Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 66


__ADS_3

Dengan kesepakatan bersama, uji coba untuk membuktikan, bahwa Bagio tidak mengingat mimpi buruknya, karena adanya Sucitra yang tidur di sampingnya, kemudian dilakukan.


Jika semalam Bagio yang memakai selimut, kali ini situasinya dibalik.


Sucitra memakai selimut yang menutup sampai ke bagian perutnya, dan Bagio tidur disampingnya dengan menindih selimut itu.


Akan tetapi, walaupun mereka berdua tidak bersentuhan secara langsung, Bagio tetap merasa tidak enak, karena harus berbaring sedekat itu dengan Sucitra.


Sampai-sampai, Bagio malah tidak bisa langsung tertidur, dan terpikir untuk mengajak Sucitra berbincang-bincang saja dulu.


"Sucitra! ... Apa kamu ada saran, biar aku bisa cepat menurunkan berat badanku?" tanya Bagio, membuka percakapan.


"Hmm ... Nggak ada yang bisa melakukannya. Mau nggak mau, kamu memang harus sabar," jawab Sucitra.


"Kalau kamu disuruh memilih, apa kamu memilih nggak makan, atau kamu makan tapi dimuntahkan lagi?" tanya Bagio.


"Plak!" Secepat kilat, telapak tangan Sucitra mendarat di dahi Bagio, tanpa Bagio sempat menghindarinya lagi.


"Aduh!" Bagio meringis kesakitan.


"Jangan macam-macam! ... Apa kamu sempat memikirkan, untuk menurunkan berat badanmu memakai cara-cara itu? Kamu pasti sudah gila," ujar Sucitra.


Sambil mendengarkan Sucitra berbicara, Bagio mengusap-usap dahinya yang terasa pedih.


"Kalau mau mengurangi porsi makan, itu masih boleh saja," kata Sucitra.


"Biar aku cuma makan sedikit, tapi makanan di set, rata-rata makanan cepat saji. Goreng-gorengan, atau roti," sahut Bagio.


"Ckckck! ... Apa gunanya manajermu itu? Minta dia yang pergi keluar, belikan makanan yang lain," ujar Sucitra.


"Hana kelihatannya takut meninggalkanku di set. Gara-gara aku yang masih belum normal," kata Bagio beralasan.


"Kalau begitu, besok nanti aku kasih kontak rumah makan, yang jadi tempat biasanya aku memesan makananku. Pesan makanan di situ saja nanti," sahut Sucitra.


"Sekarang kamu tidur saja! Jangan memikirkan yang aneh-aneh! Aku mengantuk," lanjut Sucitra lagi.


Sucitra lalu memiringkan badannya menghadap ke arah Bagio, dan meletakkan sebelah tangannya ke atas dada Bagio, seperti sedang memeluk Bagio di situ.


Rasanya belum berapa lama, Sucitra memposisikan badannya seperti itu, suara nafas Sucitra terdengar sudah pelan dan teratur.


Mungkin sekarang ini Sucitra sudah tertidur, sedangkan Bagio masih belum mengantuk.


Bagio menoleh ke arah Sucitra di sampingnya, dan tampaknya memang benar dugaan Bagio, kalau Sucitra memang sudah pergi ke alam mimpi.


Dengan rasa tidak percaya, Bagio memandangi wajah Sucitra yang tampak tenang, seolah-olah tidak ada yang perlu dia khawatirkan.


Apa Sucitra tidak takut, kalau Bagio memanfaatkan kelengahannya itu?


Tapi rasanya Sucitra memang tidak ada rasa takutnya, karena Sucitra justru sempat mengajak Bagio, untuk mencoba 'hal' baru waktu itu.


Dari jarak sedekat itu, dengan sedikit cahaya lampu dari luar kamar, yang merambat masuk dari kaca jendela yang lupa ditutup gordennya, Bagio masih bisa melihat dengan jelas setiap bagian dari wajah Sucitra.


Kalau Bagio tidak berpacaran dengan Citra, apa mungkin kalau Bagio malah berpacaran dengan Sucitra?


Atau hanya seperti sekarang ini saja? Sebatas teman dekat, yang bisa berbagi segala sesuatunya.


Karena selain pembahasan tentang pekerjaannya, Sucitra tidak pernah bercerita kalau dia punya pacar atau tidak.


Sucitra juga tidak pernah memberitahu Bagio, kalau dia tertarik kepada Bagio, dalam artian seperti ketertarikan antara perempuan dan laki-laki. 

__ADS_1


Lama kelamaan, Bagio yang memandangi Sucitra, akhirnya ikut tertidur, dan tidak ingat apa-apa lagi.


***


Ketika Bagio terbangun dan membuka matanya, kelihatannya masih terlalu pagi, karena belum ada cahaya matahari yang terlihat di luar jendela.


Kelihatannya, Sucitra masih tertidur sambil memeluk Bagio, yang sekarang ini sama-sama sudah berada di bawah selimut. 


Astaga! 


Bagio menyadari kalau kulit kali Sucitra, kini bersentuhan langsung dengan kulit kaki Bagio, yang hanya memakai celana pendek.


Bukan hanya itu saja, yang mempengaruhi detak jantung Bagio yang sekarang mulai meningkat tajam. 


 


Wajah Sucitra menempel di dekat leher Bagio, hingga hembusan nafas wanita itu, seperti sedang menggelitik leher Bagio sekarang ini.


Memang situasi yang rawan konflik, jika laki-laki dan perempuan tidur di atas satu tempat tidur yang sama.


Walaupun sesuatu dari miliknya sudah mulai menegang keras, tapi Bagio tidak mau memanfaatkan situasi yang bisa merugikan Sucitra.


Perlahan-lahan, Bagio menggeser tangan Sucitra yang berada di atas dadanya, kemudian Bagio bergeser agar badannya bisa sedikit menjauh, dan tidak bersentuhan langsung dengan Sucitra.


Bagio lalu meraba-raba ponselnya, yang seingatnya dia letakkan di atas meja laci kecil di dekat tempat tidurnya itu.


Dengan melihat tampilan di layar ponselnya, Bagio jadi tahu, kalau sekarang masih jam dua lewat beberapa menit.


Jika Bagio keluar dan pergi mandi sekarang, maka nanti siang, bisa-bisa Bagio mengantuk di tempat kerjanya, karena kurang tidur.


Bagio kemudian kembali memejamkan matanya, sambil berharap agar dia bisa melanjutkan tidurnya.


***


"Sudah pagi. Apa kamu nggak bekerja hari ini?" Sucitra terlihat sudah turun dari tempat tidur, dan berdiri di dekat situ, sambil melilitkan handuk di badannya.


Buru-buru Bagio bangkit dari tempat tidurnya, lalu melihat jam di dinding.


Bagio bisa bernafas lega, karena dia tidak kesiangan, karena sekarang masih jam setengah enam pagi.


"Aku ada jadwal pagi hari ini," kata Sucitra. "Mau pergi sama-sama ke kamar mandi?" 


"Iya," sahut Bagio, sambil beranjak turun dari tempat tidur, dan menarik handuknya, lalu berjalan menyusul Sucitra.


"Aku nggak ingat, kalau kamu mengigau atau nggaknya tadi malam," celetuk Sucitra, saat dirinya dan Bagio berjalan menuruni tangga.


"Apa kamu ingat kalau kamu ada bermimpi?" tanya Sucitra.


"Nggak," kata Bagio, yang tiba-tiba teringat akan bagaimana dia harus menahan diri, agar tidak menyiksa Sucitra malam tadi.


"Kenapa muka mu memérah?" tanya Sucitra, dengan memasang raut wajah kebingungan.


"Nggak apa-apa," sahut Bagio.


Untung saja, mereka sudah tiba di depan kamanr mandi, dengan begitu, Bagio bisa buru-buru masuk ke dalam sana, dan Sucitra tidak sempat bertanya lebih banyak lagi. 


Karena Bagio tidak mungkin menceritakan kepada Sucitra, kalau Bagio tiba-tiba merasa malu, karena mengingat senjatanya yang siap berperang malam tadi.


Tapi....

__ADS_1


Kalau mendengar kata Sucitra, kemungkinan besar, Bagio malam tadi memang tidak bermimpi buruk, karena Bagio juga tidak ingat apa-apa tentang hal itu.


Apakah karena Sucitra? Atau karena latihan yoga yang dilakukannya?


Entah karena apa, Bagio tidak terlalu mau memikirkan alasannya, yang penting, Bagio sudah tidak lagi merasa kelelahan di pagi hari.


Bagio tidak terlalu perduli, jika dia memang harus memanfaatkan Sucitra, untuk menghilangkan mimpi buruknya.


Karena kalau begini terus, maka keadaan mental Bagio mungkin akan semakin membaik, dan tinggal rasa cemasnya saja yang harus bisa dia atasi. 


Mau tidak mau, Bagio memang harus bersikap egois, dan memakai segala cara yang bisa dia pergunakan, agar dia bisa tetap menjadi orang yang normal.


Karena Bagio tidak mau, kalau dia sampai harus dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, seperti yang dibilang oleh salah seorang penata gaya, ketika Bagio sedang berada di salah satu lokasi pemotretannya waktu itu.


***


"Obat-obatan yang diresepkan belakangan, kelihatannya memang cocok untukmu," celetuk Hana, ketika Bagio baru saja beristirahat dari sesi pemotretan pertama, dan digantikan oleh model yang lain.


Bagio terdiam sebentar sambil memikirkan perkataan Hana itu.


Obat-obatan yang diberikan oleh psikiater, untuk dikonsumsi oleh Bagio beberapa hari yang lalu, menurut Bagio, kelihatannya bentuk dan warna obatnya, memang berbeda dari yang biasanya.


"Memangnya kenapa?" tanya Bagio.


"Mukamu ... Dua hari ini terlihat lebih segar dari biasanya. Kemarin kamu juga nggak ada shock, kan?!" ujar Hana.


"Oh, iya ... Aku lupa beritahu kamu kemarin, hari ini kamu diminta datang ke kantor polisi. Dengar-dengar, keluarga pak Harto—ayah Sarimunah—meminta agar bisa berdamai saja denganmu....


... Pak Harto sudah menyadari kesalahannya, dan ingin meminta maaf kepadamu. Terserah kamu mau berdamai atau nggaknya, karena proses hukumnya tetap berjalan," kata Hana.


"Bukannya kalau berdamai, dia bisa langsung bebas dari penjara?" tanya Bagio.


"Nggak bisa langsung begitu ... Karena yang membuat laporan adalah pak Sudirman—Ketua RW," jawab Hana.


Bagio yang tidak terlalu berminat untuk membahas tentang ayah Sarimunah, yang hanya akan membuatnya merasa kesal, lalu mengalihkan pembicaraan, dengan berkata,


"Hana! ... Tadi ada nomor kontak warung makan yang diberikan Sucitra, katanya makanan yang dijual di situ, tidak tinggi kalori."


"Ooh! ... Jadi kamu sudah berbicara lagi dengannya?" tanya Hana, sambil memeriksa ponsel Bagio.


"Iya ... Dia sudah kembali dari luar kota kemarin dulu," jawab Bagio.


Hana tiba-tiba menatap Bagio lekat-lekat. "Apa kita sedang membicarakan orang yang sama?"


"Eh! ... Maksudmu?" Bagio balik bertanya. 


"Citra ... Kemarin siang dia menghubungiku, katanya dia ingin berbicara lagi denganmu. Apa dia sudah menghubungimu tadi malam?" Hana terlihat bingung.


Setelah mendengar kata Hana, barulah Bagio mengerti, kalau mereka tampaknya sudah saling salah paham.


"Oh, lain! ... Aku belum mau bicara dengan Citra. Yang aku bilang tadi, itu Sucitra. Dia teman sekamarku di Dorm," sahut Bagio.


Hana lalu manggut-manggut mengerti. "Aku kira kamu mengkhayal. Kamu sempat membuatku merasa takut."


"Hana! ... Apa memang benar, kalau aku nggak ada perubahan? Maka aku mungkin akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa?" tanya Bagio, pelan.


"Kamu jangan memikirkan hal seperti itu! ... Kamu harus yakin, kalau kamu pasti bisa sembuh. Buktinya, dua hari ini kamu sudah kelihatan membaik," kata Hana.


 

__ADS_1


__ADS_2