
Bukan hanya Kartono saja, yang bisa dilihat oleh Bagio di sana.
Hana yang tampak berwajah pucat, seolah-olah dia kurang istirahat, berdiri di dekat Kartono, sambil merengut memandangi Bagio.
"Hana...! Apa kau marah padaku?" tanya Bagio, bingung.
"Maafkan aku. Aku juga nggak nyangka, kalau akan ada kejadian seperti ini," lanjut Bagio buru-buru.
"Untung saja kamu nggak apa-apa," ujar Hana, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Han! ... Bagaimana dengan kontrak kerjaku?" tanya Bagio.
"Huuufft...!" Hana mendengus kasar, lalu berjalan mendekat ke ujung ranjang perawatan, dan mencubit kaki Bagio, sekuatnya.
"Aduh! ... Hana! ... Sakit tahu?!" Bagio meringis kesakitan.
"Kamu sudah membuat orang cemas, tapi yang kamu tanyakan malah masalah kerjaan?" ujar Hana yang terlihat kesal.
"Itu yang baru saja aku katakan padanya," kata Citra, ikut menimpali. "Mungkin dipikirnya, kamu nggak bisa mengatasi urusan pekerjaannya."
"Kamu menyepelekan kemampuanku?" tanya Hana, sambil melotot ke arah Bagio.
"Tsk! ... Bukan begitu," sahut Bagio.
"No! ... Gimana kabarnya di kampung?" Bagio buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Eh! ... Aku juga belum tahu. Kemarin, aku langsung ikut mengantarmu ke sini. Aku nggak sempat kembali ke rumah."
Kartono menjawab pertanyaan Bagio, sambil berjalan mendekat ke ranjang, tempat Bagio berbaring.
"Hmm ... Kalau nggak salah, aku belum menutup pintu rumahku," kata Bagio, mengingat-ingat.
Kartono dan Citra, lalu terlihat bertatap-tatapan untuk sesaat, kemudian, Kartono melihat ke arah Bagio lagi, lalu berkata,
"Nggak apa-apa. Pasti ada saja, yang mau menutupkan pintu rumahmu itu. Apalagi, kejadian kemarin, pasti sudah tersebar di kampung....
... Jadi aku rasa, pasti sebagian besar orang di kampung, sudah tahu kalau kamu terluka, lalu dibawa ke rumah sakit."
"Nggak usah terlalu banyak memikirkan macam-macam dulu!" ujar Citra.
Seolah-olah dia merasa gemas, Citra berbicara sambil meremas tangan Bagio, yang digenggamnya sedari tadi.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Masih terasa sakitnya?" tanya Hana kepada Bagio.
"Nggak terlalu sakit," jawab Bagio. "Mungkin nggak apa-apa, kalau aku duduk, ya?!"
"Jangan!" Citra, Hana dan Kartono, secara serentak melarang Bagio.
"Tunggu sebentar!" kata Citra.
Citra lalu terlihat sedikit membungkuk, dan tiba-tiba, separuh bagian ranjang perawatan tempat Bagio terlentang itu, terasa seperti terangkat secara perlahan-lahan, hingga posisi Bagio bisa sedikit terduduk.
"Cukup?" tanya Citra.
"Iya," jawab Bagio.
"Eh! ... Apa dokter sudah tahu kalau Bagio sudah sadar?" tanya Hana, yang tampak seperti orang yang terkejut.
"Tsk! ... Aku lupa," kata Citra. "Han! ... Tolong, kamu saja yang beritahu perawat di luar!"
"Okay!" Hana lalu terlihat berjalan keluar, dari kamar tempat Bagio dirawat itu.
__ADS_1
Setelah Hana berlalu pergi dari situ, Bagio mendadak merasa lapar.
"Aku lapar. Apa ada sesuatu yang bisa aku makan?" tanya Bagio.
"Eh!" Citra terlihat bingung.
Dan Kartono lalu berkata,
"Hana tadi membeli buah ... Ini!"
Kartono memperlihatkan kantong plastik, yang masih dia pegang.
"Tunggu perawat atau dokter saja dulu. Nanti kita tanyakan pada mereka saja, apa kamu sudah bisa makan atau belum," kata Citra.
Baru saja Citra selesai bicara, satu orang dokter laki-laki dan seorang perawat wanita, memasuki ruang tempat Bagio dirawat, dan segera menyapa semua orang yang ada di situ.
"Selamat siang!" kata dokter itu, sambil tetap berjalan menghampiri Bagio.
"Selamat siang!"
Serempak, Bagio, Citra dan Kartono, membalas salam dari dokter tersebut.
"Pasien sudah sadar, ya?! ... Bagaimana? Apa ada keluhan?" ujar dokter kepada Bagio.
Dokter itu terlihat memeriksa tanda-tanda vital Bagio, dan kemudian memeriksa luka di perut Bagio, yang masih diperban.
Sembari memeriksa Bagio, dokter itu juga mendengarkan, tentang apa saja yang Bagio katakan dan tanyakan, lalu segera menanggapinya di situ.
Kelihatannya, perawatan yang Bagio terima, memang membuahkan hasil yang cukup bagus, hingga dokter tampak puas melihat kondisi Bagio yang cukup baik.
Sebelum pergi dari ruang perawatan Bagio, dokter mengizinkan Bagio untuk makan, dengan catatan, bahwa Bagio masih belum bisa mengkonsumsi makanan yang terlalu padat.
Setelah mendapatkan izin dari dokter, Hana kemudian menyiapkan buah yang dia beli, agar bisa dimakan oleh Bagio.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Citra.
"Kantor pegadaian pasti buka hari ini," kata Bagio, yang kembali teringat tentang hutangnya, yang belum terurus.
"Bagio ...! Aku tahu kalau banyak yang kamu pikirkan. Tapi, semua yang jadi beban pikiranmu itu, aku juga sudah memikirkannya," kata Citra, yang terlihat kesal, sambil mengerutkan alisnya.
"Aku akan mengurus semuanya nanti. Kalau aku nggak bisa mengurusnya sendiri, masih ada Kartono dan Hana....
... Sudah, ya?! Jangan sampai aku mengulanginya lagi! Kamu nggak usah mikir, yang macam-macam dulu! Fokus untuk pemulihanmu saja!" lanjut Citra.
Setelah mendapatkan Omelan untuk kesekian kalinya dari Citra, Bagio yang seperti kucing yang basah, mau tidak mau, hanya bisa terdiam, dan tidak berani menyahut perkataan Citra.
"Pffftt...!" Tiba-tiba terdengar suara tertawa tertahan, dari Hana dan Kartono.
Citra dan Bagio, secara bersamaan melihat ke arah Hana dan Kartono, dan kedua orang itu, dengan cepat tampak memalingkan wajahnya masing-masing, seolah-olah sedang menghindari tatapan dari Citra dan Bagio.
Bagio mengerti, kalau Hana dan Kartono, pasti sedang menertawakannya, yang tidak bisa berkutik di depan Citra.
Karena Bagio masih bisa melihat, kalau Hana dan Kartono, yang senyum-senyum sendiri, sambil melirik Bagio.
Ckckck ... Awas saja!
Bagio pasti akan membalas mereka berdua!
Nanti ... Kalau Citra tidak ada di situ, agar Bagio tidak menerima omelan susulan dari Citra.
Ah! Beginikah rasanya kalau punya istri?
__ADS_1
Ehhem!
Berandai-andai saja, tentu tidak apa-apa, kan?!
Sedang sakit, lalu ada yang mengurus dan merawat dengan sepenuh hati, tentu rasanya menyenangkan, dan Bagio mungkin bisa cepat sembuh karenanya.
Tapi kalau wanita sudah marah, hmm....
Sebaiknya jangan coba-coba, untuk membuat kaum terkuat di muka bumi itu menjadi marah.
Lihat saja wajah Citra sekarang ini!
Harimau yang sudah kelaparan pun, mungkin masih tidak punya nyali untuk mendekatinya.
Apalagi hanya Bagio?!
"Kamu makin cantik, kalau sedang marah," ujar Bagio, sambil tersenyum, mencoba merayu Citra agar berhenti merengut.
Seketika itu juga, cubitan penuh cinta dari Citra, yang bisa membuat kulit berwarna merah kebiruan, diterima oleh lengan Bagio yang pasrah.
"Aaarrrghh!" Bagio meringis kesakitan.
"Hahaha!" Hampir bersamaan dengan rintihan Bagio, terdengar juga suara Kartono dan Hana yang tertawa, hingga memecah kesunyian di dalam ruangan itu.
"Sakit?" tanya Citra, sinis, seolah-olah dia tidak tahu saja rasa sakitnya, jika kulitnya dan sedikit dagingnya yang dijepit, lalu dipelintir.
Bagio mengangguk pelan.
"Bagus!" ujar Citra. "Masih mau lagi?"
Bagio menggelengkan kepalanya. "Enggak, lah!"
Hana dan Kartono, seolah-olah tidak bisa berhenti menertawakan Bagio di situ, hingga kedua orang itu, tampak menutup mulut mereka dengan tangannya masing-masing.
***
Mungkin karena pengaruh dari obat-obatan, hingga Bagio jadi sering merasa mengantuk, dan hanya bisa tahan untuk tetap terbangun, dengan waktu yang sebentar-sebentar saja.
Setelah tertidur untuk kesekian kalinya, ketika Bagio terbangun kembali, Citra dan Hana tidak ada di kamar itu.
Tempat duduk yang letaknya paling dekat dengan ranjang perawatan Bagio, yang biasanya jadi tempat duduk bagi Citra, kini ditempati oleh Kartono.
"Citra dan Hana, tadi pulang untuk mengganti baju," kata Kartono, sebelum Bagio sempat bertanya.
"Iya, nggak apa-apa," sahut Bagio.
"Kartono! ... Apa kamu memang nggak dengar apa-apa, tentang bagaimana keadaan ayahnya Sarimunah?" lanjut Bagio.
"Nggak ada ... Kamu pingsan sebelum tiba di puskesmas. Jadi, kami memang benar-benar sibuk mengurusmu saja," jawab Kartono.
"Apalagi waktu di puskesmas, nggak ada dokter di sana, hanya ada perawat saja....
...Aku mana sempat mencari tahu yang lain. Sedangkan aku sibuk mencari supir ambulans, untuk mengantarmu ke sini....
... Tapi untuk apa kamu memikirkan orang itu? Dia sudah mencoba untuk membunuhmu! Apa kamu masih kasihan dengannya?" lanjut Kartono.
Kartono menautkan kedua alisnya, hingga membentuk lipatan-lipatan yang dalam di keningnya, seolah-olah dia tidak percaya, kalau Bagio masih mengkhawatirkan keadaan ayahnya Sarimunah.
"Ayah Sarimunah sudah membantuku di masa sulitku, dulu. Kejadian kemarin, aku yakin kalau dia hanya khilaf saja," kata Bagio.
"Ckckkck! ... Aku nggak habis pikir. Kok bisa, kamu masih membelanya?" ujar Kartono.
__ADS_1
"Khilaf? ... Itu hanya alasan orang, untuk menutupi kesalahannya saja," lanjut Kartono, yang tampak kesal.