
Pengambilan gambar untuk iklan produk perawatan wajah, ternyata melewati waktu yang sudah terjadwal sebelumnya.
Sampai-sampai, Hana berdebat dengan salah seorang yang bertanggung jawab di lokasi pemotretan itu.
Bagio yang tidak mengerti sistem kerjanya, hanya bisa mencoba menenangkan Hana, yang terlihat sudah sangat emosi gara-gara lawan debatnya berbicara kasar padanya.
"Han ...! Hana! ... Sudah ...!" ujar Bagio, yang berdiri di antara Hana dan orang yang berdebat dengannya.
"Mereka terlalu menyepelekan pekerjaan kita. Aku akan melaporkannya kepada Madam Sally!" sahut Hana ketus.
"Maaf ...! Tidak perlu ditanggapi! Saya yang akan mengurusnya." Seseorang yang lain, menghampiri Hana dan Bagio, lalu berbicara secara langsung kepada Hana.
Entah siapa orang itu, tapi setelah dia berbicara, seketika itu juga Hana lalu terlihat jauh lebih tenang.
Hana lalu berbincang-bincang dengan orang itu, dan akhirnya Hana setuju untuk memperpanjang jadwal Bagio, hingga lewat lebih dari satu jam dari jadwal yang sebenarnya.
Segera setelah pengambilan gambar di lokasi itu, Hana lantas membawa Bagio pergi dari sana.
"Waktunya jadi mepet. Kita ke tempat waxing lebih dulu! Kalau masih ada sisa waktu, baru kita singgah belanja," kata Hana, sesaat setelah mobil yang mereka tumpangi, melaju di jalan raya.
Bagio yang sempat melupakan kegiatan membuang semaknya secara paksa, karena terkonsentrasi bekerja tadi, jadi merasa was-was kembali setelah mendengar perkataan Hana.
"Sakit, nggak?" Spontan Bagio bertanya.
Hana tampak melebarkan matanya menatap Bagio, lalu memalingkan pandangannya ke arah lain. "Ya, sakit!"
Tidak berapa lama, mobil mereka terasa mengurangi kecepatannya, sampai benar-benar berhenti dan terparkir.
"Ayo! Kita harus buru-buru!" ajak Hana, yang segera keluar dari mobil.
Bagio menyusul Hana, sampai masuk ke dalam sebuah bangunan, yang akan jadi tempat Bagio membersihkan rambut-rambut halus di badannya.
Kelihatannya, tempat itu sudah menjadi langganan bagi model dari agensi tempat Bagio bernaung.
Atau mungkin, Hana memang sudah membuat janji temu di situ, makanya ketika Bagio masuk, dia tidak perlu berlama-lama menunggu, dan segera dilayani.
Bagio dibawa oleh salah satu pegawai di situ, memasuki sebuah kamar kecil, yang terisi dengan satu buah tempat tidur.
"Buka semuanya ya, Mas! Ganti pakai ini saja!" Pegawai di tempat itu kemudian, menyerahkan sebuah jubah mandi yang terlipat rapi kepada Bagio.
__ADS_1
Setelah Bagio mengambil jubah mandi dari tangan pegawai itu, pegawai itu kemudian Bagio berjalan keluar dan meninggalkan Bagio sendiri di sana.
Hampir bersamaan waktunya, ketika Bagio selesai melepaskan semua helaian kain yang menutupi badannya dan berganti dengan jubah mandi, di saat itu juga, masuk seorang pegawai wanita ke dalam ruangan itu, sambil mendorong sebuah troli.
"Sudah siap, ya?! Tidak perlu memakai Bathrobe-nya, Mas! Lepaskan saja itu!" kata wanita itu, menyuruh Bagio melepaskan jubah mandi yang sempat dia pakai.
"Langsung berbaring di situ, ya, Mas!" lanjut wanita itu buru-buru, dan menunjuk ke tempat tidur.
Ckckck! ... Gini amat ya, jadi model?!
Seolah-olah badan seorang model itu hanya patung tak bernyawa, yang tidak punya rasa malu untuk bertelanjang di depan orang yang tidak dikenal, baik itu perempuan maupun laki-laki.
Tanpa bisa berkomentar apa-apa, Bagio melepaskan jubah mandinya, lalu berbaring dengan bertelanjang bulat di atas tempat tidur.
"Permisi ya, Mas! Kita mulai dari bagian wajah dulu!" ujar wanita itu, sambil menutup bagian perut sampai ke lutut Bagio, dengan selembar kain tipis. "Pejamkan matanya, Mas!"
Dengan patuh, Bagio menuruti semua perintah dari pegawai wanita itu, agar semuanya bisa secepatnya berakhir.
Bagio kemudian bisa merasa, kalau pegawai wanita itu seolah-olah sedang mengoleskan suatu cairan kental, yang terasa hangat di kedua bagian alis Bagio, lalu menutupnya dengan selembar kain berukuran kecil.
"Sreet! ... Sreet!" Tanpa aba-aba, dengan cepat, kain yang melengket di bagian atas dua mata Bagio, terasa bergantian ditarik lepas dari kulitnya.
Astaga! Apa kulit Bagio terkelupas?
Minta ampun rasa pedihnya yang tertinggal, meskipun ada semacam kompres yang diletakkan dengan sedikit ditekan di bagian alisnya itu.
Tidak berakhir di situ saja.
Perlakuan yang sama dilakukan berulang di bagian wajah Bagio yang lain, hingga seluruh kulit wajahnya terasa seperti habis tersiram air panas.
Berlanjut ke bagian lengannya, namun ketika dicabut bulu-bulu halus dari kulit kedua lengannya itu, rasanya tidak seburuk pencabutan bulu-bulu halus di bagian wajahnya tadi.
Lalu ke bagian dada, hingga ke perutnya, rasa sakitnya masih ditahan oleh Bagio.
Bagian bawah perut Bagio dilewati pengerjaannya, dan langsung meloncat ke bagian kedua kakinya.
Setelah semuanya mungkin dirasa sudah selesai dibersihkan, barulah di sekitar area sensitif Bagio yang dibersihkan dari bulu-bulunya.
Rasa sakitnya? Jangan ditanya!
__ADS_1
Sampai-sampai, Bagio seakan-akan mendapatkan penglihatan kilas balik, dari seluruh pengalaman hidupnya sejak dia masih anak-anak.
Bagio teringat dan merindukan mendiang kedua orang tuanya, mendiang kakeknya, sawahnya, rumahnya, kampung halamannya.
Bahkan Bagio bisa teringat akan Kartono dan pemutar kaset pita di pondok sawahnya, saat semak belukar di wilayah peternakannya, ditarik lepas sampai ke akar-akarnya.
Detak jantung yang meningkat tajam saat berlari dengan kecepatan tinggi di atas treadmill, tidak mampu mengalahkan kencangnya debaran jantung Bagio sekarang ini.
Hingga nafas Bagio pun ikut-ikutan terasa sesak.
Akan tetapi, Bagio berusaha keras menahan dirinya agar tidak sampai berteriak, dengan merapatkan gigi-giginya, sambil mengatur nafasnya.
Bagio juga berusaha tidak kalah keras, untuk menahan air matanya yang sudah memenuhi kelopak matanya, agar cairan feminim bening itu tidak mengalir di wajahnya, dan membuatnya kehilangan sisi maskulinnya.
Seharusnya, setahu Bagio, pencabutan bulu-bulu dari badan Bagio tidak mungkin lebih dari satu setengah jam.
Tapi entah mengapa, Bagio merasa kalau dia sudah bertahun-tahun lamanya berada di situ.
Kapan kelarnya? Tolonglah!
Adrenalin sudah menguasai semua syaraf Bagio dan membohongi otaknya, hingga membuatnya ingin buru-buru membuang cairan dari dalam kandung kemihnya.
Setelah penantian panjang penuh kesabaran, akhirnya selesai semua penderitaan yang dirasakan kulit di sekujur tubuh Bagio.
Tertinggal rasa pedihnya saja, ketika Bagio berjalan keluar dari ruangan itu, dan menemui Hana yang masih menunggunya di luar.
Hana tampak hampir tertawa, saat dia melihat Bagio saat itu, tapi kelihatannya dia menahan diri agar tidak menertawakan Bagio, hingga dia buru-buru berbalik, dan berjalan mengarah ke mobil yang terparkir.
Sesekali, Bagio menangkap basah Hana yang tersenyum dan curi-curi pandang ke arahnya, saat mereka berdua sudah di dalam mobil.
"Kenapa?" tanya Bagio.
"Pffftt ...! Tadi kamu menangis, kah? Hahaha!" tanya Hana yang akhirnya tertawa lepas.
"Uh-hu! ... Lucu ya?!" ujar Bagio sinis. "Sakit, tahu!"
"Hahaha! ... Iya, iya. Aku tahu kalau rasanya sakit," sahut Hana sambil berusaha berhenti tertawa.
Hana lalu tampak mengatur nafasnya, untuk beberapa saat, dengan menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan, berkali-kali.
__ADS_1
"Eh, Mas! Kita nggak sempat singgah belanja, ya?! Kita langsung ke lokasi kerja. Nanti, aku saja yang pergi belikan untukmu, sambil menunggu kerjaanmu selesai," ujar Hana.