Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 37


__ADS_3

Dengan berjalan pelan, Bagio membaca satu persatu papan penanda, yang ada dan terpasang di setiap pintu ruang perawatan, di lantai dua di rumah sakit itu.


Bagio mencari nama ruangan, yang sesuai dengan yang dituliskan Hana di dalam pesan WhatsApp, sampai akhirnya dia menemukannya, dan segera masuk ke dalam ruang perawatan itu.


Di atas ranjang rumah sakit, Dirga tampak terbaring, dengan selang infus yang terpasang di punggung salah satu tangannya.


Kelihatannya, Dirga masih belum sadarkan diri, atau mungkin saja dia sedang tidur.


Tidak ada Andi di dalam ruang perawatan Dirga itu, ketika Bagio melayangkan pandangannya ke segala penjuru arah, menyisir semua area di dalam ruangan itu.


Tapi ada orang lain di sana.


Orang yang tidak dikenali oleh Bagio, yang sedang duduk di kursi sambil menatap Bagio, dengan tatapan heran.


Bagio berjalan menghampiri orang itu, dan orang itu segera berdiri dari tempat duduknya, ketika Bagio mengulurkan sebelah tangannya untuk bersalaman.


Tanpa terlihat ragu, orang itu lalu menyalami tangan Bagio.


"Hai! ... Namaku Bagio! ... Aku temannya Dirga di Dorm!" kata Bagio, yang menyapa dan memperkenalkan dirinya sendiri lebih dulu.


"Ooh ...! Jadi kamu yang menolong Dirga semalam? ... Aku manajernya. Namaku, Ben."


Orang yang bernama Ben itu, tampak memasang raut wajah tenang, setelah Bagio memperkenalkan dirinya.


"Silahkan duduk dulu!" Orang itu bergeser sedikit, seolah-olah memberikan kesempatan kepada Bagio, agar bisa mengambil kursi yang masih kosong.


"Terima kasih! Karena bantuanmu, hingga Dirga bisa cepat tertolong," ucap Ben, ketika Bagio sudah duduk, dan dia juga duduk di kursi yang bersebelahan dengan Bagio.


"Nggak jadi masalah. Kebetulan aku tiba-tiba terpikir akan keadaannya, makanya aku sampai pergi memeriksanya di kamarnya," kata Bagio.


"Bagaimana kata dokter tentang keadaan Dirga sekarang ini?" lanjut Bagio.


"Hmm ... Katanya tadi sih, kondisinya sudah mulai membaik. Tadi, Dirga memang sudah sempat terbangun sebentar," jawab Ben.


Masih ada pertanyaan yang terpikir di kepala Bagio, dan rasanya Bagio tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepada Ben.


"Apa aku boleh tahu? Apa yang terjadi dengannya? Kemarin pagi, aku sudah bertanya, tapi dia nggak mau menjawabnya....


... Katanya, nanti saja dia ceritakan. Tapi karena aku yang bekerja seharian, aku jadi lupa untuk menemuinya lagi," ujar Bagio.


"Kecelakaan kerja," ujar Ben.


Bagio kebingungan mendengar jawaban dari Ben, hingga Bagio menatapnya lekat-lekat, berharap agar Ben mau menjelaskannya, tanpa Bagio perlu bertanya lagi.


"Di peragaan busana kemarin dulu, terjadi kekacauan di belakang panggung. Dirga terjatuh, dan mungkin dia terinjak-injak oleh orang-orang di sana....

__ADS_1


... Aku juga nggak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya. Hanya itu saja yang aku dengar, karena aku saat itu sedang berada di luar," lanjut Ben.


Dari apa yang bisa dilihat Bagio, kelihatannya, dari raut wajahnya, Ben tampak sangat menyesalkan apa yang terjadi kepada Dirga.


Tapi yang lebih menarik perhatian Bagio, adalah kecelakaan yang dialami oleh Dirga.


Bagaimana bisa, sampai Dirga bisa terinjak-injak oleh orang lain?


Bagaimana cara kerjanya di tempat Dirga bekerja itu, hingga bisa ada kejadian seburuk itu?


Sampai-sampai Dirga terluka cukup parah di wajahnya.


Apa orang-orang yang menginjaknya, tidak menyadari keberadaan Dirga di kaki mereka?


Lalu....


"Apa Dirga nggak langsung dibawa ke rumah sakit?" tanya Bagio, mengutarakan apa yang sedang dia pikirkan.


"Aku sudah membawanya ke dokter, tapi pemeriksaannya dilakukan secara terburu-buru, karena Dirga tidak mengeluhkan bagian lain dari badannya yang sakit....


... Karena itulah, Dirga hanya diperiksa dan diobati luka di bagian wajahnya saja....


... Makanya nggak ketahuan, kalau dia ternyata juga mengalami luka dalam, di bagian dada dan perutnya. Sampai akhirnya, jadi seperti ini keadaannya sekarang," jawab Ben.


Ben lalu terlihat memandangi Dirga, dengan alisnya yang tampak hampir terpaut antara satu sama lain, hingga membentuk lipatan-lipatan yang dalam di keningnya.


... Aku benar-benar nggak menyangka, kalau kondisinya ternyata cukup buruk," lanjut Ben, dengan suaranya yang terdengar bergetar, seolah-olah dia sedang menahan tangis, atau dia sedang merasa sangat frustrasi.


"Kalau begini keadaannya, apa ada tanggung jawab dari penyelenggara peragaan busananya?" tanya Bagio penasaran.


"Mereka hanya memberikan sedikit uang, bersama dengan permohonan maafnya....


... Jumlah uang yang sama sekali nggak seberapa, jika dibandingkan dengan kerugian yang dialami oleh Dirga," jawab Ben.


"Tapi tidak ada yang bisa dilakukan. Dan mau nggak mau, hanya bisa dibiarkan begitu saja," lanjut Ben, lalu tampak mengeraskan rahangnya.


Bagio masih belum banyak mengerti dengan cara kerja di dunia permodelan. Jadi Bagio tidak bisa berkata apa-apa, untuk menanggapi perkataan Ben barusan.


Bagio hanya bisa mendengarkannya saja, tanpa bisa berkomentar banyak.


Bagio kemudian menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Maafkan aku, yang mungkin terlalu banyak bertanya ... Tapi bagaimana dengan keluarga Dirga? Apa mereka sudah tahu akan keadaannya?" tanya Bagio, hati-hati.


Bagio juga memang merasa penasaran, karena Dirga yang hanya dijaga oleh manajernya, tanpa ada orang lain atau anggota keluarga bersamanya.

__ADS_1


"Orang tua Dirga sudah aku beritahu tadi pagi. Tapi mereka tinggal di luar negeri. Mungkin besok pagi, baru orang tuanya tiba di sini," jawab Ben.


Bagio lalu memandangi Dirga, yang bagian wajahnya meskipun masih terlihat pucat, namun bekas luka lebamnya tampak sudah mulai berkurang.


Membayangkan bagaimana rasanya badan Dirga yang sudah kurus kerempeng, lalu diinjak-injak oleh orang-orang, sanggup untuk membuat bulu kuduk Bagio jadi meremang, berdiri tegak.


Bagio sama sekali tidak pernah membayangkan, kalau pekerjaan menjadi seorang model, memiliki resiko kerja seperti itu.


Sambil berpikir, Bagio meremas tangannya yang terkepal, dan saat itu juga Bagio tersadar kalau kantong plastik yang berisi buah, masih dipegangnya di tangan kirinya.


"Eh! Ben! ... Aku hampir lupa. Ini tadi dititipkan oleh Hana, manajerku," ujar Bagio, sambil menyerahkan kantong plastik kepada Ben.


"Ooh ... Jadi kamu bekerja dengan Hana?" tanya Ben, sambil menerima kantong plastik dari tangan Bagio, dan lanjut berucap,


"Terima kasih ... Maaf, karena sudah merepotkanmu saja."


"Nggak apa-apa. Nggak perlu terlalu dipikirkan," sahut Bagio.


"Sudah berapa lama kamu di agensi Madam Sally?" tanya Ben.


"Baru saja. Belum sampai dua bulan," sahut Bagio.


"Benarkah?"


Setelah mengutarakan keterkejutannya, Ben lalu tampak melihat ke arah Dirga untuk sesaat, sebelum dia kembali melihat ke arah Bagio, kemudian bertanya lagi.


"Berarti kamu baru saja berkenalan dengan Dirga?"


Bagio menganggukkan kepalanya. "Kurang lebih seperti itu. Aku berkenalan dengannya, di hari pertama aku tinggal di Dorm."


"Sudah pernah syuting iklan atau ditawari main film?" tanya Ben.


"Belum," jawab Bagio.


"Hana baru saja mencoba mengusahakan, agar aku bisa ikut casting untuk syuting iklan. Walaupun dia juga masih ragu, karena belum banyak yang aku pelajari dari Miss Zetty," lanjut Bagio.


Ben tampak seperti orang kebingungan sambil menatap Bagio, dan dia juga seolah-olah menunggu penjelasan lebih jauh dari Bagio.


"Aku benar-benar baru saja terjun di dunia modeling. Sebulan kemarin, aku baru di karantina. Dan baru beberapa hari ini, aku mulai bekerja," kata Bagio.


Ben lalu tampak manggut-manggut mengerti. "Ooh...!"


***


Bagio masih lanjut berbincang-bincang sebentar dengan Ben, tentang pekerjaan, sebelum akhirnya Bagio merasa kalau malam sudah mulai larut.

__ADS_1


Bagio sudah harus kembali ke Dorm, karena masih harus menyempatkan diri untuk berolahraga, sebelum dia berisitirahat.


Dan dengan begitu, Bagio segera berpamitan kepada Ben, dan beranjak pergi dari rumah sakit.


__ADS_2