Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 70


__ADS_3

Semenjak pertemuan Bagio dengan ayah dan ibu dari Sarimunah, satu persatu permasalahan Bagio, bisa diselesaikannya, dengan semua bantuan yang didapatkannya,  dari semua kenalannya.


Bagio yang sudah bisa mengirimkan uang kepada Kartono, selain untuk membayar satu kali setoran terakhirnya di pegadaian, Bagio juga mengirimkan uang tambahan, sebagai ganti uang Kartono, yang terpakai oleh keluarga Sarimunah waktu itu.


Kartono lalu memanfaatkan uang dari Bagio itu, untuk membeli ponsel, agar dia bisa lebih mudah untuk berhubungan dengan Bagio.


Sehingga Bagio bisa mendapatkan informasi secara rutin dari Kartono, tentang bagaimana keadaan di kampung.


Bagio jadi bisa saling berkirim kabar, baik tentang Kartono dan keluarganya, berikut juga dengan rumah dan sawah Bagio, yang dikelola oleh Kartono.


Selain itu, Bagio juga bisa sesekali bercerita tentang pengalamannya bekerja, di kesehariannya kepada Kartono, kapanpun Bagio mau.


Karena satu persatu permasalahannya yang terberat, sudah mulai teratasi, baik hutang di agensi dan hutang di pegadaian, Bagio jadi lebih tenang, hingga dia tidak lagi bermimpi buruk.


Dengan demikian, Bagio tidak membutuhkan Sucitra lagi untuk menjadi teman tidurnya.


Hubungan antara Sucitra dan Bagio tetap akrab, sebatas teman dekat, yang bebas bercerita apa saja.


Bagio juga masih melanjutkan melakukan latihan yoga bersama Sucitra.


Dan sesuai dengan perkataan Sucitra, jika berat badan Bagio lambat laun akan turun, asalkan Bagio rutin latihan yoga, dan mengatur asupan makanannya, hal itu memang terbukti benar adanya.


Pada bulan pertamanya saja, saat Bagio rutin mengikuti arahan dari Sucitra, berat badan Bagio sudah tidak bertambah lagi, dan jumlah kilogram dari berat badan Bagio, justru berkurang walaupun hanya sedikit demi sedikit.


Dengan nutrisi dari makanannya yang baik, dan bermeditasi dalam latihan yoga, ditambah dengan konsultasi di psikiater, dan obat-obatan yang dia konsumsi, mental Bagio juga ikut membaik.


Kecemasan berlebihan yang biasanya mengacaukan pekerjaannya, kini sudah tidak pernah menggangu Bagio lagi, hingga dia bisa bekerja dengan normal kembali.


Hana juga tidak menyerah untuk mengurus Bagio, dengan tetap menjadi manajer yang baik bagi Bagio.


Berkat kegigihan Hana dalam mencarikan kesempatan untuk Bagio, Bagio jadi bisa mendapatkan kontrak kerja, yang bermacam-macam jenisnya, dan bukan hanya melulu melakukan pemotretan, atau peragaan busana saja.


Pekerjaan yang diterima oleh Bagio yang semakin beragam, berimbas pada pendapatannya, yang juga ikut meningkat.


Apalagi, Bagio tidak mengubah gaya hidupnya sama sekali, dan tetap berhemat, sehingga tabungannya bisa bertahan, dan bertambah di setiap bulannya.


Bukan hanya itu saja.


Hubungan antara Bagio dan Citra pun ikut membaik.


Bagio kembali mempelajari tentang fotografi bersama Citra, dan Bagio jadi sering menghabiskan waktu dengan wanita itu, di setiap kali Bagio tidak ada kegiatan yang menyibukkannya.


Bahkan, belakangan ini, menurut penilaian Citra, kemampuan Bagio untuk mengambil gambar sudah sangat baik.


Waktu yang berlalu, tidak terasa lagi, hanya tinggal menghitung hari, kontrak kerja Bagio di agensi, sudah hampir berakhir.


Dengan begitu, Bagio berarti sudah hampir satu tahun penuh tinggal di kota, dan berprofesi sebagai seorang model.


Dan hari ini, Bagio, Citra, Sucitra, dan Hana, membuat janji untuk bertemu dan berjalan-jalan bersama.


Karena libur nasional, Bagio dan Sucitra sama-sama tidak memiliki jadwal kerja, dan ingin menjadikan kesempatan di hari itu, untuk mengunjungi kampung Bagio.


Sejak pagi-pagi sekali, Bagio dan Sucitra sudah bersiap-siap di dalam Dorm, menunggu kedatangan Citra yang akan menjemput mereka.


"Sudah siap, belum?" tanya Sucitra, yang tampak lebih bersemangat daripada Bagio.

__ADS_1


Bagio yang masih mengikat tali sepatunya, tidak segera menjawab pertanyaan Sucitra itu, dan tetap sibuk dengan sepatunya saja.


"Sudah! ... Ayo kita pergi!" ujar Bagio, lalu berjalan keluar dari kamar, mengajak Sucitra yang sudah menunggunya.


Dengan tergesa-gesa, Bagio dan Sucitra berjalan keluar, karena yang mereka tahu, Citra dan Hana juga sudah menunggu mereka di luar Dorm.


Mobil Citra terlihat sudah terparkir di depan pintu gerbang Dorm, dengan kondisi mesin yang masih menyala, seolah-olah tidak ada satupun dari mereka, yang tidak bersemangat untuk berjalan-jalan hari itu.


Setelah Bagio dan Sucitra masuk ke dalam mobil, Citra segera membawa mobilnya pergi dari sana, dan memacu kecepatan mobilnya, ketika sudah berada di jalan raya.


"Apa kamu sudah memikirkannya?" tanya Citra kepada Bagio.


Pertanyaan Citra itu bermaksud untuk mencari tahu, apakah Bagio akan memperpanjang kontraknya di agensi, atau mau bekerja lepas saja, sambil menjadi asisten Citra.


Bagio sudah memikirkan hal itu, tapi masih belum mengambil keputusannya saja.


Karena kalau Bagio tidak memperpanjang kontraknya di agensi, maka Bagio tidak bisa tinggal di Dorm lagi.


Kalau begitu keadaannya, maka Bagio harus mencari tempat sewaan baru, jika dia masih akan menetap di kota.


Sedangkan Citra juga tidak setuju, jika Bagio tinggal di kost-kostan yang tidak jelas, dan justru menyuruh Bagio agar tinggal di rumahnya saja.


Oleh karena itulah, hingga Bagio belum bisa memberikan jawaban yang pasti, atas pertanyaan Citra itu.


"Jangan terlalu memaksa!" ujar Sucitra, yang juga mengerti maksud dari pertanyaan Citra. "Balon, kalau semakin kamu gencet, maka akan semakin rawan untuk meletus."


Tanpa menanggapinya lebih lanjut, Citra yang mendengarkan perkataan Sucitra, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku masih mempertimbangkannya. Kontrakku juga masih ada beberapa hari lagi," kata Bagio.


Di sepanjang perjalanan mereka, sambil berbincang-bincang, Bagio sesekali mengabadikan momen mereka itu, dengan mengambil gambar, menggunakan kamera foto milik Citra.


Mereka bahkan sempat berhenti di perjalanan, sampai beberapa kali, hanya untuk mengambil gambar, di tempat yang terlihat menarik.


"Kartono pasti akan senang sekali, karena kita bisa membawa Hana, untuk bertemu dengannya," kata Citra.


Seketika itu juga, wajah Hana tampak memérah seperti kepiting rebus, ketika Bagio melihatnya dari pantulan cermin di spion.


Hana tampaknya memang tidak bisa menyembunyikan rasa malunya, karena perkataan Citra itu.


Bagio juga tidak menyangka, kalau Hana bisa jadi dekat dengan Kartono, walaupun mereka berdua hanya berhubungan lewat ponsel saja.


"Bagaimana kamu dengannya nanti?" tanya Citra kepada Hana.


"Apa kamu yang akan pindah ke kampung Kartono? Atau kamu akan mengajaknya, pindah ke kota bersamamu?" lanjut Citra.


"Hmm ... Belum tahu," jawab Hana.


Selain Hana dan Citra yang masih berbincang-bincang, Sucitra tampak terlelap tidur, sejak dari tempat persinggahan mereka, yang ke sekian kalinya tadi.


Dan Sucitra baru terbangun lagi, ketika mereka sudah tiba di kampung Bagio.


Kartono yang sudah tahu, kalau Bagio akan datang bersama dengan Citra, Sucitra dan Hana, terlihat menunggu di depan rumah Bagio.


Kartono menyambut kedatangan Bagio dan mereka yang lainnya, dengan beberapa butir kelapa muda, yang sudah siap dikonsumsi.

__ADS_1


"Bagio! ... Ternyata, temanmu ganteng juga, ya?!" ujar Sucitra, sambil berjabat tangan dengan Kartono, untuk berkenalan dengannya.


Kartono lalu tampak tersipu malu-malu.


"Plak!" Di saat itu juga, Hana kemudian memukul kepala Kartono, lalu berjalan menjauh.


"Hahaha!" Sucitra tertawa lepas, menertawakan Kartono.


Sementara itu, Bagio dan Citra, yang sudah tahu bagaimana sifat Sucitra, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka, saat melihat Sucitra yang tampak masa bodoh, walaupun telah membuat Hana cemburu.


Sambil menikmati air kelapa muda, dan berikut juga dengan isi dagingnya, Kartono, Hana, dan Sucitra, tampak sibuk sendiri dengan perbincangan mereka.


"Kamu mungkin menganggap kalau aku terlalu memaksa. Tapi aku menawarkanmu agar jadi asistenku, itu karena aku memikirkanmu," celetuk Citra.


Bagio lalu menatap Citra lekat-lekat.


"Kalau kamu bekerja denganku, jadwal kerja aku yang atur. Jadi kalau kamu rindu untuk jalan-jalan ke kampung seperti ini, kita bisa datang ke sini," lanjut Citra.


"Iya, aku tahu ... Tapi aku nggak enak, kalau aku harus tinggal di rumahmu." Bagio akhirnya berkata jujur kepada Citra.


"Kamu mencintaiku?" tanya Citra.


"Iya ... Apa perlu kamu menanyakannya lagi?" sahut Bagio, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu apa masalahnya, kalau kamu tinggal bersamaku?" tanya Citra.


"Kita belum menikah. Apa yang akan jadi pembicaraan orang-orang, nantinya?" ujar Bagio.


Kelihatannya, Citra tampak kesal karena pembahasan mereka itu, karena dia lalu berdiri, dan berjalan menjauh dari teras rumah Bagio.


"Kamu ini! ... Kalau cuma itu alasanmu, kenapa kamu nggak melamarnya saja?" ujar Sucitra, tiba-tiba.


Bagio yang baru saja akan berdiri untuk menyusul Citra, kemudian menahan langkahnya, lalu melihat ke arah Sucitra, karena mendengar perkataan dari wanita itu.


Hana dan Kartono, juga tampak menatap Bagio sekarang ini, seolah-olah mereka semua memang mendengar pembicaraan antara Citra dan Bagio, barusan.


"Kamu mencintainya, dia juga mencintaimu. Apa yang kamu khawatirkan?" ujar Sucitra.


Bagio memandangi Hana dan Kartono bergantian, dan kedua orang itu terlihat menganggukkan kepalanya masing-masing, seolah-olah setuju dengan pendapat Sucitra.


"Tunggu apa lagi?" Sucitra memberi tanda dengan gerakan matanya, agar Bagio menyusul Citra.


Seolah-olah mendapatkan keberanian lebih, Bagio membulatkan tekad, lalu berjalan pergi, dan menghampiri Citra.


"Citra...!" ujar Bagio, hingga Citra berbalik dan melihatnya.


"Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Bagio, berhati-hati.


Citra yang menatap Bagio lekat-lekat, lalu tersenyum lebar dan berkata,


"Iya ... Aku mau menikah denganmu."


...———TAMAT———...


NB : Terima kasih sudah membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Mohon dimaafkan, jika terdapat kekurangan dan kesalahan di dalam penulisannya.

__ADS_1


TERIMA KASIH. 🙏


__ADS_2