
Semalam, setelah semua jadwal kerja Bagio sudah selesai dia kerjakan, Bagio yang ditemani Hana, bersama-sama pergi menjenguk Dirga di rumah sakit.
Kondisi Dirga sudah terlihat jauh lebih baik, ketika Bagio bertemu dengannya kali ini.
Dirga bahkan sudah bisa duduk dan makan sendiri, tanpa perlu disuap dalam keadaan berbaring seperti kemarin.
Raut wajah Dirga juga sudah terlihat jauh lebih segar, dan bisa berbincang-bincang, sambil sesekali tertawa kecil, saat saling melontarkan lelucon dengan Bagio.
Bagio lalu sempat berbincang-bincang sebentar dengan orang tua Dirga, yang menurut Bagio adalah orang-orang yang berpendidikan dan juga ber-uang.
Kedua orang tua Dirga, hingga berkali-kali berterima kasih kepada Bagio, yang dianggap mereka sebagai orang yang telah menghindarkan Dirga, dari mengalami situasi yang lebih serius dan fatal.
Saat mendengar pernyataan dari orang tua Dirga, Bagio jadi tahu, kalau Dirga sebenarnya menjadi model bukan karena uang, melainkan hanya untuk memuaskan kesukaannya di dunia permodelan itu.
Dan kemungkinan besar, Dirga akan berhenti bekerja sebagai model, karena kecelakaan yang dia alami itu, yang membuat orang tuanya jadi sangat khawatir.
Tapi itu hanya menurut orang tuanya saja, sedangkan Dirga, masih belum membuat keputusan, akan benar atau tidaknya, dia yang akan berhenti menjadi seorang model.
Bagio memaklumi sikap orang tua Dirga, yang saat ini tampaknya mulai menentang dengan keras, akan keinginan Dirga untuk melanjutkan pekerjaannya sekarang ini.
Orang tua mana yang mau melihat anaknya yang hampir meregang nyawa, hanya karena anaknya yang ingin memuaskan hobinya?
Apalagi, Dirga bisa saja menjadi penerus bisnis ayahnya di luar negeri, kalau hanya untuk mendapatkan uang saja.
Bagio juga mendengarkan keluh kesah, yang secara khusus dikatakan oleh ibunya Dirga, tentang Dirga yang tidak mau memberitahu kecelakaan yang dia alami di lokasi kerja.
Menurut penuturan dari ibunya, Dirga selalu saja berkata kalau dia baik-baik saja, setiap kali orang tuanya menghubunginya.
Bahkan ibunya Dirga berkata kepada bagio, bahwa belakangan ini, dia menganggap kalau Dirga bersikap semakin buruk, dan Dirga tidak bisa bertanggung jawab dengan dirinya sendiri.
Dan yang menjadi alasan dari pendapat ibunya Dirga adalah, kemarin dulu di siang harinya, seakan-akan dia memang mendapat firasat buruk, ibunya sempat menghubungi Dirga, tapi pemuda itu tidak berkata apa-apa.
Sehingga membuat kedua orang tuanya jadi sangat kesal, karena baru kemarin pagi mereka bisa mendapatkan informasi, bahwa Dirga sedang sakit dengan kondisi yang cukup kritis.
Setelah mendengarkan perkataan dari orang tua Dirga, Bagio bisa menarik kesimpulan, bahwa Dirga mungkin memang sengaja untuk menutup-nutupi keadaannya.
Mungkin Dirga tidak mau membuat orang tuanya cemas, agar orang tuanya tidak menentang keinginannya, yang masih ingin wara-wiri di dunia modeling.
Selama kedua orang tua Dirga berbicara tentang Dirga, Bagio hanya menjadi seorang pendengar saja di dalam ruang perawatan Dirga itu.
Bagio tidak mau berkomentar apa-apa, yang mungkin hanya akan mencampuri urusan pribadi, antara Dirga dan orang tuanya.
__ADS_1
Bagio dan Hana menghabiskan waktu mereka di rumah sakit, hingga malam sudah cukup larut, dan Hana akhirnya mengajak Bagio untuk pulang.
***
Di pagi hari ini, tanpa perlu mandi, Bagio langsung pergi ke gym yang ada di dalam dorm untuk berolahraga.
Bagio memang sudah ada janji untuk menghabiskan waktu liburnya hari ini, dengan berjalan-jalan bersama Citra.
Tapi sesuai dengan yang sudah mereka berdua rencanakan kemarin, Citra akan menjemput Bagio di jam sepuluh nanti.
Dengan begitu, Bagio memilih untuk menggunakan waktunya menunggu kedatangan Citra, dengan beraktifitas di gym, agar nanti malam dia tidak perlu berolahraga lagi.
Mungkin karena para penghuninya yang rata-rata sudah keluar dari Dorm sejak malam tadi, sehingga suasana di dalam dorm kali ini, tampak lebih lengang daripada biasanya.
Sehingga, sejak Bagio keluar dari dalam kamarnya, Bagio tidak menemui satupun penghuni Dorm yang lain.
Untuk kali ini, Bagio ingin mengeluarkan keringatnya, sambil ditemani oleh suara penyanyi tembang kenangan, yang ada di aplikasi khusus untuk mendengarkan musik dari ponselnya.
Dengan memasang di kedua sisi indera pendengarannya, penyuara telinga yang sudah tersambung di ponselnya, Bagio mulai berlari di atas treadmill.
Bagio jadi teringat, akan pemutar kaset bertenaga baterai miliknya, yang ada di pondok sawahnya.
Oh, iya! Sekarang ini, Bagio sudah memiliki ponsel, tapi dia masih belum bisa mencari tahu kabar di kampungnya.
Seandainya saja sekarang Bagio sudah menerima gajinya, maka hari libur ini bisa Bagio manfaatkan untuk berkunjung ke kampung.
Tapi setelah dipikir-pikir, kelihatannya Bagio mungkin bisa menghubungi Kartono, dan mencari tahu kabar semuanya di sana.
Hanya saja, di hari libur seperti ini, mungkin semua kantor juga tutup, termasuk kantor pos, yang bisa Bagio gunakan jasanya untuk mengirimkan surat.
Mau tidak mau, Bagio terpaksa harus menunda lagi, untuk mencari tahu bagaimana keadaan sawahnya, rumahnya, dan setoran hutangnya yang ditangani oleh Kartono.
Bagio menyesalkan kelalaiannya, yang hanya teringat akan kampungnya, di saat-saat yang tidak tepat seperti sekarang ini.
Tapi, ya sudahlah! ... Yakin saja!
Tidak mungkin, Kartono sampai tidak memegang janjinya kepada Bagio.
Bagio masih harus bersabar untuk beberapa minggu lagi, sampai upah hasil kerjanya sudah bisa dia terima, dan bisa dia pakai untuk kembali ke kampung saat dia tidak ada jadwal untuk bekerja.
***
__ADS_1
Setelah Bagio selesai berolahraga, lalu bergegas mandi sambil mencuci pakaiannya, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08:30.
Kalau begitu, waktu yang tersisa sebelum Citra datang untuk menjemput Bagio, sudah tidak seberapa banyaknya lagi.
Karena rasa senang campur penasaran, akan kemana kira-kira Citra akan mengajaknya bepergian, hingga Bagio semakin bersemangat agar bisa cepat bertemu dengan Citra.
Bagio berjalan keluar dari Dorm, setelah selesai berpakaian, dan menunggu Citra, sambil berdiri di depan pintu gerbang pagar Dorm, meskipun jam belum menunjukkan pukul sepuluh tepat.
Di sekitar jam sepuluh lewat beberapa menit, Citra yang mengendarai mobil pribadinya, tampak berhenti di depan gerbang, dan menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Kamu sudah lama menunggu?" tanya Citra.
"Enggak. Baru saja," jawab Bagio.
"Ayo masuk! Jangan hanya berdiri saja di situ!" ajak Citra, yang tetap duduk di belakang kemudi.
Tanpa berlama-lama lagi, Bagio lantas masuk ke dalam mobil Citra, dan duduk bersebelahan dengan wanita itu di jok penumpang bagian depan.
Citra lalu memutar kemudi, dan membawa mobilnya pergi dari Dorm.
"Kita akan pergi ke mana?" tanya Bagio.
"Hmm ... Kamu mau pergi kemana?" Citra malah balik bertanya.
"Nggak tahu," jawab Bagio. "Kemana saja kamu mau pergi, aku akan ikut saja. Kan kamu yang menyetir?!"
"Pffftt ...! Okay, okay!" ujar Citra, sambil melirik Bagio sebentar.
"Kemana yang seru, ya?!" Citra tampak mengetuk-ngetuk setir, dengan sebelah tangannya.
Kelihatannya Citra tidak memikirkan dengan matang, akan kemana dia mengajak Bagio, dan seolah-olah hanya bersikap spontan saja, saat mengajak Bagio bepergian dengannya.
Hari ini, bukan hanya Dorm saja yang bisa terlihat lengang.
Tidak seperti di hari-hari kerja, yang biasanya sampai terjadi kemacetan panjang, di jalanan kota kali ini juga tampak lebih lega, tanpa banyak kendaraan bermotor yang berlalu-lalang di sana.
Setelah beberapa waktu Citra berkendara, dengan membawa Bagio bersamanya, Citra kemudian memelankan laju mobilnya, hingga akhirnya berhenti di dekat pantai yang tampak dipenuhi oleh wisatawan.
"Bagaimana menurutmu, kalau kita bersantai di sini saja dulu? Nggak apa-apa?" tanya Citra.
"Nggak apa-apa," sahut Bagio.
__ADS_1