
Rasa ngilu.
Itu saja yang bisa diingat oleh Bagio, saat dia mendorong ayah Sarimunah menjauh darinya, bersamaan dengan dua orang Hansip, yang menangkap ayah Sarimunah, dan menahannya di lantai.
Teriakan demi teriakan histeris, pecah membahana, membuat keributan, hingga Bagio tidak bisa memilah lagi, akan apa yang sedang dikatakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Pecahan gelas masih tertancap cukup dalam di perut Bagio, yang sekarang sudah mulai mengucurkan banyak darah, dan membasahi kemeja dan celana panjangnya.
Bagio mencoba untuk mencabut pecahan gelas dari perutnya, tapi rasa sakitnya tidak tertahankan, hingga Bagio mengurungkan niatnya.
Dan bukan hanya karena rasa sakitnya saja, yang membuat Bagio tidak melepaskan pecahan gelas dari perutnya itu.
Tapi juga karena Citra, yang melarang Bagio untuk melakukan hal itu.
Citra dengan wajahnya yang pucat pasi, tampak berusaha keras untuk tetap terlihat tenang, sambil berkata kepada Bagio,
"Kamu nggak boleh mencabutnya sendiri! Akan fatal akibatnya nanti! Apa kamu masih bisa berdiri? Kita harus ke rumah sakit sekarang!"
Kartono pun terlihat tak kalah panik, saat menghampiri Bagio, hingga dia seolah-olah akan menangis, ketika melihat banyaknya darah Bagio, yang mengalir keluar dari sela-sela pecahan gelas.
"Mas! Tolong jaga Bagio! Usahakan agar dia tetap sadar! Aku akan pergi mengambil mobilku!"
Setelah Citra selesai mengatakan pesannya kepada Kartono, Citra lalu terlihat segera pergi dari situ, sambil berlari.
"Bagio! Tahan sebentar! Tunggu Citra kembali! Kita nanti ke puskesmas!" ujar Kartono, yang berdiri dan sedikit membungkuk, sambil memegang kedua bahu Bagio yang masih terduduk di kursi.
"Brengsek! ... B*ngsat! ... Setan kau!" Kartono masih menyempatkan diri, untuk memaki ayah dari Sarimunah.
Kartono bahkan sempat beberapa kali menendang ayah Sarimunah, yang tangannya sudah terikat dengan tali rafia, dan akan dibawa pergi dari situ, oleh dua orang Hansip yang menahannya.
"Sabar, Kartono! Jangan main hakim sendiri! Dia akan dibawa ke kantor polisi. Nanti, dia pasti akan mendapatkan hukuman yang pantas," ujar Ketua RW, terdengar mencoba menenangkan Kartono.
"Bagaimana dengan Bagio?" tanya Ketua RW itu, sambil memandangi Bagio, dengan menautkan kedua alisnya, hingga membentuk lipatan-lipatan kerutan yang dalam di keningnya.
"Pacarnya tadi pergi mengambil mobilnya. Semoga saja kita nggak terlambat, untuk membawanya berobat," kata Kartono, dengan suara bergetar.
"Apa kalian bisa mengatasinya sendiri? Saya akan menemani para Hansip, untuk mengantar ayah Sarimunah ke kantor polisi....
... Sedangkan ketua RT ... Kamu lihat saja sendiri! Dia sibuk mengurus istrinya yang jatuh pingsan," kata Ketua RW.
"Iya ... Mungkin kami bisa mengurus Bagio. Aku nanti minta bantuan warga yang lain, kalau kami nggak bisa membuat Bagio masuk ke dalam mobil," sahut Kartono.
Kepanikan di tempat itu, memang cukup luar biasa.
Salah satu penyebabnya, karena ayah Sarimunah, yang walaupun sudah terikat dan diseret secara paksa, tapi dia masih saja mengamuk.
Dan begitu juga ibu dari Sarimunah, yang ditemani oleh Sarimunah, yang terus saja menangis histeris, sambil memaksa para Hansip agar melepaskan suaminya.
Beberapa warga yang ada di situ yang sudah berusia lanjut, dan mungkin karena terlalu terkejut dengan kejadian itu, lalu jatuh pingsan, hingga ikut menyibukkan warga yang lain, untuk mengurus mereka.
__ADS_1
Tidak jauh berbeda keadaannya, istri Ketua RT yang jatuh pingsan, karena melihat darah di perut Bagio, hanya membuat suaminya sibuk, untuk mencoba menyadarkannya kembali.
Ditambah lagi, dengan suara tangisan dari anak-anak yang mungkin ketakutan, karena melihat kejadian yang tidak menyenangkan itu.
Untuk beberapa saat yang berlalu kemudian, Citra lalu terlihat sudah kembali ke situ, dan menghampiri Bagio yang ditemani oleh Kartono, sambil berkata,
"Ayo, Mas! Bantu aku membawa Bagio ke mobilku! ... Bagio! Apa kamu masih bisa berjalan sendiri?"
Bagio mengangguk pelan, lalu mencoba untuk berdiri.
Dan kelihatannya, Bagio mungkin tidak akan sanggup untuk berjalan, karena untuk berdiri saja, rasa sakit di perutnya sudah menjadi-jadi.
Walaupun demikian, Bagio tidak mau banyak mengeluh, karena mungkin hanya akan membuat orang lain semakin kerepotan saja, untuk mengurusnya.
Sambil dipapah oleh Kartono dan Citra, dari sebelah kiri dan kanannya, Bagio memaksakan dirinya, agar dia bisa pergi ke mobil Citra.
Saat Bagio bergerak melangkahkan kaki-kakinya, darah yang mengalir keluar dari lukanya jadi semakin deras, hingga menetes ke tanah.
Bagio hampir kehilangan kesadarannya, ketika dia mencoba masuk ke dalam mobil Citra, dan duduk di dalamnya, sambil tetap dibantu oleh citra dan Kartono.
Dengan terburu-buru, terlihat Citra yang masuk ke dalam mobilnya, dan duduk di belakang kemudi.
Begitu juga dengan Kartono, yang juga akan ikut mengantar Bagio, yang terlihat masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa, lalu duduk di jok penumpang di samping Citra.
"Di mana ada rumah sakit terdekat?" tanya Citra, sambil mulai memacu mobilnya, keluar dari halaman rumah Ketua RT.
"Nggak ada rumah sakit di dekat sini! Kita pergi ke puskesmas saja! Nanti aku tunjukkan arahnya!" sahut Kartono.
"Bertahanlah, Bagio! Kami akan mencarikan bantuan secepatnya untukmu!" kata Citra.
Bagio tidak menyahut, dan hanya terdiam saja, sambil berusaha menjaga kesadarannya, agar dia tidak jatuh pingsan di situ.
Namun kelihatannya, walaupun Bagio sudah berusaha agar dia tetap sadar, tapi tetap saja, dia seolah-olah sedang tertidur, hingga dia tidak menyadari apa yang terjadi selanjutnya.
Bagio baru tersadar, ketika dia sudah berbaring di atas sebuah tempat tidur.
Kesadaran Bagio itupun, kelihatannya tidak berlangsung lama, karena dia kembali merasa seperti orang yang sangat mengantuk, dan kemudian tidak ingat apa-apa lagi.
***
Entah berapa lama Bagio tidak sadarkan diri.
Ketika Bagio membuka matanya, dia kelihatannya sudah berada di rumah sakit, dengan selang infus yang terpasang di punggung salah satu tangannya.
Di wajah Bagio, juga terasa seperti ada sesuatu di sana, yang melintang di antara hidung dan bibirnya bagian atas, dan benda asing itu, menghembuskan angin dingin ke lubang hidungnya.
"Bagio!" ujar Citra yang tampak tersentak, saat melihat Bagio yang sudah membuka matanya.
Citra yang tadinya duduk di samping ranjang tempat Bagio berbaring, lalu segera berdiri dan mengecup kening Bagio dengan lembut.
__ADS_1
"Thank goodness! ... Kamu sudah sadar," ujar Citra, sambil tersenyum lebar, walaupun dari wajahnya, masih terlihat seolah-olah dia sedang kelelahan.
"Aku sempat mengira, kalau aku akan kehilanganmu," ujar Citra lagi, dengan sudut matanya yang terlihat mulai basah dengan air matanya.
"Jangan menangis...! Aku baik-baik saja," kata Bagio, pelan.
Citra lalu kembali membungkuk, dan memberikan ciuman yang manis di bibir Bagio, untuk beberapa saat lamanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Bagio.
"Kamu nggak sadarkan diri dari kemarin. Luka di perutmu cukup parah, dan mengalami infeksi. Kamu juga kehilangan banyak darah....
... Lalu, puskesmas pun tidak memiliki peralatan, dan kemampuan yang cukup, untuk mengatasinya. Jadi kamu dilarikan ke rumah sakit di kota," kata Citra.
"Eh ...? Sekarang ini kita sudah di kota?" tanya Bagio, yang masih bingung.
"Iya," jawab Citra.
"Lalu, bagaimana dengan Kartono?" tanya Bagio, lagi.
"Dia ikut ke sini. Tapi tadi dia dibawa Hana pergi ke Dorm, untuk membersihkan dirinya di sana," jawab Citra.
"Hana ... Eh! Bagaimana dengan jadwalku?" tanya Bagio, panik.
"Huuffft...!" Citra mendengus kasar. "Kamu sedang terluka, bagaimana kamu bisa bekerja?"
"Kamu nggak perlu memikirkan apa-apa dulu. Istirahat saja! Agar kamu bisa benar-benar pulih," lanjut Citra lagi, sambil mengusap-usap kepala Bagio.
"Tapi kontrak—" Bagio tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena Citra yang menyela perkataannya.
"Bagio! ... Sudah cukup! ... Nggak akan terjadi apa-apa dengan pekerjaanmu. Hana bisa mengatasi semua urusan pekerjaan dan kontrakmu....
... Kamu nggak perlu mengkhawatirkan tentang hal itu. Apa kamu lebih perduli dengan pekerjaanmu, daripada aku yang mengkhawatirkan keadaanmu?"
Bagio tidak bisa berkata apa-apa lagi, setelah mendengar perkataan dari Citra itu, hingga akhirnya dia hanya bisa terdiam, untuk beberapa saat.
"Maafkan aku, yang sudah membuatmu cemas," ucap Bagio, pelan.
"Huuufft...!" Lagi-lagi, Citra tampak mendengus kasar, lalu berkata dengan bahasa asing,
"Nevermind!"
"Ugh ...?" Bagio tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Citra.
"Sudahlah ... Nggak perlu membahas tentang hal itu lagi," kata Citra, seolah-olah menjelaskan, tentang apa maksud ujarannya tadi.
Citra kemudian kembali mendekat kepada Bagio, dan berciuman dengannya, hingga suara batuk palsu, yang terdengar di situ, menghentikan kegiatan Bagio dan Citra, yang sedang bermesraan.
"Ehhem! ... Ehhem!"
__ADS_1
Kartono yang tersenyum lebar, terlihat sudah berada di dalam kamar, dan berdiri di bagian kaki ranjang perawatan, tempat Bagio berbaring.