Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 27


__ADS_3

Setelah pemotretan di lokasi ke-dua, Bagio segera mengutarakan keinginannya untuk mencoba mengikuti audisi untuk iklan, kepada Hana.


Tanggapan Hana sederhana saja. Kalau Bagio memang maunya begitu, maka dia akan mengosongkan jadwal Bagio di saat hari audisi itu berlangsung.


"Asalkan kamu nggak merasa rugi saja. Karena kalau kamu ikut casting, maka kamu nggak bisa menerima pekerjaan lain di hari itu....


... Proses penyortiran model untuk bintang iklan, bisa menghabiskan waktu dari pagi sampai ke malam. Tanpa kita tahu kapan giliranmu di audisi, mau nggak mau, jadwalmu harus kosong."


Begitu kata Hana menjelaskan kepada Bagio, yang menjadi alasannya, hingga dia tidak terburu-buru mengikutsertakan Bagio di dalam audisi itu.


Hana bahkan memberikan bayangan, kenapa jadwal di hari saat audisi itu berlangsung jadwalnya harus kosong.


"Seandainya kamu memiliki jadwal sore, lalu ternyata giliranmu di audisi malah dapatnya di saat sudah sore itu juga, bagaimana?


... Tentu bisa mengacaukan kontrak, kan? Dan akan jadi lebih merugikanmu. Karena kalau melakukan pembatalan kontrak, kamu harus membayar penalti kepada sponsor yang memberikanmu pekerjaan hari itu."


Perkataan Hana, membuat Bagio benar-benar mengerti apa yang harus jadi pertimbangannya, kalau dia hendak ikut ambil bagian dalam audisi menjadi bintang iklan.


Tapi Bagio tetap memilih untuk melanjutkan rencananya, yang ingin mencoba hal baru, dan Hana pun setuju dengan keputusan Bagio.


Hana hanya memberikan tambahan saran, agar paling tidak, Bagio harus berlatih sendiri, sambil berharap agar Miss Zetty nanti mau memberikan kelas tambahan pada Bagio.


Dengan begitu, setelah semua sesi pemotretan berakhir dan Bagio kembali ke Dorm, sebelum Bagio berolahraga di Gym, Bagio menyempatkan diri untuk mencoba mengulang apa yang pernah diajarkan Miss Zetty, di dalam ruangan khusus yang berdinding cermin.


Bagi orang yang tidak mengerti, maka Bagio yang hanya seorang diri di sana, mungkin akan tampak seperti orang gila yang bicara sendiri, sambil melihat pantulan dirinya di cermin, memperhatikan raut wajah dan gerakannya.


***


Di dalam kamar mandi umum pagi itu, masih sepi dari penghuni yang lain, ketika Bagio melangkah masuk mandi di sana.


Bagio sudah hampir selesai mandi, barulah para model lain terlihat hampir memenuhi tempat itu, termasuk Dirga yang memilih mandi di samping Bagio.


"Makin rajin kamu sekarang," celetuk Dirga, sambil menggosok-gosok badannya di bawah jatuhan air pancuran.


"Nggak juga. Kebetulan saja aku bisa terbangun lebih pagi," sahut Bagio, lalu mematikan air keran. "Aku duluan, Dir!"


"Okay!" sahut Dirga.

__ADS_1


Bagio yang tadinya seperti orang linglung ketika pergi ke kamar mandi, melupakan untuk membawa pakaian gantinya ke sana.


Jadinya, Bagio kembali ke kamarnya di lantai dua, hanya dengan mengenakan handuk, yang dililitkan di perutnya, dan menutup sampai ke bagian lututnya.


Betapa terkejutnya Bagio, ketika dia masuk ke dalam kamarnya, dan hampir bertabrakan dengan salah satu rekan sekamarnya, yang tampak keluar melewati pintu secara terburu-buru.


"Eh! Maaf!" kata rekan sekamar Bagio itu, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang cepat, mengarah ke tangga.


Tumben! Biasanya jam segini, rekan-rekan sekamarnya itu masih pada tidur.


Begitu juga ketika Bagio masuk ke dalam kamarnya, rekan sekamarnya yang satunya lagi terlihat sedang duduk berselonjor di atas salah satu tempat tidur, dengan bertelanjang dada, dan memakai selimut yang menutup sampai ke bagian perutnya.


Ketika Bagio melihat ke arahnya, dan mereka beradu pandangan, Bagio segera mengangguk, menyapa orang itu, walaupun Bagio tidak mengeluarkan ucapan apa-apa.


Salah satu rekan sekamar Bagio yang ada di situ juga melakukan hal yang sama, sampai saat Bagio mengambil pakaian ganti dari dalam lemari, lalu orang itu berkata,


"Kita belum pernah berkenalan, ya?!"


Bagio yang berdiri membelakanginya, lalu berbalik melihatnya, dan berkata, "Iya. Namaku Bagio," memperkenalkan dirinya sendiri lebih dulu.


"Namaku, Juno!" Teman sekamar Bagio itu juga memperkenalkan dirinya sendiri, sambil beranjak turun dari atas tempat tidurnya, dan berjalan seolah-olah akan menghampiri Bagio.


"Kamu dari mana asalnya?" tanya Juno.


Menilai dari asal suara yang didengarnya, menurut Bagio, Juno sekarang sedang berada sangat dekat dengannya, hingga lagi-lagi Bagio akhirnya berbalik untuk memuaskan rasa penasarannya.


Dan benar saja.


Juno yang hanya memakai pakaian dalam yang mirip seperti celana pendek ketat, terlihat sudah duduk di atas tempat tidur yang biasanya dipakai oleh Bagio.


Bagio yang sudah memegang pakaian dalam miliknya, kembali berbalik agar bisa memakai segitiga pengaman itu, tanpa berhadapan dengan Juno.


"Aku dari kampung xxx," jawab Bagio datar.


"Kamu masih malu-malu, kalau bertelanjang di depan orang lain?" tanya Juno.


Bagio yang baru memasukkan segitiga pengamannya di salah satu kakinya, hampir terjatuh karena terkejut, saat handuknya ditarik lepas oleh Juno.

__ADS_1


"Eh!" ujar Bagio setengah berteriak.


Juno seolah-olah tidak merasa bersalah sama sekali, tampak menatap Bagio yang berusaha menutupi sela kedua kakinya dengan tangan.


Bahkan bukan hanya menatap di satu titik di badan Bagio, mata Juno tampak bergerak pelan, menatap Bagio lekat-lekat dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.


"Badanmu bagus! Untuk apa kamu tutupi?" ujar Juno, lalu tampak menggigit bibirnya sendiri.


Seketika itu juga, Bagio merasa seakan-akan ada angin dingin berefek menyeramkan, yang bisa membuat bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak.


Apalagi, saat mata Juno tampak menatap lekat-lekat ke bagian bawah perut Bagio.


Dengan cepat, Bagio memakai pakaian dalamnya sambil berdiri menyamping dari Juno, lalu mengambil handuknya, dan kembali melilitkannya di perutnya.


Bagio yang kebingungan, hanya bisa tetap terdiam, karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa, akan tingkah Juno barusan.


Pintu kamar yang terbuka, dan suara setengah berteriak yang menyusulnya, seakan-akan menjadi penyelamat bagi Bagio, agar tidak merasa terlalu kikuk lagi.


"Juno! Apa yang kamu lakukan?" Rekan sekamar Bagio yang tadinya sempat keluar dari kamar, terlihat kembali masuk ke dalam kamar itu.


Menurut penilaian Bagio, rekan sekamarnya, selain Juno itu, raut wajahnya tampak kesal, ketika melihat situasi di dalam kamar.


Saat itu juga, Juno berdiri dan berjalan menjauh dari Bagio, sambil berkata,


"Aku hanya mau berkenalan dengannya. Dia sudah lama tinggal di sini, tapi aku nggak tahu namanya."


"Lalu kamu harus duduk di dekatnya, sedangkan dia belum pakai baju?" tanya lawan bicara Juno.


"Suka-suka aku lah! Nggak usah terlalu banyak bacot!" Suara sahutan dari Juno, terdengar seolah-olah tidak perduli akan pendapat dari teman atau pacarnya itu.


Entah sedang sial apa Bagio hari ini, lalu masih sepagi itu, dia sudah harus terlibat dalam situasi yang canggung dan seaneh itu.


Karena menurut Bagio, kalau Juno dan rekan sekamar Bagio yang satunya lagi itu berpacaran, maka saat ini, pacar Juno itu mungkin sedang merasa cemburu, dan Juno malah bertingkah masa bodoh.


Sialnya lagi, Bagio malah seolah-olah akan jadi terikut-ikut di dalam permasalahan mereka berdua.


Kalau mereka memang akan bertengkar, silahkan saja, asalkan bagio tidak ada di situ, dan ikut dijadikan korban, karena Bagio sama sekali tidak mau terlibat di situ.

__ADS_1


Bagio yang membelakangi kedua orang itu, benar-benar tidak mau tahu akan percakapan mereka yang masih berlangsung, dan lanjut memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa, agar bisa cepat pergi dari kamar itu.


__ADS_2