Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 47


__ADS_3

Wahai para kaum Adam!


Apa anda-anda sekalian pernah melihat Hawa, yang bisa diberi nilai sepuluh per sepuluh?


Kita anggap saja kalau sudah pernah, ya?!


Kali ini, untuk pertama kali baginya, Bagio sudah bisa melihatnya secara langsung, memindai keseluruhan bentuknya secara detail, lalu menyimpannya ke dalam basis data di perangkat lunak dalam kepalanya.


Dan apapun data yang dikumpulkan oleh sepasang mata Bagio, semuanya lulus seleksi, dan tidak ada yang ditolak oleh otaknya.


Ckckck!


Memang bukan main-main, cantik dan aduhainya manekin hidup yang satu ini.


Seakan-akan, patung perunggu La Mélodie Oubliée hasil karya dari pemahat Luo Li Rong, telah diberi kehidupan, hingga berubah menjadi manusia, dan menjadi sosok Citra.


Begitulah kira-kira yang bisa dideskripsikan oleh Bagio, bagaimana bentuk tubuh dan wajah Citra, setelah selesai diamati baik-baik oleh mata Bagio.


Bayangkan saja gemetarnya Bagio, saat melihat Citra, sang wanita idaman, yang berenang seperti putri duyung, di dekatnya.


Bagio bahkan hampir lupa, bagaimana caranya agar dia tidak tenggelam.


Bagaimana tidak?!


Bagio sekarang ini, hanya memakai celana renang yang ketat.


Sedangkan Citra berkali-kali menyelam, dengan jarak yang sangat dekat dengan Bagio yang terendam air kolam, sampai ke bagian dadanya.


Dengan begitu keadaannya, Bagio tentunya jadi sibuk mengatur kaki-kakinya, agar bisa menutup-nutupi sela pahanya, yang terlalu bersemangat.


Sehingga Bagio jadi kesulitan, dan tidak bisa menggerakkan kakinya dengan baik, agar dia bisa tetap mengapung.


Bagio tentu harus melakukannya, karena dia tidak mungkin membiarkan Citra sampai melihat tiang bendera kekuasaannya, yang sekarang sudah terasa berdiri tegak, dan seolah-olah sedang mengajak Citra untuk menabuh genderang perang.


Bisa-bisa, Bagio nanti pulang ke Dorm dengan bibir yang pecah, dan Bagio besok tidak bisa bekerja menjadi model, untuk video klip si penyanyi dangdut yang sudah mengontraknya.


Mudah-mudahan tidak ada yang menertawakan, akan kurangnya kemampuan Bagio dalam mengontrol dirinya.


Karena walaupun Bagio pernah berpacaran dalam waktu yang lama, dan bahkan hampir menikah dengan Sarimunah, tapi sudah paling banter, kalau Bagio bisa mencium pipi Sarimunah.


Mulut Bagio tidak pernah beraksi menjadi penyedot debu di bibir Sarimunah, dan mata Bagio juga tidak pernah melihat wanita itu, yang hanya sedang memakai bikini.


Dengan kurangnya pengalamannya, kalau Bagio jadi seperti itu, tentu menjadi hal yang wajar saja, kan?!


Ah! Sudahlah!


Ada yang lebih darurat sekarang ini, karena Bagio seolah-olah akan terkena serangan jantung.


Mau tahu alasannya?


Tiba-tiba, Citra berenang menghampiri Bagio, lalu sambil berhadap-hadapan dengannya, Citra memegang kedua sisi pundak Bagio dengan kedua tangannya.


Ada apa ini?

__ADS_1


Apa yang ingin dilakukan oleh Citra kepada Bagio?


Apa mungkin, ketegangan di perut bagian bawah Bagio, diketahui oleh Citra? Lalu, Bagio akan ditenggelamkannya?


Senyum di wajah Citra, juga kelihatannya cukup menakutkan, seolah-olah dia akan menggigit Bagio saat itu juga.


Apalagi, Citra terlihat semakin mendekat, sampai hampir menempel di badan Bagio, hingga jantung Bagio semakin cepat saja memompa darahnya.


Seperti orang yang sedang berlari Sprint, nafas Bagio tidak beraturan, sama seperti dadanya yang berdebar-debar, saat kedua tangannya memegang bagian pinggang Citra.


Bagio tidak tahu harus berbuat apa.


Entah Bagio akan mendorong Citra menjauh, atau malah menariknya, biar semakin cepat Citra menempel padanya.


Lalu...


Salah satu tangan Citra, yang masih di atas pundak Bagio, kemudian dipindahkannya ke salah satu pipi Bagio, sambil mengelus-elusnya pelan.


"Wajahmu merah seperti kepiting rebus. Kelihatannya terbakar sinar matahari. Apa nggak pedih?" ujar Citra, sambil tetap tersenyum, dan menatap Bagio lekat-lekat.


Bagio menggelengkan kepalanya, dan tidak mengeluarkan suaranya, walau hanya untuk berkata tidak.


Karena Bagio tahu dengan benar, kalau bukan terjemur sinar matahari lah yang menjadi penyebabnya, sampai membuat wajahnya jadi merah seperti yang bisa dilihat oleh Citra.


Melainkan karena.... Ehhem!


Apa Bagio harus jujur kepada Citra?


"Can I kiss you?" tanya Citra, yang berbicara dengan menggunakan bahasa asing, membuyarkan lamunan Bagio.


"Maksudku, apa aku bisa mencium mu?" Citra mungkin mengerti, kalau Bagio tidak paham apa yang dia bicarakan, hingga dia mengulang pertanyaannya, lengkap dengan penjelasannya.


Tentu saja Bagio setuju, dan sambil tersipu malu-malu, Bagio menganggukkan kepalanya.


Yang terjadi selanjutnya, jangan ditanya lagi.


Sudah pasti Bagio mendapat les privat dari Citra, bagaimana caranya menggunakan penyedot debunya, agar bisa membersihkan debu dengan baik.


Semua tips dan trik diajarkan Citra secara mendetail, agar Bagio tidak kehabisan nafas dan terbatuk-batuk, saat melakukannya.


Berhubung rumah Citra bebas dari paparazi, ataupun tetangga yang suka mengintip dan bergosip, tentu jadi kesempatan yang bagus bagi Bagio, untuk memanfaatkan waktu dan tempatnya, agar bisa belajar lebih banyak.


Dengan begitu, Bagio bisa jadi sama lincah dan lihainya seperti Citra, yang sudah memiliki jam terbang yang lebih tinggi daripada Bagio.


Okay! Sudah cukup!


Karena kalau lebih lama lagi, jiwa dan insting binatang buas di dalam badan Bagio, akan mengambil alih kesadarannya.


Dan tentu tidaklah lucu, jika Bagio sampai lupa, kalau dia dan Citra masih berada di dalam kolam renang.


Bisa-bisa, Bagio dan Citra sama-sama tenggelam di dalam kolam renang, lalu para asisten rumah tangga Citra, harus menelepon nomor darurat, dan mendatangkan tim Basarnas, untuk mengevakuasi mereka berdua dari sana.


***

__ADS_1


Citra keluar lebih dulu dari dalam kolam renang, dan Bagio segera menyusulnya, lalu berjalan menuju ke ruang ganti, yang letaknya tidak jauh dari kolam.


Bagio membilas badannya dengan air dari pancuran, dan berganti pakaian di dalam ruangan, dengan sekat pembatas yang terpisah dari Citra.


Sembari memakai pakaiannya lagi, Bagio masih terbayang-bayang, akan apa yang baru saja dia lakukan bersama Citra.


Menyenangkan? Tentu saja.


Lumayanlah, untuk jadi bunga tidur Bagio nanti malam, agar dia bisa tidur lebih nyenyak.


"Bagio! ... Kamu belum selesai berpakaian?" tanya Citra, dari ruangan sebelah.


"Sudah," sahut Bagio, sambil berjalan keluar dari ruang ganti.


Di luar, Citra juga terlihat melewati pintu dari ruangan, tempat dia berganti pakaiannya tadi.


"Apa kamu mau minum sesuatu?" tanya Citra sambil berjalan, dan tampak mengarah ke bangku yang ada di dekat kolam renang.


"Terserah saja," sahut Bagio, sambil menyusul langkah Citra.


"Kamu tunggu di sini sebentar! Aku ke dalam dulu," kata Citra, lalu berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Bagio yang mengambil tempat duduk di situ.


Cukup lama Bagio menunggu Citra, barulah Citra terlihat berjalan kembali, sambil membawa kamera foto di tangannya.


Bukan hanya Citra yang terlihat berjalan ke arah Bagio.


Salah satu asisten rumah tangga Citra juga terlihat menyusul Citra, sambil membawa sebuah nampan di tangannya.


Dua potong kue bolu, dua potong puding, dan dua gelas air dengan es batu di dalamnya, diletakkan asisten Citra itu, ke atas meja kecil yang ada di dekat Bagio.


"Kamu mau aku potret? Bisa untuk kamu pakai di akun media sosialmu," ujar Citra, sambil duduk di bangku yang bersebelahan dengan Bagio.


"Iya," sahut Bagio, asal jawab saja.


"Nggak perlu berpose, ya?! Aku akan menangkap gambar candid. Kamu nggak perlu memperdulikan kamera ku, yang mengarah padamu," kata Citra, memberi arahan.


"Cukup bertingkah biasa saja. Kamu bisa sambil makan atau minum. Atau terserah kamu mau ngapain," lanjut Citra lagi, lalu tampak bersiap-siap dengan kameranya.


Terus terang, Bagio agak merasa enggan dengan arahan Citra itu.


Karena yang sebenarnya, Bagio memang tidak terlalu memperdulikan tentang kamera yang dipegang Citra, ataupun hasil dari fotonya.


Bagio malah ingin agar waktu mereka sekarang ini, bisa jadi kesempatan untuk Bagio, memuaskan matanya untuk menatap Citra.


Tapi Bagio tetap menurut saja, agar cepat selesai, dan memuaskan keinginan Citra untuk mengambil fotonya, sebanyak yang Citra mau.


"Hmm ... Bagio! Apa kamu mau coba belajar caranya memotret?" tanya Citra tiba-tiba, sambil meletakkan kameranya ke sampingnya.


"Seandainya nanti kamu bosan bekerja menjadi model, kalau kamu bisa memotret, maka kamu bisa jadi fotografernya," lanjut Citra.


"Eh ...?" Bagio tidak tahu harus berkata apa, walaupun memang kalau dipikir-pikir, tentu tidak ada ruginya, jika Bagio bisa belajar hal yang lain. Karena dengan begitu, Bagio nanti jadi serba bisa.


Tapi, apa Bagio harus mendaftar kursus?

__ADS_1


"Kalau kamu mau, aku bisa mengajarimu. Setiap kali kamu ada waktu, kamu bisa datang ke sini," kata Citra, yang lagi-lagi, dia seolah-olah bisa membaca pikiran Bagio.


__ADS_2