
Mengingat waktu yang dia miliki untuk tetap berada di kampung, yang hanya hitungan jam saja, maka Bagio memang harus mengurus permasalahan hutangnya, secepatnya.
Mau tidak mau, Bagio harus menghentikan kegiatan Citra, yang terlihat masih asyik mengambil gambar, dengan memanggil wanita itu, agar ikut dengan Bagio.
Bagio lalu menyusul, ke tempat di mana Citra sedang berdiri dan mengarahkan kamera fotonya.
"Citra!" Bagio berseru memanggil nama Citra, dan wanita itu segera menoleh ke arah Bagio.
"Ada apa?" tanya Citra, sambil menurunkan kamera fotonya, hingga hanya terlihat seperti menggantung di depan perutnya.
"Maafkan aku. Kamu mungkin masih ingin memotret, tapi aku harus pergi dari sini. Ada yang harus aku lakukan. Dan mau nggak mau, kamu harus ikut denganku," kata Bagio.
"Ooh! ... Okay!" sahut Citra, lalu berjalan bersama Bagio.
"Maafkan aku, ya, Cit?!" ujar Bagio, lagi.
"Eh! Nggak apa-apa. Nggak usah kamu pikirkan, tentang aku yang masih memotret. Itu bukan masalah besar....
... Kita datang ke sini, kan memang untuk urusanmu?! Jadi kamu memang harus menyelesaikannya lebih dulu," sahut Citra.
Ketika Bagio dan Citra hampir mendekati pondok sawah, di mana Kartono duduk menunggu, Kartono kemudian terlihat menghampiri, dan ikut berjalan bersama mereka berdua.
"Citra! ... Eh! Nggak apa-apa, kalau aku memanggilmu Citra saja, kan?!" ujar Kartono.
"Iya ... Nggak apa-apa," sahut Citra. "Ada apa?"
"Maafkan aku, yang seolah-olah nggak memperdulikanmu. Ada sesuatu yang terjadi, yang harus aku sampaikan kepada Bagio tadi," kata Kartono.
"Ooh! ... Itu bukan masalah. Santai saja," sahut Citra.
"Tapi ... Bagio! ... Apa aku bisa tahu, apa yang terjadi?" tanya Citra, yang terdengar berhati-hati.
"Hmm ... Kamu ingat tentang hutangku, yang aku ceritakan waktu itu, kan?!" sahut Bagio.
"Iya," jawab Citra, singkat.
"Orang yang aku titipkan uang setorannya, tidak membayar hutangku itu, untuk tiga bulan terakhir ini....
... Dengan begitu, kalau aku nggak bisa mengurusnya, maka rumah dan sawah peninggalan almarhum kakekku, mungkin akan disita pegadaian," kata Bagio, menjelaskan.
"Oh, gosh! ... Kalau begitu, sebaiknya kamu mengurusnya secepatnya," ujar Citra, yang tampak benar-benar terkejut.
"Iya ... Sekarang ini, kita akan pergi ke rumah orang itu, untuk membicarakannya. Karena aku nggak bisa mengurusnya sendiri....
... Apalagi di hari Minggu seperti ini. Yang mana, kantor pegadaian sekarang pasti tutup," kata Bagio.
Citra lalu terlihat manggut-manggut, seolah-olah dia mengerti, dengan apa yang dimaksud oleh Bagio.
Setelah berjalan kaki untuk beberapa waktu lamanya, Bagio bersama Citra dan Kartono, akhirnya tiba di rumah Sarimunah.
Pintu depan dari rumah Sarimunah yang terbuka, kemudian diketuk oleh Bagio, sembari memberi salam.
__ADS_1
Sampai berkali-kali Bagio mengetuk pintu dan memberi salam, barulah ibu dari Sarimunah terlihat keluar dari dalam rumah, dan menemui Bagio, beserta rombongannya.
"Selamat siang, bude!" sapa Bagio.
"Siang! Ada apa?" sahut ibu dari Sarimunah, ketus, seolah-olah dia sudah tahu, akan tujuan Bagio yang datang ke rumahnya.
"Jangan bilang kalau kamu datang, untuk meributkan masalah setoranmu!" lanjut ibu Sarimunah, dengan menaikkan nada suaranya.
"Maafkan aku, bude! ... Pakde-nya ada? Aku memang datang ke sini, untuk membicarakan tentang setoranku itu....
... Tapi, aku nggak berniat untuk membuat keributan. Aku hanya mau mencari tahu, dengan membicarakannya saja," kata Bagio.
Walaupun Bagio hanya bicara dengan nada suara yang pelan saja, tapi kelihatannya, ibu dari Sarimunah tetap tidak terima, dengan maksud kedatangan Bagio di situ.
"Halah! ... Sombong kamu sekarang, ya?! Mentang-mentang kamu sekarang sudah bekerja di kota? Kami yang membantumu selama ini! Kamu memang nggak tahu membalas budi! Tidak tahu malu!"
Seperti api yang sudah menyala, lalu disiram lagi dengan cairan bensin, ibu dari Sarimunah, memperlihatkan kemarahannya yang meledak-ledak.
Ibu dari Sarimunah itu, bahkan sempat mengeluarkan kata-kata cacian yang paling kasar dan terburuk, untuk memaki Bagio.
Suara dari ibu Sarimunah yang berteriak-teriak, memarahi Bagio, juga ikut menarik perhatian dari warga sekitar, hingga rumah Sarimunah jadi bioskop gratis bagi penduduk kampung.
Tidak berhenti sampai di situ.
Ayah dari Sarimunah, yang terlihat keluar dari dalam rumah, juga ikut memarahi Bagio, tanpa bisa mengendalikan dirinya lagi, walaupun tingkah mereka sudah menjadi tontonan warga.
Bahkan menurut Bagio, baik ibu maupun ayah dari Sarimunah, kelihatannya justru memang sengaja, untuk mempermalukan dan merendahkan Bagio.
Walaupun demikian, Bagio tidak menanggapi perkataan buruk, yang dilontarkan ayah dan ibu dari Sarimunah itu, dan berpura-pura seperti dia tidak mendengarnya saja.
Bagio bahkan terpikir, bahwa lebih bagus lagi jika mereka sampai kelelahan sendiri, karena mereka yang berteriak-teriak memaki-maki Bagio.
Itu sebabnya, makanya Bagio tetap berdiri di situ, dan tidak pergi ke mana-mana. Bagio menunggu, sampai mereka lemas sendiri saking lelahnya.
Citra yang berdiri di samping Bagio, meremas dengan kuat, tangan Bagio yang digenggamnya.
Seolah-olah, Citra merasa gemas akan kelakuan buruk dari anggota keluarga Sarimunah itu.
Sedangkan Kartono, entah kemana perginya.
Akan tetapi, belum lama setelah Bagio menyadari, kalau Kartono sudah tidak bersama dengannya dan Citra lagi, Bagio justru melihat Kartono, yang berjalan memasuki pekarangan rumah Sarimunah.
Dan Kartono tidak hanya sendirian saja.
Salah satu dari Ketua RT, seorang Ketua RW dan dua orang Hansip, terlihat berjalan bersama Kartono, mendatangi rumah Sarimunah.
Di saat itu juga, dua orang Hansip yang baru datang itu, lalu terlihat berusaha menenangkan Ibu dan ayah dari Sarimunah.
Akan tetapi, ayah dan ibu dari Sarimunah terlihat semakin ingin melawan, dan bahkan, ayah Sarimunah akan menerjang, untuk memukul Bagio.
Jika saja salah satu dari Hansip itu tidak tangkas menangkap ayah Sarimunah, mungkin Bagio akan menerima pukulan, dari ayah Sarimunah itu.
__ADS_1
"Kalau kalian tidak bisa tenang. Dan justru berbuat semakin kasar. Saya akan membawa kalian berdua ke kantor polisi."
Begitu kata Ketua RW, yang akhirnya mampu untuk menyumbat mulut dari ayah dan ibu Sarimunah, dan juga membuat mereka berdua bisa berhenti untuk melawan.
Ayah dan ibu dari Sarimunah, akhirnya hanya bisa terdiam di situ. Walaupun raut wajah mereka tetap memperlihatkan ketidaksukaannya, kepada semua orang yang datang ke rumahnya.
"Semuanya! Ayo pergi ke rumah Ketua RT, sekarang! Kita bisa bercakap-cakap dengan beradab di sana."
Ajakan dari Ketua RW, merujuk kepada ayah dan ibu dari Sarimunah, Bagio, dan siapa saja yang terlibat dalam permasalahan itu.
Tidak berlama-lama lagi, semua yang berkepentingan di dalam keributan yang terjadi, kemudian mengikuti langkah Ketua RW, yang berjalan di paling depan bersama dengan Ketua RT.
Sarimunah, yang mungkin tadinya hanya bersembunyi di dalam rumah, lalu terlihat ikut menyusul kedua orang tuanya.
Beberapa warga yang tampaknya juga ingin tahu, juga ikut menyusul ke rumah ketua RT, dan menonton 'persidangan', yang dilangsungkan di teras depan, di rumah ketua RT.
"Saya tadi sudah mendengar pokok permasalahannya dari Kartono. Tapi saya tetap akan mendengarkan, pembelaan dari masing-masing kalian yang ada di sini," kata Ketua RW, seolah-olah membuka percakapan di situ.
"Bagio! ... Kamu bisa bicara lebih dulu!" lanjut Ketua RW, memberikan kesempatan kepada Bagio.
Bagio lalu menceritakan tentang uang, yang sudah dia berikan kepada ayah Sarimunah, dan yang dia titipkan kepada Kartono.
Bagio juga menjelaskan, kalau dia tidak berniat untuk membuat keributan, dan dia hanya ingin mencari tahu, benar atau tidaknya, tentang hal yang dikatakan oleh Kartono.
Ketua RW kemudian memberikan kesempatan kepada Kartono, untuk menjelaskan kepada mereka semua, apa saja yang dia tahu, dan yang dia laporkan kepada Bagio.
Dan sama seperti yang dikatakan Kartono kepada Bagio, saat itu, Kartono menceritakan semuanya secara terperinci.
Setelah Kartono selesai bercerita, Kartono bahkan berjanji, bahwa dia bisa memanggil saksi, yang melihat kedatangan pegawai pegadaian di rumah Bagio.
Ketika ayah dan ibu Sarimunah diberikan kesempatan oleh ketua RW untuk berbicara, kedua orang tua Sarimunah itu, membantah semua perkataan Kartono dan Bagio.
Kedua orang tua Sarimunah, justru mengatakan kalau Bagio lah, yang membuat keributan lebih dulu di rumah mereka.
Akan tetapi, salah satu warga yang berdiri menonton pembahasan permasalahan di teras rumah ketua RT itu, segera meminta izin, agar dia bisa ikut memberikan kesaksian.
Dan salah satu warga itu, yang mengaku melihat dari awal kedatangan Bagio ke rumah Sarimunah, karena warga itu yang tertarik melihat bule—Citra—di kampungnya, mengakui kalau ibu dari Sarimunah lah, yang justru memarahi Bagio tanpa alasan.
Bantahan dari kedua orang tua Sarimunah, tentang mereka yang memakai uang milik Bagio tanpa izin pun, dibantah lagi oleh Kartono.
Kartono yang kelihatannya memang yakin kalau dia tidak bersalah, kemudian meminta izin untuk pergi sebentar, untuk memanggil tetangga Bagio, yang menjadi saksi kedatangan pegawai dari kantor pegadaian.
Sembari menunggu kedatangan Kartono kembali ke rumah ketua RT itu, sang Ketua RW, kemudian memberikan nasihat kepada masing-masing pihak, agar bisa menyelesaikan permasalahannya secara baik-baik.
Dan setelah Kartono kembali, dia bukan hanya membawa tetangga Bagio saja.
Melainkan, Kartono juga membawa seseorang, yang bisa menjadi saksi, saat Kartono mengantarkan uang kepada ayah Sarimunah, waktu itu.
Terang saja, setelah kedua orang yang dibawa Kartono memberikan kesaksian mereka, sontak semua orang yang ada di situ, memperlihatkan raut wajah, yang seolah-olah menyalahkan kedua orang tua dari Sarimunah.
Ayah dari Sarimunah, kelihatannya tidak terima dipermalukan seperti itu.
__ADS_1
Dan tiba-tiba, ayah dari Sarimunah memecahkan sebuah gelas kaca di depannya, dan dengan menggunakan pecahan yang berukuran cukup besar, ayah dari Sarimunah lalu menerjang Bagio, yang duduk berhadapan dengannya.
Kejadian yang berlangsung sangat cepat, hingga Bagio tidak bisa menghindar lagi, ketika ayah dari Sarimunah menusukkan pecahan kaca itu, ke perut Bagio.