
Setelah kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit Bagio menunggu, sambil berdiri di depan lift, pintunya itu kemudian terbuka.
Hana tampak berada di dalamnya, sambil tersenyum lebar melihat Bagio.
"Ayo masuk!" kata Hana, mengajak Bagio, sebelum pintu lift kembali tertutup.
Bagio lalu buru-buru berjalan menghampiri Hana, dan berdiri di sebelahnya.
"Iniβ" Hana menunjuk salah satu tombol tanda, dan Bagio memperhatikannya.
"... kamu tekan kalau kamu mau ke lantai atas, maka pintunya akan terbuka. Tapi kalau nggak langsung terbuka, berarti liftnya masih di lantai lain. Jadi, kamu tunggu saja," lanjut Hana.
"Kalau kamu mau ke lantai bawah, tekan yang ini! ... Kalau kamu mau pintunya cepat tertutup, ini yang kamu tekan," lanjut Hana lagi, sambil menunjuk tombol-tombol tanda yang lain.
"Ooh ...! Okay!" sahut Bagio, yang akhirnya mengerti cara menggunakan benda itu.
"Ponselmu itu, kamu pakai untuk apa saja?" tanya Hana.
"Asalkan ada paket untuk internetan, di situ kamu bisa cari tahu akan apa saja yang nggak kamu tahu, atau belajar sesuatu yang kamu belum mengerti," lanjut Hana.
"Ugh ...? Benarkah? Bagaimana caranya?" tanya Bagio penasaran.
Bagio lalu memperlihatkan layar ponselnya kepada Hana, dan Hana kemudian menunjuk tanda Google, yang berada di paling depan tampilan layar ponsel Bagio.
Hana lalu berkata,
"Kamu tulis saja yang apa yang kamu cari di situ ...! Kamu juga bisa ngomong langsung, apa yang jadi pertanyaanmu, kalau kamu tekan yang ini agak lama ...!"
Hana menjelaskan maksudnya kepada Bagio, sambil memberikan contohnya, dengan mengetikan 'Cara Menggunakan Lift', di ponsel Bagio.
Tulisan tentang penjelasan bagaimana caranya untuk menggunakan lift, yang jadi percobaan pencarian informasi yang di lakukan Hana barusan, lalu muncul di tampilan layar ponsel milik Bagio.
Bagio terheran-heran, sampai menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, seolah-olah tidak bisa percaya, kalau bisa dengan semudah itu untuk mencari tahu tentang sesuatu.
Ternyata ponsel itu banyak gunanya, selain hanya sekedar untuk melihat sosial media, mengambil atau merekam gambar, untuk permainan, ataupun untuk menghubungi orang lain.
Pantas saja, jika orang-orang yang bisa dilihat oleh Bagio selama dia tinggal di kota itu, seolah-olah mereka tidak merasa bosan untuk menatap layar ponsel milik mereka.
Ponsel bahkan seolah-olah menjadi salah satu kebutuhan utama, yang tidak bisa ketinggalan, ke mana saja orang-orang itu pergi dan berada.
"Sudah mengerti cara pakainya?" tanya Hana, membuyarkan lamunan Bagio.
"Iya ... Makasih, Han!" ujar Bagio, senang.
"Sama-sama," sahut Hana sambil tersenyum lebar. Dia tampak senang, mungkin karena melihat Bagio yang bersemangat.
***
__ADS_1
Masih ada waktu lengang selama kurang lebih satu jam lagi, barulah pekerjaan Bagio di tempat itu dimulai.
Bagio mengambil kesempatan itu, untuk mengetik berbagai macam hal yang terlintas di kepalanya, untuk mencari tahu tentang hal-hal itu lebih jauh.
Kata 'Fotografi', menjadi salah satunya yang dicari oleh Bagio di dalam aplikasi, yang dibilang Hana adalah aplikasi 'Mbah Google' itu.
Ternyata kata itu ada maknanya, dan bukan hanya asal sebut saja.
Kata Fotografi berasal dari gabungan dua kata dan dari dua bahasa berbeda, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Yunani.
'Photos' yang berarti Cahaya, dan 'Grafo' yang berarti Melukis.
Yang dapat diartikan secara keseluruhan, bahwa Fotografi adalah sebuah proses melukis (gambar), dengan bantuan media cahaya.
'Melukis Citra dengan Cahaya.'
Mungkin kurang lebih seperti itu, arti dari kata Fotografi, menurut Bagio.
Bagio masih asyik membaca tulisan isi artikel yang muncul dalam tampilan layar ponselnya, namun dia sudah dipanggil untuk melakukan persiapan sebelum pemotretan dilakukan.
***
Sesi pengambilan gambar yang berlangsung, dan menghabiskan waktu Bagio kurang lebih lima jam, akhirnya selesai juga.
Bagio yang sudah tidak memiliki jadwal sesudahnya lagi, meminta Hana agar bisa mengantarkannya ke rumah sakit.
Baik Bagio maupun Hana, sama-sama sudah di dalam mobil, dan kendaraan itu juga sudah mulai bergerak pelan, keluar dari pelataran parkir basement, di gedung yang menjadi lokasi kerja Bagio tadi.
"Iya," jawab Bagio. "Kamu bisa meninggalkan aku di sana. Nanti aku bisa kembali sendiri ke Dorm."
"Eh ...? Apa kamu sudah tahu harus pakai kendaraan apa untuk kembali ke Dorm?" tanya Hana heran.
"Aku bisa pakai ini!" Bagio mengangkat ponselnya, dan mengisyaratkan kalau dia pasti bisa menemukan cara kembali ke Dorm, dengan menggunakan benda itu.
"Asalkan kamu nanti beritahu alamat Dorm," lanjut Bagio, dengan keyakinan, karena dia juga tidak mau merepotkan Hana, di luar jam kerja.
Hana tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. "Okay!"
Hana kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya, lalu mengangkat pandangannya dan melihat ke arah Bagio.
"Itu! ... Lihat di chat-ku yang masuk di WhatsApp!" ujar Hana. "Itu alamat lengkap Dorm."
"Tapi apa kamu yakin bisa pulang sendiri?" tanya Hana, yang tampak ingin memastikan.
"Iya. Aku harus bisa. Nggak mungkin kan, kalau aku selamanya nggak tahu apa-apa di kota ini?!" ujar Bagio mantap.
"Okay!" sahut Hana. "Tapi, kalau ada sesuatu, atau kamu butuh bantuan, jangan segan-segan untuk menghubungiku. okay?!"
__ADS_1
"Iya," jawab Bagio singkat.
Hana lalu terdiam sebentar, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
"Sini ponselmu sebentar!" ujar Hana meminta ponsel Bagio.
Bagio kemudian menyerahkan ponselnya itu kepada Hana.
Hana lalu tampak serius menatap dan mengutak-atik ponsel milik Bagio, untuk beberapa waktu lamanya, tanpa berkata apa-apa kepada Bagio.
Kemudian Hana memiringkan sedikit badannya, agar Bagio bisa ikut melihat tampilan layar ponsel milik Bagio, bersama-sama dengan Hana.
"Ini aku pasangkan aplikasi ojek online. Kamu bisa pesan ojek di sini, untuk kamu jadikan tumpanganmu, saat kamu akan pulang nanti," kata Hana.
"Begini caranya!" lanjut Hana, sambil memperagakan pada Bagio, cara menggunakan aplikasi baru itu.
Menurut Bagio, apa yang diajarkan oleh Hana saat ini, tidaklah sulit sama sekali.
Hana cukup menjelaskannya sekali saja, Bagio sudah mengerti, dan tahu cara menggunakan aplikasi ojek online di ponselnya itu.
Semakin bertambah-tambah saja rasa kagum Bagio, akan kinerja benda kecil bernama ponsel itu, yang ternyata semakin Bagio mempelajarinya, bisa semakin banyak saja gunanya.
Bagio senyum-senyum sendiri melihatnya.
Kalau Citra tidak memberikan benda itu kepadanya, tentu sekarang ini Bagio belum tentu tahu akan apa saja kegunaan ponsel.
Yang ternyata bisa jadi tempat mendapatkan informasi, dan membantu Bagio dalam banyak hal.
Oleh karena itu, Bagio juga jadi teringat akan Citra, dan berencana untuk menghubungi wanita itu nanti, walau hanya sekedar menyapa.
***
Dengan berkendara selama kurang lebih hampir satu jam kemudian, Bagio sudah tiba di rumah sakit.
"Dirga ada di ruang perawatan di lantai dua! Aku tadi sudah mengirim kontak Mas Andi ke ponselmu. Kalau kamu kesulitan menemukan ruangannya, hubungi saja Mas Andi."
Hana masih memberikan arahan, dan satu lembar uang kertas bernilai seratus ribu kepada Bagio, sebelum Bagio keluar dari dalam mobil.
Hana juga memberikan satu kantong plastik berisi buah, yang ternyata sempat dipersiapkannya tadi, untuk dibawa Bagio ke ruang perawatan Dirga.
"Hati-hati saat kamu pulang nanti!" lagi-lagi Hana berpesan.
"Di sini nggak seaman seperti di kampung. Banyak penipu juga pencopet di kota ini! ... Kalau bisa, kamu jangan pulang terlalu larut malam!" lanjut Hana.
"Okay! ... Makasih banyak, Han!" ucap Bagio, lalu berjalan masuk ke dalam rumah sakit, setelah mendapat balasan, "Sama-sama", dari mulut Hana.
Bagio yang sudah tahu caranya menggunakan lift, tidak lagi mengalami kesulitan untuk memakainya.
__ADS_1
Dan, karena Bagio yang tidak perlu menaiki anak tangga, maka Bagio bisa menghemat sedikit tenaganya.