Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 67


__ADS_3

Walaupun Bagio memiliki waktu luang yang cukup banyak di sela antara dua jadwal kerjanya, tapi Bagio tidak mau bertemu dengan ayah Sarimunah di kantor polisi.


Bagio lebih memilih untuk berpura-pura lupa, kalau orang tua itu sedang dipenjara, dan mungkin akan tetap ditahan di sana, dalam waktu yang cukup lama.


Mungkin pada awalnya, Bagio sempat merasa iba pada ayah Sarimunah, dan mau memaafkannya.


Tapi tidak sekarang ini.


Bagio telah mengalami banyak kesulitan, karena ayah dan keluarga Sarimunah.


Dan saat ini, Bagio justru mulai terpikir untuk membalas dendam, sampai keluarga Sarimunah benar-benar terpuruk. 


"Kemana perginya Bagio yang baik hati?" celetuk Sucitra.


Bagio yang baru saja selesai mengeluarkan unek-unek kekesalannya kepada Sucitra, tidak menanggapi candaan dari Sucitra itu.


"Memang ada bagusnya, kalau bisa meluapkan kemarahanmu. Itu bisa membantumu, agar bisa mengurangi stres di otakmu," kata Sucitra.


Bagio dan Sucitra sekarang ini, sedang dalam perjalanan menuju ke tempat latihan yoga. 


Karena menurut Bagio tempat itu tidak terlalu jauh, maka Bagio mengajak Sucitra untuk berjalan kaki saja ke sana, dan Sucitra juga menyetujuinya.


"Apa kamu nggak mau meminta ganti rugi pada orang—ayah Sarimunah—itu?" tanya Sucitra. "Atau kamu memang lebih suka, kalau dia hanya mendekam di penjara saja?"


"Maksudmu apa?" tanya Bagio.


"Kenapa kamu nggak berpura-pura berdamai saja? ... Kamu minta keluarganya, untuk mengganti semua biaya perawatanmu. Mulai dari biayamu di rumah sakit, sampai biaya psikiater," jawab Sucitra.


Bagio tidak pernah terpikirkan tentang hal itu sebelumnya, dan menurut Bagio, apa yang dikatakan oleh Sucitra itu ada benarnya.


Jika keluarga Sarimunah bisa mengganti semua biaya, yang membuat Bagio berhutang di agensi, maka Bagio sudah tidak akan terbeban dengan hutang itu lagi.


"Tapi ... Kalau begitu, aku harus mencabut laporan penganiayaan yang dilakukannya," kata Bagio.


"Iya ... Tapi katamu tadi, dia dilaporkan oleh Ketua RW mu, kan?! Kalau begitu, dia masih tetap akan diproses dengan laporan berbeda....


... Kalau kamu berhasil mengaturnya, kamu bisa mendapatkan ganti rugi, dan dia tetap akan dipenjara. Walaupun mungkin, waktunya dia di dalam penjara, nggak akan terlalu lama," kata Sucitra.


"Apa kamu rasa bisa begitu?" tanya Bagio penasaran.


"Mungkin saja ... Kamu coba saja dulu!" jawab Sucitra, enteng. 


"Atau paling nggak, kamu coba cari informasinya dulu. Kamu datang ke kantor polisi, untuk bertemu dengan orang itu, lalu cari informasinya di sana," lanjut Sucitra.


Rasanya tidak ada salahnya, jika Bagio mencoba, apa yang dikatakan oleh Sucitra itu, karena mana tahu bisa berhasil.


"Kamu sudah gajian?" tanya Sucitra, tiba-tiba.


"Belum ... Kata Hana mungkin besok lusa," jawab Bagio. "Kenapa?" 


"Nggak apa-apa. Aku hanya bertanya saja, karena gajiku juga belum masuk," jawab Sucitra.


"Eh! ... Aku baru ingat. Berapa bayaran untuk latihan yoga ini?" tanya Bagio, lagi.


"Nggak usah kamu pikirkan. Aku sudah membayarnya." Sucitra lalu melempar puntung rokoknya, asal-asalan ke jalanan.


"Justru itu ... Masa kamu yang bayarin?!" ujar Bagio.

__ADS_1


"Kamu bisa menggantinya, dengan mengajakku jalan-jalan ke kampungmu," kata Sucitra, yang tampak tanpa beban.


"Sucitra! ... Kamu nggak pernah cerita. Apa kamu masih ada keluarga?" tanya Bagio.


"Ada ... Tinggal ayahku saja yang masih hidup. Ibuku meninggal dunia, waktu melahirkanku," jawab Sucitra.


"Eh! ... Maafkan aku," ujar Bagio.


"Untuk apa kamu meminta maaf?" ujar Sucitra. "Ayahku sudah menikah lagi, sejak aku masih lima tahun."


"Lalu, apa kamu nggak perlu mengirimkan uang untuknya?" tanya Bagio.


"Nggak perlu. Dia masih bekerja, ibu tiriku juga bekerja. Mereka berdua sama-sama pegawai negeri sipil. Sampai salah satunya mati pun, masih tetap mendapatkan gaji," kata Sucitra.


Kadang-kadang, gaya bicara Sucitra itu, memang bisa membuat Bagio kebingungan karenanya.


Sucitra selalu terlihat tidak perduli dengan dunia di sekitarnya, tapi jika bisa dekat dengannya, kelihatannya Sucitra adalah orang cukup perhatian.


***


Dari beberapa pose yoga untuk pemula seperti Bagio, rasanya yang bisa membuat Bagio berkeringat basah, adalah pose plank.


Uttihita Chaturanga Dandasana, begitu Ganika menyebutnya.


Lengan Bagio sampai gemetar, hanya untuk menahan badannya agar tidak tersandar di lantai.


Padahal waktu Bagio masih bebas berolahraga dulu, Bagio sering melatih otot lengannya. 


Tapi saat melakukan gerakan yoga yang satu itu, Bagio seolah-olah tidak ada kekuatan di lengannya.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat Bagio berpose, Sucitra yang tertangkap basah oleh Bagio, sedang melirik ke arah Bagio, dan selalu saja tersenyum saat mereka beradu pandang, seolah-olah Sucitra sedang mengejek Bagio.


Bagio sampai merasa gemas melihat tingkah Sucitra, yang sesekali mengedipkan sebelah matanya, sambil melihat ke arah Bagio.


Ckckck! 


Tunggu saja pembalasan Bagio nanti!


Mau saja rasanya Bagio buktikan, kalau otot lengannya masih mampu untuk menahan gerakan push up, sampai puluhan kali. 


Untung Bagio masih mampu mengendalikan dirinya, kalau tidak ... Sudahlah!


Bagio masih butuh Sucitra untuk menemaninya, agar bisa tidur dengan nyenyak, selama beberapa malam ke depan.


Kalau Bagio sampai berpikiran negatif, maka Bagio malah mungkin akan kurang tidur nantinya. 


***


"Pffftt...! Hahaha!" Dengan santainya, Sucitra tertawa lepas, ketika mereka berdua sudah di jalan kembali ke Dorm.


"Apa memang sesulit itu?" tanya Sucitra, setelah dia mungkin sudah merasa puas, untuk menertawakan Bagio.


"Jangan mengejekku! ... Itu hanya karena aku belum terbiasa saja," ujar Bagio, membela diri.


"Tapi bagaimana menurutmu? Olahraga seperti itu menyenangkan atau nggak?" tanya Sucitra.


"Menyenangkan sih menyenangkan. Tapi apa itu memang bisa membantu menurunkan berat badan?" 

__ADS_1


Bagio masih merasa ragu, kalau olahraga yang tidak banyak bergerak itu, memang  benar-benar bisa untuk membakar kalori.


"Tentu saja! Nanti kamu lihat hasilnya! ... Memang nggak instan, tapi kalau kamu rutin melakukannya, hasilnya pasti kelihatan," kata Sucitra.


"Memang kalau mau yang lebih cepat, yaa olahraga berat. Tapi kamu masih belum bisa, kan?!" lanjut Sucitra lagi.


"Aku kurang tahu ... Aku belum ada ketemu dengan dokter lagi," jawab Bagio.


"Bagaimana dengan makananmu?" tanya Sucitra, lalu menyalakan sebatang rokok miliknya.


"Hana memesannya, dari rumah makan yang kamu sarankan," jawab Bagio, sambil menggaruk kepalanya. "Makanannya sayuran semua."


"Ya, iyalah! ... Itu kan makanan vegetarian," sahut Sucitra. "Tapi rasanya tetap enak, kan?"


"Iya, lumayan ... Jadi mirip-mirip, seperti waktu aku masih karantina dulu. Bedanya, hanya nggak ada daging saja," jawab Bagio.


"Memangnya dagingmu masih kurang banyak?" tanya Sucitra, sambil melirik ke arah Bagio.


Pada awalnya, Bagio kebingungan dengan maksud pertanyaan Sucitra.


Tapi setelah memikirkannya untuk beberapa saat, dan melihat raut wajah yang sekarang diperlihatkan oleh Sucitra, Bagio jadi mengerti kalau Sucitra sedang mengejeknya.


"Eh! ... Awas kau, ya! Sudah dari tadi kamu mengejekku!" ujar Bagio ketus, sembari mengejar Sucitra yang terlihat sudah berlari sambil tertawa.


Bagio agak kewalahan, untuk mengejar Sucitra yang berlari jauh di depannya, hingga mereka hampir tiba di gerbang Dorm, dan Sucitra tiba-tiba terlihat hanya berdiri terdiam saja di situ.


Bagio yang sudah bisa menyusul Sucitra, kemudian dengan cepat, memiting batang leher Sucitra, menggunakan salah satu lengannya.


"Bagio!" seru Sucitra setengah berteriak, lalu memegang lengan Bagio yang melingkar di lehernya itu, dan berusaha melepaskannya.


"Bagio! ... Hentikan!" ujar Sucitra lagi, sambil menunjuk ke arah pintu gerbang Dorm.


Melihat tangan Sucitra itu, Bagio lalu ikut melihat ke arah mana Sucitra menunjuk.


Ternyata, di depan pintu gerbang Dorm, terlihat ada Citra di sana. 


Citra sedang berdiri terdiam, sambil menatap Bagio dan Sucitra di situ.


Bagio sama sekali tidak menyadari keberadaan Citra di situ, ketika dia menghampiri Sucitra tadi.


Perlahan, Bagio lalu melepaskan leher Sucitra, dan Sucitra kemudian berkata,


"Aku masuk duluan! ... Kamu ngobrol saja dulu dengannya."


Tanpa berlama-lama lagi, Sucitra berjalan melewati Citra, dan masuk ke Dorm, meninggalkan Bagio dan Citra.


Bagio berjalan pelan, dan berencana untuk menyusul Sucitra, dengan ikut masuk ke Dorm, tapi Citra menghadang langkahnya.


"Apa kamu masih nggak mau bicara denganku?" tanya Citra, pelan.


Bagio terdiam sambil menatap Citra, yang juga sedang menatap Bagio lekat-lekat.


"Aku nggak tahu mau ngomong apa denganmu," kata Bagio.


Tiba-tiba, Citra memeluk Bagio, lalu berkata,


"Apa kesalahanku? Kenapa kamu seperti ini?"

__ADS_1


__ADS_2