
Citra kelihatannya memang sedang benar-benar sibuk dengan sesuatu di laptopnya, hingga lebih dari setengah jam kemudian telah berlalu, tapi dia masih tidak bisa ikut bermain-main dengan jari tangan Bagio.
Jangan berburuk sangka dulu!
Maksudnya, Citra menemani Bagio yang bermain puzzle, dan membantu menyusun kepingan gambar yang sudah berantakan, karena Bagio kebingungan untuk menyusunnya ulang.
Bagio bosan kalau hanya melihat foto-foto para model, yang ada di dalam album-album, yang ada di rak buku milik Citra.
Iseng-iseng, untuk mengurangi rasa bosannya, Bagio lalu mencoba memainkan permainan puzzle, yang ternyata untuk menyelesaikannya, tidaklah semudah bayangan Bagio.
Sampai terasa sakit kepala Bagio, saat menatap gambar yang kelihatannya malah jadi semakin acak kadut, ketika dia berusaha memasangnya.
Sesekali, Bagio melirik ke arah Citra, yang terlihat masih menatap layar laptopnya, sampai mata Citra terlihat jarang-jarang berkedip.
Kalau sampai Bagio tidak bisa merapikan kepingan puzzle itu, mungkin akan jatuh harga dirinya sebagai seorang laki-laki dewasa.
Bagaimana tidak?!
Menata kepingan puzzle saja dia tidak bisa, bagaimana Bagio akan menata rumah tangganya bersama Citra?
Ehhem! ... Ehhem!
Hadeh! ... Kejauhan Bagio mikirnya.
Hutangnya saja belum lunas, mau coba-coba memikirkan biaya penghulu?
Dari mana Bagio bisa cepat mendapatkan uangnya? Apa Bagio akan kembali ke salon tempatnya melakukan waxing waktu itu? Lalu, meminta kembali bulu-bulunya yang dicabut di sana?
Bagio pasti sedang bercanda.
Akan tetapi, Citra seolah-olah memiliki kemampuan bertelepati, dan bisa membaca kata 'bosan', yang berulang-ulang tertulis di dalam pikiran Bagio.
Karena Citra lalu tiba-tiba berkata,
"Kamu mau berenang? Kamu bisa meminta celana renang pada asistenku. Maafkan aku ... Tapi aku masih sibuk, jadi belum bisa menemanimu."
Berenang? Boleh juga, tuh!
Daripada rambut Bagio habis berjatuhan, cuma gara-gara permainan menyusun gambar, tentu akan lebih menyenangkan, kalau Bagio bisa menyegarkan kepalanya dengan air.
"Okay! ... Nggak apa-apa. Kamu kerjakan saja dulu kerjaanmu! Aku bisa pergi berenang sendiri," sahut Bagio.
Dengan tergesa-gesa, Bagio merapikan permainan yang memusingkan kepalanya itu, lalu meletakkan benda itu kembali ke atas rak.
"Asistenku biasanya ada di ruang tv, kalau sudah di jam-jam segini. Kamu bisa mencarinya sendiri?" ujar Citra.
"Pasti bisa," sahut Bagio enteng. "Aku keluar dulu, ya?!"
Bagio lalu berjalan pelan, mengarah ke luar dari ruangan studio, milik Citra itu.
__ADS_1
"Okay!" sahut Citra, yang kemudian terlihat kembali sibuk menatap layar laptop, sambil mengetikkan sesuatu di tombol-tombolnya.
"Eh! Bagio!" Citra berseru memanggil Bagio, sebelum Bagio melewati pintu.
"Iya ...?" ujar Bagio, sambil menahan langkahnya, dan melihat ke arah Citra yang terlihat menatapnya.
"Kalau kamu mau makan atau minum, kamu juga bisa memintanya saja kepada mereka," kata Citra.
"Okay! ... Gampang saja itu!" kata Bagio, kemudian lanjut melangkahkan kakinya, hingga melewati pintu, dan meninggalkan Citra di situ.
Rumah milik Citra, ukurannya masih lebih besar dan luas, jika dibandingkan dengan rumah contoh di perumahan elit, yang jadi lokasi pemotretan Bagio kemarin.
Namun dekorasi yang tertata rapi di dalam rumah itu, tidaklah berlebihan.
Benar-benar hanya terisi dengan benda-benda yang sesuai dan dibutuhkan fungsinya saja, dan ditambah dengan beberapa hiasan benda-benda tradisional yang berbentuk unik.
Di bagian dinding-dindingnya, juga sebagian besar hanya terlihat polos tanpa hiasan apa-apa.
Walau hanya sekedar foto Citra ataupun foto keluarganya, juga tidak terlihat oleh Bagio di sana.
Cukup mengherankan bagi Bagio, karena mengingat profesi Citra, seharusnya mungkin akan lebih banyak foto yang jadi pajangan di rumahnya.
Tapi kenyataannya, Bagio malah tidak menemukan satu pun foto Citra, ataupun foto kedua orang tuanya di dinding, maupun di mana saja area yang bisa dijangkau oleh penglihatan mata Bagio, di lantai satu rumah Citra itu.
Sambil terus berjalan, Bagio sibuk melihat ke sana kemari, mencari-cari di mana ruang televisi, yang dimaksud oleh Citra tadi.
Di sofa panjang, terlihat dua orang wanita sedang duduk-duduk di sana, sambil menatap layar televisi yang ukurannya hampir sebesar layar tancap, yang pernah dilihat Bagio di kampungnya.
Bagio lalu menyapa kedua orang wanita itu, dan mengatakan apa yang dia butuhkan kepada mereka, sesuai dengan arahan Citra.
Salah satu dari asisten rumah tangga Citra, yang kelihatannya masih berusia cukup muda, lalu berdiri dari tempat duduknya, dan meminta agar Bagio menunggunya di dekat kolam renang.
Bagio lalu lanjut berjalan menuju ke kolam renang, setelah berpamitan dengan wanita asisten rumah tangga Citra yang satunya lagi, yang tampaknya sudah berumur.
Sementara asisten rumah tangga Citra yang masih muda itu, terlihat berlalu pergi menjauh, hingga menghilang dari penglihatan Bagio.
Tidak terlalu lama Bagio menunggu.
Wanita yang tadinya mungkin pergi mengambil celana renang yang Bagio minta, kemudian terlihat kembali menghampiri Bagio, yang berdiri di dekat kolam renang.
Sembari menyerahkan sepotong celana renang kepada Bagio, asisten Citra itu, juga menunjukkan kepada Bagio, di mana letaknya ruang ganti, agar Bagio bisa menukar pakaiannya di sana.
Setelah Bagio berterima kasih, asisten Citra itu kembali masuk ke dalam rumah, dan Bagio juga pergi berganti pakaiannya, dengan memakai celana renang.
Tidak mau berlama-lama, Bagio segera melompat masuk ke dalam kolam, dan berenang sendirian di sana.
"Brrr!" Menyegarkan!
Bagio sempat mengira kalau air di dalam kolam akan terasa hangat, karena terjemur cahaya matahari yang bersinar terik.
__ADS_1
Tapi tidak begitu kenyataannya.
Air kolam renang itu masih terasa dingin, seolah-olah kolam itu berisikan air yang baru saja keluar dari mata air.
Entah berapa lama Bagio menikmati segarnya air di dalam kolam renang, dengan berenang bolak-balik, dari ujung ke ujung kolam.
Saat ini, Bagio kelihatannya sudah seperti seorang atlit cabang olahraga renang, yang sedang bersiap-siap untuk mengikuti olimpiade.
Atau Bagio mungkin lebih mirip bebek, yang menyosor lumpur untuk mencari makanan?
Ah! Pokoknya kurang lebih seperti itu, lah!
Yang pastinya, Bagio memang sudah terlalu keasyikan berenang, hingga dia tidak menyadari lagi, akan kedatangan Citra ke dekat kolam renang itu.
Saat Bagio hanya mengapung di atas air, barulah Bagio melihat Citra yang memandanginya dari pinggir kolam renang, sambil duduk di bangku yang ada di situ.
"Eh! ... Kamu sudah selesai?" tanya Bagio, setengah berteriak kepada Citra.
Dengan cepat, Bagio berenang ke pinggir, dan mendekat ke arah di mana Citra duduk.
Dan Citra malah berdiri, lalu ikut mendekat ke arah Bagio di pinggir kolam, kemudian dia berjongkok di situ.
"Iya ... Baru saja. Maaf telah membuatmu menunggu," kata Citra.
"Nggak apa-apa, kok!" sahut Bagio. "Kamu nggak mau ikut berenang? Airnya segar."
"Pffftt ...! Kamu menikmatinya, ya?!" ujar Citra, sambil tersenyum lebar, dan menahan tawanya. "Okay! ... Tunggu aku ganti baju sebentar!"
Citra lalu berdiri dan beranjak pergi dari sana.
Dan ketika Citra berjalan kembali ke dekat kolam renang, dia terlihat hanya memakai pakaian renang yang minim kain, seperti wanita-wanita yang ada di pantai kemarin.
Bahkan menurut Bagio, pakaian renang Citra itu, seolah-olah ukurannya terlalu kekecilan untuk dipakai oleh Citra.
Sebenarnya, Bagio sudah tidak terlalu heran, ketika melihat wanita yang hanya menutup sedikit-sedikit area terlarangnya, yang rawan diperebutkan para buaya.
Tapi saat Bagio melihat Citra sekarang ini...
Hmm...!
Jakun Bagio bergerak naik turun, karena dia yang menelan ludahnya sendiri.
Apa Bagio bisa menyalahkan hormon testosteron, yang berlebihan di dalam tubuhnya?
Karena hormon kejantanan Bagio itu, sekarang ini hampir membuatnya menjadi binatang yang buas dan liar.
Roaarrr!
Mau saja rasanya, Bagio mencabik-cabik dengan gigi-giginya, sepenggal tekstil yang hanya menutupi ujung buah surga dunia, milik Citra itu.
__ADS_1