
Kelihatannya, Bagio memang masih akan terus merasa kesulitan dalam pekerjaannya.
Ketika di lokasi pemotretan yang kedua, karena irama sesi pemotretan yang cepat di tempat itu, semua orang pun sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Dengan demikian, tidak ada satu orang pun yang bekerja di tempat itu, yang bisa mengendalikan diri, untuk menjaga jarak dari Bagio.
Sedangkan setiap kali Bagio tersentak, energi ditubuhnya, seolah-olah tersedot ke tanah, hingga Bagio benar-benar merasa kelelahan.
Dan efek yang terburuk dari kegelisahannya itu, Bagio sudah mulai merasa kalau kepalanya sakit, dan begitu juga bagian yang terluka di perutnya.
Bagaimana Bagio bisa bekerja dengan maksimal, jika kondisinya seperti sekarang ini?
Citra juga kelihatannya memang mengkhawatirkan tentang kondisi Bagio, dan sengaja berniat untuk memantaunya.
Sejak kedatangan Citra di lokasi pemotretan Bagio yang pertama, hingga sekarang ini, saat Bagio sudah berpindah tempat menyesuaikan jadwalnya, Citra masih menyusul Bagio di sana.
Citra bahkan tampak seolah-olah tidak mau mengalihkan pandangannya, dari setiap gerak-gerik Bagio, di lokasi pengambilan gambar.
***
"G*blok! Ada apa denganmu? Apa kamu nggak tahu caranya berekspresi? Bagaimana kamu bisa jadi model? ... Benar-benar cuma modal tampang doang, tapi t*lolnya luar biasa! Menjengkelkan!"
Suara bernada tinggi dan menyentak, dari mulut fotografer yang mengambil gambar Bagio, menggema di dalam ruangan tertutup, yang menjadi lokasi pemotretan.
"Maafkan aku," ucap Bagio, pelan, sambil menundukkan kepalanya.
Citra yang masih menemani Bagio, sambil duduk dengan jarak yang tidak jauh dari set, tiba-tiba berdiri dan menghampiri fotografer laki-laki, yang tampaknya berusia kurang lebih sama, atau mungkin lebih tua sedikit dari Bagio.
"Menurutmu, kalau kamu memaki modelmu seperti itu, apakah modelnya pasti akan jadi lebih baik?" tanya Citra, kepada fotografer itu.
Saat itu juga, fotografer itu, seolah-olah akan memarahi Citra, tapi seseorang yang ada di dekatnya, yang mungkin adalah asistennya, terlihat segera membisikkan sesuatu di telinganya, hingga membuat fotografer itu tampak menahan diri.
Setelah asistennya berhenti berbisik-bisik, raut wajah dari fotografer itu, kemudian terlihat berubah drastis, dan terlihat sedikit lebih tenang, lalu berkata,
"Miss Field ... Apa kamu tidak lihat, bagaimana dia—Bagio—saat ini?"
"Iya, aku melihatnya. Wajar saja, kalau kamu merasa marah. Tapi apa memang perlu? Sampai-sampai kamu harus mengatakan kata-kata kasar, untuk memakinya?" kata Citra.
Fotografer itu kemudian terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia menatap Bagio, lalu berkata,
"Apa kamu perlu waktu istirahat sebentar?"
Bagio kemudian melihat ke arah Citra, lalu kembali melihat ke arah si fotografer.
"Kalau bisa, aku memang butuh waktu sebentar untuk pergi ke toilet," kata Bagio, ragu-ragu.
"Okay! ... Kita break sepuluh menit!" kata fotografer, memberikan kesempatan kepada semua orang di situ, untuk beristirahat.
Bagio lalu memberi tanda kepada Citra, agar bisa ikut dengannya, menjauh dari set pengambilan gambar.
"Terima kasih sudah membantuku!" kata Bagio, sambil berjalan bersama Citra.
"Nggak apa-apa. Kamu nggak perlu memikirkannya," sahut Citra.
"Aku nggak mungkin membiarkanmu dimaki-maki seperti itu, sedangkan aku tahu bagaimana kondisimu," lanjut Citra lagi.
__ADS_1
Bukan hanya Citra saja yang berjalan pergi bersama Bagio. Hana juga terlihat menyusul Bagio yang berjalan ke arah toilet, yang ada di dekat situ.
Tidak sampai masuk ke dalam toilet, Bagio, Citra dan Hana, hanya berdiri di depan pintu toilet itu saja.
"Aku sangat lelah. Luka dan kepalaku juga rasanya sakit," kata Bagio, mengeluhkan apa saja yang membuatnya merasa tidak nyaman, hingga dia tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja.
"Jadi apa kamu masih mau lanjut bekerja? Atau mau berhenti saja dulu?" tanya Citra.
Bagio tidak bisa segera menjawab pertanyaan Citra, dan hanya terdiam untuk beberapa waktu lamanya.
Tidak. Bagio tidak mungkin membatalkan kontraknya lagi, sementara sekarang ini, dia seharusnya sudah bisa bekerja seperti biasa.
"Aku mau lanjut saja," kata Bagio, setelah menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.
Hana lalu mengeluarkan bungkusan obat pereda nyeri dari dalam tasnya, kemudian memberikannya kepada Bagio.
"Kamu coba minum obat ini saja dulu! Nanti aku uruskan janji temu dengan dokter," kata Hana.
Bagio lalu menganggukkan kepalanya, lalu berjalan kembali mendekat ke set pemotretan.
Dengan sedikit air mineral botolan, Bagio menelan obat yang diberikan oleh Hana kepadanya tadi.
Setelah meminum obat pereda nyeri, Bagio memang bisa merasa sedikit lebih baik, namun ada masalah baru lagi yang timbul.
Karena efek dari obat itu, bukan hanya menghilangkan rasa sakitnya, dan membuat Bagio merasa sedikit lebih tenang saja, melainkan juga ikut membuat Bagio jadi mengantuk.
Tapi karena Citra dan Hana, yang tampak tidak berhenti menyemangati Bagio, akhirnya, sampai pengambilan gambar di tempat itu selesai, Bagio masih bisa bertahan.
***
Setelah jadwal kerja Bagio usai, Hana tidak mengantarkan Bagio kembali ke Dorm, melainkan Citra yang membawa Bagio pergi dari lokasi kerjanya.
Katanya tadi, Hana akan pergi ke rumah sakit dan mencoba mengatur janji temu, agar Bagio bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu dokter, di jam kosong Bagio besok.
"Terserah saja," jawab Bagio asal, karena dia yang lebih memikirkan matanya yang mengantuk, daripada perutnya yang lapar.
"Hmm ... Mau makan soto?" tanya Citra.
"Iya," jawab Bagio singkat.
Citra tampak melirik Bagio sebentar, lalu kembali menatap lurus ke jalanan di depannya.
Tidak berapa lama, Citra memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah makan, yang tampak ramai dengan pengunjung.
Sebenarnya Bagio merasa enggan untuk singgah di tempat itu, dan jika dia bisa berterus terang kepada Citra, Bagio lebih suka untuk segera kembali ke Dorm.
Tapi Bagio tidak mau merepotkan Citra, atau mungkin Bagio hanya akan mengecewakan Citra, kalau Bagio menolak keinginannya.
Walaupun dengan rasa terpaksa, Bagio beranjak turun dari mobil, dan ikut masuk ke dalam rumah makan bersama Citra, yang segera memilih tempat duduk yang kosong.
"Kalau kamu kesulitan untuk terus jadi model, apa kamu bekerja jadi asistenku?" tanya Citra.
"Eh ...?" Bagio terkejut dengan pertanyaan Citra yang tiba-tiba seperti itu.
"Kalau bekerja denganku, kamu nggak perlu terlalu memaksakan diri. Juga nggak ada jadwal kerja yang ketat, seperti pekerjaanmu sekarang ini," kata Citra, menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
"Hmm ... Bukannya aku nggak mau. Tapi kontrak kerja di agensi, mengharuskan agar aku tetap bekerja selama satu tahun," sahut Bagio.
"Kalau cuma itu, aku bisa mengurusnya, dengan meminta bantuan dari ibuku." Tampaknya, Citra memang tidak kehabisan akal.
"Nggak usah. Kamu sudah banyak membantuku. Aku nggak mau terus-terusan merepotkanmu," sahut Bagio.
"Hmm ... Kamu pikir-pikir saja dulu...! Nggak perlu buru-buru menjawabnya sekarang," kata Citra.
***
Tanpa singgah di mana-mana lagi, Citra segera mengantarkan Bagio ke Dorm, setelah mereka berdua selesai makan malam.
Dan sebelum Citra pergi dari Dorm, Citra masih berpesan, agar Bagio bisa menghubunginya kapan saja, kalau Bagio memang membutuhkannya.
Di dalam kamarnya yang terlihat lengang tanpa ada penghuninya yang lain, Bagio lebih memilih untuk segera berbaring di atas tempat tidurnya, tanpa mau pergi membersihkan dirinya lagi.
Tapi setelah dia berbaring, Bagio justru tidak bisa tidur, hingga akhirnya dia hanya melihat-lihat tampilan layar ponselnya saja.
Terlihat di sana, kalau ada pesan masuk dari nomor kontak tidak dikenal, dan Bagio kemudian melihat isinya.
Pesan itu ternyata dari Kartono, yang mungkin meminjam ponsel milik seseorang di kampung, agar bisa mengirim pesan untuk Bagio.
Isi dari pesan itu memberitahu Bagio, bahwa uang yang diberikan oleh Bagio waktu itu, hanya bisa dipakai untuk membayar empat kali setoran.
Yang jadi penyebabnya, adalah karena adanya bunga denda, akibat lambatnya pembayaran yang melewati tanggal jatuh tempo.
Dengan demikian, masih ada satu kali setoran lagi, barulah hutang Bagio di pegadaian itu bisa lunas.
Selain dari itu, pesan singkat dari Kartono juga memberitahu Bagio, akan pesan yang dititipkan oleh Ketua RW kepada Kartono.
Katanya, kemungkinan besar, dalam waktu beberapa hari ini, Bagio akan dipanggil oleh pihak kepolisian, untuk pemeriksaan ulang atas laporan kasus tindak penganiayaan berat, yang dilakukan oleh ayah Sarimunah kepada Bagio.
Setelah membaca pesan Kartono itu, Bagio jadi teringat kata Citra, bahwa ketika Bagio di rumah sakit, Bagio sempat didatangi petugas kepolisian, tapi Bagio waktu itu masih tidak sadarkan diri.
Menurut penuturan Citra, petugas kepolisian hanya mengajukan pertanyaan kepada Citra dan Kartono, lalu mereka pergi dari rumah sakit, setelah beberapa petugas kepolisian itu menemui dokter, yang bertanggung jawab untuk merawat Bagio.
"Kamu sudah pulang."
Sucitra yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar, mengejutkan Bagio, dan membuyarkan pikirannya.
"Baru saja," sahut Bagio.
"Bagaimana? Apa kamu bisa bekerja seperti biasa?" tanya Sucitra, yang kemudian membuka jendela kamar lebar-lebar, lalu duduk di dekat situ, sambil menyalakan sebatang rokok.
"Aku hampir nggak bisa bekerja," kata Bagio, yang hampir seperti orang yang sedang menggerutu, karena merasa kesal dengan dirinya sendiri.
"Kenapa? Apa lukamu terasa sakit?" tanya Sucitra.
"Bukan. Aku kesulitan berkonsentrasi," jawab Bagio.
"Sudah kuduga," ujar Sucitra.
__ADS_1