
Kata Sucitra bir itu enak.
Enak dari mananya?
Minuman itu pahit, seperti jamu yang tidak ada campuran air gula merahnya.
Bagio sama sekali tidak tertarik untuk terus meminum cairan bir, yang diberikan oleh Sucitra itu kepadanya.
Tapi, Sucitra seolah-olah menunggu Bagio agar tetap meminumnya, dengan terus menatap Bagio lekat-lekat.
"Kenapa kamu nggak minum?" tanya Sucitra.
"Rasanya pahit," jawab Bagio.
"Pffftt ...! Kamu lucu dan pintar berakting! Apa kamu memang seperti ini? Atau kamu hanya berpura-pura lugu saja?" ujar Sucitra, sambil tertawa.
"Aku dulunya tinggal di kampung. Aku pindah ke sini, belum sampai dua bulan. Selama di kampung, aku memang nggak pernah minum minuman seperti ini," sahut Bagio.
Sucitra lalu tampak tersentak.
"Kok bisa? Bagaimana ceritanya?" tanya Sucitra.
Bagio lalu menceritakan kepada Sucitra, tentang kebetulan demi kebetulan yang dia alami, hingga akhirnya dia bisa bekerja menjadi model di agensi Madam Sally itu.
Sucitra tampak terkagum-kagum, atau mungkin terheran-heran, mendengarkan cerita Bagio, sambil menatap Bagio, hingga seolah-olah dia lupa akan caranya berkedip.
"Ternyata begitu, ya?!" Sucitra mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku kira kamu tadi hanya menipuku, dengan berpura-pura bodoh. Jadi aku juga mau ikut-ikutan, dalam permainanmu ... Maafkan aku. Aku benar-benar telah salah menduga," ujar Sucitra.
"Nggak apa-apa. Wajar saja, karena kamu nggak tahu. Karena kita juga yang baru saja berkenalan," sahut Bagio.
"Diminum birnya! ... Rasanya memang pahit, karena kamu nggak terbiasa saja. Nggak perlu kamu merasa terlalu takut, karena ada alkoholnya," ujar Sucitra enteng.
Sucitra lalu terlihat meminum birnya sedikit, lalu kembali berkata,
"Kalau kamu minumnya bertanggung jawab, dan bukan untuk mabuk-mabukan, alkohol itu justru bagus untuk kesehatan....
... Nggak percaya? Coba saja kamu Googling! Ada ponsel, kan?!"
Bagio menganggukkan kepalanya. "Ada."
"Tunggu sebentar! Aku baru ingat sesuatu...." Sucitra kemudian berdiri dari tempat duduknya lagi, lalu menyodorkan ponselnya, dengan layarnya yang menyala, kepada Bagio.
"Bagi nomor ponselmu!" kata Sucitra, seolah-olah sedang memberi perintah.
Bagio lalu mengetikkan nomor ponselnya, di ponsel milik Sucitra itu.
Dan setelah Bagio menyerahkan kembali ponsel Sucitra kepada pemiliknya, Sucitra lalu terlihat mengetikkan sesuatu di sana.
Tidak berapa lama, ponsel Bagio yang tadinya dia simpan di dalam laci, mengeluarkan suara nada deringnya.
Bagio lalu mengambil ponselnya, dan melihat, tampilan di layarnya.
"Itu nomorku! Disimpan! Mana tahu kita nanti saling membutuhkan," kata Sucitra, yang sudah kembali duduk di dekat jendela.
"Sudah hampir jam setengah satu, ke mana mereka yang lain?" tanya Sucitra.
Menurut Bagio, mungkin maksud dari Sucitra adalah rekan sekamar mereka, Juno dan yang satunya lagi, yang masih belum diketahui oleh Bagio, siapa namanya.
"Aku juga nggak tahu. Mereka memang nggak tentu jam kembalinya," jawab Bagio.
__ADS_1
Karena sudah tidak tertahankan lagi, Bagio lalu menguap, kemudian meletakkan kaleng bir ke atas meja kecil yang ada di dekat Sucitra.
"Maafkan aku ... Tapi, aku benar-benar mengantuk," kata Bagio.
"Okay! Kalau kamu mau mematikan lampu, matikan saja!" ujar Sucitra.
"Kamu belum ngantuk?" tanya Bagio.
"Belum. Aku masih jet lag," jawab Sucitra.
Walaupun Bagio sudah berbaring di atas tempat tidurnya, tapi jawaban dari Sucitra barusan, masih membuatnya penasaran akan artinya.
"Apa itu jet lag?" tanya Bagio, sambil menarik selimut hingga menutupi separuh badannya.
"Aku baru datang dari Amrik, selisih waktunya mengganggu jam tidurku. Tidur saja duluan! Nanti juga aku pasti bisa tidur," kata Sucitra.
***
Ketika Bagio terbangun di keesokan paginya, di dalam kamar hanya ada dirinya sendiri.
Baik Sucitra maupun dua rekan sekamar Bagio yang lain, tidak ada yang terlihat di dalam sana.
Tapi Bagio tidak terlalu mau memikirkannya.
Karena yang lebih penting, Bagio tahu kalau dia harus bekerja sejak pagi lagi hari ini, tapi rasa badannya seakan-akan remuk redam.
Dengan rasa enggan, Bagio memaksakan diri untuk pergi mandi dan bersiap-siap, sebelum Hana datang menjemputnya.
Setelah Bagio selesai mandi, dan kembali ke kamarnya, barulah dia melihat Sucitra yang sudah berada di dalam kamar itu.
Untuk sesaat, Bagio sempat bertatap-tatapan dengan Sucitra yang berbalik, melihat kedatangan Bagio yang membuka pintu.
Tapi....
Pintu kamar lalu dibuka Sucitra dari dalam, dan seolah-olah wanita itu memang merasa tidak perduli, Sucitra lalu berkata,
"Masuk saja! Nggak apa-apa. Kalau kamu menungguku, bisa-bisa kamu terlambat."
Masuk atau tidak?
Bagio memang kebingungan, untuk menentukan pilihannya.
Karena Bagio memang terburu-buru, tapi Sucitra hanya memakai segitiga pengaman, tanpa ada helaian kain yang lain.
Apa mungkin Bagio bisa bertingkah dengan santainya, saat bersama-sama di dalam kamar, dengan Sucitra yang berpenampilan seperti itu?
Tentu rasanya tidak pantas, kan?! Jika Bagio ikut masuk ke dalam kamar.
"Masuk saja! Kamu akan membuat orang lain jadi salah paham, kalau kamu tetap berdiri di luar," kata Sucitra
Seolah-olah tidak terbeban sama sekali, walaupun sebagian besar tubuhnya terekspos, Sucitra masih berdiri di dekat situ, dan membiarkan pintu kamar tetap terbuka.
Bagio merasa ragu untuk melangkah masuk, namun dari arah tangga, terdengar suara dari penghuni Dorm yang lain, yang mendekat ke arahnya.
Daripada nanti semua orang melihat Sucitra yang seperti itu, Bagio akhirnya masuk ke dalam kamar, dan Sucitra lalu menutup pintunya.
Tanpa mau melihat ke arah Sucitra lagi, Bagio buru-buru mencari bajunya yang akan dia pakai, dari dalam lemari.
"Pffftt ...!" Terdengar suara Sucitra yang tertawa tertahan di dekat Bagio.
"Apa kamu belum terbiasa, melihat perempuan yang setengah telanjang?" tanya Sucitra.
__ADS_1
"Iya," jawab Bagio singkat, tanpa mau menoleh ke arah Sucitra.
"Kamu harus membiasakan diri! Kalau kamu nanti ikut peragaan busana, yaa, seperti aku ini tampilan model-modelnya di backstage," kata Sucitra, terdengar tanpa beban.
Bagio tidak menanggapi perkataan Sucitra, dan lanjut berpakaian, setelah dia menemukan baju yang ingin dia pakai.
"Hey!" Sucitra menarik Bagio, agar berbalik melihatnya.
"Lebih baik kamu biasakan diri, dengan melihatku, daripada nanti kalau kamu sedang bekerja, lalu kamu tidak bisa mengendalikan dirimu," kata Sucitra.
Bagio memang berbalik, tapi dia memalingkan wajahnya, agar tidak melihat Sucitra.
"Ckckck! ... Lihat ke sini! Nggak apa-apa. Asal kamu nggak menyentuhnya saja," kata Sucitra lagi, terdengar memaksa.
Sucitra memegang kedua sisi wajah Bagio, dengan kedua tangannya, lalu membuat kepala Bagio jadi lurus, menghadap kepadanya.
Namun Bagio segera memejamkan matanya.
"Kalau kamu nggak mau melihatku, aku nanti berbuat lebih jauh!" kata Sucitra, mengancam Bagio.
Bagio kemudian bisa merasakan, kalau ada yang meraba bagian perutnya, dan seolah-olah sedang bergerak pelan, turun ke arah celananya.
Dengan cepat, Bagio membuka matanya dan menahan tangan Sucitra yang menyentuhnya.
"Jangan...!" ujar Bagio, dengan suara memelas.
Jangan lama-lama!
Eits! Tidak begitu loh, ya?!
Bagio bersungguh-sungguh menolak Sucitra.
Karena bisa-bisa, hanya gara-gara tangan Sucitra yang nakal, lalu Bagio yang diomeli oleh Hana, kalau Bagio sampai terlambat.
"Nah! Gitu, dong!" ujar Sucitra, sambil tersenyum lebar, setelah melihat Bagio yang sudah membuka matanya.
"Kamu harus terbiasa melihatku. Karena nanti, kamu pasti akan sering-sering melihatku seperti ini. Jadi kamu tidak terpengaruh lagi nantinya," lanjut Sucitra.
Sucitra yang menahan kedua tangan Bagio dengan kedua tangannya, lalu mengangguk pelan, seolah-olah dia sedang menyuruh Bagio untuk segera memandanginya.
Penglihatan Bagio kemudian menyapu kulit Sucitra yang mulus, dari jarak terdekat saat itu.
Mulai dari bagian wajah Sucitra yang cantik dan bergaris tegas.
Sepasang mata milik Sucitra berukuran sedang, dengan lingkaran hitam di tengah-tengah bola matanya yang putih, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang kecil dan tipis.
Bagian leher Sucitra yang jenjang dan mulus, disanggah dengan tulang selangkanya yang menonjol.
Lalu, dua bukit kembar Sucitra yang terlihat kencang menantang, dengan puncaknya yang berwarna coklat muda kemerahan, dan kelihatannya, memang akan pas ukurannya, jika telapak tangan Bagio memegangnya.
Ehhem!
Lanjut...!
Sucitra juga memiliki perut yang rata, dengan pusarnya yang seperti lubang sumur kecil dan dalam, yang tidak terlihat dasarnya di situ.
Segitiga pengaman yang dipakai oleh Sucitra pun, hanya menutupi sebagian kecil area sensitifnya, hingga memperlihatkan dengan jelas, sela paha dari kedua kakinya yang jenjang.
Detak jantung Bagio meningkat tajam, hingga rasanya, nafasnya pun akan ikut memburu.
Astaga!
__ADS_1
Apa mungkin, Bagio akan terbiasa melihatnya?