
Setelah pengambilan gambar di lokasi terakhir selesai dilakukan, Hana segera mengajak Bagio untuk kembali ke Dorm.
"Ini pesananmu, Mas!" Hana menyodorkan dua buah kantong plastik kepada Bagio. "Coba dilihat dulu!"
Bagio mengambil bungkusan dari tangan Hana, dan segera mengintip isi di dalamnya.
"Kata orang toko tadi, sepatunya sudah model yang terbaru. Tapi, kalau kamu nggak suka, aku bisa menukarnya besok," kata Hana lagi.
Meskipun masih sedikit terguncang di dalam mobil, Bagio tetap mencoba sepatu barunya di situ.
Sepatu kasual berwana putih tanpa banyak motif, atau warna yang bisa menarik perhatian lebih, pas terpasang di kaki Bagio.
"Bagus, kok! ... Mahal, nggak?" tanya Bagio.
"Nggak mahal. Sepatu itu hanya merek lokal. Aku juga membelinya di penyuplai pertama sepatu merek itu," jawab Hana.
"Pakaian dalammu, malah hampir lebih mahal dari harga sepatu itu," lanjut Hana, sambil menunjuk kantong plastik yang satunya dengan pandangan matanya.
Bagio lalu teringat sesuatu.
"Bagaimana kamu bisa membeli, dengan ukuran yang pas?" tanya Bagio yang ingin memuaskan rasa penasarannya.
"Ini!" Hana menunjuk selembar map yang ada di atas pangkuannya. "Di hari terakhir kamu di Gym sebelum mulai bekerja, badanmu diukur, kan?! Nah! Di dalam sini dicatat semuanya."
"Ooh ...!" Berarti memang benar yang dibilang oleh Dirga.
"Baru aku ingat. Kamu masih sempat berolahraga?" tanya Hana.
"Masih, kok! Sepulangnya aku ke Dorm tadi malam, aku masih berolahraga di Gym," jawab Bagio.
"Nggak masalah meski kamu makan Junk food yang disediakan di lokasi kerja, tapi kamu harus mengimbanginya dengan berolahraga....
... Setahu ku, di Gym ada timbangan. Perhatikan berat badanmu! Jangan sampai berat badanmu bertambah! Itu akan jadi masalah nanti. Okay?!" kata Hana.
"Iya," sahut Bagio, sambil menyimpan sepatu barunya ke dalam kantong plastik.
Tidak berapa lama kemudian, mobil yang membawa Bagio dan Hana, sudah berhenti di depan pintu pagar Dorm.
"Mas! ... Kalau masih ada keributan di kamarmu, jangan lupa laporkan kepada Mas Andi." Hana masih menyempatkan untuk berpesan, sebelum Bagio menghilang dari pandangannya.
"Okay!" Bagio mengacungkan satu jempolnya, lalu berbalik, dan berjalan masuk ke dalam Dorm.
Di ruang santai, terlihat Dirga sedang berbaring di sofa, sambil mengutak-atik layar ponsel yang ditatapnya.
Bagio kemudian singgah di situ sebentar, sekedar untuk menyapa Dirga. "Kamu nggak ada jadwal?"
"Eh!" Dirga tampak terkejut melihat Bagio yang berdiri di dekatnya. "Nggak ada. Dari jam tujuh tadi, aku sudah selesai kerja."
__ADS_1
"Mau olahraga sama-sama denganku?" tanya Bagio.
Dirga yang sudah mengubah posisinya jadi terduduk, tampak seperti sedang memikirkan sesuatu, setelah mendengar ajakan Bagio.
"Okay!" Dirga kemudian berdiri dari situ, lalu berjalan menghampiri Bagio.
"Aku ke kamar dulu sebentar!" kata Bagio, sambil berbalik dan bersiap untuk pergi ke lantai dua.
"Aku juga!" Dirga lalu berjalan bersama-sama dengan Bagio menaiki anak tangga.
"Aku tadi diajak teman-temanku pergi ke Pub," celetuk Dirga. "Tapi, aku besok pagi-pagi sekali ada jadwal. Makanya, aku ragu-ragu untuk ikut dengan mereka."
Bagio tidak menanggapi perkataan Dirga, dan hanya terdiam saja, sambil tetap berjalan hingga tiba di depan pintu kamarnya.
"Kamu tunggu saja di Gym, kalau kamu sudah siap lebih dulu!" ujar Dirga sambil tetap berjalan di lorong, menuju ke kamarnya yang masih jauh ke bagian dalam.
"Okay!" sahut Bagio.
Seperti biasanya, di dalam kamar itu pasti kosong, tanpa ada dua penghuninya yang lain.
Sambil menyimpan barang belanjaan yang diberikan oleh Hana tadi, Bagio melirik jam seukuran lingkar kepalanya, di dinding.
Sudah pukul 09:48.
Malam ini dia pulang lebih lambat daripada kemarin, dan Bagio berharap, agar tidak ada lagi yang akan mengganggu tidurnya malam ini.
Tidak mau menunda lebih lama, setelah berganti pakaiannya, Bagio bergegas keluar dari kamarnya dan segera menuju ke ruang olahraga.
Ketika Bagio berlari di atas treadmill, barulah Dirga muncul di situ dan ikut berlari di treadmill yang lain, yang bersebelahan dengan yang dipakai oleh Bagio.
"Kenapa lama sekali baru menyusul?" tanya Bagio, dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Aku di telepon temanku tadi. Yang aku bilang mengajakku minum-minum di Pub," jawab Dirga.
Menurut dugaan Bagio, Dirga kelihatannya masih mau ikut dengan teman-temannya, tapi ragu-ragu karena ada pekerjaan di besok hari.
"Kapan kamu ada jadwal kosong?" tanya Dirga tiba-tiba.
"Aku nggak tahu. Aku nggak perhatikan jadwalku," jawab Bagio, sambil tetap mempertahankan kecepatan berlarinya.
Hana sebenarnya sudah pernah memberikan kepada Bagio, lembaran kertas berisi jadwalnya untuk satu bulan ke depan.
Tapi Bagio hanya melihatnya sepintas, dan tidak memperhatikan dengan baik isinya. Karena baginya, kalau tidak ada jadwal kosong, justru lebih bagus.
Jikalau pekerjaan yang dijadwalkan untuk Bagio jumlahnya banyak, tentu pendapatannya juga akan meningkat.
"Kenapa?" tanya Bagio penasaran.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Kalau jadwal kosongmu sama-sama denganku, aku mau mengajakmu minum-minum denganku di Pub," jawab Dirga enteng.
"Minum minuman apa?" tanya Bagio lagi.
"Alkohol lah! Masa minum es teh manis?!" Dirga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hmm ... Kalau begitu, biar jadwalku kosong, aku nggak akan ikut denganmu," ujar Bagio.
"Eh! Kenapa?" Dirga tampak terkejut, dan hampir kehilangan irama berlarinya.
"Percuma saja aku ikut denganmu. Karena aku nggak pernah minum alkohol," jawab Bagio.
Dirga mengurangi kecepatan treadmill, sampai-sampai dia hanya perlu berjalan di atas situ.
"Naah ...! Justru itu kamu harus ikut. Lebih baik kamu mencobanya saat bersamaku. Kamu mungkin lebih tua dariku, tapi pengalamanku lebih banyak," ujar Dirga.
"Kamu mungkin nggak akan percaya. Tapi, akan ada waktunya kamu harus minum demi solidaritas, entah kamu mau atau nggak mau," lanjut Dirga tampak serius.
"Eh! Solidaritas apa'an, sampai harus minum-minum?" tanya Bagio tidak percaya.
"Mungkin belum sekarang. Tapi, kamu lihat saja nanti!" Dirga kembali menaikkan kecepatan treadmill, lalu berlari di atasnya.
Bagio menoleh sebentar ke arah Dirga, dan di saat itu juga dia melihat dua orang model laki-laki yang berciuman di tempat itu semalam, sedang berjalan bersama-sama di luar Gym.
"Dir! ... Dirga!" seru Bagio, sampai Dirga menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Dirga, yang tampak menaikkan kedua alisnya.
"Coba kamu lihat ke sana!" Bagio menunjuk dengan mengangkat dagunya.
Dirga kemudian ikut melihat ke arah yang di tunjuk oleh Bagio. "Kenapa?"
"Siapa mereka berdua?" tanya Bagio penasaran.
"Hmm ... Kalau nggak salah, mereka tidur sekamar denganmu. Kamu nggak tahu?" sahut Dirga tampak bingung.
"Eh! Iya kah?!" ujar Bagio yang rasanya tidak percaya.
"Memangnya kenapa? Kamu biasanya nggak terlalu memperhatikan model yang lain." Kali ini, Dirga yang tampak penasaran.
Bagio terdiam sejenak, sambil memikirkan apakah dia akan bertanya atau tidak kepada Dirga.
"Hmm ... Apa mereka berdua pacaran?" Akhirnya Bagio mengutarakan pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
"Hahaha! ... Jangan bilang kalau mereka membuat keributan di kamar!" kata Dirga sambil tertawa.
Kali ini, Bagio benar-benar terdiam, karena tidak tahu harus berkata apa lagi kepada Dirga.
__ADS_1
"Mereka berdua memang pacaran. Sebenarnya, pihak agensi tidak melarang para model di sini berpacaran. Entah pacaran antara laki-laki dengan perempuan, Gay seperti mereka, atau Lesbi seperti teman sekamarku....
... Tapi agensi melarang penghuninya berhubungan s*x di sini. Jadi, kalau mereka melakukan hal itu di kamar, kamu bisa laporkan ke Mas Andi. Mereka pasti dikeluarkan dari Dorm," kata Dirga menjelaskan.