Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 45


__ADS_3

Komunikasi.


Setiap hubungan dalam bentuk apapun, memang membutuhkan komunikasi yang lancar dan terbuka dari dua belah pihak, agar bisa berhasil dan tidak akan ada kesalahpahaman.


Benar, tidak?


Tentu ada yang masih ingat dengan pepatah yang berkata,


'Dalamnya Laut Dapat Diukur, Dalamnya Hati Siapa Yang Tahu?'


Kalau masing-masing pihak tidak mau mengutarakan apa yang mereka pikirkan, maka pihak lawan harus mengira-ngira, dan bisa saja, pihak lawan malah kemungkinan hanya akan salah menduga.


Dan tentu saja, komunikasi dua arah juga harus disertai dengan kejujuran antara satu sama lain, jangan sampai ada satupun yang mengatakan sesuatu, yang hanyalah kebohongan belaka.


Bolehlah mengambil sedikit contoh, dari Bagio sekarang ini.


Bagio tentu bisa berbangga diri, karena dia yang berani dan mau bicara jujur, juga apa adanya kepada Citra, hingga Citra tampaknya benar-benar jatuh cinta, dan terjerembab jatuh ke dalam pelukannya.


Ehhem! ... Ehhem!


Maaf! ... Kelihatannya terlalu terburu-buru.


Citra terjatuh ke dalam pelukan Bagio? Jawabannya, hmm ... Masih belum terjadi.


Walaupun Bagio memang berharap, agar dia bisa segera memeluk Citra.


Tentu menyenangkan, bukan? Kalau indera penciuman Bagio bisa menikmati dari jarak terdekat, aroma taman bunga yang semerbak harum mewangi dari tubuh Citra.


Apalagi, kalau Bagio bisa sambil sedikit mengusap-usap punggung Citra, seperti sedang menggosok-gosok lampu ajaib milik Aladin.


Eh! Tapi tentu saja Bagio bukan berniat untuk membuat seorang jin, agar segera keluar dari ubun-ubun Citra.


Melainkan agar Cupid sang dewa cinta, bisa melihat punggung Citra sebagai target dengan jelas, saat telapak tangan Bagio menyapu bagian belakang kaus Citra, hingga tidak ada lagi bagian yang kusut di situ.


Dengan demikian, tanpa ada kemungkinan untuk meleset lagi, Cupid bisa melepaskan anak panahnya tepat ke arah jantung Citra, dan menembus ke jantung Bagio.


Kalau sampai anak panah Cupid bisa tertancap di jantung mereka berdua, maka Citra tentu tidak akan bisa lagi, untuk melihat dengan jelas, laki-laki yang lain selain Bagio.


Sehingga bagi Citra nantinya, Bagio akan jadi laki-laki yang paling tampan dan yang paling menarik, di seluruh permukaan bumi.


Ckckck!

__ADS_1


Citra yang sekarang ini, tampak hampir tidak bisa berhenti tersenyum manis, sambil menatap Bagio, dengan tatapan penuh cinta, hanya membuat Bagio semakin gelisah dan penasaran.


Bagaimanakah rasanya? Kalau Citra sampai tersandar di dadanya, lalu sambil.... Ah! Sudahlah!


Bagio memang sudah sedari tadi selesai makan siang, dan begitu juga dengan Citra, namun rumah makan tempat mereka berada sekarang, bukan hanyalah mereka berdua saja di sana.


Dengan begitu, tidak mungkin Bagio bisa buru-buru berpindah tempat duduk, agar bisa bersebelah-sebelahan dengan Citra, hanya demi mencoba mencuri kesempatan, untuk memeluk wanita itu dengan erat.


Bisa-bisa, Bagio akan jadi tontonan, juga mendapatkan cibiran dari pengunjung rumah makan yang lain.


Walaupun Bagio agak kebelet, tapi kalau Bagio buru-buru mengajak Citra pergi gelap-gelapan, kan juga tidak mungkin?!


Apa yang akan jadi anggapan Citra tentang Bagio nantinya? Kalau sampai Bagio mengajaknya menjauh dari ambang batas kesadaran, sedangkan mereka baru saja berpacaran.


Bisa menggenggam tangan Citra di atas meja seperti saat ini, juga sudah lumayan saja rasanya bagi Bagio.


Jangan terlalu tergesa....


"Apa kamu mau pergi ke tempat lain?" tanya Citra, tiba-tiba saja, hingga membuat lamunan Bagio terputus koneksinya.


"Hmm ... Terserah kamu! Aku ngikut saja," sahut Bagio.


"Kamu belum akan kembali ke Dorm, kan?! Aku rencananya akan kembali ke rumahku sebentar," kata Citra.


"Pffftt ...! Bosan katamu? Siapa yang bisa dengan mudahnya merasa bosan, dengan barang yang baru?" kata Citra, bercanda.


"Hmm ... Kalau aku jadi barang lama, maka kamu akan jadi cepat bosan?" sahut Bagio yang merasa gemas, karena senyuman Citra yang seolah-olah sedang mengejeknya.


"Yaa, semoga saja enggak," kata Citra lagi, lalu berdiri dari tempat duduknya, dan mengulurkan sebelah tangannya ke arah Bagio. "Ayo, kita pergi!"


Bagio segera menyambut tangan Citra, dan berjalan pergi dari rumah makan itu, sambil tetap berpegangan tangan dengannya.


Di dalam mobil Citra yang sudah mulai berjalan, Bagio lalu terpikir untuk bertanya kepada Citra.


"Citra! ... Apa kamu nggak merasa keberatan? Sekarang ini, sudah ke-dua kalinya kita bertemu....


... Tapi kamu yang selalu membayarkan makan ataupun minumanku. Kamu bahkan sampai memberikanku ponsel," ujar Bagio, pelan.


"Eh! ... Kenapa kamu memikirkan hal itu? Kan aku yang mengajakmu?! Terus ... Ponsel itu ... Bukannya sudah aku bilang, kalau aku memberikannya padamu, karena aku nggak membutuhkannya?!"


Citra berbicara sambil melirik sebentar ke arah Bagio, lalu kembali menatap ke arah jalanan di depannya.

__ADS_1


"Iya ... Tapi aku jadi nggak enak, kalau aku terus-terusan jadi beban bagimu," ujar Bagio.


"Hey! Jangan bilang begitu! Apa kamu sekarang sedang beralasan, karena kamu nggak mau bertemu denganku lagi?" tanya Citra, yang kembali melihat ke arah Bagio untuk sesaat.


"Tsk! ... Nggak, lah! Bukan itu maksudku! Aku justru senang, karena bisa menghabiskan waktu bersama denganmu. Tapi—" Bagio tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat itu.


"Kalau begitu, nggak ada kata 'tapi'. Seandainya kamu memang masih merasa nggak enak, kamu bisa balas mentraktirku nanti, saat kamu sudah gajian."


Citra bukan hanya sekedar menyela perkataan Bagio tadi, melainkan juga terdengar seperti memaksa, agar Bagio berhenti memikirkan tentang 'beban'.


Kemudian, Citra tampak menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan, meskipun suara hembusannya masih bisa terdengar oleh Bagio.


"Maafkan aku ... Tapi aku sama sekali nggak berniat untuk merendahkanmu. Aku mengerti kalau kamu sampai merasa nggak enak, karena pemberianku....


... Tapi aku berharap, agar kamu jangan merasa seperti itu lagi. Aku menyukaimu, dan aku sama sekali nggak merasa terbeban, selama aku bisa bertemu denganmu," kata Citra.


"Bisa, kan?!" lanjut Citra lagi, menegaskan keinginannya, sambil menoleh ke arah Bagio.


"Iya," jawab Bagio, pelan.


"Asal kamu tahu saja. Aku mau agar hubungan kita bisa berlanjut. Bahkan kalau memang bisa, maka aku ingin bisa berhasil sampai ke jenjang yang lebih serius....


... Jangan cuma karena hal seperti itu, lalu dijadikan sebagai penghalang. Apalagi yang aku tahu, kalau yang aku berikan kepadamu, bukanlah sesuatu yang berlebihan," kata Citra.


Perjalanan ke rumah Citra dari tengah-tengah kawasan perkotaan, membutuhkan waktu tempuh kurang lebih tiga puluh menit.


Akan tetapi, setelah perkataan Citra yang tadi, seolah-olah jadi pembicaraan terakhir bagi mereka berdua, hingga mereka tiba di rumah Citra.


"Ayo masuk!" ajak Citra, setelah membuka pintu depan rumahnya. "Kita ke studio ku!"


Walaupun baru ke-dua kalinya Bagio bertandang ke rumah Citra itu, namun Bagio tidak merasa asing saat berada di dalam sana.


Bagio mengikuti langkah Citra yang memasuki ruangan, yang menjadi tempat Bagio ditegur Citra, karena pemotretan yang kacau waktu itu.


Ruangan yang terisi dengan peralatan untuk mengambil foto yang lengkap, dan tertata rapi itu, kali ini Bagio bisa bebas untuk menjelajahi setiap bagian dari ruangan itu.


Tentu saja Bagio sampai bisa sebebas itu, karena atas izin yang diberikan oleh Citra kepadanya.


"Di sebelah sana, ada album-album foto!" Citra menunjuk ke arah sebuah rak, yang tersandar di dinding.


"Kamu bisa melihat-lihat. Nggak apa-apa. Nggak usah takut-takut. Kamu nggak harus duduk terdiam saja menungguku, nanti kamu bosan."

__ADS_1


Citra yang baru saja menyalakan laptopnya, lanjut berbicara kepada Bagio, sambil tetap menatap tampilan layar benda itu.


__ADS_2