Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 62


__ADS_3

Bagio kembali terbangun, ketika hari memang sudah pagi, dan dia pun buru-buru pergi mandi, untuk bersiap bekerja lagi hari ini.


Sembari menggosok-gosok badannya dengan sabun, Bagio teringat kejadian semalam, yang rasanya seolah-olah dia hanya bermimpi saja.


Bagio benar-benar nyaris melewati batas aman, jika saja Sucitra masih bersikeras, untuk membantu Bagio dengan cara yang tidak biasa.


Entah Bagio harus menyesal, atau merasa lega, karena dia yang tidak mengkhianati kepercayaan Citra.


Tapi Bagio tetap berterima kasih, atas niat dan perlakuan Sucitra, yang ingin membantunya. 


Sucitra bahkan memberikan pijatan di pundak, dan pelipis Bagio, hingga bisa membuat Bagio tertidur nyenyak setelahnya.


"Nanti! Minta dengan Citra, agar mau 'melakukan'nya denganmu! Dia pasti mau. Apalagi dia tahu kondisimu....


... Kalau kamu melakukan 'itu', kamu bisa mengalihkan pikiranmu, dari semua hal yang bisa membuatmu tertekan."


Begitulah kira-kira, sebagian kata-kata dari Sucitra, dari sekian banyak petuah dan amanatnya malam tadi, sambil dia memijat-mijat pundak Bagio. 


Bagio menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mendengus kasar.


Tanpa perlu menuruti perkataan Sucitra, hanya mendengarkannya saja, sudah bisa mengalihkan perhatian Bagio dari masalahnya.


Tapi karena perkataan Sucitra itu juga, akhirnya ikut menjadi bahan pikiran baru bagi Bagio.


Ckckck! 


Bagio buru-buru keluar dari kamar mandi, ketika dia sudah selesai dengan semua kegiatannya di sana, dan lanjut berpakaian di dalam kamarnya. 


Setelah Bagio sudah siap untuk pergi bekerja, Bagio segera berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Sucitra, yang tampaknya masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya.


Sucitra ... Wanita itu....


Sebenarnya menurut Bagio, Sucitra yang pernah tinggal di luar negeri, mungkin merasa biasa saja untuk berhubungan intim, walaupun masih belum menikah.


Kurang lebih sama seperti Citra yang pernah bercerita kepada Bagio, tentang hubungannya dengan Leon, yang menurut Bagio, kemungkinan besarnya, Citra dan Leon pernah melakukan 'itu', saat mereka masih berpacaran.


Tapi ... Karena Bagio yang memikirkan tentang Citra dan Leon, lama kelamaan hanya membuat Bagio merasa kesal. 


Bagaimana tidak? 


Bayangan yang muncul di kepala Bagio, adalah Leon yang seolah-olah sedang berkuda di atas Citra. 


Kira-kira, siapa laki-laki yang tidak akan merasa cemburu dan marah, jika seperti itu bayangan yang muncul tentang sang kekasih, dengan laki-laki lain.


Ah! Sudahlah! 


Bagio harus berhenti memikirkan yang aneh-aneh, jika dia tidak mau Hana menunggunya lebih lama lagi, untuk masuk ke dalam mobil, yang pintunya sekarang sudah terbuka lebar.


"Apa kamu rasa, kamu bisa bekerja hari ini?" tanya Hana.


"Harus bisa," jawab Bagio, meyakinkan dirinya sendiri. 


***


Untuk pekerjaannya di jadwal pertama hari ini, Bagio sepertinya harus banyak bersyukur.


Selain irama sesi pemotretan yang santai, fotografer yang bertugas mengambil gambar Bagio, juga terlihat sabar.

__ADS_1


Bahkan menurut Bagio, fotografer kali ini, jeli dalam mengamati modelnya, hingga dia bisa mengetahui, kalau ada sesuatu yang kurang beres pada Bagio.


Dan walaupun demikian, fotografer itu tidak segera memarahi Bagio, melainkan menghampiri Bagio, dan berbicara baik-baik dengannya.


"Apa yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Fotografer itu, kepada Bagio.


"Ada luka bekas operasi di perutku. Jadi kalau ada yang mendekat tiba-tiba, sambil mengarahkan tangannya ke situ, maka aku pasti akan merasa panik," jawab Bagio.


Fotografer itu kemudian bertepuk tangan di atas kepalanya, seolah-olah dia sedang menarik perhatian dari orang-orang yang ada di situ.


"Tolong didengarkan dulu!" kata fotografer, dengan suaranya yang setengah berteriak.


"Salah satu model ini, tidak boleh didekati secara tiba-tiba!" Fotografer itu lalu menunjuk ke arah Bagio. 


"Jangan membuatnya merasa tidak nyaman! Itu akan memperlambat pekerjaan kita semua! Okay?!" lanjut fotografer itu lagi.


"Memangnya kenapa?"


"Baru jadi model saja sudah banyak tingkahnya." 


"Semakin ke sini, macam-macam saja permintaan dari mereka yang jadi model."


Beberapa orang yang ada di situ terdengar berbisik-bisik, saling membicarakan Bagio. 


Mungkin niat mereka memang hanya berbisik-bisik, tapi karena ruangan tertutup itu sempat hening untuk beberapa saat, hingga perkataan mereka, masih tetap bisa terdengar.


"Kalau kalian sedang terluka berukuran besar, apa kalian tidak takut kalau luka kalian itu tersentuh oleh orang lain?" 


Pertanyaan dari Fotografer itu, terdengar seolah-olah dia sedang berusaha membela Bagio, dari semua orang yang berpikiran buruk tentang Bagio.


Suasana di situ kembali menjadi hening. 


Setelah mendengar perkataan dari fotografer, orang-orang di situ, kemudian masing-masing tampak manggut-manggut, seolah-olah mereka semua sudah mengerti, akan apa yang jadi alasannya.


"Okay! ... Kita lanjut!" kata Fotografer itu, lalu mulai mengarahkan kembali, para model yang berdiri di atas set pengambilan gambar.


***


Karena kesabaran dan pengertian dari fotografer, yang menular kepada orang lain yang berada di tempat itu, Bagio bisa bekerja dengan perasaan yang nyaman.


Hasil fotonya juga terlihat bagus, sama seperti di waktu-waktu yang dulu, saat Bagio belum terluka.


"Terima kasih, pak!" kata Bagio kepada fotografer, sementara mereka melihat hasil foto di tampilan layar laptop.


"Sama-sama," sahut fotografer laki-laki itu, yang tampaknya sudah berusia di atas kepala empat.


"Model juga manusia, dan bukanlah patung manekin, yang tidak bisa merasakan apa-apa. Jadi menurut saya, apa yang kamu cemaskan, masih dalam batas wajar," lanjut fotografer itu lagi.


Masih ada beberapa sesi pemotretan lagi, hingga para model masih harus berganti pakaian, hingga kurang lebih tiga kali.


Akan tetapi, sampai selesai pemotretan di tempat itu, Bagio sama sekali tidak merasa lelah, seperti saat dia bekerja kemarin. 


Di dalam hati, Bagio benar-benar berharap, agar di tempat pemotretan yang selanjutnya, dia bisa mendapatkan lingkungan kerja, yang nyaman seperti di lokasi pemotretan yang pertama ini.


***


Dan sesuai dengan harapannya, pekerjaan Bagio memang berjalan dengan lancar, di lokasi pemotretan yang ke-dua. 

__ADS_1


Pengambilan gambar hanya sebatas leher ke bawah, dan Bagio tidak perlu memikirkan tentang ekspresi wajahnya saat berpose, membuat pekerjaannya jadi terasa sangat mudah. 


Memanfaatkan jeda waktu yang ada di antara jadwal pemotretan ke-dua dan ke-tiga, Bagio dibawa Hana, untuk pergi ke rumah sakit, sebelum Bagio lanjut bekerja lagi.


"Katakan semua yang kamu rasakan dan keluhkan! Jangan sampai ada yang kamu sembunyikan!" kata Hana, sambil berjalan bersama Bagio, di koridor rumah sakit.


"Iya," sahut Bagio. 


Tidak perlu berlama-lama menunggu untuk ikut antrian.


Bagio yang memang sudah ada janji temu dengan dokter, yang dibuat oleh Hana kemarin, setibanya mereka di sana, Bagio bisa langsung menemui dokter. 


Dengan diantar seorang perawat, Bagio kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan, di mana sudah ada dokter yang menunggunya di sana. 


Sementara Hana, menunggu Bagio di bangku yang disediakan di bagian luar, di depan ruangan dokter itu.


Yang menjadi hal yang pertama kali dilakukan, adalah pemeriksaan ulang bekas luka Bagio, oleh seorang dokter yang ada di dalam ruangan itu, sembari Bagio berbaring terlentang di atas ranjang.


Menurut dokter, proses penyembuhan luka di perut Bagio itu cukup baik, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Sesudah lukanya selesai diperiksa, barulah Bagio bisa duduk berhadap-hadapan, dengan dokter yang merawat luka Bagio itu.


Dokter yang bertanya, kemudian menjadi kesempatan bagi Bagio, untuk mengutarakan semua perasaan gelisah yang mengganggunya, sampai-sampai dia kesulitan untuk bekerja.


Bagio bahkan memberitahu kepada dokter, kalau dia juga mengalami mimpi buruk.


Yang meskipun tidak diingat oleh Bagio, akan apa yang menjadi mimpinya, tapi hal itu dirasa cukup mengganggu.


Karena saat dia mengalaminya, Bagio membuat rekan sekamarnya, jadi ikut terganggu, dan kerepotan untuk mengurusnya.


Dengan pulpen yang ada di tangannya, dokter yang ditemui Bagio itu, terlihat menuliskan sesuatu, yang tampaknya berupa sebuah catatan, sementara Bagio terus mengatakan semuanya, kepada dokter itu.


Sesudah Bagio selesai bicara, untuk beberapa saat kemudian, dokter itu lalu berkata, kalau dia menganjurkan Bagio, untuk melakukan pertemuan dengan seorang psikiater.


Menurut dokter itu, hanya psikiater lah yang bisa membantu Bagio, untuk mengatasi masalah gangguan kegelisahan yang berlebihan, yang dialami olehnya.


Sebelum Bagio akhirnya keluar dari dalam ruangan dokter yang memeriksanya itu, Bagio diberikan selembar amplop, yang kata dokter tadi, itu adalah sebuah surat rujukan.


Ketika Bagio nanti menemui seorang psikiater, yang juga bekerja di rumah sakit itu, maka Bagio diharuskan untuk membawa surat rujukan itu bersamanya.


"Bagaimana?" tanya Hana. 


"Lukaku baik-baik saja. Tapi aku diarahkan, untuk menemui (nama seseorang). Seorang psikiater, yang ada di rumah sakit ini," jawab Bagio.


Hana tampak manggut-manggut seolah-olah dia memang mengerti, akan apa yang sedang dibicarakan oleh Bagio.


Setelah melihat layar ponselnya sekilas, Hana lalu berkata, 


"Kita masih ada waktu sedikit. Kita coba temui psikiater saja dulu. Mumpung kita di sini, mungkin kita bisa mengatur janji temu. Supaya setiap pertemuan nanti, jadwal kerjamu nggak akan terganggu."


Dengan bertanya kepada perawat yang mereka temui di dekat situ, Bagio dan Hana yang mendapatkan informasi, di mana letaknya tempat perawatan psikiatri, lalu bergegas pergi menuju ke sana.


Setibanya mereka di sana, Bagio tidak bisa langsung menemui psikiater begitu saja.


Oleh seorang perawat jaga yang berada di tempat itu, Bagio diharuskan untuk membuat janji temu lebih dulu.


Tapi setelah Hana menjelaskan situasinya, dan menyerahkan surat rujukan dari dokter tadi, Bagio akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan psikiater, saat itu.

__ADS_1


Dengan demikian, Bagio bisa melakukan konsultasi untuk pertama kalinya, dengan petugas medis yang khusus bekerja, untuk menangani penyakit mental.


__ADS_2