Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 54


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, Citra datang menjemput Bagio di Dorm, saat masih pagi-pagi sekali.


Citra bahkan sudah tiba di Dorm, sebelum jam tujuh pagi, namun untung saja, Bagio sudah siap untuk bepergian ketika Citra datang.


Dengan begitu, Citra tidak perlu berlama-lama menunggu di luar dorm, Bagio sudah keluar dan menemuinya di sana.


"Apa kamu sempat sarapan?" tanya Citra.


"Iya," sahut Bagio, sambil memasang sabuk pengamannya.


Bagio tadi, memang sempat meminum secangkir kopi tanpa gula, yang ditemani dengan biskuit tawar, yang diberikan oleh Sucitra.


Biskuit yang katanya tidak mengandung banyak kalori, yang dibelikan oleh Sucitra, lalu meletakkannya di atas meja di dalam kamar, dan diberikan izin olehnya, bagi siapa saja yang mau memakan makanan itu.


Ketika Bagio keluar dari kamarnya, Sucitra tadi masih berpakaian di dalam sana, tampak sedang bersiap-siap untuk bekerja.


Sedangkan dua rekan sekamar mereka, terlihat masih tertidur dengan nyenyak, dan tidak terganggu, dengan adanya Bagio dan Sucitra, yang mondar-mandir di dalam kamar itu.


Menurut penuturan Sucitra tadi, semalam, dia cepat pulang dari pub, karena ada keributan di sana, dan Sucitra tidak mau terkena masalah, dengan tetap bertahan di tempat itu.


Di saat itu juga, Juno dan pasangannya ternyata berada juga di sana, di tempat hiburan malam yang sama, sehingga mereka bisa kembali ke Dorm bersama-sama.


Sucitra tadi juga sempat berkata kepada Bagio, bahwa, jika saja dia tidak ada jadwal kerja hari ini, dia sebenarnya mau ikut pergi ke kampung Bagio, dan berjalan-jalan di sana, mumpung ada Bagio, yang bisa menjadi pemandu jalannya.


Tapi karena situasi yang tidak memungkinkan sekarang ini, Sucitra akhirnya hanya membuat Bagio berjanji, agar di suatu waktu nanti, jika mereka memiliki jadwal kosong yang bersamaan, maka mereka berdua akan pergi ke kampung Bagio.


Dan Bagio setuju saja, karena jika Bagio ada jadwal kosong, Bagio memang akan lebih memilih untuk kembali ke kampung, untuk memastikan, kalau semua peninggalan almarhum kakeknya, masih terawat dengan baik.


***


Citra yang mengemudikan mobilnya, tiba-tiba mengurangi kecepatan kendaraan itu, hingga akhirnya berhenti di depan beberapa gerobak pedagang kaki lima, yang berada di pinggir jalan.


"Aku jarang keluar rumah jam segini," celetuk Citra, sambil membuka pintu mobilnya.


"Ayo ikut denganku sebentar! Aku ingin membeli jajanan," kata Citra mengajak Bagio.


Pedagang di sekitar situ, yang berada tepat di bagian depan sebuah pasar tradisional, terlihat memperdagangkan berbagai macam kue basah.


"Kamu mau yang mana?" tanya Citra.


"Yang itu saja!" Bagio menunjuk kue lemper, yang kelihatannya masih hangat, dan memang terlihat menggiurkan.


"Hanya itu saja?" tanya Citra lagi.


Bagio menganggukkan kepalanya. "Iya."


Selain kue lemper, Citra masih memilih jajanan tradisional yang lain, yaitu onde-onde dan cucur.


Dan sebelum Citra mengeluarkan uangnya, Bagio sudah lebih dulu membayarkannya.


"Aku melihat tempat ini, di Google Map semalam," kata Citra, sambil berjalan kembali ke mobilnya.


"Melihat foto-foto jajanannya yang kelihatannya enak, aku jadi ingin mencobanya," lanjut Citra, yang terlihat bersemangat.


"Memangnya kamu nggak pernah makan jajanan seperti ini?" tanya Bagio, ketika mereka berdua masuk ke dalam mobil.


"Pernah. Tapi sudah lama sekali. Sebelum aku pindah ke luar negeri," sahut Citra, yang kemudian menyalakan mesin mobilnya, lalu mulai melaju lagi di jalanan.

__ADS_1


Sembari menyetir, Citra tampak lahap memakan kue pilihannya, hingga Bagio memandanginya di situ.


"Ada apa? Apa kamu takut kalau aku makan sambil menyetir?" tanya Citra tiba-tiba, yang mungkin menyadari kalau Bagio sedang menatapnya.


"Tenang saja! ... Mobilku ini bertransmisi otomatis. Jadi, aku santai saja menyetirnya," lanjut Citra, sebelum Bagio sempat menjawab pertanyaannya.


"Bukan begitu," sahut Bagio. "Apa kamu nggak pernah diet?"


Bagio sampai menanyakan tentang hal itu, karena rasanya, setiap kali Bagio bertemu dengan Citra, selera makan dari wanita itu selalu terlihat bagus.


Citra tidak memilih-milih makanan yang harus rendah kalori, dan dia juga makan dalam porsi yang normal, bahkan terkadang, Citra memakan makanannya dalam porsi yang besar.


Seolah-olah, Citra tidak merasa khawatir, kalau-kalau berat badannya nanti bertambah.


"Pffftt ...!" Citra tertawa tertahan, sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


"Aku selalu makan sesuka ku," jawab Citra, lalu menyuapkan sebutir onde-onde ke dalam mulutnya.


"Apa kamu nggak takut nanti jadi gemuk?" tanya Bagio.


"Hmm ... Menurutmu apa aku gemuk?" Citra balik bertanya.


Kilas balik, Bagio mengingat saat Citra yang hanya memakai pakaian renang, yang bisa membuat Bagio menelan ludahnya sendiri.


Bagio menggelengkan kepalanya. "Nggak. Badanmu bagus."


"Di luar negeri, aku malah sering makan Junk Food ... Makanan cepat saji. Tapi badanku begini-begini saja," kata Citra, sambil tersenyum.


"Kok bisa? Apa kamu olahraga ketat?" tanya Bagio, penasaran.


"Aku memang olahraga rutin," sahut Citra, lalu tampak seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.


...Contohnya, berolahraga terlalu ekstrim. Terus..., mungkin takut makan, sampai tidak makan sama sekali. Atau kamu makan, lalu memuntahkannya lagi....


... Kalau sudah mengalami Anoreksia atau Bulimia, sulit untuk bisa kembali normal lagi. Dan efeknya buruk untuk kesehatan. Bahkan ada yang sampai meninggal dunia, karena gangguan itu."


Citra berbicara kepada Bagio, dengan nada suara yang terdengar serius, dan yakin akan perkataannya itu.


"Iya. Aku memang pernah dengar tentang itu. Yang katanya, biasa dilakukan para model, agar tetap kurus," sahut Bagio.


"Memang benar ... Sudah ada beberapa model yang aku kenal, yang akhirnya harus menemui psikiater, karena kondisi kesehatannya sudah sangat buruk," kata Citra.


"Padahal menurutku, lebih baik berhenti jadi model. Daripada harus seperti itu. Apa gunanya uang, kalau badan dan jiwa sakit?!" lanjut Citra, seperti orang yang sedang menggerutu.


***


Ketika Citra singgah sekali lagi, untuk mengisi bahan bakar mobilnya, Citra lalu mengeluarkan salah satu kamera foto miliknya, dan memberikannya kepada Bagio.


"Kamera ini jenis standar, tapi aku nggak akan memasang tambahan lensa," kata Citra, saat Bagio mengambil kamera foto dari tangan Citra.


"Tapi walaupun begitu, aku tetap ingin melihatmu mencoba mengambil gambar yang bagus, di perjalanan," lanjut Citra lagi, sebelum mereka melanjutkan perjalanannya.


Di sepanjang perjalanan mereka, yang menuju ke kampung Bagio, waktunya dihabiskan mereka dengan berbincang-bincang santai.


Dan sesekali, ketika melihat sesuatu yang menarik perhatian mereka, Citra akan sedikit memelankan laju mobilnya, dan membiarkan Bagio mencoba memotret sendiri, menggunakan kamera milik Citra itu.


Kata Citra, Bagio bisa memotret sepuasnya, dan Citra akan memeriksa hasilnya nanti, setelah mereka tiba di kampung Bagio.

__ADS_1


Bagio bukan hanya mengambil gambar pemandangan saja, melainkan dia juga memotret Citra, ketika Bagio merasa kalau bayangan wanita itu akan terlihat bagus di foto.


Citra yang menyadari, kalau Bagio sedang mengambil gambar wajahnya, lalu tertawa, dan kemudian berkata,


"Untuk apa kamu memotretku? Bukannya aku menyuruhmu, untuk memotret pemandangan?"


"Iya ... Kamu kan juga termasuk dalam pemandangan?!" sahut Bagio, sambil tersenyum lebar.


"Hahaha! ... Sudah pintar merayu sekarang, ya?!" ujar Citra, sambil tertawa. "Awas saja kamu nanti!"


"Memangnya kamu bisa melakukan apa? ... Menggigitku?" Bagio masih mengejek Citra, sampai wanita itu tampak gemas, saat dia melihat sebentar ke arah Bagio.


"Iya! Aku akan menggigit bibirmu, nanti!" sahut Citra.


"Ooh! ... Silahkan saja! Aku akan menunggu," kata Bagio, tidak mau kalah, sambil tersenyum, dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Citra.


"Pffft ...!" Citra tertawa tertahan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Setibanya mereka di jalan masuk ke arah pemukiman warga di kampung Bagio, mobil Citra memang kelihatannya cukup menarik perhatian warga.


Sehingga, di sepanjang jalanan menuju ke rumah Bagio, penduduk di kampung yang melihat kedatangan mobil Citra itu, tampak memandangi, sampai-sampai, mereka seolah-olah lupa caranya berkedip.


Tetangga yang bersebelahan rumah dengan Bagio, bahkan sampai keluar dari rumah, dan berjalan mendekat ke arah rumah Bagio, ketika mobil Citra masuk ke dalam pekarangan rumah Bagio.


Ketika melihat orang-orang kampung, yang mendekat ke halaman rumahnya, Bagio merasa sedikit bingung, karena anak-anak tetangganya yang seharusnya bersekolah, tapi sekarang ini, bisa terlihat olehnya di sana.


"Hari apa ini?" tanya Bagio, sekedar saja kepada Citra, karena dia melihat penanda hari di layar ponselnya.


"Hari Minggu!" Bersamaan dengan Citra menjawab pertanyaannya, Bagio juga sudah melihat hari yang tertera di ponsel.


"Pantas saja," celetuk Bagio.


"Kenapa?" tanya Citra.


"Nggak ada apa-apa," sahut Bagio, lalu bersiap untuk keluar dari mobil Citra, dan Citra juga ikut beranjak keluar dari dalam mobil.


"Ini rumah peninggalan almarhum kakekku. Jadi, aku harap kamu memaklumi rumah yang sudah tua ini," kata Bagio, sambil membawa Citra, pergi ke teras depan rumahnya.


"Rumahnya masih terlihat bagus. Kelihatannya, masih lebih nyaman tinggal di sini, daripada di kota," sahut Citra, lalu duduk di kursi teras.


Bagio kemudian membuka gembok yang terpasang di pintu depan rumahnya, dengan menggunakan kunci cadangan yang dia bawa, dan membiarkan pintunya terbuka lebar-lebar.


Beberapa dari tetangga Bagio, lalu ada yang datang menghampiri Bagio di rumahnya itu, kemudian bertegur sapa, sambil menanyakan kabar Bagio.


Bagio yang menyambut tetangga-tetangganya itu, selain membalas sapaan dan menjawab pertanyaan mereka, Bagio juga memperkenalkan Citra sebagai teman dekatnya.


Dan Citra juga kelihatannya tidak keberatan, dan ikut bertegur sapa dengan tetangga-tetangga Bagio itu.


Bagio lalu menanyakan tentang Kartono, kepada orang-orang kampung yang masih berada di depan rumahnya itu.


Setelah mendapatkan informasi, di mana Kartono berada sekarang, Bagio lalu berkata kepada Citra,


"Kartono, temanku itu, sedang di sawah. Aku akan menyusulnya ke sana. Apa kamu mau ikut?"


Citra menganggukkan kepalanya. "Iya. Tapi tunggu sebentar!"

__ADS_1


Setelah membuka pintu tengah dari mobilnya, Citra mengeluarkan satu kamera foto, yang sudah terpasang lensa tambahan di sana.


"Aku sudah siap. Ayo kita pergi!" kata Citra.


__ADS_2