
Keributan di kamar Bagio malam itu masih terjadi, tapi untungnya suara-suara aneh itu baru terdengar ketika sudah subuh, dan mendekati pagi.
Daripada tidur lagi lalu kesiangan, Bagio segera bangkit dari tempat tidurnya, lalu mengambil pakaian ganti dari lemari dan berjalan keluar dari kamar, hendak pergi mandi.
Memang mencurigakan rasanya suara erangan di kamarnya itu. Karena saat Bagio bangkit dari tempat tidurnya dan menyalakan lampu, tiba-tiba kamarnya jadi hening.
Ketika Bagio melirik ke tempat tidur lain, hanya satu tempat tidur yang tampaknya ada penghuninya, dengan selimut yang menutupi sampai ke bagian kepala orang yang tidur di atasnya.
Apa mungkin kedua rekan sekamarnya, yang kata Dirga bahwa mereka itu berpacaran, sedang bertengkar, sehingga yang satunya menangis di kamar?
Tapi, kelihatannya mereka semalam baik-baik saja, dan bahkan terlihat mesra saat berjalan bersama-sama.
Sudahlah!
Bagio juga tidak enak kalau harus mengadukan keributan di kamarnya kepada Andi.
Bisa bayangkan kalau sedang bertengkar, dan menangis karena sakit hati, lalu masih harus mendapatkan teguran dari penanggung jawab Dorm.
Kasihan, kan?
Lebih baik Bagio bersyukur, karena dia masih baik-baik saja sampai detik ini.
Setelah selesai mandi, Bagio memasukkan pakaiannya ke dalam mesin cuci yang menurut Bagio sangat canggih, karena bisa mencuci dan mengeringkan pakaiannya, tanpa perlu dijemurnya lagi.
Sambil menunggu pakaiannya selesai dibersihkan, Bagio yang mulai terbiasa untuk minum kopi hitam tanpa gula, menikmati secangkir kopi hitam panas yang tidak ber-ampas, di dalam dapur umum.
Suasana Dorm yang masih sepi, dengan penghuni lainnya yang mungkin sekarang masih tidur, membuat Bagio saat itu juga jadi teringat akan kampungnya.
Entah bagaimana kabar Kartono yang mengurus sawah Bagio di sana.
Apakah semuanya berjalan lancar-lancar saja?
Jika saja Bagio dan Kartono sama-sama memiliki ponsel, tentu Bagio tidak akan kesulitan untuk mencari tahu, kalau-kalau mungkin ada kendala yang dihadapi oleh Kartono, dalam mengurus sawah Bagio.
Tapi, sudah terlalu banyak pengeluaran Bagio selama ini, kalau dia harus menambah belanjaannya dengan membeli ponsel.
Apalagi kalau Bagio harus membeli sampai dua buah ponsel sekaligus.
Mau tidak mau, Bagio hanya bisa berharap saja, agar tidak ada masalah yang cukup berarti, yang bisa mengganggu Kartono dalam mengelola sawah yang dititipkan Bagio kepadanya.
Ketika Bagio kembali ke tempat beberapa mesin cuci itu ditempatkan, alat itu sudah berhenti beroperasi, dan Bagio segera mengeluarkan pakaiannya dari dalam situ.
Biasanya, Bagio langsung melipat pakaiannya di situ-situ saja. Tapi berhubung hari ini dia tidak terburu-buru, Bagio hanya memegang gulungan pakaiannya dan membawanya kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Bagio berniat untuk melipat pakaiannya nanti di kamar, sambil duduk di atas tempat tidurnya, sekalian Bagio ingin melihat waktu di jam dinding di kamarnya itu.
Setibanya di dalam kamar, Bagio melakukan apa yang ingin dia lakukan sesuai rencananya tadi, dan seharusnya hanya itu saja, bukan berniat untuk mencari tahu tentang penghuni lain di kamar itu.
Tapi, satu tempat tidur di seberang Bagio itu, rasanya semakin mencurigakan saat Bagio memperhatikannya baik-baik.
Menurut dugaan Bagio, di atas tempat tidur di seberangnya itu bukan hanya terisi satu orang saja, melainkan ada dua orang yang tidur bersama-sama di situ.
Bagio bisa menduga seperti itu, karena di selimut tebal dan lebar hingga menutup ke bagian samping tempat tidur, terlihat ada sedikit lekukan yang terbentuk, seolah-olah dimiliki oleh dua orang yang sedang berpelukan di bawah selimut.
Atau apa mungkin rekan sekamarnya itu sekarang sedang memeluk guling?
Bagio tetap harus berpikir positif, kan?!
Ah! Sudahlah!
Memangnya, masalahnya apa, kalau dua rekan sekamarnya berpelukan?
Mungkin mereka sedang berusaha untuk berbaikan lagi, setelah mereka bertengkar. Benar atau tidak?
Jadi, sebaiknya Bagio biarkan saja, dan tidak perlu mengganggu mereka itu.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 05:26, ketika Bagio melihat ke benda itu.
Saat Bagio keluar dari kamarnya, di luar sudah mulai banyak penghuninya yang tampak keluar dari kamar mereka masing-masing, dan berjalan mengarah ke tangga.
Bagio tidak menunggu jemputan Hana di ruang santai, dan rencananya dia akan berjalan ke luar sampai ke pintu gerbang pagar Dorm, dan menunggu sampai Hana datang di sana.
Dari kejauhan, Andi kelihatannya sedang asyik merawat tanaman bunga yang bermekaran berwarna-warni di dekat kolam ikan.
Bagio menghentikan langkahnya, di dekat tempat Andi berada.
"Pagi, Mas!" sapa Bagio.
Andi mengangkat wajahnya lalu membalas sapaan Bagio. "Pagi!"
"Sudah siap jam segini?" tanya Andi, yang kembali mencabuti daun-daun kering dari tanaman hiasnya.
"Iya. Kebetulan tadi bisa terbangun lebih cepat," jawab Bagio. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Terima kasih. Tapi, tidak perlu kamu repot-repot. Nanti kamu jadi kotor lagi." Andi yang sedari tadi membungkuk, memasukkan daun kering ke dalam kantong sampah, lalu berdiri lurus sambil menatap Bagio.
"Apa ada masalah di Dorm?" tanya Andi.
__ADS_1
"Hmm ... Tidak," jawab Bagio. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Kalau ada sesuatu yang mengganggu jam istirahatmu, kamu jangan segan untuk memberitahu ku....
... Karena, kalau sampai ada sesuatu di Dorm yang bisa mengganggu kinerjamu, aku justru akan mendapat masalah." Andi tampak memasang raut wajah serius saat berbicara dengan Bagio.
"Tidak ada apa-apa, Mas. Kebetulan saja tadi bisa terbangun subuh-subuh." Lebih baik Bagio berbohong, daripada jadi pengadu.
"Okay!" Andi tampak manggut-manggut, sambil melihat ke arah tanaman hiasnya lagi. "Hana yang jadi manajermu, ya?"
"Iya, Mas!" Bagio yang tadinya sempat berjongkok, lalu ikut berdiri tegak.
Andi melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu berkata, "Kalau kamu mau membantuku, berikan makanan ikan ke dalam kolam itu!"
"Makanannya ada di sana!" lanjut Andi, menunjuk ke gazebo yang berdiri hampir di ujung pagar.
Bagio lantas berjalan ke arah yang di maksud oleh Andi, dan mengambil pelet ikan yang tampak dimasukkan ke dalam toples plastik transparan.
Lalu Bagio kembali ke dekat kolam, dan menaburkan makanan ikan itu sedikit ke dalam kolam yang berisi ikan koi.
"Ingat pesanku! Kalau ada yang membuat keributan, atau melakukan hal yang di luar batas kewajaran di dalam Dorm, kamu harus melaporkannya padaku!"
Andi seolah-olah tidak mudah percaya begitu saja, akan apa yang dikatakan oleh Bagio kepadanya, hingga dia kembali mengulang pesannya kepada Bagio.
"Iya, Mas," jawab Bagio, sambil tetap menaburkan makanan ikan, sedikit demi sedikit ke dalam kolam.
"Bagaimana rasanya saat sudah mulai bekerja?" tanya Andi, sambil menyiram tanaman dengan air keran.
"Asalkan kamu mau bekerja dengan baik, agensi ini pasti bisa membantumu sampai berhasil....
... Sudah banyak model yang bernaung di agensi Madam Sally ini, yang bisa terkenal sampai ke luar negeri," lanjut Andi, sebelum Bagio sempat menjawab pertanyaannya tadi.
"Iya, Mas," sahut Bagio.
"Masih dapat kerjaan pemotretan, ya? Belum dapat job syuting iklan?" tanya Andi.
"Belum, Mas. Beberapa hari ini, masih dapat kerjaan pemotretan saja," jawab Bagio.
"Sabar saja ... Biasanya paling lama dalam dua bulan, pasti Hana sudah mengikutkan kamu dalam audisi pemeran untuk syuting iklan," sahut Andi, seolah-olah sedang memberi semangat kepada Bagio.
"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Bagio penasaran.
"Tentu saja untuk bayarannya," jawab Andi sambil tersenyum. "Syuting iklan lebih besar bayarannya, daripada yang hanya difoto saja. Apalagi, kalau untuk iklan dari merk ternama."
__ADS_1