
Sesuai dengan rencana awalnya, Bagio pulang ke Dorm sendirian, dengan menumpang ojek yang dipesan secara daring, melalui aplikasi khusus yang sudah terpasang di ponselnya.
Menurut Bagio, biaya yang dia keluarkan sebagai tarif pengantarannya kembali ke Dorm, tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan jauhnya jarak tempuhnya.
Apalagi saat menggunakan ojek yang dipesan secara daring itu, Bagio tidak perlu sibuk mencari mereka di jalanan.
Bagio cukup menunggu saja di tempat di mana dia berada saat itu, dan dia lalu dijemput, dan diantar sampai ke depan pintu gerbang pagar Dorm.
Penggunaan moda transportasi umum secara daring itu, dianggap Bagio sangat efektif, aman dan hemat biaya.
Di perjalanan kembali ke Dorm, Bagio jadi terpikir akan bagaimana dengan transportasi umum yang lain, seperti bus, angkutan kota, taksi sedan, dan ojek motor biasa.
Apa transportasi umum yang lain itu, tidak terpengaruh dengan adanya transportasi online itu?
Karena menurut Bagio, para pengguna transportasi umum, tentu banyak yang akan lebih suka jika menggunakan transportasi khusus itu.
Transportasi umum, yang bisa membuat penggunanya merasa seolah-olah sedang diantar jemput dengan kendaraan pribadi, tentu akan banyak peminatnya.
Bagio juga jadi ingat akan waktu itu, ketika Dirga diantarkan sup jagung di Dorm.
Mungkin Dirga menggunakan aplikasi itu juga, sehingga dia tidak perlu repot-repot keluar dari Dorm, dan tinggal menunggu saja, lalu pesanannya kemudian diantarkan kepadanya.
Cukup banyak hal yang menarik di kota, yang tidak ada di pedesaan.
Yang tampaknya memang pantas untuk jadi alasan, bagi orang-orang yang ingin mencoba hal baru, sambil mengadu nasib di daerah yang padat dengan penduduknya itu.
Setibanya di Dorm, Bagio tidak menunda-nunda untuk melanjutkan kegiatannya, agar dia bisa beristirahat dengan cukup, dan tidak mengacau di tempat kerja besok nanti.
***
Seperti biasanya, masih pagi-pagi sekali, Bagio yang sudah siap untuk bekerja, dijemput oleh Hana, dan segera mendatangi lokasi pemotretan yang pertama.
"Besok lusa, kamu diminta secara khusus, untuk jadi model di rekaman video klip, dari xxx xxxx, penyanyi dangdut," celetuk Hana.
"Eh ...? Apa yang harus aku lakukan di situ? Apa aku harus berjoget? Aku nggak bisa joget, loh!" ujar Bagio kebingungan.
"Hahaha!" Hana tampak tertawa lepas.
"Aku nggak tahu. Tapi kayaknya nggak, deh ... Paling-paling hanya berakting, seolah-olah kamu jadi pacar si penyanyi," jawab Hana.
"Bukannya kalau berakting, berarti harus ada audisi dulu?" tanya Bagio.
"Penyanyinya yang memintamu jadi modelnya secara langsung kepada agensi. Jadi nggak pakai audisi lagi," jawab Hana.
"Aku memberitahumu sekarang, supaya paling nggak, kamu bisa berlatih sedikit. Bersiap-siap, biar nggak kaget," lanjut Hana.
__ADS_1
Bagio manggut-manggut mengerti.
"Oh, iya! ... Aku hampir lupa. Kamu sudah tahu kalau besok hari libur nasional, kan?!" ujar Hana tiba-tiba
"Aku nggak lihat kalender," ujar Bagio.
"Besok, kamu nggak ada jadwal kerjaan. Dan aku rasa, begitu juga model yang lain. Kamu bisa istirahat seharian penuh di dalam Dorm, atau jalan-jalan di kota ini, kalau kamu mau," lanjut Hana.
"Ooh ... Begitu, ya?! Aku mungkin hanya akan tinggal di dalam Dorm saja," sahut Bagio.
"Pokoknya terserah kamu saja. Asalkan besok lusa, kamu siap untuk bekerja lagi," kata Hana.
"Hana! ... Untuk rekaman video klip, aku harus berlatih seperti apa?" tanya Bagio. "Mumpung besok nggak ada kerjaan, aku mau berlatih saja."
"Aku juga nggak tahu gimana jelasnya ... Cuma kalau nggak salah, biasanya sih, nanti diarahkan oleh sutradaranya, saat proses syuting berlangsung," kata Hana, yang tampak ragu-ragu.
Untuk beberapa saat kemudian, Hana dan Bagio sama-sama hanya terdiam di dalam mobil yang tidak berhenti berjalan.
Oleh karena itu, Bagio melihat-lihat apa saja yang mereka lewati, dari bagian kaca jendela di sampingnya.
"Sebenarnya aku nggak heran, kalau ada penyanyi yang mau model dengan wajah baru, untuk rekaman video klipnya....
...Aku cuma sedikit bingung, kenapa dia memintamu secara khusus, tanpa melakukan audisi, untuk memilih di antara para model yang tersedia....
... Apalagi, dia juga memintamu langsung di kantor agensi, dan bukannya melalui aku, sebagai manajermu," kata Hana tiba-tiba.
"Bagus saja, sih! Kalau begitu, baik wajah dan penampilanmu keseluruhan, berarti cukup menarik....
... Dengan begitu, aku nggak akan kesulitan untuk mencarikanmu pekerjaan," kata Hana lagi. Tapi menurut Bagio, Hana terlihat lesu saat mengatakan hal itu.
"Han? ... Apa ada masalah?" tanya Bagio.
"Eh! Nggak! ... Nggak usah kamu pikirkan. Aku hanya sekedar ngomong saja," kata Hana, lalu melihat ke arah jendela di sampingnya.
Walaupun Hana berkata begitu, namun Bagio merasa kalau seolah-olah ada sesuatu yang Hana sembunyikan, yang membuat manajer wanita dari Bagio itu merasa kecewa.
"Hana ...! Kamu bisa bicara padaku, kalau ada sesuatu yang membuatmu merasa terganggu. Aku nggak tahu apa aku bisa membantu atau nggaknya....
... Tapi paling nggak, kamu mungkin bisa merasa lebih lega, kalau kamu mau membicarakannya denganku."
Bagio berbicara pelan-pelan, membujuk Hana, agar bisa lebih terbuka dengan Bagio.
"Nggak ada apa-apa," sahut Hana.
"Hmm....!" Bagio bergumam.
__ADS_1
"Tsk! ... Kamu ini ... Gara-gara penyanyi itu yang memintamu secara mendadak, aku yang jadi sibuk mengurus pembatalan jadwal kerjamu, yang sudah ada untuk besok lusa itu," ujar Hana.
"Sedangkan ada satu kontrak, yang penanggung jawabnya sangat pemarah. Jadi nanti, aku pasti akan diomelinya habis-habisan, kalau aku sampai salah bicara....
... Itu saja! Makanya aku bilang nggak perlu dipikirkan. Karena bayaran untuk rekaman video klip, juga lebih besar daripada pemotretan iklan biasa," lanjut Hana.
"Kenapa kantor menerima tawaran itu, kalau jadwalku sudah ada?" tanya Bagio heran.
"Ckckck! ... Tentu saja karena bayarannya, lah! Orang di kantor tentu lebih suka, kalau modelnya bisa menghasilkan uang lebih banyak....
... Kamu juga pasti lebih suka kalau kamu dapat bayaran lebih tinggi, kan?! Sama denganku. Karena kalau pendapatanmu besar, maka penghasilanku juga bertambah," jawab Hana.
"Sudahlah! Nggak usah bahas itu lagi!" lanjut Hana. "Yang penting, kantong kita tebal terisi! Aku pasti bisa mengatasi pembatalan kontrakmu!"
Saat itu juga, Hana lalu kembali terlihat bersemangat, dan Bagio juga jadi tidak mencemaskannya lagi.
***
Di sepanjang sesi pemotretan, Bagio tidak mengalami kendala yang berarti, dan dia bisa bekerja dengan baik, sampai jadwal kerja pertama di hari itu berakhir.
Ketika Bagio dan Hana bersiap-siap untuk pergi ke lokasi pemotretan yang ke-dua, Hana lalu berkata,
"Ponselmu tadi menerima pesan baru. Aku nggak melihatnya, aku cuma mendengar bunyi tandanya saja."
Hana lalu menyerahkan ponsel kepada Bagio, dan Bagio segera melihat tampilan layar ponsel miliknya itu.
Pesan masuk dari Citra, yang bertanya tentang apa rencana yang akan Bagio lakukan besok, terbaca di aplikasi pesan WhatsApp.
Menurut Bagio, Citra mungkin ingin bertemu dengan Bagio besok, karena dia mungkin sudah tahu kalau Bagio besok tidak akan bekerja.
Bagio lalu mengetikkan pesan balasan.
'Aku belum ada rencana apa-apa. Mungkin aku hanya akan di Dorm saja. Apa ada sesuatu?'
Setelah mengetik pesan itu, Bagio lantas mengirimkannya ke kontak Citra.
Untuk beberapa waktu lamanya Bagio menunggu, namun tidak ada pesan balasan baru dari Citra.
Sampai Bagio dan Hana tiba di lokasi pemotretan yang ke-dua.
Sebelum Bagio keluar dari mobil, pesan balasan dari Citra kemudian masuk ke ponsel Bagio.
Bagio menyempatkan diri untuk membaca pesan dari Citra itu lebih dulu, sebelum dia menyerahkan ponselnya kepada Hana.
Dan isi dari pesan Citra itu, adalah,
__ADS_1
'Mau jalan-jalan denganku besok?'