
Bagio bangun pagi itu, dengan rasa sakit di kepalanya, dan sekujur tubuhnya yang terasa remuk redam.
Kecemasan, dan rasa lelah yang berlebihan, membuat tidur Bagio semalam, jadi tak lena.
Malam tadi, ketika Andi kembali ke kamar Dirga, Andi tidak datang sendirian, melainkan bersama beberapa orang yang mengikutinya.
Andi memberi perintah kepada beberapa orang laki-laki yang datang bersamanya itu, untuk segera mengangkat tubuh Dirga, dan membawanya keluar dari Dorm.
Menurut Andi, Dirga akan segera dilarikan ke rumah sakit, dan Bagio tidak perlu ikut, karena Andi yang akan mengurus Dirga di rumah sakit nanti.
Andi menyuruh Bagio untuk beristirahat saja di Dorm, karena Bagio masih harus bekerja lagi nantinya, dan Andi tidak bisa mengambil resiko, jika jadwal kerja Bagio jadi kacau karena membantu mengurus Dirga.
Dengan begitu, walaupun Bagio ingin ikut ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Dirga, namun Bagio tidak bisa melawan arahan dari Andi.
Ketika Dirga sudah dibawa pergi dari Dorm, saat itu, Bagio juga kembali ke kamarnya.
Tapi ujung-ujungnya, Bagio tidak berisitirahat dengan baik, sampai hari sudah menembus ke paginya lagi.
Masih ada sedikit rasa pusing di kepalanya, ketika Bagio memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidurnya, dan beranjak pergi ke kamar mandi.
***
"Ada apa lagi denganmu hari ini? Jangan bilang, kalau kamu terlalu asyik bermain ponsel!"
Dari raut wajah, nada suara, dan kata-katanya, Hana tampaknya kesal saat melihat kondisi wajah Bagio, ketika Bagio masuk ke dalam mobil bersamanya.
"Maaf ... Aku kurang tidur. Dirga—" Bagio behenti bicara sebentar, sambil menatap Hana, untuk melihat reaksi wanita itu.
"... Kamu tahu Dirga?" lanjut Bagio.
"Hmm ... Aku rasa aku tahu yang mana dia itu. Tapi apa hubungannya dengan tidurmu? Memangnya kamu sibuk pacaran dengannya semalaman?" ujar Hana ketus.
"Hana ...!" Bagio menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lah! Terus apa?" tanya Hana yang masih terlihat kesal.
"Aku mencemaskan Dirga yang dibawa ke rumah sakit. Saat aku menemukannya di dalam kamarnya, dia nggak sadarkan diri. Dan kelihatannya, kondisinya cukup buruk," jawab Bagio menjelaskan.
Hana akhirnya terdiam untuk beberapa waktu lamanya, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu, atau menyesali perkataannya kepada bagio tadi yang cukup kasar.
"Maafkan aku...." Ternyata Hana menyesali akan sikap kasarnya barusan.
"Apa yang terjadi? ... Maksudku, Dirga. Apa yang terjadi dengannya?" tanya Hana yang jadi penasaran.
"Aku juga nggak tahu. Kemarin pagi waktu aku bertemu dengannya, wajahnya seperti habis dipukuli orang. Tapi dia nggak mau bilang ada apa, waktu aku bertanya padanya....
... Karena aku nggak melihatnya lagi, jadi sebelum aku tidur tadi malam, aku pergi mengeceknya di kamarnya," jawab Bagio menjelaskan.
"Lalu siapa yang mengurusnya? Mas Andi?" tanya Hana lagi.
__ADS_1
"Iya. Mas Andi yang membawa Dirga ke rumah sakit," jawab Bagio.
Hana tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu nggak usah cemas. Nanti aku hubungi Mas Andi. Kamu juga bisa pergi menjenguk Dirga, kalau kamu sudah selesai bekerja," ujar Hana.
"Sekarang ini, fokus di pekerjaanmu saja dulu," lanjut Hana.
***
Tidak ada yang istimewa dari jadwal kerja yang pertama untuk Bagio di hari ini.
Selain si penata rias yang cemberut, hingga dagunya mungkin akan terjatuh ke lantai, karena saking sebalnya melihat wajah Bagio.
"Sudah tahu akan difoto close up, e eeh...! Malah begadang. Nggak ada tanggung jawabnya sama sekali!"
"Dikira enak kah, kita yang kerjakan yang begini modelannya?! ... Yang begini-begini, nih! Dugem ... Senang-senang sendiri! Lalu hanya bisa menyusahkan orang lain saja!"
Penata rias yang terus menerus menggerutu, sambil mendandani wajah Bagio, cukup untuk membuat kuping Bagio terasa panas, karena darahnya yang mendidih.
Tapi Bagio tidak mau membuat keributan di lokasi kerjanya itu.
Meskipun sebenarnya, Bagio ingin sekali menarik bibir manyun, sampai terlepas dari wajah penata riasnya yang merengut.
Dengan begitu, Bagio berusaha keras untuk menahan diri, agar gunung berapi berisi lava kemarahannya, tidak meletus saat itu juga.
Bagio juga tidak merasa perlu untuk menjelaskan kepada penata rias itu, tentang apa yang terjadi padanya semalam, sampai kondisi wajah Bagio bisa terlihat buruk hari ini.
Karena rasa lelah dan sedikit mengantuk, Bagio juga hampir terganggu kinerjanya.
Namun untungnya, fotografer yang mengambil gambar Bagio saat itu, tampaknya memang orang yang panjang sabar.
Sehingga Bagio tidak mendapat makian dari sang fotografer, malahan Bagio mendapat bantuan arahan dari fotografer, agar Bagio kembali ke kesadarannya, dan bisa berpose dengan baik.
"Apa ada yang salah?" Fotografer laki-laki, yang tampaknya sudah berusia matang, menghampiri Bagio di tengah-tengah sesi pemotretan.
"Maafkan saya ... Saya kurang tidur semalam," sahut Bagio pelan.
Fotografer itu lalu terlihat manggut-manggut, seolah-olah mengerti dengan keadaan Bagio.
"Bertahan sebentar lagi! Kalau kamu butuh kopi, kita bisa istirahat sebentar," kata fotografer itu.
Dan bukan sekedar asal bicara, fotografer itu memang mengarahkan, agar pemotretan ditunda selama lima belas menit.
Setelah meminum secangkir kopi hitam tanpa ampas, yang diaduk dengan satu sendok teh gula jagung, Bagio jadi siap untuk lanjut bekerja kembali.
Sampai semua sesi pemotretan di lokasi itu berakhir, Bagio tidak mengacaukan pekerjaan di tempat itu lagi.
***
__ADS_1
"Jadwalmu yang selanjutnya, masih tiga jam lagi. Apa kamu mau menjenguk Dirga sekarang? Atau kamu tidur dulu sebentar?"
Hana memberikan pilihan untuk Bagio, setelah mereka berdua kembali ke mobil yang selalu siap menunggu.
"Aku mau tidur saja dulu! Nanti selesai semua pekerjaanku, baru aku ke rumah sakit," sahut Bagio, setelah sempat berpikir untuk beberapa saat.
Bukannya Bagio tidak mau untuk mencari tahu kondisi Dirga secepatnya, tapi Bagio tahu kalau pekerjaannya bisa berlanjut kekacauannya, jika dia tetap memaksakan diri tanpa beristirahat walau sejenak.
"Ya sudah! Tadi, aku juga sudah menghubungi Mas Andi. Dan katanya, kondisi Dirga sudah mulai membaik, walaupun dia masih belum sadarkan diri," kata Hana.
"Jadi sekarang kita kembali ke Dorm?" lanjut Hana.
"Nggak usah ... Kita langsung ke lokasi pemotretan saja. Aku bisa tidur di dalam mobil saja nanti," sahut Bagio.
"Okay! Terserah kamu saja kalau begitu," kata Hana.
Setelah mobil yang di tumpangi oleh Bagio dan Hana mulai berjalan, Bagio mengatur sandaran jok, agar bisa membuat posisi badannya sedikit terlentang.
Dan tidak berapa lama Bagio bersandar dan memejamkan matanya, Bagio sudah tidak ingat apa-apa lagi.
Bagio baru terbangun setelah dia tertidur kurang lebih satu jam di dalam mobil, yang kelihatannya terparkir di dalam pelataran parkiran basement.
Dan, saat itu Bagio hanya sendirian di dalam mobil, batang hidung Hana dan pak supir, tidak terlihat di sana.
Bagio sempat merasa kebingungan, karena dia sama sekali tidak familiar, dengan tempat di mana dia berada sekarang ini.
Teringat kalau nomor ponsel Hana sudah tersimpan di ponselnya, Bagio lalu menghubungi Hana saat itu juga.
"Halo!" sapa Hana dari seberang telepon.
"Halo, Hana! Kamu di mana?" ujar Bagio buru-buru.
"Keluar saja dari mobil, terus belok ke kiri. Nggak jauh dari situ, pas di bagian ujung jalan, ada lift di sebelah kanan....
... Masuk ke dalam situ, lalu tekan nomor tiga," jawab Hana, memberikan arahan.
"Okay!" sahut Bagio, mantap, lalu memutuskan sambungan telepon itu.
Bagio lalu mengikuti arahan dari Hana.
Tapi kelihatannya ada yang salah, setelah Bagio menemukan lift yang dimaksud oleh Hana.
Yang jadi masalahnya, setelah beberapa menit Bagio berdiri di depan situ, pintu lift masih tertutup rapat, dan Bagio tidak tahu cara membukanya.
Bagio akhirnya menghubungi Hana lagi.
"Halo!" sapa Hana.
"Bagaimana cara masuknya? Pintunya tertutup!" ujar Bagio dengan suara meninggi.
__ADS_1
"Apa? ... Pffftt ...! Kalau begitu, kamu tunggu saja di situ sebentar!" sahut Hana, sambil tertawa tertahan, lalu sambungan telepon itu kembali terputus.