Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 33


__ADS_3

Kelihatannya Dirga tidak mau membicarakan tentang luka di wajahnya, hingga Dirga tampak mencoba menghindari Bagio, yang menghalangi jalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Nanti saja, aku ceritakan...." Dirga berjalan melewati Bagio, dari sela kecil yang tersisa di bagian samping Bagio.


Walaupun Bagio merasa sangat penasaran, namun dia juga tidak mau memaksakan kehendaknya kepada Dirga.


Bagio bahkan bergeser sedikit, agar Dirga tidak terjepit di antara badan Bagio dan kusen pintu.


Tanpa berlama-lama lagi di depan kamar mandi itu, Bagio segera berjalan menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap, sebelum nanti Hana menjemputnya.


Ketika Bagio selesai berpakaian, dan keluar dari kamarnya, saat itu juga dia kembali berpapasan dengan Dirga, yang tampak berjalan mengarah ke kamarnya.


Dirga masih tidak mau berkata apa-apa, dan hanya berjalan terus melewati Bagio.


Lagi-lagi, Bagio juga tidak menahan langkah Dirga, dan Bagio tetap berjalan menuruni anak tangga.


***


"Ehhem! ... Ehhem!"


Bagio segera menoleh ke arah Hana, yang mengeluarkan suara batuk dari mulutnya.


Hana tampak melirik Bagio dengan ujung matanya, sambil senyum-senyum sendiri.


Pasti karena ponsel baru yang dipegang Bagio sekarang ini, yang membuat Hana berpura-pura batuk, untuk mengejek Bagio.


"Tsk! ... Jangan mengejekku ...!" kata Bagio, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Perasaan, kemarin kamu nggak ada minta uang untuk membeli ponsel," ujar Hana, yang tampak melirik Bagio dengan ujung matanya.


Tampak jelas, kalau Hana masih ingin mengejek Bagio.


"Iya ... Ponsel ini pemberian Citra ... Puas?" kata Bagio, sambil setengah melotot melihat Hana.


"Hahaha!" Hana tampak tertawa lepas.


"Aku sudah menduganya. Karena Miss Citra kemarin bertanya, kalau kamu ada ponsel atau nggak....


... Dia pasti nggak akan tahan, kalau dia mau menghubungimu, lalu harus melalui aku," kata Hana.


Bagio tidak menanggapi perkataan Hana lagi, dan hanya terdiam saja, sampai akhirnya mereka tiba di lokasi pemotretan yang pertama untuk hari itu.

__ADS_1


"Biar aku pegang ponselmu!" Hana mengulurkan sebelah tangan dengan telapaknya yang terbuka, ke arah Bagio.


Bagio kemudian menyerahkan ponselnya kepada Hana, sebelum dia turun dari mobil, dan berjalan mendekat ke set pemotretan.


Hari ini, Bagio akan melakukan sesi foto yang berbeda dari biasanya.


Berlatar belakang sebuah perumahan elit, Bagio melakukan sesi pemotretan, di bagian depan, di bagian dalam, bahkan di bagian belakang sebuah rumah contoh yang sedang dipromosikan.


Rumah mewah berlantai dua, dengan bagian taman yang cukup untuk tanaman bunga, memiliki carport di bagian depannya, dan perabotan rumah tangga yang sudah lengkap dan tertata rapi di dalam rumah itu.


Bagio diambil gambarnya, bersama dengan seorang model wanita, dan satu orang model yang masih anak-anak.


Bagio dan dua model yang lain itu, bergaya seolah-olah kalau mereka adalah satu keluarga baru, yang menyukai dan menikmati rumah itu, sebagai tempat tinggal yang nyaman.


Bagio tidak perlu banyak berganti pakaian, hanya dua pasang pakaian saja, namun harus berpindah-pindah tempat pengambilan gambar, agar setiap bagian dari rumah itu bisa terpotret.


Ketika jam istirahat makan siang, Bagio sempat berbincang-bincang dengan seseorang, yang bekerja sebagai bagian pemasaran perumahan itu.


Menurut penuturan orang itu, untuk satu buah rumah di tempat itu, harganya mulai dari ratusan juta, hingga milyaran rupiah.


Dan yang jadi latar belakang pemotretan Bagio, adalah rumah dengan harga milyaran rupiah, yang bisa di bayar dengan mencicil.


Bagio mungkin bisa mewajarkan bangunan rumah yang terlihat bagus, karena memakai bahan bangunan yang berkualitas.


Tapi ukuran tanahnya itu, loh!


Di setiap tempat rumah-rumah itu berdiri, ukuran tanahnya tidaklah sampai sepertiga dari ukuran tanah halaman rumah, yang menjadi peninggalan mendiang kakek Bagio.


Sedangkan menurut orang yang berbincang-bincang dengan Bagio itu, harga tanah yang masih kosong tanpa ada bangunan apa-apa di atasnya, juga sudah bernilai fantastis.


"Apalagi kalau lokasi tanahnya berada di kawasan yang strategis, maka harga tanahnya bisa mencapai lebih dari empat puluh juta, per meter perseginya."


Begitu pernyataan tambahan dari orang itu, yang terlihat santai saat menikmati makan siangnya, sambil bercakap-cakap dengan Bagio.


Baik harga tanah maupun rumah di kota, ternyata sampai semahal itu.


Kalau begitu keadaannya, tentu tidak mengherankan, jika melihat banyak penduduk di kota yang tinggal di pemukiman kumuh.


Bahkan ada penduduk yang tinggal di bawah kolong jembatan, pinggiran sungai, dan lokasi-lokasi yang sebenarnya tidak layak untuk di huni, karena bisa membahayakan nyawa penghuninya.


Bagio jadi teringat akan mendiang kedua orang tuanya, yang di masa lalu saat mereka berdua masih hidup dan tinggal di kota.

__ADS_1


Bagio mengenang, ketika di suatu waktu itu, dia pergi mengunjungi kedua orang tuanya di kota bersama kakeknya.


Yang menjadi tempat tinggal orang tuanya itu, adalah petakan dari kayu triplek tipis, yang kelihatannya bisa roboh kapan saja.


Namun tempat itulah, yang menjadi tempat beristirahat bagi kedua orang tua Bagio.


Sebuah tempat yang lebih mirip dengan kandang sapi, dan sama sekali tidak layak untuk disebut sebagai rumah tinggal.


Dan dengan ukuran yang sangat kecil yang hanya bisa dipakai untuk tidur, dan tempat orang tuanya meletakkan sebuah koper tempat pakaian, tanpa bisa mengisinya dengan barang yang lain, saking sempitnya.


Waktu itu, karena Bagio masih terlalu kecil, Bagio sama sekali tidak mengerti akan apa sebabnya, hingga orang tuanya mau tinggal di tempat seperti itu.


Sekarang ini, barulah Bagio menyadari, kalau mendiang kedua orang tuanya itu, pasti mau tidak mau saja, hingga mereka memilih tinggal di tempat seperti itu, demi menghemat biaya hidup mereka sehari-hari.


Dengan perasaan sedih, Bagio menyesalkan pilihan mendiang kedua orang tuanya, yang merantau ke kota, sebelum memiliki kepastian, akan apa yang menunggu mereka di sana.


Hingga akhirnya, kedua orang tua Bagio masih belum berhasil mencapai mimpinya, namun maut sudah menjemput mereka lebih dulu.


Jika saja waktu bisa diputar kembali, dan saat itu Bagio sudah bisa mengutarakan pendapatnya, maka Bagio pasti akan melarang orang tuanya pergi merantau ke kota, dan cukup berusaha di kampung saja.


Yang tentu saja, jika mereka tetap bertahan di kampung, walaupun mungkin mereka tidak menjadi orang kaya, tapi paling tidak, ada kemungkinan bagi mereka, untuk bisa menjalani hidupnya dengan layak.


Tapi sekarang ini, semua sudah terjadi, dan tidak satu orangpun yang bisa merubah apapun, walaupun merasa menyesal hingga menangis, dan mengeluarkan air mata darah.


Cukup dijadikan pelajaran, dan diambil hikmahnya saja, bahwa segala sesuatunya harus dipikirkan matang-matang, sebelum mengambil sebuah keputusan.


***


Bagio sama sekali tidak menyangka, kalau sesi pemotretan di tempat itu ternyata memakan waktu yang sangat lama.


Sesi pemotretan yang hanya sempat beristirahat sebentar untuk makan siang tadi, lalu dilanjutkan kembali sampai sang mentari sudah menghilang, dan berganti dengan kegelapan malam.


Entah karena fotografernya yang kurang handal dan kurang profesional, atau memang tuntutan dari pengusaha perumahan itu yang memiliki standar yang terlalu tinggi.


Dari setiap bagian rumah mewah itu, pemotretan harus dilakukan sampai berulang-ulang kali, seolah-olah hasil gambarnya yang didapatkan, masih tidak sesuai dengan ekspektasi.


Di tengah hiruk-pikuk kesibukan di lokasi pemotretan, Bagio memperhatikan gerak-gerik dari model anak-anak, yang bekerjasama melakukan sesi pengambilan gambar dengannya.


Bagio merasa salut, karena anak itu tetap terlihat bersemangat, dan seakan-akan dia tidak merasa lelah, akan pekerjaan mereka yang telah dilangsungkan sejak pagi itu.


Melihat anak sekecil itu yang masih bisa tersenyum lebar saat bekerja, membuat Bagio semakin bersemangat, dan tidak mau kalah darinya.

__ADS_1


__ADS_2