
Bagio masih dirawat di rumah sakit, hingga dua hari selanjutnya, barulah dia diizinkan pulang oleh dokter yang memantau kesehatannya.
Kartono sudah kembali ke kampung, sehari setelah Bagio tersadar.
Sebelum Kartono pergi hari itu, dengan meminta bantuan Hana, Bagio mengeluarkan uang simpanannya dari dalam bank.
Bagio kemudian memberikan semua uangnya kepada Kartono, untuk membayar hutangnya di pegadaian.
Kartono berjanji kepada Bagio, kalau dia akan menghubungi Bagio nanti, jika seandainya saja, ada masalah dengan pelunasan tagihan Bagio.
***
Bekas luka di perut Bagio, yang sengaja dibesarkan lewat prosedur operasi, karena pembersihan jaringan epitel di sekitar luka yang terinfeksi, memang sudah tidak terasa sakit.
Tetapi menurut dokter, rasa sakitnya tidak terasa oleh Bagio, karena obat-obatan yang masih Bagio konsumsi, sedangkan lukanya itu, masih belum sembuh total.
Dengan demikian, walaupun Bagio sudah bisa keluar dari rumah sakit, namun Bagio tidak diizinkan untuk beraktivitas berat.
Bahkan, untuk berolahraga pun, Bagio hanya diperbolehkan untuk berjalan kaki saja, dan dia belum bisa berlari, apalagi sampai melakukan latihan angkat beban.
Karena anjuran dari dokter itu, maka mau tidak mau, rutinitas Bagio tentu akan berubah nantinya.
Setelah Bagio kembali ke Dorm malam tadi, dengan diantarkan oleh Citra, rencananya, Bagio sudah akan kembali bekerja, sejak pagi hari ini.
Sekarang, Bagio masih bersiap-siap, sambil menunggu kedatangan Hana yang akan menjemputnya.
Sementara Sucitra, yang semalam pulang ke Dorm saat Bagio sudah tertidur, kali ini mengajak Bagio untuk berbincang-bincang dengannya.
"Ternyata begitu! ... Untung saja kamu nggak apa-apa."
Begitu kata Sucitra, setelah mendengarkan cerita Bagio, tentang apa yang terjadi padanya, hingga Bagio harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari terakhir.
"Aku mengirimkanmu pesan, tapi kamu nggak membalasnya. Kamu bahkan nggak membacanya. Kalau aku tahu kondisimu, aku pasti menjengukmu di rumah sakit," kata Sucitra.
"Eh! Ponselku disimpan Hana, selama aku di rumah sakit. Aku juga nggak sempat lagi, untuk melihat ponselku, tadi malam, karena aku rasanya sangat mengantuk."
Bagio memberitahu alasannya kepada Sucitra, sambil melihat tampilan layar ponselnya, yang sekarang ini sedang dipegangnya.
Dan memang benar kata Sucitra, kalau dia telah mengirimkan beberapa pesan untuk Bagio.
Pesan melalui aplikasi WhatsApp, yang sudah masuk sejak beberapa hari yang lalu, yang isinya menanyakan kabar Bagio, karena Sucitra yang tidak pernah melihatnya di Dorm.
"Apa aku bisa melihat bekas lukanya?" tanya Sucitra.
Awalnya Bagio ragu, tapi karena dia yang juga harus mengganti perbannya, maka Bagio mau saja memberikan izin bagi Sucitra, untuk melihat bekas lukanya.
Sekalian meminta bantuan Sucitra, agar bisa memasangkan perban baru, untuk menutupi lukanya itu.
Sambil berbaring di atas tempat tidur, Bagio mengangkat kemejanya, dan membiarkan Sucitra yang memasangkan perban di perutnya itu.
Jika hanya menilai dari raut wajah Sucitra, yang bisa dilihatnya sekarang ini, Bagio tidak bisa mengira-ngira, apa yang sedang dipikirkan oleh Sucitra, saat wanita itu melihat luka di perut Bagio.
Apalagi, ketika Bagio melihat Sucitra, yang tampak menelan ludahnya sendiri, sambil dia tetap menatap perut Bagio lekat-lekat, hanya membuat Bagio jadi bingung karenanya.
"Hey! ... Kok, kamu malah melamun?" ujar Bagio menyentak Sucitra, yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Eh! Sorry, sorry!" sahut Sucitra.
Perlahan-lahan, tangan Sucitra menempelkan perban di perut Bagio.
Bahkan, karena tangan Sucitra yang terlalu berhati-hati saat menyentuhnya itu, sehingga rasanya, justru seolah-olah wanita itu hanya sedang menggelitik perut Bagio.
__ADS_1
"Pffftt...!" Bagio tertawa tertahan, karena merasa geli.
"Eh! Ada apa denganmu? Apa nggak sakit?" tanya Sucitra, tampak kebingungan.
"Nggak sakit ... Nggak usah terlalu takut-takut! Rasanya malah jadi geli," sahut Bagio, sambil menahan diri agar tidak tertawa lagi.
Sucitra tersenyum lebar, sambil tetap menggerakkan tangannya, yang meratakan bagian ujung-ujung perban.
Lalu tiba-tiba, Sucitra terlihat membungkuk, dan mengecup perut Bagio yang sudah terpasang perban.
"Apa yang kamu lakukan?" Bagio panik, dan buru-buru berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
"Biar lekas sembuh!" sahut Sucitra, ketus, dengan tampang masa bodoh.
"Apa kamu nggak tahu? Kalau anak kecil terluka, kan harus dicium biar cepat hilang sakitnya," lanjut Sucitra, tetap dengan nada suaranya yang ketus.
"Memangnya aku anak kecil?!" sahut Bagio, yang hampir tertawa mendengar alasan Sucitra.
Sambil tersenyum, Bagio menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu merapikan pakaiannya kembali.
"Tapi, apa kamu yakin? Kalau kamu sudah bisa bekerja?" tanya Sucitra, yang tampak seolah-olah dia tidak percaya, jika Bagio sudah mulai bekerja lagi sekarang ini.
"Kata dokter, aku sudah bisa bekerja. Hanya aktivitas berat saja, yang untuk sementara harus aku hindari," jawab Bagio.
"Ooh! ... Asalkan kamu yakin saja," sahut Sucitra, sambil manggut-manggut.
Bagio yang sudah siap untuk pergi, lalu berkata,
"Aku keluar duluan, ya?! ... Nggak lama lagi, Hana pasti sudah datang."
"Okay," sahut Sucitra. "Hati-hati!"
Bagio hanya mengacungkan jari jempolnya, sambil berjalan keluar dari kamar.
***
Tapi ada sedikit yang aneh, yang Bagio rasakan sekarang ini.
Setiap kali ada orang yang mendekatinya secara tiba-tiba, maka Bagio seakan-akan hilang kekuatannya.
Bahkan, ketika kaus dan celana panjang yang dipakai oleh Bagio, akan dirapikan oleh seorang laki-laki, yang bekerja sebagai penata busana di lokasi pemotretan itu, Bagio hampir terjatuh karena terkejut.
Padahal Bagio sudah tahu, kalau penata busana pasti akan merapikan gaya berpakaiannya, yang akan diambil gambarnya seperti biasa.
Tapi entah mengapa, Bagio bisa merasa sangat tidak nyaman.
Keringat sebesar butiran-butiran jagung, memenuhi dahi Bagio, yang tiba-tiba merasa sangat gugup.
Sehingga penata rias harus menghabiskan berlembar-lembar tissue, hanya untuk mengeringkan keringat di wajah Bagio.
Hana yang sejak mereka tiba di situ pagi tadi, secara terus menerus memantau pekerjaan Bagio tanpa henti, kemudian meminta izin kepada semua yang ada di situ, agar Bagio bisa istirahat sebentar.
"Ada apa? Kenapa kamu jadi begini?" tanya Hana, heran. "Apa lukamu sakit?"
"Nggak. Lukanya nggak sakit ... Aku juga nggak tahu, kenapa aku bisa merasa gelisah seperti ini," jawab Bagio.
"Apa aku mengacau?" tanya Bagio, panik.
"Nggak apa-apa. Nggak usah terlalu dipikirkan. Mungkin saja karena fisikmu yang belum pulih, makanya kamu masih belum terlalu kuat untuk bekerja."
Dari perkataannya, Hana yang terdengar mencoba menenangkan Bagio, lalu pergi mengambil sebotol air mineral dari atas meja, kemudian menyodorkannya kepada Bagio.
__ADS_1
"Minum saja dulu!" kata Hana.
Bagio menenggak air dari dalam botol berukuran sedang itu, sampai habis tak bersisa lagi, hanya dalam sekali minum.
"Tarik nafas dalam-dalam! Coba tenangkan dulu dirimu! Sebentar lagi, kamu harus melanjutkan pemotretan," kata Hana, memberikan arahan.
Bagio menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan.
Hingga berkali-kali Bagio melakukannya, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, tapi rasanya, badan Bagio tetap tidak mau berhenti gemetar.
Mau tidak mau, dengan memaksakan dirinya, Bagio kembali atas set, dan bersiap-siap untuk dipotret lagi.
Bagio benar-benar berusaha sebisanya, agar dia bisa terlihat tenang, karena dia tidak mungkin mengacaukan pekerjaannya.
Apalagi sudah beberapa hari, yang terlewatkan oleh Bagio yang tidak bisa bekerja.
***
Bagio masih di lokasi pemotretan yang pertama itu, ketika dia melihat kedatangan Citra di tempat itu.
Benar-benar pemandangan yang tidak biasa.
Menurut dugaan Bagio, kemungkinan besar, Hana lah yang menghubungi Citra, dan memberitahu keadaan Bagio, sampai-sampai, Citra menyusul Bagio ke lokasi kerja.
Citra terlihat cemas, tapi dia tampak berusaha untuk tetap tersenyum, setiap kali dia beradu pandang dengan Bagio, yang sedang dipotret.
Dengan adanya Citra di situ, Bagio jadi bisa merasa sedikit lebih tenang.
Walaupun Bagio masih selalu saja tersentak, setiap kali penata busana mendekatinya, dan mengarahkan tangannya ke perut Bagio, secara tiba-tiba.
'Seseorang yang secara tiba-tiba mendekat, dan mengarahkan tangannya ke perut Bagio.'
... Maka di saat itulah, Bagio pasti akan merasa seolah-olah dia tidak bisa berdiri tegak.
Akhirnya Bagio tersadar, akan apa yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Bagio lalu memberitahu kepada penata busana, agar jangan langsung mengulurkan tangannya ke arah Bagio, setiap kali dia harus mendekat, untuk merapikan pakaian Bagio.
Pada awalnya, penata busana itu tampak kesal saat Bagio bicara padanya, namun Hana tiba-tiba ikut menghampiri, dan membantu menjelaskan kondisi Bagio saat itu.
Akhirnya, penata busana itu kelihatannya mau mengerti, dan selama sisa sesi pemotretan berlangsung, Bagio tidak lagi gemetar seperti di awal-awal tadi.
Bagio bisa kembali terlihat profesional, seperti biasanya lagi.
***
Setelah tiba waktunya, untuk jam istirahat makan siang, Bagio, Citra dan Hana, pergi mengambil tempat duduk yang terpisah, dari orang-orang lain, yang bekerja bersama di lokasi pemotretan itu.
"Sepertinya kamu trauma, gara-gara kejadian waktu itu," kata Citra, sambil memegang kedua tangan Bagio, dan menatap Bagio lekat-lekat.
"Tapi rasanya, aku nggak ada mengingat hal itu lagi," sahut Bagio.
"Kamu mungkin berpikir kalau nggak ada apa-apa. Tapi alam bawah sadarmu masih waspada dengan kejadian itu....
... Buktinya, kamu bilang kalau kamu gelisah, jika ada orang yang tiba-tiba mendekatkan tangan mereka ke perutmu," lanjut Citra.
"Tapi nanti aku bisa kembali normal, kan?" tanya Bagio, penasaran.
Sejujurnya, Bagio memang merasa cemas, jika dia tidak bisa kembali normal, karena dia akan kesulitan dalam bekerja, kalau dia terus menerus merasa gelisah seperti tadi.
Tapi untuk beberapa saat Bagio menunggu, Citra dan Hana tidak menjawab pertanyaan Bagio.
__ADS_1
Kedua wanita itu hanya saling bertatap-tatapan, lalu kembali melihat ke arah Bagio, sambil tetap mengunci mulut mereka rapat-rapat.