
Hingga selesai semua pekerjaan Bagio di hari itu, dan Bagio kembali ke Dorm dengan diantarkan oleh Hana, Bagio masih memikirkan, tentang apa yang akan dia lakukan, agar berat badannya tidak bertambah lagi.
Makan lalu dimuntahkan, atau tidak makan saja sekalian?
Sama-sama sulit rasanya, untuk dilakukan oleh Bagio.
Setelah Bagio masuk ke dalam kamar, Sucitra terlihat sudah berada di sana, dan sedang duduk di dekat jendela yang terbuka, sambil menikmati asap rokoknya.
Tampaknya, Sucitra sekarang ini sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya, karena ponselnya terlihat ditempelkan Sucitra, di telinganya.
Sucitra yang melihat kedatangan Bagio, lalu menggerakkan mulutnya, seolah-olah sedang berkata 'tunggu sebentar' kepada Bagio, tanpa mengeluarkan suaranya.
Bagio menganggukkan kepalanya, lalu berbaring asal-asalan di atas tempat tidurnya, memandangi langit-langit kamar, sambil menunggu Sucitra, sampai wanita itu selesai bicara di ponselnya.
Tidak berapa lama, Sucitra lalu sudah berdiri di dekatnya dan sedikit membungkuk melihat Bagio.
"Bagaimana harimu kali ini?" tanya Sucitra.
"Seperti biasa ... Nggak ada yang istimewa," jawab Bagio.
Sucitra mengulurkan tangannya ke arah Bagio, lalu berkata,
"Ayo berdiri! Ikut denganku!"
Bagio menyambut tangan Sucitra, seolah-olah menjadikannya pegangan untuk bangkit dari tempat tidurnya, dan tangan Sucitra pun, terasa seolah-olah sedang menarik Bagio di situ.
Setelah Bagio berdiri, lagi-lagi Sucitra berkata,
"Ganti pakaianmu! ... Pakai pakaian yang lebih nyaman! Apa kamu ada celana training?"
"Nggak ada," jawab Bagio.
"Kalau begitu tunggu sebentar! Kayaknya aku ada celana jogger," kata Sucitra, lalu terlihat memeriksa susunan pakaian di dalam lemarinya.
"Ini dia!" ujar Sucitra, sambil tetap berdiri menghadap lemarinya, lalu mengambil salah satu barang dari dalam sana.
"Pakai ini dengan kaos oblong!" Sucitra menyodorkan sebuah celana panjang berbahan kaos, yang terasa cukup elastis, kepada Bagio.
Sembari Bagio berganti pakaian, Sucitra terlihat mengambil barang lain dari dalam lemarinya, dan memasukkannya ke dalam sebuah tas kecil.
"Sudah?" tanya Sucitra, dan Bagio menjawab pertanyaannya itu dengan menganggukkan kepalanya.
"Okay! Ayo kita pergi!" Sambil membawa tas kecil yang di selempangkan di pundak ke punggungnya, Sucitra berjalan keluar dari kamar, dan Bagio menyusulnya.
"Kita mau kemana?" tanya Bagio, penasaran.
"Olahraga!" jawab Sucitra.
"Di gym?" tanya Bagio, lagi.
"Di luar!" sahut Sucitra.
Sambil tetap berjalan bersebelah-sebelahan, bagio melihat penampilan Sucitra.
Sucitra terlihat memakai kaus oblong, yang dilapisi dengan jaket, dan dipadankan dengan celana pendek, yang ukurannya sangat pendek, sampai memperlihatkan lebih dari separuh pahanya.
Olahraga di luar Dorm, sambil memakai pakaian seperti itu, sedangkan sekarang ini sudah malam, apa kaki Sucitra tidak akan kedinginan?
__ADS_1
Lalu, baik Bagio maupun Sucitra, sekarang ini hanya memakai sendal jepit.
Olahraga macam apa, yang akan mereka lakukan?
Di depan pintu gerbang Dorm, terlihat ada dua motor ojek online, yang tampaknya sedang menunggu Bagio dan Sucitra di sana.
"Tempatnya tidak jauh dari sini. Jadi kita pakai ojek saja," kata Sucitra.
Sucitra lalu memberi tanda dengan tangannya, seolah-olah sedang menyuruh Bagio, untuk menumpang di salah satu ojek yang ada di situ.
Tanpa mau banyak bertanya, Bagio lalu ikut membonceng di salah satu motor, setelah Sucitra menyuruhnya.
Sesuai dengan kata Sucitra, tempat yang jadi tujuan wanita itu, tidaklah jauh dari Dorm.
Mungkin hanya kurang lebih sepuluh menit menumpang di ojek motor itu, Sucitra sudah menghentikan perjalanan mereka.
Tempat yang didatangi oleh Sucitra dan Bagio, hanya seperti rumah biasa saja, hingga Bagio malah kebingungan akan apa tujuan mereka ke tempat itu.
Sucitra lalu melihat layar ponselnya, untuk sesaat, kemudian menyimpan ponselnya kembali, sambil berkata,
"Masih harus menunggu sebentar."
Bukannya langsung masuk ke tempat itu, Sucitra malah menyalakan sebatang rokok, sambil duduk di teras bagian depan rumah itu.
"Yoga ... Olahraga yang cocok untukmu," celetuk Sucitra, seolah-olah bisa membaca pikiran Bagio yang sedari tadi merasa bingung.
"Yoga?" tanya Bagio, yang tidak tahu olahraga macam apa itu.
"Iya! Yoga! ... Selain bisa membantu menurunkan berat badanmu, olahraga ini juga bisa membantu mengurangi kekacauan dalam otakmu," sahut Sucitra.
"Tapi aku belum bisa berolahraga berat," kata Bagio, ragu.
Lagi-lagi, Sucitra tampak melihat layar ponselnya, lalu melempar puntung rokoknya ke jalanan.
"Ayo kita masuk!" Sucitra yang sudah berdiri, lalu mengajak Bagio untuk ikut dengannya.
Di dalam tempat itu, tidak alat bantu yang bisa terlihat, untuk olahraga yang kata Sucitra itu disebut Yoga.
Yang terlihat di dalam ruangan itu, hanya ada karpet-karpet berukuran kecil, yang tertata berjarak antara satu dengan yang lain.
Seseorang kemudian menghampiri Bagio dan Sucitra, lalu mengulurkan tangan kanannya, untuk berjabat tangan bergantian dengan Sucitra dan Bagio, sambil berkata,
"Halo! ... Saya guru yoga-nya. Nama saya Ganika."
"Sucitra."
"Bagio."
Sambil berjabat tangan dengan wanita bernama Ganika itu, Sucitra dan Bagio bergantian menyebutkan nama mereka masing-masing.
"Maaf ... Tapi kalian masih harus menunggu sebentar. Yang lain masih belum datang," kata Ganika.
"Iya, tidak apa-apa. Kami yang datangnya terlalu cepat," sahut Sucitra.
"Kalian bisa berganti pakaian, di sebelah sana!" Ganika menunjuk ke arah sebuah pintu yang tertutup, tidak jauh dari ruang kosong itu.
"Iya ... Terima kasih," kata Sucitra, lalu pergi ke arah yang ditunjuk oleh Ganika tadi.
__ADS_1
Bagio yang tertinggal di situ, kemudian dipersilahkan oleh Ganika, untuk duduk di atas karpet, sambil menunggu kedatangan orang yang lain.
Setelah Bagio duduk di lantai, Bagio curi-curi pandang untuk memperhatikan Ganika, guru yoga, yang sekarang ini tampak sedang merapikan sesuatu di bagian sudut ruangan.
Menurut Bagio, Ganika sepertinya bukanlah penduduk lokal, walaupun saat wanita itu berbicara tadi, dia terdengar sangat fasih berbahasa Indonesia.
Ganika yang berambut panjang sampai melewati bawah pinggang, dan terkepang rapi, baik wajah dan maupun riasan wajahnya, terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan penduduk lokal.
Ketika Sucitra kembali dari ruang ganti, Sucitra terlihat memakai, celana ketat lengket di kulit, dengan panjang sebetis, dan dipadankan dengan tanktop yang juga ketat pas badan.
Penampilan Sucitra sekarang ini, jadi mirip-mirip dengan Ganika.
Tidak berapa lama, terlihat beberapa orang yang ikut masuk ke ruangan itu, baik laki-laki maupun perempuan.
Setelah Ganika selesai menyalakan beberapa lilin, guru yoga itu lalu mengarahkan, agar laki-laki dan perempuan mengambil sisi yang berbeda di ruangan itu.
Sehingga laki-laki dan perempuan yang akan ikut dalam latihan yoga, tampak terpisah barisannya, walaupun mereka semua masih berada di dalam satu ruangan yang sama.
Dimulailah latihan yoga di tempat itu, dengan meniru gerakan dan mengikuti arahan dari Ganika.
Siapa menyangka, kalau olahraga yang tidak banyak bergerak itu, ternyata cukup sulit untuk dilakukan setiap gerakannya.
Untuk kali pertama untuk Bagio itu, badannya yang kaku, kesulitan untuk meniru gaya yoga yang dipraktikkan oleh Ganika.
Hingga berkali-kali Ganika menghampiri Bagio, dan membantu agar Bagio bisa berpose, sesuai dengan yang diajarkan oleh Ganika.
Tapi untuk keseluruhannya, Bagio harus akui, kalau latihan Yoga itu menyenangkan.
Macam-macam pikiran yang membuatnya gelisah, entah kemana perginya, karena dia yang terlalu sibuk memikirkan, bagaimana cara meniru gerakan yang dilakukan oleh Ganika.
Bukan itu saja, latihan yoga yang juga berfokus pada latihan pernafasan, tampaknya ikut membantu Bagio, agar bisa merasa lebih tenang.
Karena Bagio yang menikmati latihan yoga itu, sampai-sampai, Bagio sama sekali tidak menyadari lagi, kalau waktu yang dia habiskan di sana, ternyata cukup lama, dari awal hingga sesi latihan itu berakhir.
***
Bagio dan Sucitra, kembali ke Dorm menggunakan transportasi yang sama, seperti ketika mereka pergi tadi, yaitu ojek online.
Dan setibanya mereka di Dorm, Sucitra segera mengajak Bagio untuk mandi, hingga Bagio masih belum sempat menanyakan kepada wanita itu, tentang apa yang terjadi kemarin malam.
Setelah mereka selesai mandi, dan kembali ke kamar, barulah Bagio memiliki kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Sucitra, sebelum mereka tidur.
"Kenapa semalam kamu tidur di tempat tidurku?" tanya Bagio.
"Kamu bermimpi buruk, sambil mengigau. Aku nggak mau membangunkanmu, tapi aku malah yang ketiduran di situ," jawab Sucitra.
"Sorry! ... Aku tadi malam benar-benar capek. Makanya aku nggak ingat lagi, untuk berpindah ke tempat tidurku," lanjut Sucitra.
"Eh! ... Nggak apa-apa. Aku hanya bertanya, karena aku nggak ingat kalau aku bermimpi," sahut Bagio, buru-buru.
"Bukannya memang biasanya kamu nggak ingat?" Sucitra mengerutkan keningnya, sambil menatap Bagio, seolah-olah dia merasa heran dengan pernyataan Bagio barusan.
"Kayaknya tadi malam aku lupa memberitahumu, kalau belakangan ini, aku sudah bisa mengingat setiap kejadian dalam mimpiku. Tapi pagi tadi, aku tidak mengingatnya sama sekali," kata Bagio.
Sucitra lalu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kok bisa? Apa karena aku tidur bersamamu?"
"Nggak tahu," jawab Bagio.
__ADS_1
"Hmm ... Mau aku temani lagi malam ini? Biar kamu bisa tahu, apa memang itu alasannya," kata Sucitra.