ayo ikut lagi denganku sebentar!"


Bagio menganggukkan kepalanya, lalu berdiri dari tempat duduknya, mengikuti Citra yang sudah berdiri lebih dulu.


"Kamu duluan saja pergi ke mobil!" kata Citra.


Lagi-lagi, Bagio menuruti saja perkataan dari Citra itu, dan lanjut melangkahkan kakinya menuju ke mobil Citra yang terparkir di luar.


Tidak berapa lama Bagio menunggu dengan berdiri di samping mobil Citra, wanita itu kemudian tampak berjalan keluar dari dalam rumah makan.


"Aku akan mengajarkanmu sedikit, caranya menggunakan ponsel itu ... Kamu belum terlalu lelah, kan?!" tanya Citra.


"Seharian tadi, aku hanya bekerja di dua lokasi saja," jawab Bagio.


"Okay! Katakan saja, kalau kamu ingin segera kembali ke Dorm," ujar Citra.


"Ada yang bisa aku bantu, Mas? Mbak?" Salah satu dari penjaga toko, segera menyapa Bagio dan Citra dari sebalik etalase kaca, yang tingginya hampir se-dada penjaga toko itu.


"Berikan ponsel itu padanya ...!" kata Citra kepada Bagio.


Setelah Bagio meletakkan kotak ponsel ke atas etalase, Citra kemudian berkata kepada penjaga toko,


"Tolong masukkan kartu perdana! Sekalian diisi pulsanya seratus ribu!"


"Ooh ...! Okay! Tunggu sebentar, ya, Mbak! Mas!" Penjaga toko itu kemudian menunjuk kursi kosong yang berjejer, dan tersandar di dinding. "Bisa duduk di situ saja!"


Bagio yang menunggu bersama Citra di situ, sambil duduk berdampingan di kursi yang ditunjukkan penjaga toko, kepada mereka tadi, lalu berkata,


"Kelihatannya, aku hanya merepotkanmu saja."


"Ckckck ...! Nggak apa-apa. Nggak usah terlalu kamu pikirkan. Karena aku juga yang mau, agar kita bisa berhubungan kapan saja....


... Kalau kamu ada ponsel, maka aku nggak perlu menghubungi Hana, hanya karena aku yang ingin bicara, atau bertemu denganmu," sahut Citra.

__ADS_1


"Satu lagi! Kamu nggak perlu merasa terbeban, karena ponsel yang aku berikan itu. Aku nggak membutuhkannya. Selama ini, ponsel itu hanya terbiar begitu saja di atas rak di studio ku....


... Tentu akan lebih baik, kalau akhirnya ada yang menggunakannya, kan?!" lanjut Citra tampak bersikeras, agar Bagio menerima ponsel itu tanpa perlu merasa ragu.


Beberapa waktu kemudian, ponsel baru pemberian Citra untuk Bagio akhirnya di kembalikan oleh penjaga toko, dan sudah siap untuk dipergunakan.


Citra lalu mengajarkan Bagio memakai ponsel barunya, sambil tetap duduk di kursi yang ada di dalam toko itu.


Ternyata menggunakan ponsel itu, tidaklah sesulit dugaan awal Bagio, dan dengan mudahnya Bagio bisa langsung mengerti apa yang diajarkan oleh Citra kepadanya.


Mulai dari cara menelepon, mengirimkan pesan singkat, hingga cara menggunakan aplikasi WhatsApp untuk berhubungan secara daring.


Bukan hanya itu saja.


Citra juga mengajarkan cara memakai media sosial Instagram dan Facebook, sekaligus dengan membuatkan akun baru untuk Bagio.


Ketika Citra mengajarkan Bagio, caranya memasang foto profil di akun media sosial Bagio yang baru saja jadi, ada hal yang lain yang menarik perhatian Bagio, selain urusan tentang ponsel barunya itu.


Apa mungkin Citra juga memiliki perasaan yang sama, seperti perasaan Bagio kepada wanita itu?


Bagio tidak sedang berkhayal, hingga bisa memikirkan tentang hal seperti itu, sekarang ini.


Di aplikasi penyimpanan gambar di ponsel Citra, terlihat menampilkan beberapa foto Bagio di sana.


Bagio juga bukan hanya merasa terlalu percaya diri.


Pada awalnya, Bagio menduga kalau Citra sengaja menyimpan foto dari semua model-model, yang pernah dipotret olehnya.


Tapi, setelah Bagio memperhatikan baik-baik layar ponsel Citra, Bagio bisa memastikan satu hal.


Di antara foto-foto yang bisa dia lihat di tampilan ponsel Citra, hanya ada gambar Citra yang berfoto sendirian, atau gambar dirinya yang diambil bersama-sama dengan teman-temannya.


Hanya gambar Bagio yang tampak berbeda dari gambar yang lain, karena di foto itu bergambar Bagio yang hanya sendirian saja.


Seolah-olah foto-foto Bagio itu cukup istimewa bagi Citra, hingga dia sampai menyimpannya di ponsel pribadinya.


Dan lebih menariknya lagi, foto-foto Bagio itu bukan hanya foto saat Bagio memakai pakaian renang, yang memang sengaja dipotret untuk iklan.


Ada beberapa foto Bagio yang berdiri di dekat pagar pembatas rumah Citra, yang tentu saja, Citra berarti mengambil gambar Bagio itu, tanpa sepengetahuan Bagio.


Walaupun demikian, Bagio tidak mau mengutarakan pertanyaan atas rasa penasarannya kepada Citra.


Karena saat ini, Citra pasti tidak sadar kalau Bagio bisa melihat isi ponselnya, sebab dia yang terlalu sibuk mengajarkan Bagio cara menggunakan ponsel.

__ADS_1


Dan menurut Bagio, jika saja dia bertanya, mungkin hanya akan membuat situasi antara dirinya dan Citra, menjadi terasa canggung.


Dengan begitu, Bagio memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat, dan berpura-pura seolah-olah dia tidak melihat ataupun mengetahui, akan gambar-gambar dirinya yang diambil Citra tanpa izin.


__ADS_2