Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 39


__ADS_3

"Ada apa lagi dengan wajahmu kali ini?" ujar Hana, menyentak Bagio.


Sudah sedari tadi Bagio membaca dan membalas pesan dari Citra, namun rasa senangnya, membuat Bagio seakan-akan tidak bisa berhenti untuk tersenyum.


Meskipun mulut Bagio terkatup, tapi karena bibir Bagio yang bergerak ke sana kemari, untuk menahan diri agar tidak tersenyum lagi, malah tampaknya hanya membuat Hana merasa terganggu melihatnya.


"Hehehe! ... Ada deh!" sahut Bagio, sambil tertawa kecil.


Hana menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tampak menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Huuffft...! Kamu ini...!"


"Sini ponselmu! ... Cepat pergi ke sana! Jangan membuat mereka menunggu lebih lama!" ujar Hana.


Hana menyuruh Bagio, agar segera mendatangi set pengambilan gambar, di mana para kru yang terlibat di pekerjaan itu, sudah menunggu Bagio.


Ketika Bagio dan Hana tiba di lokasi kerja Bagio itu, Bagio memang tidak langsung bersiap untuk difoto.


Karena Bagio yang masih menyempatkan diri, untuk memakan makan siangnya lebih dulu, yang sudah sangat-sangat terlambat.


Bagio juga masih harus mengoleskan cairan kental, yang disebut tabir surya ke badannya, dengan sesekali dibantu Hana, di bagian mana saja yang tidak bisa dijangkau oleh tangan Bagio.


Setelah selesai dirias wajahnya, dan berganti dengan pakaian yang sudah disediakan, Bagio segera berdiri di dekat air, yang menjadi latar belakang foto.


Tema pengambilan foto Bagio kali ini, cocok dengan suasana hati Bagio.


Sesi pemotretan yang mengharuskan modelnya memasang wajah ceria, sambil mengenakan pakaian yang berwarna-warni.


Bagio jadi tidak perlu untuk berpura-pura terlihat senang, karena memang begitulah adanya perasaan Bagio sekarang ini.


Dengan demikian, Bagio tidak kesulitan untuk berpose dalam pengambilan gambarnya oleh sang fotografer.


"Bagus! ... Sekali lagi! ... Iya, begitu!" ujar si fotografer, yang tampak bersemangat.


Entah karena mood Bagio yang sedang bagus, atau memang situasi di lokasi pemotretan itu, yang sama cerianya dengan tema foto.


Semua orang yang mengambil bagian dalam pekerjaan itu, kelihatannya tidak ada yang tidak bersemangat.


Tempat pemotretan yang tetap terasa panas, meskipun angin yang berhembus di sana cukup kencang, karena dilakukan di tempat terbuka di atas pasir pantai, namun semua orang tampak menikmati pekerjaan mereka.


Dan bukan hanya orang-orang yang memang ada hubungan dengan pekerjaan itu saja, yang terlihat begitu.


Beberapa pengunjung di pantai, yang menonton sesi pengambilan gambar itu juga kelihatannya ikut tertarik, untuk tetap berlama-lama melihat kegiatan pemotretan di tempat itu.


Bahkan Bagio sempat melihat, kalau ada beberapa orang yang menggunakan ponsel mereka, untuk ikut memotret para model yang berpose di sana.


Tapi Bagio memang harus mengakui, kalau pengambilan gambar di pantai itu memang terasa lebih menyenangkan.


Selain dia bisa lebih bebas berekspresi, Bagio juga bisa bebas memandangi manekin hidup, yang hanya memakai pakaian renang yang minim kain.

__ADS_1


Lumayan saja untuk cuci mata, kan?!


Asalkan Bagio tidak menatap di satu manekin lama-lama, dan sering-sering memindahkan titik pantauannya, tentu Bagio tidak akan dituduh melakukan pelecehan dengan matanya.


Benar tidak?


Ah! Sudahlah!


Jangan terlalu menilai kelakuan Bagio!


Namanya juga laki-laki! Jadi, dimaklumi saja!


Di sela-sela sesi pemotretan, yang diistirahatkan sejenak oleh fotografer, tiba-tiba beberapa pengunjung pantai menghampiri Bagio, dan meminta Bagio untuk berfoto dengan mereka.


Agak mengherankan, menurut Bagio.


Karena saat itu, seolah-olah Bagio sudah menjadi orang terkenal dadakan, yang ingin diambil gambarnya oleh para penggemarnya.


Hmm ... Dua pasang bagian tunas kelapa genjah, tersandar di punggung tangan kiri dan kanan Bagio, dan hanya dengan berbataskan sehelai tekstil yang tipis.


Memang bukan salah Bagio.


Tapi Bagio tidak mau dipersalahkan oleh para wanita, yang rata-rata tinggi mereka hanya sampai di siku Bagio, yang bergantian menempel dan mengapit Bagio di bagian kiri dan kanannya, hanya untuk berfoto bersama Bagio.


Jadi, walaupun letak mata Bagio yang dari ketinggiannya bisa melihat dengan jelas, apa yang ada di bawahnya, namun bagio hanya melihat sepintas-sepintas saja, dan tidak menyentuhnya.


Tapi, memangnya siapa laki-laki yang tidak seperti itu, kalau ada kesempatan?


Bagio! Sadar! ... Jangan coba-coba beralasan karena sifat alamiah predator!


Tidak ada yang terlalu bersemangat di bagian bawah perut Bagio, walaupun Bagio menggeser tangannya sedikit, hingga menutupi bagian depan sela pahanya itu.


Tenang saja....


Bagio hanya berniat menjauhkan tangannya dari gesekan, yang bisa menghasilkan tegangan listrik statis, yang mungkin lama kelamaan bisa membuatnya kesetrum.


Masih ada beberapa wanita yang lain lagi, yang ingin berfoto bersama dengan Bagio.


Namun panggilan dari kru yang menyuruh para model bersiap kembali, untuk melanjutkan sesi pemotretan, menjadi alasan bagi Bagio untuk menjauh sementara dari para wanita itu.


Iya ... Memang sementara.


Karena para penggemar baru dari Bagio itu, terlihat masih sabar menunggu sesi pemotretan Bagio, hingga selesai dilangsungkan.


"Bagio! ... Kalau ada yang meminta nomor kontakmu, jangan kau coba-coba memberikannya! Kecuali mereka hanya meminta nama akun media sosialmu, nggak apa-apa kalau kamu mau beritahu."


Pesan dari Hana, ketika manajer Bagio itu menghampirinya, sebelum Bagio berfoto dengan wanita-wanita saat jeda tadi, terngiang-ngiang di dalam telinga Bagio.

__ADS_1


Sehingga, setelah pekerjaan Bagio sudah selesai, dan para wanita itu kembali menghampirinya, dan ada dari mereka yang meminta nomor kontak pribadi Bagio, Bagio bersikukuh untuk tidak memberitahukannya.


Bagio hanya memberitahu nama dari akun media sosialnya, yang sesuai dengan yang mereka minta, baik itu Instagram maupun Facebook.


Setahu Bagio, hari ini masih ada satu jadwal pemotretan lagi yang harus dia lakukan.


Tapi, Hana yang berdiri tidak jauh darinya, seolah-olah masih memberi kesempatan, untuk Bagio berinteraksi dengan orang-orang yang menghampirinya.


Dan setelah Bagio melihat tanda dari Hana, yang mengisyaratkan kalau sudah waktunya bagi mereka untuk pergi dari sana, Bagio segera berpamitan dengan orang-orang yang masih meminta kesempatan, untuk berfoto dengannya.


Tanpa berlama-lama lagi, setelah Bagio dan Hana masuk ke dalam mobil, kendaraan itu segera melaju di jalanan, menuju ke lokasi kerja Bagio.


***


"Apa orang-orang itu mengenalku?" tanya Bagio, mengutarakan rasa penasarannya yang sedari tadi berputar-putar di kepalanya.


"Eh! Kamu belum lihat?" Hana malah tampak bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Bagio.


"Lihat apa?" tanya Bagio, yang jadi semakin bingung.


"Tunggu sebentar! Kalau nggak salah, di depan sana ada satu lagi," lanjut Hana, sambil memiringkan badannya, agar bisa melihat ke arah kaca depan mobil.


Bagio yang tidak mengerti maksud Hana, hanya terdiam, sambil memandangi tingkah Hana yang kelihatan aneh di matanya.


"Nah, itu! ... Coba kamu lihat!" ujar Hana, lalu menunjuk ke arah kaca depan mobil, dan kembali duduk dengan posisi lurus.


Sambil memiringkan sedikit badannya, pandangan mata Bagio, kemudian mengikuti arah yang ditunjuk oleh tangan Hana.


Dan ternyata, maksud dari Hana itu, adalah papan reklame yang berukuran besar, yang terpampang wajah Bagio di sana.


"Di dekat pantai tadi, ada satu papan reklame di sana, yang memasang foto wajahmu. Aku kira kamu sudah melihatnya," ujar Hana.


Bagio mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil berusaha memahami, apa yang jadi jalan pikiran dari orang-orang di pantai tadi.


Bagio menarik kesimpulan, bahwa mungkin papan reklame itulah yang jadi penyebabnya, hingga orang-orang di pantai tadi, meminta untuk berfoto bersama Bagio.


Karena mungkin orang-orang itu menganggap, kalau Bagio adalah seorang model yang cukup terkenal.


Tapi saat itu juga, Bagio jadi merasa sedikit konyol, karena menurutnya, dirinya belumlah menjadi orang yang setenar itu.


Bagio baru saja terjun di dunia permodelan.


Dan hanya karena beberapa foto iklan, yang terpampang di pinggir jalan yang menampilkan wajahnya, orang jadi bisa salah beranggapan tentang dirinya.


"Ingat! Saat kamu jadi semakin terkenal, maka kamu juga harus semakin bisa, untuk menjaga sikapmu. Jangan sampai kamu terlibat skandal, yang bisa merusak nama baikmu," kata Hana, pelan namun terdengar pasti.


Bagio menganggukkan kepalanya. "Iya."

__ADS_1


__ADS_2