
Sebenarnya, Sucitra kelihatannya masih sangat lelah karena perjalanannya dari luar kota.
Tapi, Sucitra tampak tidak keberatan, untuk meminjamkan telinganya, dan mendengarkan curahan hati Bagio, malam ini.
Sucitra justru seperti memaksa Bagio, agar mau membicarakan segala sesuatunya, tanpa perlu ada yang harus Bagio tutup-tutupi darinya.
Sehingga Bagio merasa bebas untuk berkeluh kesah, sampai entah sudah berapa lama, waktu yang dihabiskan oleh Bagio, untuk membicarakan tentang permasalahan, yang dia hadapi itu kepada Sucitra.
Sementara Sucitra, sambil menikmati asap rokok dan birnya, mendengarkan semua yang dikatakan oleh Bagio secara seksama, dan tampak seolah-olah dia tidak merasa bosan, atau lelah karenanya.
"Sepulang kerja besok, kalau aku belum ada di sini, kamu jangan langsung mandi. Tunggu saja sampai aku datang," kata Sucitra.
"Kenapa?" tanya Bagio.
"Aku ingin mengajakmu melakukan sesuatu denganku," jawab Sucitra, enteng.
"Jangan bilang, kamu mau melakukan hal yang aneh-aneh lagi," ujar Bagio, cemas.
"Hey! ... Jangan over thinking! Aku nggak akan memaksamu, kalau kamu memang nggak mau," sahut Sucitra.
"Satu lagi! ... Kalau kamu merasa nggak enak di lokasi kerja, kamu bisa mengirim pesan padaku kapan saja. Kamu nggak perlu merasa ragu-ragu, untuk menghubungiku lebih dulu....
... Karena manajerku, pasti langsung memberitahuku, kalau ada yang menghubungi ponselku," lanjut Sucitra lagi.
"Aku sebenarnya hanya ingin ada teman bicara saja. Dan aku sama sekali tidak terpikir untuk membebanimu, atau membuatmu ikut memikirkan tentang masalahku," kata Bagio.
"Ckckck! ... Apa kamu nggak dengar yang aku bilang tadi?" ujar Sucitra.
"Bagio! ... Aku memang bukan orang yang baik. Tapi aku tetap akan mengusahakan, agar aku bisa membantumu....
... Dan kamu nggak perlu merasa seolah-olah menjadi beban. Mana tahu, kalau mungkin ke depan, lalu aku lagi yang butuh bantuanmu," lanjut Sucitra.
Sucitra lalu terlihat menggoyangkan kaleng birnya yang ke-dua, yang tampaknya sekarang ini sudah kosong, habis diminumnya.
"Kamu belum mandi, kan?! Ayo kita ke kamar mandi sama-sama! Badanku lengket karena keringat!" kata Sucitra.
Sucitra yang berbicara sambil berdiri, terlihat membuka pakaiannya, hingga tersisa pakaian dalam, lalu mengambil handuknya, kemudian melilitkannya di badannya.
"Ayo! Tunggu apa lagi? Sekarang sudah lewat dari jam dua belas!" Sucitra tampak memaksa, hingga Bagio menuruti ajakannya.
***
Keesokan harinya, walaupun Bagio semalam sempat bergadang, namun dia tetap terbangun di waktu yang sama, sebagaimana biasanya dia bangun pagi, di setiap harinya.
Ketika Bagio membuka matanya pagi itu, salah satu sisi badannya terasa panas, juga bercampur dengan sedikit kesemutan.
Rasanya, seolah-olah ada yang menindih Bagio sekarang ini.
Bagio lalu melihat ke sampingnya, di mana sisi badannya bisa terasa agak aneh itu, dan mendapati Sucitra yang terlihat berada di situ.
Sucitra yang memakai kaus oblong, dan mungkin hanya pakaian dalam saja yang menjadi bawahannya, tampak masih tertidur pulas, sambil memeluk Bagio yang terbungkus dengan selimut.
Walaupun Bagio terkejut dengan adanya Sucitra di atas tempat tidurnya, tapi menurut Bagio, pasti ada alasannya, sampai Sucitra bisa ikut tertidur di situ.
Perlahan-lahan, Bagio berusaha untuk beranjak dari tempat tidurnya, tanpa perlu membuat Sucitra terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Ketika Bagio sudah berdiri, terlihat satu lembar kaus yang tergeletak asal-asalan di lantai, di sisi di bagian mana Sucitra berbaring, dan tampak seolah-olah kaus itu hanya dilempar begitu saja.
Apa yang terjadi?
Apa Bagio bermimpi buruk lagi malam tadi?
Lalu Sucitra yang mengurusnya, tanpa membangunkan Bagio?
Tapi Bagio tidak ingat apa-apa.
Hey! Rasanya memang ada yang berbeda!
Bagio tidak ingat kalau dia bermimpi buruk malam tadi.
Padahal biasanya, setiap dia terbangun dari tidurnya, untuk beberapa waktu belakangan ini, Bagio pasti ingat akan kejadian di dalam mimpinya.
Bagio jadi penasaran akan apa yang terjadi malam tadi, tapi dia tidak mau membangunkan Sucitra, yang tampak masih menikmati waktu istirahatnya, hanya untuk mencari tahu jawabannya.
Ketika melihat jam di dinding kamar, yang sekarang ini sudah mendekati waktunya untuk Bagio bekerja, dengan terburu-buru, Bagio meninggalkan Sucitra dan segera pergi ke kamar mandi, untuk bersiap-siap bekerja lagi hari ini.
Hingga Bagio sudah kembali dari kamar mandi, Sucitra tampak masih terlelap di sana, dan sama sekali tidak ada tanda-tanda, kalau dia akan segera bangun saat itu.
Bagio menarik selimut yang ditindih Sucitra, lalu menutupi bagian dari badan Sucitra yang terbuka.
Kemudian, Bagio lanjut berpakaian, dan segera beranjak pergi dari kamarnya itu, setelah dia sudah selesai bersiap-siap.
Di luar pagar Dorm, mobil yang biasa dipakai Hana untuk menjemput Bagio, terlihat sudah menunggu di sana, dan Bagio lalu buru-buru masuk ke dalam mobil itu.
"Bagio! ... Bagaimana dengan audisi untuk syuting iklan? Apa kamu jadi ikut?" tanya Hana, tidak berapa lama, setelah mobil yang membawa mereka mulai berjalan.
"Nggak tahu ... Kapan audisinya?" ujar Bagio.
"Bagaimana menurutmu? Apa aku bisa ikut audisi itu?" tanya Bagio, ragu.
Untuk beberapa saat kemudian, Hana hanya terdiam saja, dan tidak segera menjawab pertanyaan Bagio.
"Aku nggak akan memaksamu. Apalagi, kamu memang sudah seharusnya beristirahat dulu," kata Hana, tiba-tiba.
Rasanya akan sangat disayangkan, jika Bagio sampai melewatkan kesempatan, untuk mencoba audisi syuting iklan, tanpa ada alasan.
Manalah tahu, jika Bagio ternyata nanti bisa beruntung, sampai bisa terpilih dan mendapatkan kontrak, untuk syuting iklan itu.
Nilai kontrak syuting iklan yang lumayan besar, dan berkali-kali nominalnya, kalau dibandingkan dengan pemotretan biasa, bisa membuat Bagio mengumpulkan uang dengan lebih cepat.
"Aku ikut saja," kata Bagio. "Kalau aku bisa berhasil, siapa tahu nanti ke depannya, aku bakal bisa dapat pekerjaan yang sama, lebih banyak lagi."
"Apa kamu nggak merasa, kalau kamu terlalu memaksakan diri untuk bekerja?" tanya Hana.
"Hana ...! Kalau aku nggak bekerja, juga rasanya sama saja. Malah mungkin saja, jika aku jadi makin nggak jelas nantinya, kalau nggak ada yang aku lakukan," sahut Bagio.
***
Setibanya di lokasi pemotretan yang pertama pagi itu, sambil menikmati sebotol susu kedelai, Bagio membiarkan penata rias untuk mengutak-atik wajahnya.
Bagio memang dianjurkan oleh psikiater, untuk mengurangi kebiasannya mengonsumsi kafein, sehingga Bagio tidak lagi meminum kopi, seperti di waktu-waktu sebelumnya.
__ADS_1
Sembari menunggu wajahnya selesai dirias, Bagio teringat akan bagaimana dia malam tadi.
Apa belakangan ini, Bagio memang terlalu kesepian?
Sampai-sampai, pada saat Sucitra bersamanya, Bagio bisa merasa sedikit lebih baik.
Tapi kenapa tidak begitu keadaannya, yang Bagio rasakan saat sedang bersama Citra?
Walaupun Citra kelihatannya sudah berusaha keras, untuk menenangkan Bagio, tapi Bagio justru hanya merasa jauh lebih buruk karenanya.
Dan semakin Citra mencoba mendekatinya, maka Bagio akan jadi semakin gelisah dan gusar.
Apa bedanya Sucitra dan Citra?
"Come on! Come on! ... Para model! Get ready!"
Suara asisten fotografer yang berteriak, menyuruh agar para model yang ada di situ, untuk berdiri di atas set pengambilan gambar, sambil bertepuk tangan, membuyarkan lamunan Bagio.
***
Ketika sedang berada di lokasi pemotretan yang ke-dua, Bagio yang baru saja selesai makan siang dengan orang-orang yang ikut ambil bagian dalam pekerjaan itu, tiba-tiba merasa sakit perut.
Agar tidak membuat Hana jadi khawatir, jika dia terlalu lama tidak terlihat di situ, Bagio kemudian memberitahu kepada Hana, kalau dia harus pergi ke toilet, sekarang ini.
Tanpa berlama-lama lagi, Bagio kemudian pergi ke toilet, untuk melepaskan ganjalan di ususnya, yang membuat perutnya terasa sakit.
Bagio baru saja akan keluar dari salah satu petak di dalam toilet, ketika tiba-tiba saja, Bagio bisa mendengar, kalau ada suara seperti orang yang sedang muntah di situ.
Saat Bagio membuka pintu, terlihat ada salah seorang model yang bekerja bersamanya, tampak sedang mengeluarkan isi perutnya, sambil setengah menunduk di wastafel.
Bagio yang berniat untuk mencuci tangannya di wastafel, yang bersebelahan dengan yang sedang dipakai oleh model yang lain itu, kemudian bertanya,
"Apa kamu sakit?"
Model laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Bagio, dan hanya melihat Bagio sebentar, dari pantulan cermin di depan mereka, kemudian kembali menunduk ke atas wastafel.
Bagio lalu melihat kalau laki-laki itu, sedang memasukkan jari-jari tangannya ke dalam mulutnya, dan tampak seolah-olah sedang berusaha menggapai bagian terdalam dari mulutnya.
Setelah melihat hal itu, Bagio jadi mengerti kalau model itu sebenarnya tidak sedang sakit, melainkan sedang berusaha untuk memuntahkan isi dari dalam lambungnya.
Sampai Bagio selesai mencuci tangannya, dan hampir berjalan keluar dari toilet, salah satu rekan kerja Bagio itu, lalu menahan Bagio dengan berkata,
"Kamu jangan beritahu siapa-siapa! ... Kamu mengerti, kan?! ... Makanan kita tadi, hanyalah makanan sampah!"
Bagio yang sempat berbalik ketika model itu berbicara, hanya menggangguk setuju, lalu lanjut berjalan pergi dari toilet, meninggalkan model laki-laki itu, yang masih saja memaksakan dirinya untuk muntah.
Sambil berjalan kembali ke mana orang-orang berkumpul, untuk bersiap-siap melakukan pekerjaannya lagi, Bagio jadi terpikir.
Apa mungkin, jika Bagio juga melakukan hal yang sama seperti model yang tadi?
Kalau Bagio bisa memuntahkan makanannya lagi, maka berat badannya pasti tidak akan bertambah.
Tapi rasanya pasti menyakitkan, jika memaksakan diri untuk muntah seperti itu.
Walaupun demikian, Bagio memang tergoda untuk ikut melakukannya, agar dia tidak membuat badannya jadi semakin melebar, dan hanya menyulitkan pekerjaannya sekarang ini.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Hana, yang tiba-tiba sudah berada di depan Bagio, sambil menatap Bagio lekat-lekat.
"Eh! ... Nggak ada," jawab Bagio, asal-asalan, lalu menjauh dari Hana.