
Dengan melihat ke segala arah dan mengamati tempat wisata itu baik-baik, Bagio menyadari kalau pantai itulah yang menjadi lokasi pemotretannya kemarin siang.
Hanya karena tempat itu yang kini lebih ramai dengan pengunjung, yang hampir memenuhi semua pesisir pantai, hingga Bagio hampir tidak mengenali tempat itu lagi.
Citra mengajak Bagio mendatangi sebuah warung makan, yang menyediakan sajian menu hidangan laut yang segar.
"Pesan saja apa yang kamu mau!" ujar Citra, yang sudah lebih dulu memesan jus tomat, kepada pedagang yang berjaga di warung makan itu.
Bagio memesan es jeruk, lalu ikut duduk bersebelah-sebelahan dengan Citra, di bangku yang posisinya menghadap ke laut.
Di bawah pencahayaan yang maksimal, sesekali, Bagio curi-curi pandang dengan melirik ke arah Citra di sampingnya.
Citra yang tampak menatap lurus ke depan, jadi kesempatan yang bagus, yang bisa Bagio manfaatkan untuk memperhatikan wajah Citra dengan lebih baik.
Bagio harus akui, kalau memang benar-benar indah, ciptaan Tuhan yang duduk di sebelah Bagio itu.
Meskipun Citra tampaknya tidak memakai riasan wajah yang berlebihan, namun cantiknya masih luar biasa.
Garis alis yang rapi membingkai sepasang mata bulat dan lebar, yang berwarna biru langit di bagian tengahnya.
Bulu mata Citra juga panjang dan melengkung naik, seolah-olah menjadi peneduh yang baik, untuk indera penglihatannya yang indah seperti mutiara.
Citra juga memiliki hidung yang seperti penggaris segitiga siku-siku, dan masih ditambah lagi dengan bibir berwarna merah muda yang kecil dan tipis, dan tampak berkilauan karena pelembab bibir.
Seandainya saja kulit pipi Citra yang halus, bisa Bagio ...
"Sudah puas memandangiku?"
Pertanyaan Citra yang tiba-tiba, sambil menoleh dan menatap Bagio lekat-lekat, bukan hanya membuyarkan lamunan Bagio saja, melainkan juga sanggup untuk membuat jantung Bagio berhenti berdetak, untuk sesaat.
"Eh! ... Itu! ... Anu ...!" ujar Bagio panik, karena tertangkap basah, saat sedang mengagumi salah satu keindahan karya Tuhan di dekatnya itu.
"Apa yang menarik dariku?" tanya Citra, sambil mengangkat kedua alisnya.
Tampaknya Citra tidak keberatan, walaupun pandangan mata Bagio sudah menyapu seluruh bagian wajahnya, dan dia hanya merasa penasaran, akan apa yang sedang Bagio pikirkan.
"Semuanya," jawab Bagio terburu-buru, tanpa berpikir panjang lagi.
"Pffftt ...!" Citra tertawa tertahan. "Aku nggak pernah punya kenalan selugu kamu."
"Menarik! Aku jadi makin ingin mengenalmu dengan lebih baik. Tapi..., kamu sulit sekali untuk aku ajak bicara," lanjut Citra.
"Hmm ... Sebenarnya bukan begitu. Aku hanya nggak tahu mau bicara apa padamu. Jadi, kalau ada yang kamu mau tahu, kamu tanyakan saja," sahut Bagio pelan.
"Okay! ... Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Citra, enteng.
__ADS_1
"Belum," jawab Bagio.
Citra menatap Bagio lekat-lekat, tanpa berkata apa-apa untuk beberapa waktu lamanya.
Bagio tidak mengerti, apa maksud tatapan Citra. Jadi, Bagio juga ikut-ikutan terdiam, sambil menunggu, apa yang mungkin akan ditanyakan oleh Citra kepadanya lagi.
Sampai akhirnya Citra mengeluarkan suaranya, setelah menarik nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar.
"Hmm ... Yang begini nih contohnya, yang jadi maksudku, kalau kamu itu sulit diajak bicara. Walaupun aku bertanya, kamu hanya akan menjawab sekedarnya saja....
... Padahal kamu pasti ada cerita di belakangnya, yang jadi alasannya kenapa sampai kamu belum punya pacar," ujar Citra, yang tampak kecewa.
"Bagaimana kita bisa saling mengenal dengan baik, kalau sampai berkomunikasi saja, kita kesulitan....
... Aku ingin agar kamu nggak perlu malu-malu, untuk bicara apa saja tentangmu padaku," lanjut Citra.
Setelah mendengarkan perkataan Citra yang panjang lebar, barulah Bagio mengerti, kalau Citra ingin Bagio bisa lebih terbuka kepadanya.
"Ooh! ... Maafkan aku ... Apa aku boleh mencobanya lagi?" ujar Bagio.
Citra lalu tersenyum lebar. "Silahkan!"
"Aku dulu sudah pernah punya pacar. Kami berpacaran sejak masih SMP. Bahkan beberapa bulan yang lalu, aku hampir menikah dengannya....
... Tapi kami batal menikah. Dia meninggalkanku di pelaminan, karena wanita itu jatuh cinta dengan orang lain," kata Bagio.
Dari yang awalnya dia terlihat senang, mungkin karena Bagio yang mau bercerita padanya, lalu saat ini, dia malah seperti orang yang sedang merasa sangat terkejut.
Mata Citra yang belo dari sananya, tampak semakin membulat dan melebar, dan kelihatannya, dia juga seolah-olah sedang merasa salah tingkah.
"Maafkan aku ... Kalau begitu, aku yang salah. Tentu berat bagimu untuk menceritakannya, tapi aku malah memaksa," ujar Citra, yang tampak menyesal.
"Nggak apa-apa. Sudah lama aku nggak memikirkan hal itu lagi. Karena aku mengerti kenapa, sampai dia membatalkan rencana kami....
... Aku masih terlilit hutang, dan aku hanya seorang petani yang nggak punya penghasilan yang pasti. Jadi wajar saja, kalau dia ragu untuk menikah denganku, kan?!"
Tanpa beban, Bagio menjelaskan kepada Citra, sambil berharap agar penjelasannya itu, bisa menenangkan Citra dari rasa bersalahnya.
Tapi Citra masih terdiam, seolah-olah dia masih menyesali dirinya sendiri, yang terlalu mau tahu. Atau mungkin Citra juga ikut merasa sedih, akan apa yang Bagio alami dengan urusan percintaannya.
Entahlah ... Bagio tidak bisa memahami, apa yang sedang dipikirkan Citra, jika hanya melihat dari siratan di raut wajah wanita itu sekarang ini.
Yang pastinya yang Bagio mau, situasi di antara mereka berdua, tidak perlu terasa canggung lagi, hanya gara-gara masa lalu.
"Hey ...! Ada apa?" tanya Bagio pelan, sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku masih merasa nggak enak denganmu," jawab Citra pelan, sambil menundukkan pandangannya.
"Nggak apa-apa ... Kan, aku sudah bilang kalau nggak perlu dipikirkan," sahut Bagio, dengan suara membujuk, sampai Citra mau mengangkat pandangannya lagi.
"Apa masih ada, yang kamu mau agar aku ceritakan?" lanjut Bagio.
Citra menggelengkan kepalanya. "Nggak."
"Hmm ... Padahal kamu bisa bertanya apa saja. Aku nggak keberatan," ujar Bagio, sambil tersenyum.
Dalam diamnya, Citra tampak seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, untuk beberapa waktu lamanya, lalu akhirnya dia bertanya,
"Hmm ... Okay! Aku memang penasaran. Kamu bilang kalau kamu terlilit hutang. Kok bisa?"
Bagio lalu menceritakan tentang bagaimana situasinya waktu itu, hingga Bagio bisa terlilit hutang, dan bahkan sampai membuatnya harus berhenti sekolah.
Dan kelihatannya, Bagio yang menceritakan hampir separuh dari masa lalunya, justru membuat Citra semakin terlihat salah tingkah.
Citra bahkan terlihat gelisah, seolah-olah bertambah-tambah saja rasa bersalahnya kepada Bagio.
Refleks, Bagio mengambil salah satu tangan Citra, dan menggenggamnya dengan erat, lalu berkata,
"Semua itu sudah lama berlalu. Sekarang ini, walaupun aku masih ada tanggungan untuk beberapa bulan ke depan, tapi aku rasa keadaanku sudah mulai membaik."
Citra kemudian melihat ke arah tangannya yang digenggam oleh Bagio, lalu mengangkat pandangannya, dan menatap mata Bagio lekat-lekat.
Saat itu juga Bagio baru tersadar, kalau dia mungkin sudah bertingkah kelewatan, dengan memegang tangan Citra tanpa izin.
Bagio baru saja akan menarik tangannya menjauh dari tangan Citra, tapi wanita itu malah balas menggenggam tangan Bagio, hingga Bagio tidak bisa melepaskan pegangannya.
Deg!
Jantung Bagio rasanya tidak sedang baik-baik saja, karena irama degupannya saat ini tidak beraturan.
Apa yang salah?
Kenapa tiba-tiba Bagio bisa merasa, kalau ujung-ujung jari tangannya jadi dingin?
"Hmm ... Apa aku boleh tahu? Apa mungkin kamu masih berharap, agar mantanmu kembali denganmu lagi?" tanya Citra.
"Nggak," jawab Bagio.
"Apa kamu yakin? ... Kamu berpacaran dengannya kan, sudah lumayan lama," ujar Citra.
"Iya, aku yakin," jawab Bagio mantap.
__ADS_1
Citra lalu melepaskan tangan Bagio, dan memegang gelas minumannya dengan kedua tangannya.
Ckckck! ... Padahal Bagio masih mau berpegangan dengan tangan halus milik Citra, lebih lama.