Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 68


__ADS_3

Kelihatannya, Citra memang bersungguh-sungguh menyayangi Bagio. 


Tapi justru karena itu, Bagio tidak mau menyakitinya.


Dengan emosi Bagio yang masih tidak stabil, Bagio tidak mau, jika dia tanpa sengaja, bertindak ataupun berkata kasar kepada Citra.


"Citra ...! Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Bagio.


"Aku merindukanmu," jawab Citra, tanpa terdengar ragu-ragu.


"Apa kamu nggak bisa menunggu? Waktu itu, aku kan sudah bilang, kalau aku yang akan menghubungimu lebih dulu!" sahut Bagio.


"Sudah hampir satu bulan, tapi kamu nggak pernah mau menghubungiku." Pelukan dari Citra terasa semakin erat, dan begitu juga wajahnya yang dibenamkannya di dada Bagio.


Saat itu, beberapa orang model yang baru saja turun dari mobil-mobil yang mengantar mereka, terlihat memandangi Bagio dan Citra di situ.


Bagio yang merasa malu karena tatapan dari penghuni Dorm yang lain itu, kemudian membawa Citra berjalan menjauh dari pintu gerbang.


Citra mengangkat pandangannya, dan seolah-olah sedang bertanya kepada Bagio, yang membawanya berjalan secara tiba-tiba seperti itu.


"Terlalu banyak orang di sini," celetuk Bagio.


"Kalau begitu kita ke mobilku saja," sahut Citra, sambil menunjuk mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, tidak jauh dari situ.


Rencananya, Bagio hanya akan membiarkan Citra saja yang masuk ke dalam mobil, dan dia akan meninggalkannya di sana. 


Tapi itu hanya sampai jadi rencana Bagio saja.


Karena Citra membuka pintu mobil yang ada di bagian tengah, lalu menarik Bagio agar masuk, dan duduk di jok penumpang mobilnya itu bersamanya, sambil berkata,


"Aku hanya ingin bersamamu sebentar lagi." 


Bagio akhirnya menyerah.


"Aku masih berkeringat, loh!" kata Bagio, beralasan.


Tapi Citra malah memaksa, untuk duduk berpangku di atas paha Bagio, sambil memeluknya dengan erat. 


Mau tidak mau, Bagio pasrah saja, dan ikut memeluk Citra, sambil mengusap-usap punggungnya. 


Harus Bagio apakan wanita ini?


Bagio menghela nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. 


"Kamu tinggal di rumahku saja, ya?" tanya Citra, tiba-tiba.


"Eh! Citra...!" Bagio tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang ini.


"Kamu pergi kemana dengan Sucitra tadi?" 


Suara Citra, tidak terlalu jelas terdengar, karena dia yang berbicara, sambil menyandarkan wajahnya di bahu Bagio.


"Apa? ... Kamu bilang apa?" tanya Bagio.

__ADS_1


Citra lalu mengangkat kepalanya, hingga dia kini jadi berhadap-hadapan dengan Bagio, kemudian mengulang pertanyaannya. 


"Kamu pergi kemana dengan Sucitra?"


Kalau menilai dari nada suara Citra, yang bisa didengar oleh Bagio, sepertinya wanita itu sekarang ini sedang merasa cemburu.


"Kami tadi pergi latihan yoga," jawab Bagio, pelan, agar tidak membuat kecurigaan Citra, berubah jadi kemarahan.


"Kenapa kamu mau bersamanya, tapi kamu nggak mau bertemu denganku?" tanya Citra.


Menurut Bagio, Citra kelihatannya memang sudah tenggelam dalam rasa cemburunya, dan kemungkinan besar, akan jadi semakin sulit untuk bicara dengannya. 


"Kamu masih satu kamar dengannya?" tanya Citra lagi, walaupun Bagio belum menjawab pertanyaannya tadi.


"Dia membantuku beberapa hari ini," kata Bagio buru-buru, mencoba menjelaskan, agar Citra mau mengerti, dan tidak perlu merasa cemburu padanya.


Citra tidak berkata apa-apa lagi, kemudian beranjak turun dari atas pangkuan Bagio, dan bahkan beranjak keluar dari mobilnya.


Pintu mobilnya, dibuka Citra lebar-lebar, lalu berdiri di luar sambil menahan pintu, seolah-olah Citra sedang menyuruh Bagio, untuk keluar dari mobilnya.


Bagio kemudian beranjak keluar dari dalam mobil Citra, dan saat itu juga Citra menutup pintu mobil itu.


Tanpa berlama-lama, dan tanpa berkata apa-apa lagi, Citra terlihat berjalan ke pintu mobil bagian supir, lalu masuk ke dalam situ. 


Entah kenapa, Bagio juga hanya terdiam di situ, dan sama sekali tidak terpikir untuk menghentikan Citra, hingga mobil Citra berlalu pergi dari sana.


Setelah mobil Citra menghilang dari pandangannya, Bagio lalu berjalan kembali ke pintu gerbang Dorm, dan bergegas melewatinya tanpa berhenti di mana-mana lagi, langsung menuju ke kamarnya.


Di dalam kamar, Sucitra tidak terlihat di sana, dan menurut dugaan Bagio, Sucitra sekarang ini mungkin sudah pergi mandi.


***


Setelah Bagio selesai mandi, dan membersihkan pakaiannya, lalu kembali ke kamar, Sucitra terlihat sudah berada di sana.


Sucitra masih berlilitkan handuk, dan menempelkan ponsel di telinganya.


Ketika Sucitra melihat Bagio, seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu dengan seseorang di ponselnya, yang dia tidak ingin pembicaraan itu didengarkan oleh Bagio, lalu berjalan keluar dari kamar. 


Bagio sudah selesai melipat pakaiannya, bahkan sudah memasukkannya ke dalam lemari, ketika Sucitra kembali membuka pintu, dan masuk lagi ke dalam kamar.


Kelihatannya Sucitra sudah selesai berbincang-bincang di ponselnya itu, karena Sucitra hanya memegang ponselnya begitu saja, ketika dia berjalan menuju ke lemari pakaian miliknya.


"Kamu nggak bertengkar dengan Citra, kan?" ujar Sucitra, sambil memakai pakaian dalamnya.


"Nggak," jawab Bagio, asal-asalan.


Sucitra terlihat menggantung handuknya, dan sekarang ini dia sudah memakai kaus oblong, dan celana pendek, berjalan menghampiri Bagio, yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya.


"Kamu memang sudah pernah bilang, kalau kamu nggak mau jadi beban bagi Citra. Tapi saranku, kamu nggak bisa terus menerus menghindarinya," celetuk Sucitra.


Bagio lalu ikut duduk di bagian pinggir tempat tidurnya, di mana tempat Sucitra saat ini duduk. 


"Semakin banyak orang yang bisa menjadi tempatmu bicara, semakin bagus untukmu. Apa kamu nggak tahu itu?" ujar Sucitra.

__ADS_1


"Jangan menolak bantuan! Beban yang berat, akan terasa lebih ringan, kalau dipikul bersama-sama," lanjut Sucitra, menasehati Bagio, sambil merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


***


Hana sudah membersihkan jadwal Bagio hari ini, dan jika dia bisa cepat mendapatkan gilirannya, maka Bagio akan memiliki banyak waktu luang hari ini.


Sambil menunggu gilirannya untuk di audisi, Bagio memikirkan ulang, kata-kata yang diucapkan oleh Sucitra semalam, yang masih terngiang-ngiang di dalam telinga Bagio.


Karena Bagio yang terlalu memikirkan tentang hal itu, Bagio sampai-sampai tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik model lain, yang ikut audisi untuk syuting iklan sebuah produk camilan.


Ketika tiba giliran Bagio yang dipanggil untuk memperlihatkan kemampuannya berakting, menurut Bagio, dia tidak melakukannya secara maksimal.


Bagio tidak merasa gugup sama sekali, melainkan, hanya karena dia yang merasa kurang konsentrasi saja.


Dengan begitu, Bagio menganggap kalau audisi kali ini, benar-benar hanya untuk uji cobanya saja. 


Syukur-syukur kalau Bagio bisa terpilih, tapi kalau tidak pun, tidak jadi masalah baginya.


Setelah Bagio selesai audisi, di luar ruangan, terlihat bukan hanya ada Hana saja di sana.


Citra yang tampak berpakaian rapi, sedang berdiri bersama Hana, dan kelihatannya, dia memang menunggu Bagio di situ.


"Aku sudah menyuruh mobil agensi untuk pergi. Jadi kamu dan Hana, ikut di mobilku saja," kata Citra, lalu berbalik dan berjalan keluar, dari gedung yang menjadi tempat Bagio audisi.


Tidak ada pelukan hangat, ataupun senyuman manis dari Citra, dan hanya ada raut wajah dan nada bicara yang serius, yang diperlihatkannya kepada Bagio.


Bagio yang masih terpana melihat Citra, hampir tidak bisa bergerak, hingga Hana menarik lengan Bagio, agar berjalan bersamanya untuk menyusul Citra, sambil berkata,


"Kamu tunggu apa lagi?" 


"Kita akan pergi kemana?" tanya Bagio sambil berjalan bersama Hana, di bagian belakang Citra.


"Nggak tahu. Ikuti saja!" jawab Hana.


***


Di sepanjang perjalanan, Citra masih tidak mau berbicara apa-apa, dan begitu raut wajahnya, yang tetap terlihat kaku. 


Citra bahkan tidak mau melirik ke arah Bagio, walaupun hanya sekali, dan tetap menatap lurus ke jalanan di depannya.


Ternyata Citra membawa Bagio ke kantor polisi, di mana pak Harto, ayah Sarimunah itu ditahan.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Bagio.


"Sucitra sudah memberitahuku semuanya. Dan aku rasa, sarannya itu memang bagus untukmu," kata Citra.


Walaupun kata-kata dari Citra itu tidak menjawab pertanyaan Bagio, tapi Bagio tidak terlalu memikirkannya. 


Bagio justru bisa menarik kesimpulan, bahwa kemungkinan besar, yang menjadi teman bicara Sucitra di ponselnya malam tadi, itu adalah Citra.


"Kamu berdamai saja dengan orang itu, lalu meminta ganti rugi dari mereka, untuk perjanjian damai itu....


...Hana sudah menghitung total jumlah biaya perawatanmu di rumah sakit. Termasuk dengan perkiraan, yang mungkin masih kamu butuhkan untuk biaya psikiater....

__ADS_1


... Kalau mereka nggak mau memberikan uang yang kamu minta, katakan saja pada orang itu, untuk bersiap-siap mendekam di penjara dalam waktu lama," lanjut Citra.


__ADS_2