
Hana sudah menjemput Bagio, ketika Bagio masih berbincang-bincang dengan Andi di dekat kolam ikan.
Andi yang menceritakan bagaimana sampai dia bisa bekerja menjadi penanggung jawab Dorm, membuat waktu yang berlalu tidak terasa lama.
"Kami pergi dulu, Mas!" kata Hana berpamitan.
"Iya. Hati-hati di jalan!" Andi menganggukkan kepalanya.
"Nanti kita ngobrol lagi, Mas!" ujar Bagio.
"Okay, okay! Kamu tahu di mana kamu bisa menemukanku, kalau ada yang ingin kamu bicarakan," sahut Andi.
Andi tampak mengayun-ayunkan tangannya, seolah-olah menyuruh Bagio agar segera pergi bersama Hana.
"Iya, Mas." Bagio masih sempat berbalik dan menganggukkan kepalanya satu kali, sebelum dia benar-benar pergi bersama Hana.
Hana masuk lebih dulu ke dalam mobil, dan Bagio menyusul masuk masuk dari pintu di sisi yang berlawanan.
"Jadwal pertama hari ini, untuk pemotretan iklan pakaian dalam," celetuk Hana, sambil menatap lembaran kertas yang dipegangnya.
Bagio hanya terdiam, dan tidak mengomentari perkataan Hana.
"Apa kamu sudah melaporkan keributan di kamarmu?" tanya Hana, yang tampak meletakkan lembaran kertas yang dipegangnya, ke atas pangkuannya.
"Hmm ... Nggak. Aku hanya mengobrol tentang hal yang lain, dengan Mas Andi tadi," jawab Bagio.
"Apa keributan di kamarmu sudah nggak ada lagi?" tanya Hana.
Bagio terdiam sejenak. Bingung. Apa dia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
"Nggak ada." Akhirnya Bagio menjawab dengan kebohongan, sama seperti jawabannya saat ditanya oleh Andi tadi.
Sudahlah! Tidak apa-apa.
Bagio juga tidak terlalu dirugikan, karena keributan di kamar yang terjadi di waktu yang sudah subuh tadi.
***
Tibalah mereka di lokasi pemotretan yang pertama, di mana sudah banyak orang yang ikut ambil bagian dalam pekerjaan itu, berkumpul dan tampak sibuk dengan persiapan masing-masing.
Ruangan tertutup berukuran seperti gedung olahraga, tampak terang benderang dengan lampu-lampu berukuran besar.
__ADS_1
Bagio melihat ke sana kemari, dan hanya ada empat orang termasuk dirinya yang memiliki bentuk tubuh yang mirip-mirip.
Kalau begitu, menurut dugaan Bagio, dia dan tiga orang itu yang jadi model untuk pemotretan iklan pakaian dalam itu.
"Ayo! Modelnya siap-siap!" Salah seorang yang ada di sana, berteriak sambil bertepuk tangan, seolah-olah sedang mencari perhatian orang-orang di situ.
"Pergi ke sebelah sana!" Hana menunjuk ke salah satu arah, dan Bagio pun segera mengikuti arahannya.
Kali ini, ada kamar ganti bagi para model yang bergantian masuk ke dalam sana, meskipun hanya sekedar kain yang di bentangkan setinggi dada Bagio.
Bagio diberikan selembar segitiga pengaman, sebelum dia masuk ke dalam tempat ganti, dan segera berganti dengan pakaian dalam baru itu.
Setelah memakai pakaian dalam yang akan di promosikan, barulah Bagio mengerti kenapa model harus membersihkan rambut-rambut dari pekarangan pribadinya.
Pakaian dalam yang diberikan kepada Bagio, walaupun bahan kainnya sangat halus dan elastis, namun berukuran sangat kecil dan benar-benar ketat.
Sampai-sampai Bagio kebingungan, saat harus mengatur posisi belalainya agar cetakannya terlihat rapi.
Dan Bagio yakin, kalau saja masih ada jerami kering di pekarangannya itu, pasti banyak yang keluar dari semua sisi pagar segitiga pengaman itu.
"Buruan! ... Ayo, ayo!" Teriakan bernada tinggi yang menggema di dalam ruangan, mengejutkan Bagio dari lamunannya.
Wajah Bagio masih di rias, begitu juga rambutnya yang di rapikan dan dibuat bergaya.
"Giliranmu!" Seseorang menepuk punggung Bagio, dan menyuruh mengganti salah satu model yang sudah lebih dulu diambil gambarnya.
***
Bagio sempat berkali-kali mengganti model pakaian dalam yang disiapkan sponsor, sebelum sesi pemotretan di tempat itu berakhir, dan dia harus berpindah ke lokasi lain, dengan diantar oleh Hana.
"Kelihatannya, kamu sudah mulai terbiasa, meski harus berpenampilan terbuka seperti itu," celetuk Hana.
"Mau nggak mau. Memangnya aku ada pilihan lain?" ujar Bagio.
"Bagus kalau kamu punya pikiran semacam itu. Jadi kamu nggak pilih-pilih pekerjaan, sementara masih mencari nama di 'dunia'—permodelan—ini," sahut Hana.
"Nanti di jadwal ke-dua, kamu akan melakukan pemotretan untuk pakaian jadi," lanjut Hana, sambil menatap keluar jendela di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Bagio, karena merasa kalau Hana tampak seolah-olah sedang terbebani pikirannya.
"Bulan depan ada audisi untuk iklan. Tapi, jadwalmu sudah terlanjur padat bulan ini," jawab Hana.
__ADS_1
"Lah! Maksudmu apa? Aku nggak mengerti," tanya Bagio kebingungan.
"Miss Zetty masih belum memberi tanggapan, untuk mengajarimu berakting di malam hari. Sedangkan kalau belajarnya siang, jadwalmu sudah penuh," jawab Hana.
"Mana bisa kamu ikut audisi, kalau kamu belum pernah belajar sama sekali. Percuma saja," lanjut Hana.
Bagio terdiam untuk sejenak.
Benar kata Andi kalau Hana pasti akan mencarikan kesempatan untuk Bagio, agar bisa jadi bintang iklan.
"Sebenarnya aku sudah pernah diajarkan Miss Zetty, tapi baru beberapa kali saja," timpal Bagio.
"Jadi, apa kamu mau mencobanya?" tanya Hana.
Bagio yang tidak tahu harus menanggapi apa, akhirnya hanya terdiam saja.
Karena meskipun dia sudah pernah belajar berakting, tapi kalau hanya sedikit yang dia tahu, lalu terlalu ambisi, bisa-bisa malah hanya akan mempermalukan diri sendiri saja nanti.
"Kalau kamu masih ragu-ragu, apa aku tunda saja dulu untuk mendaftarkan kamu di audisi iklan? Aku coba masukkan kamu ke peragaan busana saja dulu, sampai ada tanggapan dari Miss Zetty," ujar Hana.
"Terserah kamu saja. Nggak ada masalah," sahut Bagio, karena tidak mau membebani Hana, meskipun itu sudah jadi tanggung jawabnya.
"Hmm ... Okay! Nanti aku coba lihat bagaimana baiknya," ujar Hana.
***
Di lokasi pemotretan selanjutnya, sambil menunggu gilirannya dipotret, Bagio berbincang-bincang dengan salah satu model yang ada di sana.
Menurut model laki-laki yang menjadi rekan bicara Bagio, Bagio tidak perlu terlalu khawatir, jika dia memang tertarik untuk ikut audisi iklan.
Katanya, Bagio tidak harus menunggu sampai benar-benar pintar berakting, baru berani ikut audisi.
"Sebagai pengalaman, kan tidak masalah?! Dari sekian banyak orang yang ikut audisi, meskipun mereka semua pintar berakting, tidak mungkin diterima semuanya, kan? Pasti akan ada yang tidak lolos casting." Begitu kata model laki-laki itu.
Katanya lagi, dengan Bagio mencobanya, maka Bagio juga bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat, apa saja yang dilakukan para model lain saat audisi.
Dengan begitu, Bagio bisa belajar langsung dari pengalaman, dan bukan hanya dari tutorial saja.
Menurut model laki-laki itu, tentu kegagalan itu biasa, dan sama sekali bukanlah hal yang memalukan. Justru kalau tidak berani mencoba, maka tidak akan pernah tahu bisa atau tidaknya.
"Kalau kamu ada waktu, dicoba saja! Mana tahu keberuntungan sedang ada di pihakmu, lalu kamu lolos jadi bintang iklannya....
__ADS_1
... Kalau aku, nggak bisa ikut casting apa-apa lagi sampai dua bulan ke depan. Jadwalku sudah terlalu penuh," kata rekan seprofesi Bagio itu.
Setelah perbincangan mereka berakhir, Bagio jadi lebih bersemangat dan berencana untuk memberitahu Hana, kalau dia mau mencoba ikut audisi untuk syuting iklan itu.