
Bagio baru bisa kembali ke Dorm, setelah jam sudah menunjukkan pukul 21:15.
Kaki Bagio terasa sangat pegal, karena terlalu banyak berdiri dan berjalan di lokasi pemotretan tadi.
Tidak jauh berbeda, di bagian leher, hingga ke punggung dan pinggang Bagio, yang rasa nyerinya, seakan-akan bagian-bagian dari tubuh Bagio itu akan terputus.
Seharusnya, Bagio harus segera pergi ke ruang olahraga, untuk membakar lemak yang mungkin menempel, karena makan siang dan makan malamnya, yang asal bisa membuatnya merasa kenyang saja.
Akan tetapi, karena rasa lelahnya, membuat Bagio menunda untuk berolahraga, dan memilih untuk meluruskan punggungnya sebentar, di atas tempat tidur di kamarnya.
Bagio hanya sendirian saja di kamar itu, karena lagi-lagi, entah kemana perginya rekan-rekan sekamar Bagio itu, sekarang ini.
Dengan menyalakan ponselnya, Bagio melihat-lihat tampilan yang muncul di layar benda itu.
Followers akun Instagram Bagio terlihat bertambah jumlahnya, meskipun Bagio belum mengunggah apa-apa, selain foto profilnya saja.
Hampir kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit kemudian, Bagio berhenti bermain ponsel, dan memaksakan dirinya untuk segera bangkit dari pembaringannya.
Karena kalau Bagio menundanya lagi, bisa-bisa dia malah tertidur, dan tidak sempat berolahraga, dan membersihkan diri.
Bagio berjalan keluar dari kamarnya, setelah memakai pakaian olahraga tipis berbahan nilon, lengkap dengan sepasang sepatu olahraga, yang sudah terpasang di kakinya.
Di dalam ruang olahraga, tidak ada satupun orang yang terlihat di sana.
Dan selain sedikit cahaya dari bagian luar, yang merangsek masuk dari pintu dan jendela kaca, di dalam ruangan itu tampak gelap gulita.
Kelihatannya, sejak sore tadi, tidak ada yang pergi berolahraga di situ, sehingga tidak ada orang yang menyalakan lampu sebagai penerangan tempat itu.
Bagio lantas menyalakan lampu, hingga seluruh bagian ruang olahraga itu jadi terang benderang.
Seperti biasanya, treadmill jadi pilihan pertama Bagio, untuk membakar kalori dari semua makanan yang dimakannya tadi.
Bagio hampir berpindah dari treadmill, dan hendak mengganti jenis olahraganya dengan peralatan yang lain, barulah terlihat dua orang wanita yang berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
Wajah-wajah dari para penghuni Dorm, sudah familiar bagi penglihatan Bagio, tapi tidak dengan nama-nama mereka.
Bagio tidak tahu siapa nama para penghuni Dorm yang lain, selain Dirga.
Dirga.
Bagio jadi ingat dengan pemuda itu, yang tadi pagi, wajahnya terlihat babak belur.
Apa Dirga masih bisa bekerja, dengan keadaan wajahnya yang seperti itu?
__ADS_1
Kecuali ada pemotretan yang hanya mengambil gambar dari leher sampai ke kaki saja, yang mungkin masih bisa Dirga kerjakan.
Tapi, pemotretan sejenis itu, rasanya tidak selalu ada.
Hmm....
Kalau seandainya Dirga tidak bekerja, lalu di mana pemuda itu sekarang?
Apakah Dirga hanya berdiam diri di kamarnya?
Bagio melanjutkan olahraganya, sampai semua sesi olahraga yang biasa dia lakukan itu berakhir, dan buru-buru kembali ke kamarnya untuk mengambil pakaian ganti.
Sambil membersihkan dirinya di kamar mandi, Bagio mencuci pakaian kotornya memakai mesin cuci.
Dengan begitu, selesai Bagio mandi, pakaiannya pun sudah hampir selesai dibersihkan, dan Bagio tidak perlu menunggu terlalu lama, dia sudah bisa kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Rencananya, Bagio hendak buru-buru memulihkan tenaganya dengan tidur di kamarnya.
Namun, rasa cemas Bagio yang mengingat Dirga, membuat Bagio malah pergi ke kamar Dirga, dan mencoba untuk mencari tahu, bagaimana keadaan Dirga sekarang ini.
Untung saja.
Pilihan Bagio untuk memeriksa keadaan Dirga di kamarnya, jadi pilihan yang tepat, hingga Bagio bisa menemukan Dirga, yang ternyata keadaannya tidak sedang baik-baik saja.
Setiap kamar di Dorm, pintunya memang tidak pernah dikunci.
Setelah mengetuk pintu kamar Dirga sampai berkali-kali, dan tidak mendapat jawaban dari dalam sana, Bagio memberanikan diri untuk menerobos masuk, sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahunya.
Saat itu juga, Bagio mendapati Dirga yang tergeletak di lantai, dan dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Dirga hanya sendirian, tanpa terlihat ada rekan sekamar Dirga yang lain.
"Dir! ... Dirga!" Bagio memanggil nama Dirga, sambil menepuk-nepuk pipi pemuda itu.
Ketika Bagio mengangkat bagian punggung Dirga, hingga kepala Dirga juga ikut terangkat dari lantai, pemuda itu tampak seperti helaian kain yang tak bertulang.
"Dirga! ... Dir! ... Dirga! ... Ada apa denganmu?"
Bagio masih berusaha untuk menyadarkan Dirga, dengan tetap menepuk-nepuk pipi Dirga, namun pemuda itu tidak bereaksi sama sekali.
Badan Dirga terasa sangat panas, dan bagian wajahnya yang pucat pasi, bibir Dirga terlihat sedikit berwarna kebiruan, seolah-olah tidak ada darah yang mengalir di sana.
Walaupun ketika Bagio meraba bagian dada Dirga, detak jantungnya masih terasa, tapi Bagio tetap merasa panik, karena Dirga yang masih tidak memperlihatkan reaksi apa-apa.
__ADS_1
Bagio berusaha mengangkat badan Dirga, lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
"Dirga! Kamu tunggu sebentar! Aku panggilkan Mas Andi!" ujar Bagio, yang seketika itu juga, membuat Bagio merasa kalau dia sangat bodoh, karena berbicara dengan orang yang tidak sadarkan diri.
Dengan cepat, Bagio berlari keluar dari kamar Dirga, dan tetap terus berlari, menuju ke ruangan Andi, yang letaknya terpisah dari Dorm.
"Tok! ... Tok!"
"Mas! ... Mas Andi! ... Mas! ... Mas Andi!"
Bunyi ketukan Bagio di pintu kamar Andi, dan suara Bagio yang memanggil nama Andi, menggema dan seolah-olah bersahut-sahutan di luar situ.
Sempat beberapa kali, Bagio mengetuk pintu dan memanggil nama Andi, barulah pengurus Dorm itu membuka pintu, dan terlihat berdiri di sana, dengan memasang raut wajah kebingungan.
"Bagio? ... Ada apa?" tanya Andi heran.
"Mas! Dirga sakit! Dia tidak sadarkan diri di kamarnya. Aku sudah mencoba membangunkannya, tapi dia nggak bangun-bangun," jawab Bagio buru-buru.
Tanpa berlama-lama, Andi berlari melewati pintu kamarnya, dan bersama-sama dengan Bagio yang juga berlari menyusulnya, menuju ke kamar Dirga.
Ketika mereka tiba di kamar Dirga, yang pintunya masih terbuka lebar, karena Bagio yang tidak sempat menutupnya tadi, kondisi Dirga masih terlihat sama seperti saat Bagio meninggalkannya.
"Dirga! ... Dirga!" Andi melakukan hal yang sama seperti Bagio. Berupaya menyadarkan Dirga, dengan menepuk-nepuk pipi Dirga, dan memanggil-manggil nama pemuda itu.
Tidak ada perbedaan. Benar-benar sama saja, seperti saat Bagio melakukannya tadi. Dirga tetap tidak bereaksi apa-apa.
Andi terlihat panik, sambil meraba-raba celana pendek yang dia pakai.
"Aaarrrghh! ... Ponselku ketinggalan di kamar!" ujar Andi, yang terdengar frustrasi.
"Angkat bagian lehernya sedikit! Aku kembali ke kamarku dulu!" kata Andi, sambil memberi arahan kepada Bagio, lalu segera berlari keluar dari kamar Dirga.
Bagio yang tertinggal bersama Dirga di kamar itu, lalu melakukan apa yang disuruh oleh Andi, barusan.
Dengan duduk di atas ranjang tempat Dirga terbaring, Bagio lalu memasukkan salah satu tangannya dengan telapaknya yang terbuka, ke bagian belakang leher Dirga, dan Bagio membuat leher Dirga jadi sedikit terangkat.
Bagio tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Dengan demikian, Bagio hanya bisa menunggu, sampai nanti Andi kembali ke kamar Dirga itu.
Sambil menunggu Andi, Bagio menatap wajah Dirga, yang tampak seperti orang yang sudah tidak bernyawa, dan terlihat semakin buruk dengan luka lebam di wajah pemuda itu.
"Apa yang terjadi padamu? ... Ada masalah apa? ... Kenapa kamu bisa jadi seperti ini?" ujar Bagio, dengan rasa iba dan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Dirga masih sangat muda.
Sembari mengusap-usap pelan bagian kening Dirga, Bagio benar-benar berharap, agar pemuda itu akan baik-baik saja nantinya.