Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 48


__ADS_3

Sudah cukup dulu bermain-mainnya, karena satu hari libur Bagio yang menyenangkan, sekarang sudah berakhir.


Sejak pagi-pagi buta, hari ini Bagio sudah harus bersiap-siap, untuk pekerjaannya menjadi model dalam perekaman video klip.


Yang menurut Hana, mungkin akan memakan waktunya seharian, sampai nanti malam.


Sambil bersiap-siap untuk bekerja, sampai akhirnya Bagio masuk ke dalam mobil, saat dia telah dijemput oleh Hana, Bagio masih terpikirkan tentang tawaran Citra.


Kemarin, Bagio dan Citra memilih untuk menghabiskan sisa waktu mereka, dengan berada di rumah Citra saja sampai hampir menjelang larut malam.


Yang menjadi alasan pertamanya, karena suasana di rumah Citra itu yang terasa lebih nyaman, daripada mereka hanya berjalan-jalan tanpa ada tujuan pasti.


Dan yang jadi alasan yang ke-dua ialah, Bagio juga bisa memanfaatkan waktu senggangnya, dengan mendapatkan sedikit pengajaran tentang fotografi, dari Citra.


Citra bahkan sempat mengizinkan Bagio, untuk mencoba melakukan pemotretan, dengan menggunakan kamera foto miliknya, di dalam studionya.


Menurut penuturan Citra, melakukan pemotretan dalam studio, masih lebih mudah, jika dibandingkan dengan pengambilan gambar di luar ruangan.


Dengan penjelasan dari Citra kepada Bagio, bahwa dalam melakukan pengambilan gambar, kualitas dari kamera foto memang penting, namun hanya bersifat sebagai faktor pendukungnya saja.


Sedangkan faktor utama yang paling penting, adalah kemampuan fotografer untuk mengatur, dan memanfaatkan pencahayaan.


"Cahaya menjadi faktor yang paling berpengaruh, agar bisa mendapatkan hasil foto yang bagus." Begitu kata Citra kepada Bagio.


Jika seorang fotografer mampu menguasai teknik pencahayaan, dan jeli mengambil sudut pengambilan gambar yang tepat, maka hasil foto akan tetap terlihat bagus, meskipun hanya memakai kamera foto yang berkualitas rendah.


Yang jadi alasannya, karena lensa kamera tidaklah seperti lensa mata manusia, yang mampu menyesuaikan secara otomatis, cahaya dari gambar yang ditangkapnya.


Maka dengan demikian, jika di dalam studio, penataan cahayanya mungkin cukup dilakukan pengaturannya sekali saja, dan penggunaannya bisa untuk jangka waktu yang lama.


Kemudian akan jadi berbeda keadaannya, ketika Bagio akan melakukan pemotretan di luar ruangan.


Menurut Citra, Bagio harus belajar mengatur posisi kameranya, dan ditambah lagi, Bagio harus jeli memperhatikan semua cahaya yang ada di lokasi pemotretan.


Karena tidak semua cahaya yang terang itu bisa dianggap bagus, untuk dimanfaatkan dalam fotografi.


Dan jika dia tidak bisa mendapatkan gambar yang bagus karena cahaya-cahaya itu, maka Bagio harus menggunakan peralatan tambahan, untuk mengatur pencahayaannya saat melakukan pemotretan.


Sebelum Bagio diantarkannya pulang ke Dorm, Citra berkata kalau dia akan lanjut mengajarkan Bagio, bagaimana caranya agar dia menjadi seorang fotografer, sampai Bagio menjadi cukup mahir dalam melakukannya.


Dan Bagio memang segera menyetujui tawaran dari Citra itu, dan membulatkan tekadnya untuk belajar, agar dia bisa jadi seorang fotografer, walaupun hanya amatiran.


Karena menurut pemikiran Bagio, seandainya saja nanti memang sudah waktunya bagi Bagio, untuk berhenti menjadi seorang model, lalu dia kembali ke kampung, Bagio mungkin bisa buka usaha studio foto miliknya sendiri.

__ADS_1


Lumayan saja, kan?!


Jika Bagio bisa menjadi seorang fotografer panggilan, untuk acara-acara kondangan, ataupun sekedar memotret anak-anak sekolah, yang akan menempelkan hasil fotonya di lembaran ijazah atau raport mereka.


Bagio juga bisa menerima pemotretan penduduk di kampung, yang membutuhkan foto untuk melengkapi pengurusan berkas-berkas penting.


Sekarang ini yang jadi pertanyaannya adalah, kapan Bagio bisa lanjut belajar memotret bersama Citra?


"Hana! ... Aku ingin meminta salinan jadwal kerjaku," kata Bagio.


"Eh! Tumben!" ujar Hana, yang tampak terkejut, dengan permintaan Bagio yang tiba-tiba. "Nanti aku copy, ya?! Tapi apa aku boleh tahu, kenapa?"


"Nggak apa-apa. Aku mau tahu jadwal kerja yang aku punya, karena ada yang ingin aku lakukan, di setiap hari yang ada jadwal kosongnya," jawab Bagio.


Hana lalu memperhatikan lembaran kertas yang ada di atas pangkuannya, untuk beberapa saat.


"Jadwalmu penuh sampai dua bulan ke depan. Paling-paling, kamu ada waktu di malam hari saja, atau di sela jadwal siang ke sore....


... Tapi itu juga tidak banyak, hanya ada beberapa jam saja," kata Hana.


"Tapi, aku nanti tetap akan membuatkan salinannya," lanjut Hana, seolah-olah ingin memberi kepastian kepada Bagio.


Bagio manggut-manggut mengerti.


Karena kalau waktu pertemuannya dengan Citra hanya sedikit, Bagio tentu harus bisa membagi waktunya.


Bagio tidak mau melewatkan kesempatannya untuk bermesraan dengan Citra, lalu menghabiskan seluruh waktunya yang ada, hanya dengan belajar memotret, dan mengelus kamera foto saja.


Hmm ... Kalau Bagio berpikiran seperti itu, masih dalam batas wajar saja, kan?!


Mengingat Bagio yang pada dasarnya, memang tidak memiliki cita-cita yang terlalu banyak dan terlalu tinggi.


Bagio hanya berniat untuk menjadi seseorang yang sukses, dengan menggunakan apa saja kemampuannya untuk mencari uang, agar bisa merubah jalan hidupnya, dan mengangkat derajat dan martabatnya.


Dan selain itu, Bagio juga memiliki tujuan, agar dia bisa mendapatkan pasangan hidup, yang cocok dan baik, nantinya.


Untuk sekarang ini, kedua hal yang menjadi tujuan utama Bagio, kelihatannya sama-sama sudah berada di depan matanya.


Dengan begitu, apa salahnya? Jika Bagio mengatur situasinya, agar kedua targetnya itu bisa seiring sejalan, dan mengusahakan agar semuanya bisa tercapai secara bersama-sama.


Dan jika ke depannya mungkin akan ada perubahan, ataupun tambahan tujuan baru, yang disertai dengan adanya kesempatan, biarkan sajalah itu jadi urusan nanti.


Benar, tidak?

__ADS_1


***


Di sebuah studio tertutup, Bagio ditemani Hana sampai masuk ke dalamnya.


Orang-orang yang ikut ambil bagian di proses mengambil gambar dalam tampilan audio visual, terlihat sudah sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


Persiapan syuting video klip, untuk menjadi sarana promosi lagu terbaru dari seorang penyanyi dangdut, sudah hampir lima puluh persen, ketika Bagio tiba di sana.


Seperti biasanya, sebagai modelnya, Bagio akan dipersiapkan dengan dirias wajahnya, dan mengganti pakaiannya dengan busana khusus, yang disediakan oleh pihak manajemen dari sang penyanyi dangdut.


Sementara Bagio didandani oleh penata rias artis, sesekali Bagio melirik ke arah wanita si penyanyi dangdut, yang bisa dia sebut inisialnya dengan sebutan ML.


ML terlihat sedang berbincang-bincang dengan seseorang, yang mungkin adalah sutradaranya, sambil sesekali bergerak lincah menggoyangkan pinggulnya.


Menurut penglihatan Bagio, ML si penyanyi dangdut itu sebenarnya lumayan cantik, dan juga memiliki bentuk tubuh yang menarik.


Akan tetapi, karena ML yang memakai riasan wajahnya yang sangat tebal, hingga terlihat seperti topeng, justru jadi terlihat aneh, dan cukup menyeramkan.


Busana yang dipakai ML, juga rasanya terlalu memancing nafsu lelaki yang melihatnya. Apalagi saat ML menari, yang gerakannya mirip seperti tarian erotis.


Ckckck!


Tapi Bagio tentu tidak akan mengomentarinya, atau berkata buruk tentang ML.


Karena pasti ada alasannya, hingga ML sampai memilih, untuk berpakaian minim kain dan ketat seperti itu.


Entah itu hanya karena keinginan 'pasar', atau karena ML yang memang mau berpenampilan seperti itu.


Sudahlah! Bagio tidak terlalu mau untuk memikirkannya.


Yang Bagio tahu, dia hanya akan melakukan pekerjaannya saja, sesuai dengan perjanjian kontrak.


Dan ketika Bagio selesai didandani, Bagio segera dipanggil, untuk menghampiri seseorang yang tadinya berbincang-bincang dengan ML.


Dugaan awal Bagio ternyata memang benar, bahwa orang itu memang adalah sang sutradara, yang akan bertanggung jawab atas syuting video klip itu.


Bagio diarahkan oleh sang sutradara, akan apa saja yang akan dilakukan Bagio, dalam perekaman video itu.


Sang sutradara bahkan memberikan contoh secara langsung, agar Bagio bisa lebih mengerti, dan melakukannya sesuai dengan keinginan sang sutradara.


Untuk beberapa waktu kemudian, proses syuting belum segera dilangsungkan, karena ML, Bagio, dan beberapa penari latar, diarahkan untuk melakukan gladi bersih terlebih dahulu.


Dan ketika sang sutradara merasa kalau sudah cukup latihan yang mereka lakukan, barulah perekaman video itu dilanjutkan.

__ADS_1


__ADS_2