
Bagio mungkin akan benar-benar menjadi gila, dengan permasalahan yang menyiksa mental dan fisiknya kali ini.
Sudah satu bulan yang telah berlalu, sesudah kejadian penusukan yang dilakukan ayah dari Sarimunah.
Bekas lukanya memang sudah mengering, namun selain dari pada itu, kondisi Bagio rasanya justru semakin memburuk.
Pekerjaan Bagio selama satu bulan ini, sebagian besar hanyalah menjadi kekacauan tanpa akhir, yang terasa sangat melelahkan.
Hampir setiap sesi pemotretannya, Bagio jadi bulan-bulanan kemarahan dari fotografer, ataupun orang lain yang bekerja dengannya.
Itu bisa terjadi, akibat dari Bagio yang masih tidak bisa mengendalikan dirinya, dari kecemasan berlebihan yang dirasakannya, hingga dia tidak bisa berpose dan berekspresi dengan baik.
Situasi keseluruhan dalam dunia kerjanya, semakin diperburuk dengan berat badan Bagio yang bertambah, hingga hampir tidak terkendali.
Dan yang jadi penyebabnya, kemungkinan besar, karena Bagio yang tidak bisa berolahraga seperti biasanya dia lakukan setiap hari.
Tampaknya, efek samping dari kebiasaan berolahraga yang tiba-tiba terhenti itulah, yang membuat berat badan Bagio bertambah, sampai beberapa kilogram.
Ukuran lingkar tubuh Bagio, terlebih lagi di bagian perutnya yang terus melebar, lama kelamaan, tentu akan mengacaukan kontrak kerjanya untuk peragaan busana, dan pemotretan pakaian jadi.
Belum lagi jadwalnya yang semakin padat, karena dia yang harus membagi waktu, antara pekerjaan, dan sesi terapi dengan psikiater.
Dan masih ditambah lagi, dengan panggilan dari polisi yang meminta kesaksiannya, untuk penanganan kasus ayah Sarimunah, yang membuat Bagio sampai harus berkali-kali mendatangi kantor polisi.
Kesempatan bagi Bagio untuk beristirahat, juga terganggu dengan mimpi buruk, yang senantiasa muncul di setiap kali Bagio tertidur.
Bahkan menurut Bagio, mimpi buruk yang dialaminya, justru jadi semakin sering terjadi, di setiap kali dia memejamkan matanya, baik saat dia tertidur di siang hari, maupun di malam hari.
Selain merasa kalau badannya lelah dan sakit setiap kali terbangun dari tidurnya, Bagio juga sudah bisa mengingat semua kejadian, di dalam mimpi-mimpi buruknya yang beragam.
Namun semua mimpi buruknya itu, memiliki satu pengalaman dan satu perasaan yang sama, yaitu seolah-olah Bagio sedang diserang, dan dia akan mati di dalam mimpinya, yang terasa sangat nyata itu.
Bagio yang kelelahan, baik mental dan fisiknya, karena semua yang dialami olehnya itu, membuat Bagio jadi tidak bisa mengendalikan emosinya.
Sehingga pada suatu waktu, Bagio nyaris memukul salah seorang asisten fotografer, yang sempat memarahi Bagio, sambil mengujarkan makian dengan kata-kata yang kasar, di salah satu lokasi pemotretan.
Akan tetapi, setelah kemarahannya meletus, lalu kemudian mendadak mereda, Bagio justru merasa sangat bersalah, dan seolah-olah dia merasa ingin menangis.
Tentu saja, emosi Bagio yang naik turun secara tiba-tiba seperti itu, bukanlah hal yang normal.
Pertemuan untuk konsultasi yang mahal, dan begitu juga dengan obat-obatan, yang belakangan ini dia terima dan dia konsumsi, dari psikiater yang merawatnya, tampaknya tidak banyak membantu.
Bagio yang tidak memiliki petunjuk, akan apa yang harus dia lakukan, benar-benar merasa terpuruk.
Menurut penuturan Hana, yang mendapatkan informasi dari psikiater yang merawat Bagio, sekarang ini, Bagio mulai menunjukkan gejala depresi berat, seolah-olah Bagio tidak mengalami kemajuan, dengan perawatan yang diterimanya.
Bagio disarankan untuk beristirahat dulu dari pekerjaannya, atau paling tidak, dia harus mengurangi jadwal kerjanya yang terlalu padat.
Tetapi itu tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba, karena kontrak kerjanya sudah ada sejak bulan lalu.
Dan jika Bagio tidak melakukan pekerjaannya sesuai dengan kontrak, maka Bagio tentu harus mengganti kerugian pembatalan kontraknya.
Jangankan untuk membayar uang ganti rugi pembatalan kontrak, hutang Bagio di agensi saja sudah banyak jumlahnya.
__ADS_1
Walaupun menurut kata Hana, pemotongan hutang Bagio itu, akan dilakukan secara bertahap, agar Bagio masih tetap bisa menerima uang gajinya, meskipun hanya sebagian kecilnya saja di tiap bulannya.
Selain itu dari pada itu, Bagio juga dianjurkan untuk lebih bersosialisasi dengan orang-orang terdekat, yang bisa menjadi tempatnya bicara dengan bebas, tanpa perlu menutup-nutupi keadaannya.
Akan tetapi, Bagio akan berinteraksi dengan siapa?
Selain Kartono yang biasanya menjadi teman Bagio bisa bebas bercerita dengan terbuka, hanya ada Hana, Citra, Dirga, Sucitra, dan Andi saja, yang dikenali oleh Bagio, di kota itu.
Bagio tidak mungkin berbicara kepada Hana, yang tampaknya juga sudah sama lelahnya seperti Bagio, karena mengurus pekerjaan dan emosi Bagio yang kacau.
Sedangkan Citra, Bagio tidak ingin menjadi beban bagi wanita itu.
Bagio bahkan mendorong Citra untuk menjauh darinya, dan sama sekali tidak mau untuk berhubungan, atau bertemu dengan Citra lagi, selama beberapa waktu belakangan ini.
Dirga ... Semenjak pemuda itu dirawat di rumah sakit, dia sudah tidak pernah kembali ke Dorm, dan Bagio tidak tahu lagi, akan apa kabarnya sekarang.
Sementara Sucitra, ketika Bagio bermimpi buruk malam itu, saat itu menjadi kali terakhir Bagio bisa berbincang-bincang dengan wanita itu.
Karena pada keesokan harinya, ketika Bagio sudah berada di lokasi pemotretan, Sucitra mengirimkan pesan kepada Bagio, kalau dia akan bepergian ke luar kota.
Dan sampai saat ini, Sucitra masih belum kembali dari perjalanannya, sehingga Bagio tidak bisa berbincang-bincang dengannya, seperti biasanya.
Bagio juga merasa malu, jika dia harus membicarakan permasalahan pribadinya, yang terdengar gila kepada Andi.
Karena hubungan antara Bagio dan Andi, rasanya belumlah sampai sedekat itu, sampai Bagio bisa menjadikan Andi, sebagai pendengar untuk curahan hati Bagio.
***
Bagio yang kembali ke Dorm, saat waktu yang sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, lantas bertelungkup di atas tempat tidurnya.
Begitu juga Juno dan pasangannya, yang justru selama ini, sudah tidak pernah terlihat lagi batang hidung mereka, di dalam Dorm.
Bagio menduga, kalau kedua orang rekan sekamarnya itu, mungkin memang sudah tidak tinggal di Dorm, dan mungkin saja kalau mereka sudah memiliki tempat tinggal baru di luar.
Entah berapa lama Bagio tetap bertelungkup di atas tempat tidurnya, namun matanya masih tidak mau diajak kerja sama.
Seolah-olah, otak Bagio memang tidak mengizinkan Bagio, agar bisa tertidur.
Sampai-sampai, tangan Bagio rasanya sudah kesemutan, masih tidak ada sedikitpun rasa kantuk yang menghampirinya.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamarnya yang terbuka.
Bagio lalu berbalik, dan dengan sedikit cahaya dari koridor di luar kamar, Bagio melihat Sucitra yang berjalan masuk, sambil menyeret kopernya.
"Nyalakan saja lampunya!" kata Bagio.
"Eh! ... Kamu belum tidur?" Suara dari Sucitra, terdengar seolah-olah dia benar-benar terkejut, karena Bagio yang menegurnya.
Sucitra kemudian menyalakan lampu di dalam kamar, lalu lanjut menarik kopernya yang roda-rodanya terseret di lantai, sampai mendekat ke lemari pakaian miliknya.
Sementara Bagio, bangkit dari atas tempat tidurnya, lalu duduk di bagian pinggir ranjangnya, di sisi yang paling dekat dengan tempat tidur Sucitra.
"Kenapa kamu belum tidur? Sekarang sudah hampir tengah malam," ujar Sucitra, yang tampak heran.
__ADS_1
"Aku nggak bisa tidur," sahut Bagio.
Sucitra yang ikut duduk di bagian pinggir di atas tempat tidurnya, di sisi terdekat dengan tempat tidur Bagio, jadi berhadap-hadapan dengan Bagio di situ.
Sucitra tampak memandangi Bagio, dari ujung rambut sampai ke kakinya.
"Hampir satu bulan kita nggak ketemu. Tapi aku rasa, sekarang ini kamu terlihat buruk," kata Sucitra.
Bagio tidak mengomentari perkataan Sucitra, dan hanya menatapnya saja, sambil mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Ada apa denganmu? Apa ada masalah?" tanya Sucitra, sambil berdiri dan menghampiri Bagio, lalu mengacak rambut Bagio.
Bagio hanya menepis tangan Sucitra, dan tetap terdiam, karena dia tidak tahu harus berkata apa, atau harus dari mana memulai cerita permasalahannya.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Sucitra, sambil berdiri di depan Bagio.
"Nggak," jawab Bagio.
"Lalu ada apa?" Lagi-lagi, Sucitra bertanya kepada Bagio.
Jika hanya melihat dari gaya Sucitra saja, wanita itu tampak seperti orang yang kasar dan tidak sabaran.
Tapi sifat dari seseorang, memang tidak bisa jika hanya dinilai dari yang terlihat di luarnya saja.
Karena Sucitra, mungkin justru bisa dibilang sebagai orang yang paling sabar, saat menghadapi Bagio.
Seolah-olah dia tidak perduli, walaupun Bagio tidak menjawab pertanyaannya, Sucitra lalu duduk di samping Bagio.
"Di kota xx, tempat yang aku datangi, aku bertemu dengan seseorang, yang wajah dan perawakannya mirip denganmu....
... Sampai-sampai aku hampir salah mengenalinya, dan nyaris memanggilnya dengan menggunakan namamu," kata Sucitra lagi.
"Apa kamu nggak merasa kesulitan, setiap kali kamu ke tempat baru, lalu nggak ada orang yang kamu kenali di sana?" tanya Bagio.
"Hmm ... Maksudmu mungkin kesepian, ya? Karena nggak ada teman bicara?" Sucitra lalu balik bertanya.
"Iya," sahut Bagio.
"Gunakan ponselmu! ... Hubungi saja orang-orang yang kamu kenal di situ, kalau kamu lagi butuh teman bicara," kata Sucitra.
"Masalahnya, nggak banyak orang yang aku kenal," sahut Bagio.
"Ckckck! ... Kamu kan bisa menghubungiku?!" ujar Sucitra.
"Aku nggak enak. Mana tahu kamu lagi sibuk bekerja," kata Bagio.
"Bagio, Bagio! ... Kamu kirim lah pesan duluan! Kalau aku lagi nggak sibuk, kita bisa langsung teleponan. Video call juga bisa." Sucitra terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sekarang ... Ada masalah apa?" tanya Sucitra.
"Banyak," jawab Bagio.
Sucitra lalu berdiri, dan pergi membuka kopernya, kemudian mengeluarkan sekaleng bir dari dalam situ.
__ADS_1
Setelah itu, Sucitra lalu terlihat berjalan ke arah jendela, membukanya lebar-lebar, kemudian duduk di kursi yang ada di dekat situ.
"Kalau begitu, ceritakan saja satu persatu. Aku akan mendengarkannya," kata Sucitra, sambil menyalakan sebatang rokoknya.