
"Kelihatannya kamu orang yang cukup pintar," celetuk Citra.
Bagio lalu melirik ke arah Citra yang duduk di belakang setir, mengemudikan mobilnya, dan berencana untuk mengantarkan Bagio kembali ke Dorm.
"Aku jadi penasaran. Ada apa, sampai kamu nggak melanjutkan sekolahmu?" lanjut Citra lagi.
"Hmm ... Panjang ceritanya," sahut Bagio pelan.
Citra lalu hanya terdiam setelahnya, untuk beberapa saat, seolah-olah dia juga tidak mau memaksa Bagio untuk bercerita tentang alasannya, hingga Bagio berhenti sekolah.
"Kamu nggak tertarik, untuk belajar fotografi?" tanya Citra, mengalihkan pembicaraan.
"Jadi fotografer, gitu?" Bagio balik bertanya.
"Iya," jawab Citra.
"Hehe ... Aku bisa bekerja seperti sekarang saja, sudah syukur-syukur. Apalagi jadi fotografer, yang harus berkuliah," ujar Bagio, sambil tertawa.
"Sebenarnya, bukan sekolah yang jadi faktor utamanya. Minat adalah yang paling pertama. Adanya kesempatan jadi yang ke-dua. Lalu, mantapkan tekad. Dan sisanya akan menyusul," kata Citra.
Nada suara Citra terdengar datar, dan seakan-akan, dia memang sedang mengatakan hal yang serius kepada Bagio.
"Kalau memang memiliki minat di bidang apapun, lalu ada kesempatan, asalkan kamu tetap bertekad untuk terus mencoba dan belajar, meskipun kamu nggak bersekolah di sekolah resmi, kamu pasti bisa....
... Karena menurutku, belajar bukan hanya atau harus di sekolah saja. Semua orang bisa belajar, di mana dan dari mana saja. Tinggal niatnya saja, mau atau tidaknya," lanjut Citra, menjelaskan.
Citra kemudian tampak memutar kemudi, untuk berbelok ke salah satu arah jalan yang mengarah ke Dorm, sampai akhirnya dia memelankan laju mobilnya, hingga benar-benar berhenti di depan pagar Dorm.
"Jangan ragu-ragu untuk menghubungiku! Apalagi kalau ada sesuatu, yang ingin kamu bicarakan. Okay?!" ujar Citra.
"Kalau kamu ada waktu dan ingin bertemu denganku, kamu juga nggak perlu malu-malu untuk menghubungiku....
... Asalkan saat itu aku juga nggak ada kesibukan, maka kita bisa membuat janji untuk bertemu," lanjut Citra.
"Okay! ... Terima kasih untuk semuanya!" ucap Bagio, lalu beranjak keluar dari dalam mobil Citra.
Ketika Bagio berjalan mendekat ke pintu gerbang pagar, Citra juga tampak berlalu pergi dengan mobilnya.
***
Bagio yang sudah mandi setelah selesai berolahraga tadi, lalu melihat-lihat tampilan layar ponselnya, sambil berbaring di tempat tidurnya.
Ponsel pemberian Citra itu, kurang lebih sama dengan ponsel yang dipakai Citra, begitu juga ponsel Karenina yang dilihat Bagio waktu itu.
Layarnya yang lebar berwarna, seperti televisi berukuran mini, saat Bagio melihat unggahan video dari akun pengguna yang lain, yang muncul di akun media sosial Bagio.
__ADS_1
Rasanya Bagio tidak bisa percaya, kalau Citra mau memberikan benda itu secara cuma-cuma kepadanya.
Iseng-iseng, Bagio lalu melihat-lihat apa saja yang jadi unggahan Citra di akun media sosialnya, yang sudah terhubung dengan akun media sosial milik Bagio.
Salah satu foto di akun Citra, yang tampaknya sudah diunggah wanita itu sejak beberapa bulan yang lalu, benar-benar menarik perhatian Bagio.
Citra yang tersenyum sambil duduk bersama teman-temannya, yang tampaknya adalah orang-orang dari luar negeri, di dekat sebuah meja yang terdapat kue ulang tahun di atasnya.
Beberapa komentar yang tersemat diunggahan itu, yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Citra, juga tidak luput dari rasa ingin tahu Bagio.
Bagio menggeleng-gelengkan kepalanya, karena Bagio sama sekali tidak menyangka, kalau Citra ternyata sudah berusia 25 tahun.
Kalau begitu, Citra berarti masih lebih tua 2 tahun dari Bagio, meskipun wajah dan penampilan keseluruhan wanita itu, masih memperlihatkan seolah-olah dia masih lebih muda, jika dibandingkan dengan Bagio.
Bagio lanjut melihat setiap unggahan Citra.
Ada di antaranya, foto Citra bersama dengan madam Sally, dan ayahnya Citra, yang Bagio ketahui, setelah Bagio melihat tulisan yang tertera bersama dengan unggahan foto itu.
Setahu Bagio, Hana pernah bercerita kalau Madam Sally adalah blasteran orang Indonesia dengan orang berkebangsaan Inggris.
Lalu ayah Citra yang terlihat di foto, justru tampaknya tidak ada campuran orang Indonesia sama sekali.
Pantas saja jika wajah dan penampilan Citra, sama sekali tidak memiliki ciri-ciri seperti penduduk lokal, walaupun saat wanita itu berbicara, bahasa Indonesianya terdengar sangat fasih.
Salah satunya yang berisikan tentang hal-hal pribadi, yang baru saja dilihat Bagio tadi, sedangkan yang satunya lagi, khusus untuk unggahan atas hasil foto yang diambil oleh Citra.
Masih dengan rasa penasaran, Bagio lalu melihat-lihat di akun yang berisikan foto-foto para model yang diunggah Citra di situ.
Unggahan terbaru di akun khusus milik Citra itu, selain foto Bagio yang memakai pakaian renang, juga menampilkan foto Bagio yang berdiri di dekat pagar pembatas rumah Citra, yang dipotret Citra secara sembunyi-sembunyi.
Jumlah orang yang suka, dan berkomentar di bawah foto Bagio itu cukup banyak, hingga membuat Bagio semakin penasaran untuk melihatnya.
Bagio senyum-senyum sendiri, ketika membaca beberapa komentar yang memuji ketampanan Bagio.
Kalau begitu, ini sebabnya hingga Citra menyimpan gambar Bagio di ponselnya, dan bukan berarti Citra menyukai Bagio, sebagaimana rasa tertarik antara lawan jenis.
Hasil foto Bagio itu, hanyalah seperti sebuah mahakarya bagi Citra.
Bagio masih melihat-lihat tampilan layar ponsel, sampai dia benar-benar merasa mengantuk, dan akhirnya tertidur setelah mematikan benda itu.
***
Tanpa ada gangguan yang membuat tidur Bagio tak lena, pagi itu Bagio bisa bangun pagi di jam yang normal.
Sebelum Bagio ke kamar mandi, Bagio masih menyempatkan diri untuk menyambungkan pengisi daya ke ponselnya lebih dulu.
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, tampak sudah banyak para penghuni Dorm yang sedang mandi di sana, tapi Bagio tidak melihat adanya Dirga, di antara orang-orang itu.
Tumben!
Entah ke mana anak itu, hingga jam segitu masih tidak ada tanda-tanda dirinya, di dalam kamar mandi umum itu.
Tapi ... Mungkin saja jika Dirga sudah lebih dulu selesai mandi, jadi Bagio tidak terlalu memikirkannya lagi.
Ketika Bagio menggosokkan shampoo ke atas kepalanya, Bagio akhirnya menyadari kalau rambutnya itu sudah mulai panjang.
Sekarang situasinya jadi terbalik, jika dibandingkan dengan dia yang masih di kampung waktu itu.
Wajahnya bersih dari cambang yang belakangan ini rajin di cukurnya, namun rambutnya lagi yang jadi gondrong karena tidak sempat di potong.
Tapi rasanya tidak jadi masalah.
Karena Bagio yang celingak-celinguk, memandang ke sana kemari, bisa melihat beberapa model laki-laki yang lain, yang juga memiliki rambut gondrong hingga sebahu.
Asal Hana tidak protes, berarti tidak apa-apa.
Hana.
Manajer Bagio itu, pasti akan banyak bertanya tentang pertemuan Bagio dengan Citra semalam.
Apalagi kalau sampai dia melihat ponsel baru Bagio, dan nantinya dia jadi tahu, kalau benda itu diberikan oleh Citra kepada Bagio.
Bagio tersenyum lebar.
Rasanya Bagio masih belum bisa percaya, kalau dia bisa merasakan banyak keberuntungan, dalam beberapa bulan belakangan ini.
Seolah-olah nasib sialnya, kini berangsur-angsur mulai menghilang, dan mulai terganti dengan rezeki yang berupa orang-orang yang baik, dan memperhatikannya, yang beruntun bisa Bagio temui dan kenali.
Selesai mandi, Bagio yang hendak kembali ke kamarnya, hampir bertabrakan dengan Dirga yang baru saja hendak melewati pintu kamar mandi.
Bagio benar-benar terkejut, saat melihat penampilan Dirga yang tampak sangat buruk, hingga Bagio akhirnya mengurungkan niatnya, untuk segera kembali ke kamarnya.
Bagio menahan langkahnya, hingga Dirga tidak bisa melewati pintu kamar mandi, dan terdiam berdiri berhadap-hadapan dengan Bagio.
Salah satu mata Dirga terlihat lebam biru keunguan, hingga di bagian mata yang juga terlihat bengkak itu, kelopak matanya hampir tidak bisa terbuka.
Dan terlihat kurang lebih sama buruknya, terlihat luka lebam yang juga ada di salah satu sudut bibir Dirga, hingga ke bagian pipinya.
Seolah-olah Dirga baru saja berkelahi, dan bagian-bagian wajahnya itu jadi korban pemukulan.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Bagio penasaran.
__ADS_1