
Perasaan, waktu mereka melakukan latihan tadi, sampai ke gladi bersih, tidak ada adegan meraba-raba yang berlebihan.
Tapi kenapa, saat proses syutingnya sudah berlangsung, seluruh bagian dada Bagio, tidak yang lolos dari sasaran tangan ML, yang meraba-raba dan sedikit meremasnya.
Bukan hanya dadanya saja, bahkan sampai di bagian perut Bagio, dan nyaris ke bagian bawah perutnya.
Jika tangan Citra yang meraba-raba sampai ke bagian paha Bagio, tentu Bagio tidak akan melarangnya, dan kemungkinan, Bagio malah justru bisa menikmatinya.
Tapi saat ML yang melakukannya, Bagio benar-benar merasa jijik dan ternodai, sampai-sampai rasanya, Bagio akan menampar ML saat itu juga.
Bagio merasa sangat sebal, dan kesulitan untuk bersikap profesional, padahal Bagio diwajibkan untuk tetap tersenyum, dan seolah-olah dia sedang berbahagia dengan pacarnya.
Karena merasa sudah tidak tahan lagi, Bagio lalu meminta pada sutradara, agar proses perekaman yang mengambil adegan yang ada dirinya, dihentikan sementara.
Bagio memang butuh waktu, sampai dia bisa mengendalikan emosinya.
"Maafkan aku," kata Bagio. "Tapi aku harus ke toilet sebentar."
Tentu saja, itu hanyalah alasan Bagio, namun sang sutradara mau menyetujui permintaan Bagio, untuk beristirahat sebentar.
Bagio lalu memanggil Hana, agar ikut dengannya ke toilet, dan Hana juga mau saja menuruti permintaan Bagio.
"Ada apa?" tanya Hana, yang tampak kebingungan melihat tingkah Bagio. "Nggak biasanya kamu seperti ini."
"Kamu tahu nggak? ML itu meremas dadaku, lalu jempolnya menggosok-gosok p*ting ku!" ujar Bagio, geram.
"Di waktu adegan dia yang duduk, lalu aku berdiri, aku rasa dia sengaja menekan anu ku dengan pipinya," lanjut Bagio.
Untuk meyakinkan Hana, Bagio bicara sambil menunjuk di bagian depan ritsleting celananya, yang terlihat ada bekas dari bedak yang dipakai ML.
"Tangannya juga meraba-raba perutku. Aku geli, tahu?!" kata Bagio lagi, yang memang hampir hilang kesabarannya.
"Kamu nggak 'terpancing', kan?!" ujar Hana, seolah-olah sedang mengejek Bagio, yang hanya membuat Bagio makin geram.
"Ya, enggaklah!" sahut Bagio, ketus.
"Huuufft ...!" Hana mendengus pelan. "Terus, mau bagaimana lagi?"
"Kamu nggak mungkin minta pembatalan kontrak, cuma gara-gara tingkah usilnya, kan?!" kata Hana, memberi Bagio pertimbangan.
Bagio akhirnya terdiam untuk beberapa saat.
"Kecuali kamu mau membayar penalti, mau nggak mau kamu harus lebih bersabar saja," kata Hana, pelan.
Penalti?
Dari mana Bagio bisa dapat uang secepat itu, untuk membayar uang ganti rugi?
Nilai kontraknya saja sudah besar.
Sedangkan penalti untuk pembatalan kontrak, berarti Bagio harus membayarnya, dengan jumlah minimal dua kali lipat dari nilai kontrak yang asli.
"Huuufft...!" Kali ini, Bagio yang mendengus kasar.
Tidak ada yang bisa Bagio lakukan.
Bagio tidak mau membuang-buang uang hasil kerjanya, hanya untuk membayar penalti.
__ADS_1
"Kalau saranku bisa sedikit membantu, kamu anggap saja, kalau ML itu adalah anak-anak, yang tidak mengerti akan apa yang sedang dia lakukan," lanjut Hana.
"Okay! ... Aku akan mencobanya lagi!" kata Bagio, setelah sempat terdiam untuk sejenak.
***
ML memang brengsek.
Itu kata yang terlintas di dalam kepala Bagio, selama proses perekaman video.
Karena saat Bagio sudah bersikap profesional, tingkah usil ML, justru kelihatannya semakin menjadi-jadi.
Bahkan menurut penilaian Bagio, ML sengaja membuat kesalahan, hingga proses syuting dengan adegan yang menampilkan Bagio dan ML, harus dilakukan sampai berulang-ulang kali.
Alhasil, pekerjaan Bagio untuk perekaman video klip itu, harus berlangsung sampai hampir menjelang tengah malam.
Namun untung saja, syuting itu bisa berakhir, dan tidak perlu melakukan pengulangan di keesokan harinya.
Benar-benar melelahkan bagi Bagio.
Pekerjaan hari itu, sangatlah menguras tenaga dan emosinya.
Sampai-sampai, ketika Bagio kembali ke Dorm, Bagio sudah tidak ada tenaga dan semangatnya lagi untuk berolahraga.
Rasanya, Bagio mau langsung tidur saja, setibanya di Dorm.
Tapi karena badannya yang terasa kotor dan lengket dengan keringat, akhirnya walaupun sudah larut malam, Bagio tetap pergi membersihkan dirinya.
Kamar mandi di dalam Dorm yang menyediakan air hangat, dimanfaatkan Bagio untuk mandi, sebelum dia berisitirahat malam itu.
Ketika Bagio sudah selesai mandi, dan kembali masuk ke dalam kamarnya, kelihatannya ada sesuatu yang berbeda di sana.
Seorang wanita, dengan penampilan yang sangat mirip seperti seorang laki-laki, terlihat sedang asyik duduk di pinggir jendela kamar yang dibiarkannya terbuka.
"Hai, teman sekamar!" sapa wanita itu kepada Bagio, sambil tersenyum.
"Hai!" Bagio balas menyapanya.
"Nggak apa-apa, kan?!" ujar wanita itu, sambil memperlihatkan sebatang rokok yang menyala di tangannya.
Bagio yang mengerti akan maksud wanita itu, hanya memberi persetujuan dengan menganggukkan kepalanya pelan.
Bagio masih mencari baju ganti, ketika wanita itu kembali berkata,
"Namaku Sucitra. Siapa namamu?"
Cukup mengejutkan bagi Bagio, ketika mendengar nama wanita itu, hingga Bagio segera menoleh ke arahnya.
"Bagio ... Namaku Bagio," sahut Bagio, lalu lanjut berpakaian, setelah mengambil baju yang akan dipakainya untuk tidur.
"Kamu memang nggak terlalu mau bergaul, atau kamu hanya nggak mau mengobrol denganku saja?" tanya Sucitra.
Lagi-lagi, Bagio kembali melihat ke arah Sucitra.
Menurut Bagio, Sucitra tampaknya telah salah paham, akan cara Bagio berinteraksi, yang hanya bicara seperlunya saja.
Hingga mungkin saja, Sucitra mengira kalau Bagio adalah orang yang sombong, dan tidak mau bergaul dengannya.
__ADS_1
Sedangkan kalau dilihat-lihat, Sucitra mungkin telah menjadi tambahan rekan sekamar Bagio yang baru, dan tentu Bagio tidak mau bermusuhan dengan wanita itu.
Dengan demikian, walaupun sedikit, Bagio merasa kalau dia mungkin perlu meluruskan penilaian Sucitra akan dirinya.
"Maafkan aku ... Aku masih baru di tempat ini, jadi memang belum terbiasa, untuk mengobrol dengan penghuni yang lain," kata Bagio, beralasan.
"Ooh, begitu ya?! ... Tapi paling nggak, kamu tahu siapa saja yang tinggal sekamar dengan kita, kan?!" ujar Sucitra.
"Aku hanya mengenal salah satunya saja. Sedangkan yang satunya lagi, aku belum tahu namanya," sahut Bagio, lalu duduk di bagian ujung tempat tidurnya.
Sambil berbicara, Bagio melihat Sucitra yang masih asyik menghisap rokoknya, dan menghembuskan asapnya ke luar jendela.
Sucitra sekarang ini, terlihat memakai celana pendek, dan kaos tanpa lengan.
Wanita itu berambut pendek sebatas telinganya, dan bentuk tubuhnya sama seperti model pada umumnya, dengan kulit yang berwarna kuning langsat.
Wajah Sucitra sebenarnya cantik, namun terlihat agak sedikit maskulin.
Sehingga kalau hanya melihatnya sepintas saja, maka orang mungkin akan salah mengira, dan menganggap kalau Sucitra adalah seorang laki-laki.
Sucitra jadi semakin terlihat tomboi, karena cara duduk dan gerak-geriknya, apalagi dengan gayanya yang sedang merokok, dan asap rokok yang mengepul dari mulutnya.
Benar-benar bertolak belakang dengan Citra, yang terlihat feminim dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"Sejak kapan kamu tiba di sini?" tanya Bagio berbasa-basi.
"Sudah sedari tadi. Tapi aku tadi sempat keluar sebentar, pergi membeli rokok," jawab Sucitra.
"Eh! ... Apa kamu mau?" lanjut Sucitra buru-buru, sambil mengangkat sebungkus rokok, yang kemasannya berwarna merah putih dan bertuliskan Marlboro, lalu memperlihatkannya kepada Bagio.
Bagio menggelengkan kepalanya, sambil berkata, "Nggak. Aku nggak merokok."
"Kalau yang ini?" Sucitra lalu memperlihatkan kaleng minuman bergambar bintang, kepada Bagio.
"Apa itu?" tanya Bagio bingung, karena rasanya, Bagio tidak pernah melihat kaleng minuman yang bergambar asing seperti itu.
"Eh ...? Kamu benar-benar nggak tahu?" Sucitra terlihat mengerutkan alisnya, seolah-olah dia tidak percaya, akan apa yang baru saja didengarnya dari Bagio.
Bagio menggelengkan kepalanya. "Nggak."
"Ini, Bir!" ujar Sucitra.
"Alkohol?" tanya Bagio, penasaran.
"Iya," jawab Sucitra.
Sucitra lalu berdiri dari tempat duduknya, kemudian menyodorkan kepada Bagio, satu kaleng bir yang diambilnya dari dalam kantong plastik.
"Aku nggak minum alkohol," kata Bagio menolaknya.
Walaupun Bagio sudah menolaknya, namun Sucitra tampak memaksa, sampai-sampai membukakan kaleng berisi bir itu, lalu tetap menahannya di depan Bagio.
"Coba saja dulu! Kadar alkoholnya juga nggak banyak ... Enak, kok! Apalagi kalau kamu sudah capek bekerja. Ini bisa membantumu, agar bisa tidur nyenyak," kata Sucitra.
Bagio akhirnya menerima kaleng minuman yang sudah terbuka itu, meskipun dia tidak lantas meminumnya, dan hanya memegangnya saja.
"Nggak akan terjadi apa-apa kalau kamu minum itu. Asalkan nggak sering-sering saja kamu meminumnya. Karena bisa-bisa, perutmu nanti jadi buncit," lanjut Sucitra.
__ADS_1
Sucitra yang menatap Bagio lekat-lekat, masih tampak memaksa Bagio, untuk mencoba minuman itu, sampai Bagio mencicipinya sedikit.