
Sampai Bagio bersama Citra tiba di sebuah rumah makan lesehan, yang menyediakan menu makanan bakar-bakaran, Citra masih tetap terlihat gelisah.
Kesadaran Citra bahkan seolah-olah tidak berada di dalam tubuhnya, yang sedang duduk berhadap-hadapan dengan Bagio sekarang ini.
"Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Bagio berhati-hati.
"Kamu bisa membicarakannya denganku, kalau ada sesuatu yang mengganggumu," lanjut Bagio, sebelum Citra menjawab pertanyaannya.
"Eh! ... Nggak ada," sahut Citra, yang tampak sedikit tersentak.
Walaupun Citra berkata tidak, namun gerak-geriknya, tetap menampakkan hal yang sebaliknya.
Citra menatap kertas, yang bertuliskan apa saja makanan dan minuman, yang tersedia di tempat itu, dalam waktu yang lama, namun dia tidak memilih satupun menu yang tertera di sana.
"Kamu mau makan apa?" tanya Bagio.
Bagio sudah menyebutkan pesanannya kepada penjaga rumah makan, yang sudah berdiri di dekat mereka sedari tadi.
Dan penjaga rumah makan itu, sekarang juga masih menunggu Citra, untuk membuat pesanannya.
Pertanyaan Bagio tadi, lagi-lagi membuat Citra tampak terkejut, lalu buru-buru menyebutkan, apa saja makanan dan minuman yang dia inginkan.
Setelah penjaga rumah makan itu, berlalu pergi dari sana, Bagio lalu berkata kepada Citra.
"Citra ...! Aku bukan orang yang suka memaksa. Tapi, gerak-gerikmu sekarang ini, hanya membuatku merasa cemas."
Sambil berbicara, Bagio menatap Citra lekat-lekat, untuk melihat bagaimana reaksi wanita itu, saat mendengar perkataan Bagio.
"Apa kamu bisa mengobrol dengan Sucitra?" tanya Citra, lalu dengan cepat melanjutkan kalimatnya, sebelum Bagio menjawab pertanyaannya.
"Tentu saja kalian bisa ngobrol. Kalian kan tinggal sekamar?! ... Hmm ... Apa saja yang pernah dia katakan padamu?"
Citra terlihat ragu-ragu saat berbicara pada Bagio, seolah-olah memang ada yang dia sembunyikan dari Bagio.
"Kami sama-sama bekerja, dengan jadwal yang berbeda. Kalau pun bisa bertemu, paling-paling sebentar saja, ketika sudah hampir jam tidur....
... Nggak banyak yang bisa kami bicarakan, karena biasanya, kami sama-sama sudah mengantuk," jawab Bagio.
Citra lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil memandang ke atas meja.
"Memangnya kenapa? ... Apa kamu berteman dengannya?" Bagio mencoba memancing Citra, dengan pertanyaan yang menjebak itu.
"Nggak tahu mau dibilang apa. Karena kalau dibilang berteman, sedangkan kami berdua nggak akrab....
... Tapi kami memang sering bertemu, waktu aku masih tinggal di luar negeri. Aku nggak tahu, kalau dia sudah kembali ke sini," jawab Citra.
"Sucitra masuk di Dorm, sudah sejak beberapa minggu yang lalu," kata Bagio.
"Aku ada nomor ponselnya. Kamu nggak mau berbincang-bincang dengannya? Mungkin, bisa untuk mengenang masa lalu, atau sekedar basa-basi," lanjut Bagio, memberi saran.
"Nggak dulu, deh! ... Dia juga pasti sibuk bekerja," kata Citra, segera menolak tawaran Bagio. "Apa kamu tahu, kemana dia akan pergi tadi?"
"Katanya tadi, dia mau pergi ke pub," jawab Bagio.
"Ooh!" Citra lalu tampak manggut-manggut mengerti.
Penjaga rumah makan yang menyajikan makanan mereka berdua ke atas meja, membuat percakapan antara Bagio dan Citra jadi terhenti.
Dan ketika mereka mulai berbincang-bincang lagi, sambil menikmati makanannya, pembahasan yang mereka berdua bicarakan, sudah membahas tentang hal yang lain, dan sama sekali tidak menyinggung tentang Sucitra.
__ADS_1
***
"Kriiing! ... Kriiing!"
Ponsel Bagio yang tiba-tiba berbunyi, tepat setelah Bagio menghabiskan makan malamnya, membuat Bagio cukup terkejut, dan buru-buru memeriksa benda itu.
Hana yang sekarang sedang menelepon Bagio, dan rasanya tumben sekali, hingga manajer Bagio itu, menghubungi Bagio di jam-jam sekarang ini.
"Cit! ... Sebentar, ya?! Hana yang menelepon. Aku terima teleponnya dulu!" kata Bagio, dan Citra pun segera mengangguk, memberikan tanda persetujuannya.
"Halo!" sapa Bagio.
"Halo, Bagio!" Hana balas menyapa dari seberang telepon.
"Iya, Hana! Ada apa?" tanya Bagio.
"Kamu mau balik ke kampung, kan?" ujar Hana, yang balik bertanya.
"Iya ... Kalau memang ada waktu, aku mau pulang ke kampung, biar hanya sehari," jawab Bagio.
"Besok kamu bisa pergi. Tapi kamu harus usahakan, agar lusa pagi, kamu sudah siap untuk bekerja lagi," kata Hana.
"Eh? ... Bukannya besok aku ada jadwal?" tanya Bagio, heran.
"Yang satunya batal. Sedangkan yang satunya lagi, ditunda. Pemotretannya dilangsungkan lusa malam....
... Jadi, besok jadwalmu kosong. Tapi lusa nanti, kamu harus bekerja sampai tengah malam," jawab Hana menjelaskan.
"Kamu bisa pulang kampung, tapi jangan sampai kamu kelelahan. Kamu juga nggak boleh terlambat kembali ke kota....
... Usahakan besok malam kamu sudah kembali ke Dorm, agar lusa nanti, pekerjaanmu nggak terganggu," lanjut Hana.
"Okay! Sama-sama ... Bagio! Hati-hati di jalan!" kata Hana lagi, masih berpesan.
"Iya," sahut Bagio, lalu memutus sambungan telepon dari Hana itu.
Ketika Bagio menyimpan ponselnya kembali ke kantong celananya, Citra lalu bertanya,
"Ada apa, sampai Hana meneleponmu?"
"Besok jadwalku kosong. Aku rencananya mau pulang ke kampung. Jadi, besok kesempatannya," jawab Bagio.
"Begitu, ya?!" ujar Citra. "Kamu pakai apa, kalau pergi ke kampungmu?"
"Pakai bus. Kalau aku ambil bus pagi, siang aku sudah tiba di sana," jawab bagio. "Ya, lumayanlah! Ada waktu sedikit sebelum ambil bus sore, untuk kembali ke sini."
Citra lalu terlihat meminum sedikit es jeruk dari gelasnya, kemudian kembali berkata,
"Besok aku nggak ada pekerjaan yang mendesak. Apa kamu nggak keberatan, kalau aku ikut denganmu? Kita bisa pakai mobilku saja. Nggak perlu pakai bus."
"Eh! ... Hmm ... Terserah kamu saja. Tapi apa kamu nggak capek, kalau menyetir sejauh itu? Aku nggak bisa bergantian denganmu, loh!" sahut Bagio, merasa agak ragu-ragu.
"Berapa jam perjalanan, ke sana?" tanya Citra.
"Kalau pakai bus, kurang lebih lima jam," jawab Bagio.
"Bisa saja kalau begitu. Kalau aku capek, kan kita bisa istirahat di jalan. Aku mau jalan-jalan di kampungmu. Sekalian melihat-lihat di sana," kata Citra, tampak memaksa.
"Okay!" kata Bagio, menyetujui permintaan Citra.
__ADS_1
"Aku nanti menjemputmu besok pagi, sekitar jam tujuh," kata Citra, membuat perjanjian dengan Bagio, dan Bagio setuju saja, dengan ajakan Citra itu.
***
Selain makan malam berdua, tidak ada lagi yang dilakukan oleh Bagio dan Citra, malam itu.
Mereka hanya duduk bercerita di dalam rumah makan itu, walaupun mereka berdua sama-sama sudah menghabiskan makanannya.
Citra bahkan tidak menyenggol sedikit pun tentang fotografi, dalam pembicaraan mereka, dan hanya sibuk bertanya, kalau-kalau ada yang mungkin harus Citra ketahui, tentang situasi di kampung Bagio.
Salah satunya yang ingin Citra ketahui adalah, apa mungkin Bagio masih punya anggota keluarga lain, yang tinggal di kampung.
Tapi Bagio memberitahu kepada Citra, kalau dia tidak memiliki kerabat lain, dan Bagio justru menceritakan tentang Kartono, yang menjadi sahabatnya sejak lama.
Tidak sampai terlalu larut malam, Citra sudah mengantarkan Bagio pulang ke Dorm, dan itu juga atas permintaan Bagio, agar Citra bisa cepat beristirahat malam itu.
***
Setibanya di Dorm, Bagio masih menyempatkan diri untuk beraktivitas di dalam gym, agar kalori dari makanannya tadi, bisa terbakar dan tidak menumpuk menjadi lemak.
Setelah Bagio selesai berolahraga, di dalam kamarnya masih terlihat lengang, karena para penghuninya yang lain, belum ada yang kembali ke sana.
Akan tetapi, ketika Bagio kembali ke kamar setelah dia selesai mandi, Sucitra terlihat sudah berada di sana bersama Juno, dan pasangan Juno.
Tumben sekali, Bagio bisa melihat semua penghuni kamar itu, dalam kondisi lengkap seperti itu, di dalam waktu bersamaan.
Apalagi, kelihatannya ketiga penghuni yang jadi rekan sekamar Bagio itu, terlihat akrab antara satu sama lain.
Seolah-olah mereka bertiga, sudah saling mengenal dalam waktu yang lama.
Namun, jika memang benar penilaian Bagio, tentu hal itu tidaklah terlalu mengherankan.
Karena Sucitra, maupun kedua rekan sekamar Bagio itu, adalah model yang sudah lama bergelut dalam dunia permodelan.
Jadi, bisa saja kalau mereka sudah saling mengenal, di waktu-waktu sebelum Bagio ikut ambil bagian, di dalam pekerjaan itu.
Memang bagus kalau semua penghuni kamar bisa akur, tapi ada masalah lain yang muncul di sana.
Yaitu asap rokok, yang hampir membuat kamar itu menjadi gelap karenanya, meskipun jendela kamar terlihat sudah terbuka sampai maksimal.
Sucitra, maupun Juno, dan pasangan Juno itu, sama-sama menikmati asap rokok di dalam kamar, sambil berbincang-bincang santai.
Beberapa kaleng bir, juga terlihat di sana, dan tampaknya juga dinikmati oleh ketiga orang itu, untuk membasahkan tenggorokan mereka yang kering.
"Bagaimana kencanmu?" tanya Sucitra kelpada Bagio, terdengar berbasa-basi.
"Eh! Bagio sudah punya pacar?" tanya Juno, yang terlihat seperti orang yang terkejut.
"Iya ... Pacarnya itu, anak dari Madam Sally," jawab Sucitra, tanpa beban.
Bagio yang baru saja selesai berpakaian, lalu duduk di ujung tempat tidurnya.
Bagio berniat sekedar bergabung sebentar saja, agar orang-orang di dalam kamar itu tidak tersinggung, jika Bagio langsung berbaring begitu saja, dan seolah-olah dia mengacuhkan mereka di situ.
Setelah beberapa saat kemudian, Bagio yang mendengarkan pembicaraan mereka, dan merasa kalau ada sela di dalam perbincangan mereka itu, Bagio lalu berkata,
"Maafkan aku ... Aku nggak bisa begadang malam ini. Rencananya besok pagi-pagi, aku akan kembali ke kampung."
"Ooh! ... Okay! Tidur saja duluan! Tapi, nggak apa-apa kalau kami masih mengobrol di sini?" ujar Sucitra.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Santai saja!" sahut Bagio, lalu segera berbaring di tempat tidurnya.