
"Makan apa yang enak, ya?!" Jari telunjuk Citra mengetuk-ngetuk lingkaran setir mobilnya, seolah-olah dia sedang merasa ragu, dan bukan sedang menunggu jawaban dari Bagio.
Setibanya Bagio di Dorm tadi, tanpa menunggu lama-lama, Bagio segera mandi dan bersiap-siap untuk rencana pertemuannya dengan Citra.
Andi yang memberitahu Bagio kalau Citra yang datang menjemput Bagio, sudah menunggu di depan Dorm, tampak memasang raut wajah seakan-akan tidak percaya, dengan apa yang sedang dia katakan kepada Bagio.
Kelihatannya memang sangat asing, jika Citra sampai mengajak salah satu model untuk pergi ke luar dengannya, dan bahkan sampai menjemput orang itu di Dorm, seperti Bagio sekarang ini.
Dengan perlahan, Citra mengendarai mobilnya hingga masuk ke jalan raya, yang terlihat padat dengan kendaraan.
Makanan apa yang mungkin bisa Bagio sarankan?
Rencananya, Bagio kan hanya akan bertemu dan berbincang-bincang dengan Citra saja, tanpa ada rencana tambahan untuk makan malam di luar bersama.
Kantong Bagio yang sudah hampir bolong, tentu tidak siap jika harus dikeruk lebih dalam lagi, jika sampai Citra mengajaknya makan makanan mahal.
Tapi rasanya juga tidak mungkin, kalau Bagio sampai mengajak Citra makan di warung pinggir jalan saja, demi mengikuti kadar kemampuan lembaran kertas Bagio, yang tergulung kusut di saku celananya.
Apa Citra mau membuat aroma uang dari parfum yang dipakainya, jadi berganti dengan aroma asap bakaran sate di warung makan pinggir jalan?
Apalagi, kalau mereka makannya hanya sambil duduk lesehan di atas tikar di trotoar, dan hanya membuat celana panjang jeans yang dipakai Citra jadi kotor.
Hmm ... Seandainya Bagio tahu, mungkin Bagio tadi bisa meminjam sedikit uang tambahan dari Hana.
Tapi apa mau dikata?
Mau tidak mau, Bagio hanya bisa pasrah saja.
Jikalau kain tipis yang jadi bahan untuk saku celana panjangnya sudah dikeluarkannya sampai habis, tapi masih tidak mampu untuk membayar makanannya, maka Bagio siap untuk jadi tukang cuci piring malam itu.
"Apa kamu mau makan makanan Padang?" tanya Citra.
"Eh! Terserah kamu saja," sahut Bagio ragu.
"Bagaimana denganmu? Makanan Padang kalorinya sangat tinggi," ujar Citra.
"Nggak apa-apa. Sepulangnya nanti, aku bisa menambah jam olahraga ku," sahut Bagio.
"Okay!"
Citra sama sekali tidak terlihat kesulitan saat mengendarai mobilnya, dengan membawa Bagio di dalamnya, hingga tiba di sebuah rumah makan Padang.
Rumah makan yang tidak terlalu mewah, dan justru terkesan sederhana, namun tampak padat dengan pembeli.
__ADS_1
Mengambil meja kosong yang letaknya dekat dengan jendela, Bagio dan Citra duduk di kursi yang berhadap-hadapan.
Cantik dan menariknya Citra yang duduk di depan Bagio, masih lebih menarik pemandangan letak kasir yang bisa dilihat Bagio dengan jelas.
Apalagi saat ada seorang ibu-ibu yang membayar tagihannya, hingga berlembar-lembar kertas yang bergambar wajah presiden pertama Indonesia dan wakilnya.
Bagio sudah bisa menarik kesimpulan, kalau meskipun tempat itu terlihat sederhana, tapi harga makanannya tidaklah sederhana.
Kelihatannya, meskipun Bagio mencuci piring di rumah makan itu nanti, tetap tidak akan cukup untuk menutupi harga lauk pauk yang berkuah santan kental.
Entah apa yang akan dibilang Bagio kepada Citra, saat sudah waktunya berdiri di depan kasir.
"Apa yang kamu pikirkan?" Pertanyaan Citra, mengejutkan Bagio dari lamunannya.
"Nggak ada," jawab Bagio pelan.
Citra lalu menuangkan sedikit kuah ke atas nasinya, dan mengambil beberapa lauk yang juga di masukkan ke dalam piring makannya.
Pandangan mata Citra tampak bergerak naik turun ke arah Bagio, lalu ke arah piring makan milik Bagio, hingga beberapa kali.
"Kita bisa pindah ke rumah makan yang lain saja," celetuk Citra tiba-tiba.
"Eh! Kenapa?" tanya Bagio heran.
"Nggak kok!" sahut Bagio buru-buru.
"Kalau begitu, dimakan, lah!" Citra menunjuk lauk pauk yang tersedia di atas meja, dengan pandangan matanya.
"Karena kalau cuma aku saja yang makan, berarti aku bukan sedang mentraktirmu. Melainkan aku hanya seperti sedang menyiksamu, yang hanya bisa menonton aku makan," lanjut Citra.
Bagio jadi serba salah sekarang ini.
Kalau sampai Bagio makannya mungkin terlalu banyak, maka Bagio hanya akan membebani Citra, yang katanya nanti membayarkan harga makanan mereka.
Sedangkan kalau Bagio makan terlalu sedikit, maka Citra mungkin akan kecewa melihatnya, karena Bagio akan terlihat seolah-olah tidak menyukai pilihan makanan yang Citra inginkan.
Ckckck ...!
Jadi seorang laki-laki yang tak ber-uang memang tidak menyenangkan.
Bagio mengambil lauk dan memasukkannya ke piringnya dengan penuh tekad, kalau dia sudah mendapatkan gaji pertamanya, maka dia akan berusaha membalas traktiran Citra.
"Apa aku bisa bertanya lebih jauh tentangmu? Tapi kalau kamu nggak mau, juga nggak apa-apa. Aku hanya ingin lebih mengenalmu saja," ujar Citra.
__ADS_1
"Citra bisa bertanya apa saja padaku," sahut Bagio.
"Apa sebelumnya kamu pernah berencana untuk menjadi seorang model?" tanya Citra.
Bagio menggelengkan kepalanya. "Nggak."
"Kalau nggak ada mahasiswa yang KKN di kampungku, lalu aku bertemu salah satu dari mereka, mungkin aku masih tetap jadi petani," lanjut Bagio.
Citra yang meneguk sedikit air minumnya, lalu bertanya lagi, "Bagaimana rasanya setelah mulai bekerja? Ada rasa menyesal nggak?"
"Nggak, sih," jawab Bagio. "Aku hanya masih merasa kurang percaya, kalau ada yang mau mempekerjakan ku seperti ini."
"Apa kamu tahu? Pemotretan pakaian renang tadi, bukan hanya untuk iklan lokal saja. Karena itu produk luar negeri, yang penjualannya sudah berkala internasional....
... Aku bekerja sama dengan bagian marketing produk itu, dan kami juga sama-sama memilih modelnya," ujar Citra.
"Jadi kamu harus lebih percaya diri, karena kami hanya mengambil empat orang model lokal, dan kamu bisa ikut terpilih dari antara ratusan model, yang diajukan pada kami," lanjut Citra.
"Maafkan aku," ucap Bagio penuh penyesalan, karena teringat akan kekacauan yang dibuatnya pagi tadi.
"Nggak usah terlalu dipikirkan. Aku anggap karena kamu mungkin masih sangat baru di bidang ini, makanya kamu masih bisa gugup....
... Juga mungkin karena kamu merasa takut, karena melihat bagaimana kemarahanku yang meledak-ledak saat bekerja," kata Citra sambil tersenyum.
"Aku bukannya merasa takut padamu, tapi—" Bagio yang terburu-buru menyahut, akhirnya hanya berhenti bicara secara tiba-tiba.
Malu rasanya, kalau Bagio harus mengaku, kalau dia jadi gugup, karena merasa tertarik pada sosok Citra.
Makan nasi Padang saja, Bagio sudah cemas akan mampu tidaknya dia membayarnya, apalagi sampai bicara tentang mimpinya, yang ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan Citra.
"Selain aku yang bekerja sebagai fotografer, apa lagi yang kamu tahu tentang aku?" tanya Citra.
Untung saja, Citra tampaknya tidak mau mendesak Bagio, untuk meneruskan kalimatnya yang tidak selesai tadi.
Dengan demikian, Bagio tidak perlu merasa terlalu canggung dan kebingungan untuk mencari alasan.
Bagio yang baru saja menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya, tidak segera menjawab pertanyaan Citra.
"Hana memberitahu aku, waktu kami pergi dari rumahmu tadi. Katanya, kamu adalah anak dari Madam Sally," jawab Bagio, setelah menelan makanannya.
Citra lalu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hmm ... Begitu, ya?! Aku hanya menduga-duga saja, tapi aku rasa kamu jadi gugup karena aku," ujar Citra.
__ADS_1
"Apa mungkin kalau kamu tertarik padaku, meski kamu belum mengenalku dengan baik?" lanjut Citra.