Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 61


__ADS_3

Seperti biasanya, Sucitra pasti duduk santai menikmati asap rokoknya, ditemani dengan bir sebagai minumannya.


Sesekali, Sucitra terlihat menyesap cairan bir dari kalengnya.


"Waktu aku di luar negeri, ada satu temanku yang pernah dirampok, dan dia sampai tertembak senjata api. Dia masih selamat. Dan lukanya juga sembuh, tanpa butuh waktu yang terlalu lama....


... Tapi sejak kejadian itu, setiap kali dia mendengar suara yang nyaring dan tiba-tiba, dia pasti akan gemetar ketakutan. Dia bahkan pernah sampai jatuh pingsan, hanya gara-gara ada orang yang membuka botol sampanye di dekatnya," kata Sucitra.


Bagio mendengarkan perkataan Sucitra, yang menurut Bagio, mirip-mirip dengan apa yang dia rasakan tadi, saat di lokasi pemotretan.


Bagio kemudian duduk di bagian pinggir tempat tidurnya, sambil berharap, kalau ada sesuatu dari cerita Sucitra, yang mungkin bisa membantunya.


"Luka memang bisa cepat sembuh. Tapi traumanya, nggak akan bisa menghilang semudah itu. Kamu harus bertemu, dan konsultasi dengan psikiater," kata Sucitra.


"Apa nggak bisa dihilangkan sendiri?" tanya Bagio. 


"Nggak bisa. Lebih baik kalau kamu ke psikiater saja. Dan jangan coba-coba mencari pengalihan, dengan sesuatu yang hanya akan membuat kecanduan, lalu malah menimbulkan masalah baru," jawab Sucitra.


"Maksudmu apa?" tanya Bagio, tidak mengerti.


"Hmm ... Contohnya, mungkin kamu minum alkohol berlebihan. Atau..., tahu, kan? Apa itu obat-obatan terlarang?" ujar Sucitra.


Bagio menggelengkan kepalanya. 


"Astaga! ... Kalau begitu kamu nggak bisa kumpul-kumpul dengan sembarang orang. Bisa-bisa kamu nanti dikerjai," kata Sucitra, sambil tersenyum.


Sucitra lalu melempar puntung rokok ke luar jendela, lalu berdiri dan membuka celana jeans panjangnya. 


Ah! Mulai lagi!


Padahal, Bagio masih ingin berbincang-bincang dengan Sucitra. Karena entah mengapa, saat mengobrol dengan Sucitra, cukup dengan mendengar suara Sucitra saja, Bagio bisa merasa lebih nyaman.


Tapi, Bagio tidak mau melihat Sucitra yang setengah telanjang, yang hanya akan membuat kepalanya kembali terasa sakit, karena sesuatu yang lain.


Sebelum Bagio berbaring lagi, untuk menghindari pemandangan yang bisa mengganggunya, Sucitra terlihat memakai celana pendek, lalu kembali duduk di dekat jendela.


Karena melihat itu, Bagio mengurungkan niatnya untuk berbaring, dan tetap duduk di atas tempat tidurnya itu.


Sucitra lalu tiba-tiba memandangi Bagio, sambil mengerutkan keningnya, kemudian berkata,


"Tumben kamu nggak mandi malam!"


"Iya ... Rasanya malas mandi," kata Bagio. "Tadi, aku ngantuknya bukan main. Giliran sudah berbaring, aku malah nggak bisa tidur."


"Pffftt...!" Sucitra terdengar tertawa tertahan. 


"Kalau kamu masih belum bisa tidur, setelah aku habiskan rokokku yang ini, kita pergi mandi sama-sama saja. Mau?" 


Sucitra berbicara, sambil mengangkat sedikit tangannya, yang sedang memegang sebatang rokok yang menyala.


"Lihat saja nanti," sahut Bagio, asal-asalan.


Baik Bagio maupun Sucitra, kemudian terdiam untuk beberapa saat lamanya, seolah-olah sedang tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Bagio yang terpikir tentang perawatannya di rumah sakit, yang sampai beberapa hari lamanya dia menginap di sana, dan semua biayanya yang ditanggung sementara oleh pihak agensi, lalu berkata,


"Padahal baru-baru saja, kelihatannya situasiku akan membaik. Tapi entah mengapa, lagi-lagi aku masih harus kembali bernasib sial."


"Eh! Kenapa kamu bilang begitu?" ujar Sucitra, yang tampak heran.


"Huuufft...!" Bagio mendengus kasar. "Coba kamu bayangkan saja!"

__ADS_1


"Kalau aku memang harus konsultasi ke psikiater, agar aku bisa kembali normal. Lalu mungkin nggak akan cukup, jika hanya sekali atau dua kali pertemuan.... 


...Entah akan jadi berapa banyak lagi, hutangku di agensi, untuk membayar semua biaya pengobatanku itu. Ditambah dengan biaya waktu aku di rumah sakit....


... Bisa-bisa, hasil kerjaku setiap bulannya, hanya habis dipakai untuk membayar hutang. Sedangkan hutangku di pegadaian, juga belum bisa lunas, meskipun aku sudah menghabiskan gajiku bulan ini," lanjut Bagio.


Rasanya wajar saja, jika Bagio mengkhawatirkan tentang hal itu, karena Bagio memang sudah punya pengalaman, saat kakeknya dirawat di rumah sakit. 


Dengan demikian, Bagio tahu dengan pasti, kalau rawat inapnya di rumah sakit, yang memakan waktu sampai beberapa hari lamanya, tentu biayanya tidaklah murah. 


Apalagi, Bagio bukan hanya dirawat inap saja.


Bagio yang sempat dilakukan prosedur operasi, tentu hanya menambah biaya perawatannya, hingga jadi semakin banyak jumlahnya.


"Pekerjaanku kacau. Hutangku banyak. Belum lagi nanti pemeriksaan polisi, yang mungkin hanya akan ikut membuat jadwal kerjaku semakin kacau. Apa itu bukan sial namanya?"


Bagio mengeluarkan unek-unek di dalam kepalanya, kepada Sucitra, tanpa bisa menahan dirinya lagi.


Tanpa berkata apa-apa, Sucitra tiba-tiba berdiri dan menghampiri Bagio, lalu sambil sedikit membungkuk, Sucitra memeluk Bagio, dan menepuk-nepuk pelan punggung Bagio.


Sucitra kelihatannya ingin mencoba menenangkan Bagio, dan walaupun merasa terkejut karena perlakuan Sucitra yang tiba-tiba, namun Bagio tidak menolaknya.


Bagio justru harus mengakui, kalau meskipun Sucitra tidak berkata apa-apa untuk menasehatinya, dan hanya mendengarkannya saja, lalu memeluknya seperti itu, Bagio saat ini bisa merasa jauh lebih baik. 


"Huuufft...!" Bagio mendengus pelan.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Sucitra.


Sucitra sudah mengendurkan pelukannya dari Bagio, namun dia masih membungkuk, sambil memegang kedua sisi lengan Bagio, dan bertatap-tatapan dengannya.


"Iya," jawab Bagio.


Sucitra lalu tersenyum. 


Bagio lalu berdiri, kemudian mengambil handuknya, dan begitu juga dengan Sucitra, yang terlihat melakukan hal yang sama.


Sucitra lalu berjalan keluar dari kamar, bersama-sama dengan Bagio, menuju ke kamar mandi.


Biasanya, kalau Bagio mandi di jam malam seperti sekarang ini, dia pasti menggunakan air panas. 


Tapi tidak kali ini.


Bagio membasahkan kepalanya menggunakan air dingin lebih dulu, sampai dia merasa cukup segar, barulah dia mengganti airnya dengan air panas.


Setelah mandi, rasanya memang lumayan, untuk mengurangi ketegangan di dalam otaknya, yang terlalu banyak pikiran. 


Ketika Bagio kembali ke kamar, Sucitra belum terlihat di sana, dan menurut Bagio, Sucitra berarti belum selesai mandi. 


Hanya dengan memakai celana pendek, Bagio segera berbaring di tempat tidurnya, walaupun rambutnya masih terasa agak lembab.


Saran dari Sucitra agar Bagio mandi dulu, agar dia bisa cepat tidur, tampaknya memang berhasil.


Karena tidak berapa lama Bagio berbaring, bahkan Sucitra saja belum sempat kembali ke kamar, Bagio sudah bisa tertidur, dan tidak ingat apa-apa lagi.


***


"Bagio! ... Bagio!" 


Suara Sucitra yang memanggil-manggil namanya, sambil menepuk-nepuk pipinya, membuat Bagio terbangun dari tidurnya.


Tapi ketika Bagio membuka matanya, kelihatannya waktu malam belumlah habis, dan kamar itu masih gelap, meskipun dia masih bisa melihat bayangan Sucitra, yang berada di dekat tempat tidurnya.

__ADS_1


"Kamu mimpi buruk?" tanya Sucitra, terdengar cemas.


Bagio kemudian terduduk di atas tempat tidurnya.


Selain terasa sakit seolah-olah baru saja habis dipukuli oleh orang banyak, badannya juga terasa basah dengan keringat, seolah-olah dia baru saja selesai berolahraga.


"Apa yang terjadi?" Bagio yang kebingungan, balik bertanya kepada Sucitra.


"Kamu mengigau! Seperti orang yang sedang menangis," jawab Sucitra. "Kamu bermimpi tentang apa?" 


Walaupun Sucitra sudah menjelaskannya, tapi Bagio masih kebingungan, karena dia tidak ingat apa-apa tentang bermimpi.


"Aku tadi mengira kalau kamu sakit," kata Sucitra, lalu memberikan selembar kain, yang kelihatannya adalah sebuah kaus, kemudian pergi menyalakan lampu kamar.


"Lap keringatmu! Kamu bisa masuk angin, kalau begitu keadaanmu!" kata Sucitra, sambil berjalan menuju ke lemari pakaiannya.


Dengan lampu yang menyala terang, Bagio jadi bisa melihat, kalau Sucitra lagi-lagi hanya memakai pakaian dalam, untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


Sucitra terlihat mengambil kaus oblong, lalu memakainya, kemudian kembali menghampiri Bagio.


"Kamu nggak demam, kan?" Sucitra yang berdiri di samping Bagio, lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Bagio. 


 


"Maafkan aku ... Aku hanya mengganggu istirahatmu," kata Bagio, sambil mengelap keringatnya, yang membasahi hampir sekujur tubuhnya.


"Nggak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan jam tidur yang minim," sahut Sucitra.


"Untung saja kamu nggak demam. Kelihatannya, mungkin karena kamu stres dengan banyaknya beban pikiranmu, sampai-sampai kamu bisa bermimpi buruk," lanjut Sucitra.


Sucitra kemudian mengambil kaus dari tangan Bagio, dan membantu mengelap keringat di bagian punggung Bagio.


"Padahal habis mandi tadi, rasanya aku baik-baik saja," kata Bagio.


Sucitra lalu tiba-tiba berhenti membantu mengeringkan keringat di badan Bagio, dan hanya berdiri terdiam di situ. 


"Kamu mau aku bantu mengurangi stresmu? Agar kamu bisa tidur nyenyak?" tanya Sucitra.


Bagio lalu menganggukkan kepalanya. "Iya."


Sucitra lalu naik ke atas tempat tidur Bagio. 


"Sucitra ...! Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Bagio, panik, karena Sucitra yang tiba-tiba naik dan duduk di atas pangkuan Bagio, yang sedang duduk dalam posisi berselonjor. 


"Kali ini, aku hanya membantumu saja. Nggak perlu kamu anggap serius. Apalagi sampai memberitahu Citra, tentang apa yang kita lakukan," kata Sucitra, sambil membuka kaus yang dia pakai.


Bagio menyadari akan kemana arah dan tujuan Sucitra, setelah Sucitra menarik tangan Bagio, dan meletakkannya di atas dadanya yang terbuka.


"Sucitra...! Aku nggak bisa...." kata Bagio, sambil menarik tangannya, menjauh dari dada Sucitra.


"Kenapa? Apa kamu takut Citra akan marah? Kamu nggak perlu memberitahunya. Atau.... 


... Nggak mungkin kamu belum pernah melakukannya dengan Citra, kan?!" ujar Sucitra, terlihat mengerutkan keningnya, sambil menatap Bagio lekat-lekat.


Melakukan apa? Bagio tidak ada jawabannya.


"Oh, my! ... This is gonna be fun!" lanjut Sucitra, buru-buru, dengan menggunakan bahasa asing, sambil tersenyum lebar.


***


Apakah Bagio akan menolak bantuan dari Sucitra? Atau dengan senang hati menerimanya?

__ADS_1


Entahlah.... 


 


__ADS_2