
Setelah mendapatkan izin dari petugas jaga di kantor polisi, Bagio yang dibawa ke sebuah ruangan tertutup, duduk menunggu ayah Sarimunah, yang akan di antar untuk menemuinya.
Sementara Hana dan Citra, tidak ikut masuk bersama Bagio, dan hanya duduk menunggu di bagian paling depan kantor polisi, di mana beberapa orang petugas kepolisian berjaga di sana.
Tidak butuh waktu terlalu lama Bagio menunggu, ayah dari Sarimunah sudah dibawa masuk ke dalam ruangan itu, dan duduk berhadap-hadapan dengannya.
"Pakde!" sapa Bagio.
Ayah dari Sarimunah itu, terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
Wajah ayah Sarimunah juga terlihat pucat, dan begitu juga dengan bagian bawah mata ayah Sarimunah yang tampak menghitam, seolah-olah dia kurang tidur dalam waktu yang lama.
Untuk keseluruhan, ayah Sarimunah tampak lebih tua, dan terlihat lelah.
"Bagio ... Bagaimana kabarmu?" Ayah Sarimunah tampak berbasa-basi, dengan suaranya yang terdengar kurang bersemangat.
"Apa lukamu sudah sembuh?" tanya ayah Sarimunah itu lagi.
"Bagian luarnya sudah kering. Aku nggak tahu bagian dalamnya, karena aku belum sempat memeriksakannya lagi," jawab Bagio.
"Maafkan aku, Bagio ... Aku benar-benar khilaf waktu itu. Aku tahu, kalau mungkin aku sekarang sedang menerima karma, karena telah bertindak sewenang-wenang kepadamu....
... Kamu mungkin sudah dengar, kalau aku dan ibu Sarimunah, ingin berdamai denganmu?" ujar ayah Sarimunah.
"Iya, pakde," jawab Bagio.
"Aku ingin meminta pengampunan darimu, untuk semua yang aku dan keluargaku lakukan padamu....
... Selama beberapa minggu belakangan ini, aku selalu bermimpi didatangi oleh almarhum kakek dan kedua orang tuamu. Aku sudah nggak tahan lagi....
... Aku akan memberikan apa saja yang kamu minta. Tapi aku minta tolong, agar kamu berziarah ke makam kakek dan kedua orang tuamu, dan mintakan pengampunan untukku," kata ayah dari Sarimunah.
Sementara ayah dari Sarimunah berbicara sambil menundukkan sedikit kepalanya, air mata tampak mengalir di wajahnya, hingga menetes jatuh ke atas meja.
Walaupun sebenarnya Bagio membencinya, tapi saat melihat laki-laki dewasa, menangis dan tampak menyesali perbuatannya, Bagio tetap bisa sedikit merasa iba.
Bagio tidak banyak bicara saat itu, dan hanya membiarkan saja, ayah dari Sarimunah mengutarakan semua rasa penyesalannya.
Ayah Sarimunah, bahkan sempat mengungkit pernikahan Bagio dan Sarimunah, yang batal waktu itu.
Untuk beberapa lamanya, Bagio berada di satu ruangan bersama ayah Sarimunah, Bagio mendengarkan dengan saksama, satu persatu penjelasan dari ayah Sarimunah kepadanya.
Hingga pada akhirnya, ayah Sarimunah berkata, kalau maksudnya yang ingin berdamai dengan Bagio, bukanlah untuk meminta Bagio membantunya agar bisa cepat keluar dari penjara.
Ayah Sarimunah hanya ingin agar Bagio memaafkan semua kesalahannya, dan dia tetap akan menerima hukumannya, sepantasnya yang harus dia terima.
Sementara mereka sedang berada di dalam ruangan itu, tiba-tiba, ibu Sarimunah ikut masuk ke dalam ruangan yang sama, dengan diantar oleh salah satu petugas polisi yang lain.
Ternyata, baik ayah dan ibu Sarimunah, memang menunggu kedatangan Bagio.
Sehingga, ketika ayah Sarimunah tahu, kalau Bagio datang ke sana untuk menemuinya, ayah Sarimunah segera meminta bantuan dari salah satu petugas polisi, untuk menghubungi ibu Sarimunah, agar bisa menyusul ke kantor polisi itu.
Kurang lebih sama seperti ayah Sarimunah, ibu dari Sarimunah tampak menangis sesenggukan, sambil mengucapkan permohonan maafnya kepada Bagio.
__ADS_1
Yang berbeda, hanyalah ibu Sarimunah, masih meminta belas kasihan Bagio, agar bisa membantu, supaya hukuman yang diterima oleh ayah Sarimunah, bisa dikurangi nantinya.
Sambil tetap menangis sesenggukan, ibu dari Sarimunah menyerahkan sebuah tas kepada Bagio, lalu berkata,
"Kami sudah menjual rumah dan sawah kami. Tidak sedikitpun hasil penjualannya, yang kami ambil untuk kami sendiri. Semua uangnya ada di dalam situ....
... Kami tidak tahu, apa itu cukup untuk mengganti semua hutang dosa kami. Tapi kami benar-benar memohon padamu, agar kamu bisa mengampuni kesalahan kami kepadamu selama ini."
Bagio terkejut dengan pernyataan dari ibu Sarimunah itu, dan sempat terpikir untuk menolak pemberian mereka itu.
Tapi ayah dari Sarimunah kemudian berkata,
"Tolong kamu jangan menolaknya. Berikanlah kami kesempatan, untuk menebus kesalahan kami kepadamu."
"Kalau pakde dan bukde menjual rumah dan sawah, lalu pakde dan bukde akan tinggal di mana nanti?" tanya Bagio.
"Kami akan tinggal di kampung asal bukde. Sambil menunggui dan mengurus orang tua bukde yang ada di sana," jawab ibu Sarimunah.
***
Bagio masih berada di dalam satu ruangan bersama ayah dan ibu dari Sarimunah, untuk beberapa waktu kemudian.
Dan pertemuan Bagio dengan ayah Sarimunah, untuk yang pertama kalinya itu, sejak ayah Sarimunah melukainya, bisa membuat Bagio merasa jauh lebih baik.
Yang awalnya Bagio hanya lebih banyak mendengarkan saja, semua yang dikatakan oleh ayah dan ibu Sarimunah, sampai-sampai akhirnya Bagio bisa ikut berbincang-bincang dengan mereka.
Sebelum waktu membesuk itu habis, dan baik Bagio maupun ibu Sarimunah, harus pergi dari sana, Bagio dan kedua orang tua Sarimunah itu, masih sempat bermaaf-maafan di sana.
***
"Uang," jawab Bagio, lalu menyerahkannya kepada Hana.
"Eh...? Uang apa?" Hana tampak terkejut dan bingung, lalu membuka ritsleting tas itu, ketika mereka semua sudah masuk ke dalam mobil Citra.
"Uang ganti rugi. Aku nggak memintanya. Mereka sendiri yang sudah menyiapkannya," kata Bagio.
Citra tidak bicara apa-apa, dan hanya sibuk menyalakan mesin mobilnya, lalu membawa Bagio dan Hana, pergi dari sana.
Bagio yang duduk di jok bagian depan, di samping Citra, melihat Hana yang duduk di jok bagian belakang, dari pantulan spion.
Hana tampaknya sedang menghitung jumlah uang di dalam tas, yang diberikan oleh ibu Sarimunah kepada Bagio
Perasaan Bagio campur aduk, antara rasa iba, dan rasa lega, mengingat raut wajah dari ayah dan ibu Sarimunah, yang dilihatnya tadi.
Oleh karena mereka yang telah bermaaf-maafan tadi, Bagio jadi tidak tahu lagi, apakah dia memang pantas untuk menerima semua uang itu.
"Apa kamu merasa bersalah?" tanya Citra tiba-tiba.
"Eh!" Bagio menatap Citra, yang sempat melihat ke arahnya untuk sesaat.
"Setelah menerima uang itu, apa kamu merasa bersalah?" Citra mengulang pertanyaannya.
"Nggak tahu," jawab Bagio.
__ADS_1
"Sudah kuduga...." kata Citra, sambil tersenyum tipis. "Mereka pasti sangat memaksa, sampai kamu mau menerimanya."
Bagio terdiam.
"Kamu sudah bermaafan dengan mereka?" tanya Citra.
"Iya," jawab Bagio.
"Nggak usah dipikirkan lagi. Apa yang mereka berikan itu, jangan kamu jadikan beban pikiranmu yang baru....
... Anggap saja, kalau mereka sedang membantu membayar biaya pengobatanmu. Dan kamu cukup berterima kasih saja," kata Citra.
Citra tidak segera membawa Bagio kembali ke Dorm, melainkan menyinggahkan mereka di sebuah gedung kantor.
"Seharusnya kamu sudah mendaftar di sini sejak lama. Tapi karena kamu terus menerus menghindariku, jadi aku tidak bisa membawamu ke sini," celetuk Citra.
Citra ternyata membawa Bagio, untuk mendaftarkan diri di sebuah asuransi kesehatan.
Kantor itu sudah hampir waktunya untuk tutup, tapi untung saja, Bagio masih diberi kesempatan, untuk mengurus pendaftarannya di situ.
Setelah mengisi semua data-data pribadinya di formulir pendaftaran, dan Bagio membayar premi pertamanya, kepengurusan asuransi Bagio sudah selesai, dan bisa langsung dipakai.
"Kalau begini, kamu cukup membayar preminya saja tiap bulannya. Kamu nggak perlu memikirkan tentang biaya perawatanmu lagi," kata Citra.
Setelah mereka beranjak pergi dari kantor itu, Citra membawa Bagio dan Hana, untuk bersantai sejenak di pantai, tempat dia dan Bagio pernah pergi waktu itu.
Sembari berjalan menuju ke salah satu warung makan di situ, Hana yang sedari tadi tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara, kemudian tampak berusaha mencari sela, agar dia bisa bicara.
Hana mengatakan kepada Bagio dan Citra, kalau jumlah uang yang ada di dalam tas, yang dihitungnya tadi, bisa untuk melunaskan hutang Bagio di agensi.
Bahkan jumlah uang yang masih tersisa, lumayan banyak untuk dijadikan simpanan Bagio saja.
Apalagi, jika biaya perawatan di psikiater, sudah ditanggung oleh asuransi kesehatan, dengan premi yang perlu dibayarkan oleh Bagio, yang tidaklah seberapa mahal.
"Apa lagi kira-kira yang perlu kamu urus secepatnya?" tanya Citra kepada Bagio.
Saat ini, mereka semua sudah duduk di dalam sebuah warung makan, dan masing-masing memesan minuman, dan menikmatinya di situ.
"Hutangku di pegadaian," jawab Bagio.
"Apa Bagio ada hari kosong?" tanya Citra, dan tampaknya dia mengarahkan pertanyaannya itu kepada Hana.
"Untuk beberapa hari ini belum ada," jawab Hana.
"Apa ada caranya, agar kamu bisa menghubungi Kartono?" tanya Citra, dan kali ini, tampaknya dia mengarahkan pertanyaannya kepada Bagio.
"Mungkin bisa ditelepon lewat nomor orang, yang dipakai Kartono waktu itu," jawab Bagio.
"Kamu coba hubungi saja dulu, kalau begitu!" kata Citra.
"Kalau memang bisa memberi kabar untuk Kartono, kamu nanti meminta bantuan Hana, agar di sela-sela jadwalmu, dia mengantarkanmu ke kantor pos....
... Kamu bisa mengirimkan uang, lewat wesel pos, dan meminta bantuan dari Kartono, untuk mengurus hutangmu itu secepatnya," lanjut Citra.
__ADS_1
"Aku hanya merepotkan banyak orang," celetuk Bagio.
"Nggak ada salahnya, kalau sekali-kali jadi orang egois. Kalau masa tersulitmu sudah terlewatkan, maka nanti, kamu tentu juga bisa membantu orang lain," sahut Citra.