Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 51


__ADS_3

Beberapa minggu telah berlalu.


Selain rutinitas Bagio yang kesehariannya diisi dengan bekerja menjadi model, hampir di setiap kali, saat dia memiliki cukup waktu kosong, dimanfaatkan Bagio untuk bertemu dengan Citra.


Dan pacar Bagio itu, selalu saja menyempatkan, untuk mengajarkan teknik dasar fotografi kepada bagio, di waktu pertemuan yang singkat di antara mereka itu.


Keadaan di dalam Dorm juga tidak banyak yang berubah.


Hanya saja, sejak pertemuan pertama Bagio dengan Sucitra, Bagio jadi lebih sering berusaha untuk menghindar dari wanita itu.


Walaupun tentu saja, itu adalah hal yang sulit, mengingat Sucitra yang tinggal sekamar dengan Bagio.


Menurut Sucitra, dia memang tidak berniat untuk merayu Bagio, dan justru dia ingin agar Bagio tidak akan terpikir untuk menyentuhnya, jika Bagio sudah bisa terbiasa, untuk melihatnya dalam kondisi tidak berpakaian.


Yang namanya laki-laki normal, bagaimana bisa Bagio akan terbiasa, untuk melihat bentuk tubuh wanita, yang pembungkusnya hanya tinggal kulit ari-nya yang halus saja. 


Apalagi, jika mereka hanya berdua saja di dalam kamar.


Daripada Bagio khilaf, lalu menerjang Sucitra, Bagio tentu tidak bisa jika hanya menyalahkan setan, kan?!


Dengan demikian, Bagio memang berusaha sebisanya, agar tidak ada kesempatan bagi hormon testosteronnya, untuk terprovokasi oleh pemandangan, yang mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum.


Ah! Sudahlah! 


Bagio tidak mau memikirkan tentang hal-hal, yang nanti hanya akan membuat sesuatu menjadi tegang, dan siap berperang.


Bagio lebih memfokuskan pikirannya, pada gaji pertamanya yang akan dia terima hari ini.


Hana sudah memperlihatkan lembaran uang yang di masukkan ke dalam selembar amplop, beserta selembar slip gaji.


Dengan membaca selembar kertas bertuliskan perincian perhitungan dari pihak agensi, Bagio jadi tahu berapa jumlah hasil kerja yang diterimanya, tanpa perlu menghitung lembaran kertas berharga, yang ada di dalam amplop. 


Begitu juga dengan data potongan, dari pinjaman yang Bagio ambil, untuk kebutuhan pribadinya selama ini, juga tertera di sana. 


Namun Bagio tidak terlalu memperhatikannya, karena perhatian Bagio, masih lebih terfokus pada jumlah total yang diterima olehnya untuk bulan itu, karena masih lumayan banyak jumlahnya.


Dengan hasil kerja pertamanya itu, Bagio bisa membayar sekaligus sisa hutangnya, hingga lunas di pegadaian, dan bahkan masih menyisakan sebagian besar jumlah uangnya.


Tetapi, besar atau kecilnya rezeki, memang tergantung dari anggapan orang yang menerimanya. 


Jika bagi Bagio hasil kerjanya itu sudah besar, namun berbeda lagi yang menjadi tanggapan Hana.


Menurut Hana, hasil kerja yang didapatkan Bagio untuk yang pertama ini, justru masih terbilang kecil, jika dibandingkan dengan padatnya jadwal kerja yang Bagio lakukan.


Oleh sebab itu, Hana bahkan sampai mengira, kalau Bagio mungkin tidak akan merasa puas, dengan jumlah uang yang diterimanya.


Sehingga Hana kemudian menjelaskan kepada Bagio, bahwa penyebab minimnya pendapatan Bagio, karena potongan untuk kebutuhan Bagio sehari-hari, dan pinjaman pribadi yang waktu itu diambil oleh Bagio.


Akan tetapi, saat itu juga, Bagio segera meluruskan penilaian Hana, dengan berkata kalau Bagio sudah bersyukur, karena dia bisa mendapatkan rezeki sebanyak itu.

__ADS_1


***


Sejak pagi, setibanya di lokasi pemotretan, Bagio sudah diminta agar berpose dengan berbagai macam gaya, untuk foto-foto yang jadi sarana promosi pakaian jadi.


Sampai sekarang ini, ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul dua siang, barulah sesi foto itu ada tanda-tanda kalau akan segera berakhir.


"Selesai dari sini, kita langsung ke bank," celetuk Hana, yang menemani Bagio di dekat set foto.


"Untuk apa?" tanya Bagio, bingung.


"Tsk! Kamu ini! ... Buka rekening baru untukmu!" jawab Hana, ketus. "Atau kamu lebih suka mengantongi uangmu ke sana kemari?" 


"Ooh! ... Iya. Simpan di bank saja," sahut Bagio, sambil manggut-manggut mengerti.


Bagio lalu kembali dipanggil, agar berdiri di atas set, untuk sesi pemotretannya yang terakhir.


Dan segera setelah pekerjaannya selesai, Bagio diantar Hana mendatangi kantor perbankan milik negara, untuk membuka rekening atas nama Bagio sendiri. 


Mereka hampir terlambat tiba di bank, karena saat itu, sudah hampir waktunya bagi kantor itu untuk tutup.


Untung saja, Bagio masih diberi kesempatan, agar bisa menyelesaikan kebutuhannya di dalam bank itu.


Di bawah arahan seorang pegawai bank, Bagio mengisi semua data-data pribadinya, sesuai dengan kartu identitas diri miliknya.


Saat itu juga, pegawai bank yang melayani Bagio, menawarkan aplikasi perbankan online, yang bisa dipasang di ponsel Bagio.


Dan Bagio pun menyutujuinya tanpa ragu. 


Begitulah sebagian kelebihan dari aplikasi perbankan, yang dijelaskan oleh pegawai bank kepada Bagio.


Selain dari itu, berkat penjelasan tambahan yang diterimanya, Bagio juga jadi tahu, kalau masih banyak kegunaan lain, dari aplikasi yang bisa dipasang di ponselnya itu. 


Oleh karena itulah, makanya Bagio mau saja dibuatkan aplikasi perbankan di ponselnya, lalu segera mempelajari cara penggunaannya, dengan dibimbing oleh pegawai bank, yang terlihat sabar menjelaskan kepada Bagio.


Selain dua lembar uang kertas berwarna merah, yang bergambar wajah presiden dan wakil presiden pertama Indonesia, semua lembaran kertas berharga yang tadinya ada di dalam amplop, kini sudah tersimpan di dalam bank.


***


"Bagaimana ...? Apa kamu sudah mengerti cara pakai e-banking mu itu?" tanya Hana.


Bagio dan Hana, lanjut melakukan perjalanan ke lokasi pemotretan yang lain, setelah urusan Bagio di bank tadi sudah selesai.


"Iya. Kalau pakai ini, aku bisa beli pulsa sendiri," jawab Bagio. 


"Memang betul, tapi kamu juga harus lebih berhati-hati. Takutnya nanti kamu kena tipu, lalu habis melayang semua isi rekeningmu. Selain itu, lebih baik kalau ponselmu, kamu pakaikan sandi....


... Jadi, kalau-kalau kamu lupa meletakkan ponselmu di sembarang tempat, nggak akan semudah itu ponselmu diakses orang lain. Kamu tahu nggak caranya?" ujar Hana. 


"Nggak ... Gimana?" tanya Bagio.

__ADS_1


Hana kemudian mengajarkan Bagio, untuk membuat layar ponselnya terkunci, saat Bagio tidak menggunakannya.


"Tadi ku lihat kamu menyisakan uang dua ratus ribu. Apa ada yang mau kamu beli?" tanya Hana.


"Hmm ... Rencananya, aku mau mentraktir Citra makan di luar nanti malam," sahut Bagio.


"Cie, ciee ...! Lalu manajer mu ini, kapan bisa  ditraktir?" ujar Hana, sambil tersenyum lebar, dan tampaknya hampir tertawa.


"Eh ...? Kamu mau juga?" tanya Bagio.


"Ya, iyalah...! Siapa yang nggak mau makan gratis? ... Hahaha!" sahut Hana, sambil tertawa.


"Okay, okay! Besok siang aku traktir kamu makan," kata Bagio.


"Aku hanya bercanda ... Simpan saja uangmu...! Sampai jauh-jauh merantau ke kota, pasti ada yang kamu butuhkan untuk di kampung nanti, kan?!" ujar Hana.


Seketika itu juga Bagio teringat, kalau dia ingin pulang ke kampung, walaupun hanya sehari saja.


"Apa aku bisa izin satu hari? Rencananya aku mau balik ke kampung," ujar Bagio.


"Hmm ... Belum bisa. Kamu lihat sendiri jadwal yang sudah ku kasih ke kamu! Nggak ada hari kosong, dekat-dekat ini," sahut Hana.


"Berapa jam perjalanan ke kampungmu?" tanya Hana, yang tampak penasaran.


"Kurang lebih, lima sampai enam jam," jawab Bagio. 


"Hmm ... Kalau begitu, mau nggak mau, kamu harus bersabar dulu. Soalnya, jadwal sudah terlanjur ada. Nggak bisa dibatalkan, kecuali nanti ada perubahan," kata Hana.


"Okay!" sahut Bagio.


Sebelum tiba di lokasi pemotretan yang jadi tujuan mereka, Bagio lalu mengirim pesan singkat kepada Citra, dan mengajaknya untuk bertemu malam nanti.


Tidak berapa lama setelah pesan Bagio terkirim, Bagio sudah mendapatkan pesan balasan dari Citra, yang menyetujui ajakan Bagio. 


Bagio senyum-senyum sendiri membaca pesan balasan dari Citra, yang disematkan Citra, dengan emoticon bergambar 'sun' jauh.


"Bahagia amat!" celetuk Hana, sambil melirik Bagio.


"Hehehe! ... Citra mau bertemu denganku nanti malam," sahut Bagio.


"Ckckck! ... Yang lagi jatuh cinta. Hanya membuatku iri saja," ujar Hana.


"Eh! ... Memangnya kamu nggak punya pacar?" tanya Bagio, heran.


"Bagaimana bisa punya pacar? Kalau aku setiap hari, hanya sibuk mengurusmu saja," sahut Hana.


"Maaf," ucap Bagio, merasa sedikit bersalah.


"Pffftt...! Bagio, Bagio...! Kamu percaya? Aku hanya bercanda, loh?! Kamu itu terlalu lugu. Bisa-bisa, nanti kamu dimanfaatkan orang." Hana menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Mengurus pekerjaanmu, itu sudah jadi pekerjaanku. Dan bukan karena itu, sampai aku belum punya pacar. Aku hanya belum bertemu orang yang pas saja," kata Hana menjelaskan.


 


__ADS_2