
Bagio masih duduk di dalam warung makan bersama dengan Citra, saat tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri Citra di situ.
"Citra? ... Aku nggak nyangka kalau kamu ada di sini!" Laki-laki itu bertingkah akrab saat menyapa Citra.
"Halo, Ody!" sahut Citra, yang kelihatannya memang mengenal dengan baik, laki-laki yang bahkan langsung ikut duduk di samping Citra itu, tanpa perlu meminta izin.
"Sama siapa kamu ke sini?" tanya Citra, kepada laki-laki yang tadi disapanya dengan nama Ody itu.
"Dengan teman-teman kita, lah! Bukannya aku sudah memberitahumu kemarin, kalau kita akan kumpul-kumpul hari ini?! Tapi kamu nggak balas chat-ku lagi," jawab Ody.
"Iya, maaf ... Aku kemarin ada pekerjaan," sahut Citra. "Aku nggak tahu kalau kalian janjian datangnya ke sini."
"Beeuh ...! Kamu ini! Makin ke sini, malah jadi makin sibuk, makin susah diajak ngumpul," ujar Ody. "Terus, siapa teman barumu ini?"
"Oh, iya! Aku sampai lupa untuk memperkenalkan kalian berdua," ujar Citra. "Namanya Bagio."
Kenalan Citra bernama Ody itu lalu mengulurkan tangan kanannya, dan Bagio segera menyambutnya, dan bersalaman dengannya.
"Noldy! ... Tapi, kamu bisa memanggilku Ody saja!" kata Ody memperkenalkan diri, sambil tersenyum lebar.
"Bagio," sahut Bagio, yang ikut menyebutkan namanya, sebelum melepaskan jabatan tangan Ody.
"Mau bergabung dengan teman-teman yang lain?" tanya Noldy kepada Citra, lalu menunjuk ke salah satu arah. "Kami kumpul-kumpul di sebelah sana!"
"Nggak dulu, deh!" sahut Citra, setelah melihat ke arah Bagio untuk sesaat.
"Nggak apa-apa, kalau kamu mau ikut dengannya. Aku bisa menunggu di sini saja."
Buru-buru Bagio mengatakan hal itu, karena menurut dugaan Bagio, Citra mungkin menolak ajakan dari Ody, karena adanya Bagio yang bersamanya.
"Ayo ikut denganku! Sudah lama kita nggak kumpul-kumpul. Bagio juga mungkin mau berkenalan dengan teman-teman kita."
Ody tampak tetap bersemangat untuk mengajak Citra dan Bagio, agar mau ikut kumpul-kumpul dengan teman-temannya yang lain.
"Iya kan, Bagio?!" lanjut Ody sambil menatap Bagio
Citra juga ikut menatap Bagio, seolah-olah dia sedang bertanya dengan matanya, apa Bagio mau ikut dengannya dan Ody.
Agar seolah-olah dia tidak hanya jadi penghalang saja, Bagio lalu menganggukkan kepalanya, menyetujui keinginan Ody dan Citra, untuk bertemu dengan teman-teman mereka yang lain.
"Okay! Kami ikut!" ujar Citra, setelah melihat gerakan merespon dari Bagio.
__ADS_1
"Nah, gitu dong! ... Kalian tunggu sebentar! Aku tadi rencananya mau membeli minuman," kata Ody, lalu berdiri dari tempat duduknya, dan menghampiri orang yang berjaga di warung makan itu.
"Apa kamu yakin nggak apa-apa? Kalau kamu merasa nggak enak, beritahu saja nanti. Kita bisa langsung pergi dari situ," kata Citra, saat tertinggal dirinya dan Bagio saja di tempat duduk itu.
"Iya," sahut Bagio singkat.
Sekembalinya Ody dari berbicara dengan penjaga warung, Ody lalu mengajak Citra dan Bagio, agar segera berjalan pergi dari tempat itu bersamanya.
"Ayo kita pergi!" kata Ody, yang langsung melangkah keluar lebih dulu.
Dengan berjalan tidak jauh di bagian depan, Ody yang hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada, dipadankan dengan sendal jepit, lalu disusul oleh Bagio dan Citra.
Begitu juga seseorang yang bekerja di warung makan tadi, yang terlihat membawa nampan berisi beberapa gelas minuman, yang berjalan menyusul dari bagian paling belakang.
Mereka terus berjalan, hingga mereka tiba di salah satu bagian pantai, yang letaknya tidak terlalu jauh dari warung makan tadi.
Di bawah naungan dua buah payung berukuran besar, terlihat ada tiga orang yang duduk beralaskan kain, di atas pasir pantai.
Satu orang laki-laki dan dua orang perempuan, yang adalah teman-teman Citra itu, terlihat senang ketika melihat kedatangan Citra di sana.
Kini alas kain itu, sudah diduduki oleh enam orang, termasuk Bagio, Citra, dan Ody.
Bagio tidak banyak bicara, dan hanya mendengarkan saja percakapan antara Citra dan teman-temannya, setelah Citra memperkenalkan Bagio, kepada mereka semua yang ada di situ.
Tiba-tiba saja, datang satu orang laki-laki lagi yang memakai kacamata hitam, sebuah topi di kepalanya, bercelana pendek, dan mengenakan kemeja longgar bermotif kembang-kembang, yang juga dipadankan dengan sepasang sendal jepit.
Dan seketika itu juga, Citra yang awalnya terlihat sama senangnya dengan teman-temannya yang lain, lalu mendadak memasang raut wajah datar.
Citra yang terdiam, menampakkan seolah-olah dia tidak suka, dengan adanya teman laki-laki mereka yang baru saja datang, yang membawa satu kantong plastik di tangannya, yang kelihatannya berisikan beberapa kaleng minuman dan makanan ringan.
Bukan hanya Citra saja, yang gelagatnya tampak berubah secara mendadak.
Teman-teman Citra yang lain juga ikut terdiam, dan kesemuanya tampak memasang raut wajah tegang, seolah-olah mereka semua sedang mewaspadai akan sesuatu.
"Halo, Citra!"
Laki-laki yang lantas ikut duduk di antara mereka itu, melepaskan kacamata hitam yang menutupi sebagian kecil dari wajahnya, lalu menyapa Citra sambil tersenyum lebar.
"Halo, Leon!" Citra memang membalas sapaan laki-laki yang disebutnya bernama Leon itu, tapi raut wajah Citra tetap terlihat datar.
Menurut dugaan Bagio, hubungan antara Citra dan Leon, tampaknya tidak baik, sehingga Citra sampai terlihat tidak nyaman saat itu.
__ADS_1
Leon adalah laki-laki berwajah blasteran yang tampan, berperawakan campuran orang barat, dan terlihat mirip-mirip dengan Citra.
Sehingga Leon dan Citra, terlihat sangat menonjol di antara teman mereka yang lain, yang memiliki ciri-ciri khas dari penduduk lokal.
"Siapa yang bersamamu?" tanya Leon, sambil menatap lekat-lekat ke arah Bagio, yang duduk di sebelah Citra.
Tiba-tiba saja, Citra memegang tangan Bagio dan menggenggamnya dengan erat, lalu berkata, "Pacarku."
Bagio yang terkejut dengan gerakan Citra yang tiba-tiba, semakin bertambah rasa terkejutnya karena perkataan Citra, yang menyebut kalau Bagio adalah pacarnya.
Tapi menurut Bagio, tidak mungkin Citra sampai bertingkah seperti itu, kalau tidak ada sesuatu yang membuatnya sampai harus berbohong, dan terpaksa melakukan semuanya itu.
Dengan begitu, Bagio tidak mau kalau dia sampai mempermalukan Citra, dengan membantah pernyataan Citra, ataupun menolak tangan Citra yang memegang tangannya.
Bagio justru berniat untuk membantu Citra, sebisa mungkin saat itu.
Secepatnya, Bagio berusaha menenangkan dirinya sendiri, agar bisa meyakinkan semua orang yang ada di situ, seolah-olah Bagio memang benar sedang berpacaran dengan Citra.
Leon yang tersenyum sinis, lalu berkata,
"Yang aku tanyakan itu, siapa namanya."
Leon benar-benar terlihat tidak senang, ketika memandangi untuk sesaat, tangan Bagio yang masih berpegangan dengan tangan Citra.
"Apa kamu tidak mau memperkenalkannya padaku?" lanjut Leon.
Entah apa yang merasuki Bagio saat itu, hingga dia jadi sangat berani, dan kelihatannya bisa berakting dengan baik.
Tanpa merasa ragu walau sedikitpun, Bagio mengulurkan sebelah tangannya, mengajak Leon untuk bersalaman, dan berniat untuk memperkenalkan dirinya sendiri.
Sama seperti Bagio, Leon juga tidak terlihat ragu untuk menyambut tangan Bagio.
Bahkan saat bersalaman, Bagio merasa kalau Leon meremas dengan kuat tangan Bagio, yang ada di dalam genggamannya.
"Namaku Bagio," kata Bagio, sambil tersenyum tipis.
"Leonard." Dengan sedikit menghentak, Leon melepaskan pegangan tangannya dari tangan Bagio, setelah menyebutkan namanya.
Melihat gelagat dari Citra dan Leon, Bagio bisa menarik kesimpulan, kalau kedua orang itu mungkin pernah terlibat dalam hubungan yang lebih dari teman.
Bagio jadi tidak tahu lagi, apakah memang benar yang sedang dia lakukan sekarang ini, atau tidak.
__ADS_1
Yang Bagio tahu, dia hanya berniat untuk membantu Citra, dan kalau Citra memang maunya seperti itu, maka Bagio akan mengikuti arusnya.
Itu saja!