Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 28


__ADS_3

Tumben sekali pemotretan kali ini, dilakukan di tempat yang terbuka.


Kolam renang yang menjadi lokasi pemotretan untuk model iklan pakaian renang, di sekitarnya tampak dipenuhi dengan orang-orang yang ikut ambil bagian dalam sesi pemotretan itu.


"Kamu bisa berenang?"


Hana yang berdiri di sudut taman yang ada di dekat kolam renang itu, tampak memandangi genangan air yang bening, saat melontarkan pertanyaannya kepada Bagio.


"Bisa," sahut Bagio mantap.


"Kalau begitu, nggak ada yang perlu di khawatirkan," kata Hana. "Kolam itu dalamnya tiga meter."


Hana lalu seolah-olah sedang bergidik ngeri, dan penglihatan Bagio sempat menangkap gerakan badan Hana, yang bergetar sambil mengusap-usap lengannya sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Bagio merasa heran.


"Aku nggak bisa berenang," jawab Hana, lalu berjalan menjauh dari sana, sambil berkata,


"Kamu dengarkan arahan mereka saja! Aku pergi ke dalam dulu!"


Hana meninggalkan Bagio, dan terlihat memasuki bangunan rumah, yang menurut penuturan Hana tadi, tempat itu adalah milik fotografer yang akan memotret Bagio dan model yang lain, hari ini.


Sambil menunggu waktunya untuk diambil gambarnya, Bagio melihat-lihat di sekitar lokasi pemotretan itu, dengan berdiri sendirian di dekat pagar pembatas yang tingginya mencapai dada Bagio.


Rumah mewah yang letaknya hampir di puncak perbukitan, menampilkan keindahan pemandangan alam yang ada di dataran yang lebih rendah, yang memuaskan penglihatan.


Bukan cuma pemandangannya yang indah, udaranya pun masih terasa segar, jika dibandingkan dengan di tengah kawasan perkotaan, yang jadi tempat Bagio tinggal selama beberapa waktu belakangan.


Ckckck ...!


Butuh berapa banyak uang, hingga orang bisa membeli rumah yang mewah, di tempat yang seindah itu?


"Bagaimana menurutmu?" Tiba-tiba, terdengar suara wanita yang bertanya, dari bagian samping Bagio.


Bagio lalu menoleh ke arah datangnya suara. "Apa?"


"Aku tadi bertanya, bagaimana menurutmu tentang pemandangannya?" ulang wanita itu.


"Ooh ...! Bagus! Membuatku jadi teringat akan kampungku," sahut Bagio.


"Berarti, kamu tidak berniat untuk bunuh diri di sini, kan?!" ujar wanita itu lagi.


"Pffftt ...! Enggak lah!" sahut Bagio, sambil tertawa kecil.


Wanita itu kemudian berlalu pergi, meninggalkan Bagio berdiri sendirian, dengan tanda tanya.


Kenapa wanita itu sampai bisa berpikir, kalau Bagio mungkin akan bunuh diri di situ?


Bagio kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudahlah!

__ADS_1


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, tiba-tiba terdengar sedikit keributan, tidak jauh di bagian belakang Bagio.


"Hey! Kamu pikir, apa yang sedang kamu lakukan?!"


Seruan dengan nada tinggi dari seorang wanita, mengejutkan Bagio hingga segera berbalik, dan melihat ke arah di mana keributan itu terdengar.


Ternyata wanita itu tidak sedang bicara pada Bagio, melainkan tampak sedang memarahi seseorang yang menyentuh kamera foto, yang terpasang di tiang berkaki tiga.


Seorang wanita yang umurnya mungkin kurang lebih seperti Bagio, tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam, dan seolah-olah dia sedang merasa sangat marah, kepada seseorang di situ.


"Jauhkan tanganmu dari situ!" Wanita itu kembali membentak orang yang masih berdiri di dekat kamera foto.


Suara wanita itu yang menggema, bukan hanya menarik perhatian Bagio saja.


Hampir semua orang yang berada di situ, kini melihat ke arah wanita yang tampak gusar itu, sambil beberapa dari orang-orang itu di sana, terlihat saling berbisik-bisik.


Kalau tidak salah, itu adalah wanita yang baru saja berbicara dengan Bagio, di dekat pagar pembatas tadi.


Bagio yang penasaran, kemudian berjalan menghampiri salah satu model laki-laki, yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ada apa?" tanya Bagio.


"Itu, Miss Citra. Sepertinya asistennya sudah melakukan kesalahan," jawab orang yang didekati Bagio barusan.


"Siapa itu Miss Citra?" tanya Bagio lagi.


Bagio lalu menganggukkan kepalanya, menyetujui tanggapan model lelaki di sebelahnya itu


"Sayangnya, dia gampang sekali 'darah tinggi', kalau sedang bekerja," lanjut laki-laki itu lagi.


Bagio tidak terlalu memperdulikan akan perkataan model laki-laki di sebelahnya itu, tentang sifat 'mudah naik darah' yang dimiliki oleh Citra.


Bagio justru sibuk memperhatikan sosok fotografer yang bernama Citra itu, karena ketika wanita itu berbicara dengannya tadi, Bagio tidak terlalu memperhatikannya.


Citra memiliki tinggi badan yang mirip-mirip dengan para model wanita biasanya, namun tubuhnya tampak lebih padat dan berbentuk, macam gitar spanyol.


Rambut panjang sepinggang milik Citra, berwarna coklat kekuningan, lengkap dengan wajahnya yang cantik, seolah-olah dia adalah seseorang yang berkebangsaan campuran dengan ras orang Barat.


Ckckck ...! Luar biasa indahnya, ciptaan Tuhan yang satu ini!


Fotografer yang cantik, dan ... Eh!


Kalau benar begitu, berarti Citra adalah pemilik rumah mewah yang jadi lokasi pemotretan itu.


Bukan main!


Citra menjadi satu paket yang lengkap dan mewah, yang tidak akan mungkin melirik remahan kerupuk seperti Bagio.


***

__ADS_1


Tidak berapa lama Bagio dan yang lainnya menunggu di sana, sesi pemotretan di tempat itu kemudian mulai berlangsung.


Akan tetapi, ada yang berbeda rasanya di sesi pemotretan kali ini.


Entah mengapa, Bagio merasa malu dan gugup saat Citra menatapnya lekat-lekat, saat tiba giliran Bagio untuk dipotret.


Padahal Bagio tidak sedang bertelanjang, dan selain segitiga pengamannya, Bagio masih memakai celana pendek di bagian luarnya.


Bagio bahkan hampir tidak bisa berpose di depan kamera foto, yang dikuasai oleh Citra.


Sekujur tubuh Bagio semakin gemetar, ketika Citra yang memasang raut wajah kesal, tampak berjalan menghampiri Bagio.


"Apa ini kali pertama mu dipotret?" tanya Citra.


Bagio menggelengkan kepalanya. "Tidak."


"Lalu? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Citra lagi.


"Maafkan saya ... Saya juga tidak tahu, kenapa saya bisa merasa gugup," jawab Bagio, yang tiba-tiba tidak bisa bicara santai, dengan suaranya yang ternyata juga ikut bergetar.


"Apa karena aku?" Sepasang alis Citra tampak semakin terpaut, hingga lipatan di keningnya jadi semakin dalam.


Bagio terdiam, dan tidak tahu harus menjawab apa.


Citra lalu mengangkat sebelah tangannya, dan melambai-lambaikan jari telunjuknya, seolah-olah dia sedang menyuruh Bagio untuk mendekat padanya.


Bagio yang berdiri berhadap-hadapan dengan Citra, lalu sedikit membungkuk, dan Citra pun mendekatkan wajahnya ke salah satu sisi wajah Bagio.


"Apa kamu sedang memancing kemarahanku?" bisik Citra di telinga Bagio.


Nafas Citra yang berhembus mengenai daun telinga, dan sebagian kecil dari wajah Bagio, membuat bulu kuduk Bagio berdiri tegak.


Bagio bukan sedang merasa takut, melainkan sesuatu yang berbeda, karena menurut Bagio, suara Citra itu justru terdengar merdu di telinganya.


Dan di saat itu juga, dada Bagio terasa berdebar-debar, dengan wajahnya yang juga ikut terasa panas, dan bahkan rasanya, Bagio mungkin akan pingsan, karena nafasnya yang tidak bisa beraturan.


Citra yang masih menatap Bagio setelah membisikkan kata-katanya tadi, tiba-tiba raut wajahnya tampak berubah drastis.


Citra tampak seolah-olah tersentak dan kebingungan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia kembali berkata,


"Kamu jadi gugup karena aku, ya?! Kamu merasa takut denganku, atau apa?"


Meskipun Citra tidak sedang berbisik, tapi suara yang keluar dari mulutnya cukup pelan, seolah-olah dia tidak mau orang lain mendengarkan, apa yang sedang dia katakan pada Bagio.


Bagio masih tetap terdiam saja, seakan-akan dia telah kehilangan kemampuannya untuk bicara.


"Huuffft ...!" Citra mendengus kasar, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tenangkan dirimu! Setelah semua sesi pemotretan sudah selesai, aku ingin bicara denganmu sebentar!" ujar Citra, lalu berjalan menjauh dan berdiri di belakang kamera fotonya.

__ADS_1


__ADS_2