
Situasi canggung di tempat itu, masih berlangsung hingga beberapa waktu kemudian.
Baik Citra, Bagio maupun Leon tidak ada yang mengeluarkan suara apa-apa.
Teman-teman Citra yang lain juga bertingkah sama, seolah-olah tidak ada yang ingat bagaimana caranya berbicara antara satu sama lain.
Bahkan Ody yang tadinya komunikatif, juga hanya terdiam dan mengunci mulutnya rapat-rapat.
Yang paling mencolok adalah Leon, yang mungkin saja cemburu pada Bagio, atau dia memang tidak suka saja dengan adanya Bagio di antara mereka.
Sampai-sampai, rasanya mau saja Bagio mengajak Citra pergi saat itu juga, karena tatapan tajam dari mata Leon, yang seolah-olah bisa membuat lubang di wajah Bagio.
Terus terang, Bagio bukan merasa takut, atau merasa terintimidasi dengan gerak-gerik Leon itu, Bagio hanya tidak mau membuat keributan saja, apalagi dengan orang yang baru saja dikenalnya.
Untung saja, sebelum Bagio kehabisan rasa sabarnya karena melihat Leon, yang seolah-olah sedang menantangnya untuk berkelahi, Citra sudah mengajak Bagio pergi dari sana.
"Kami pergi dulu!" ujar Citra kepada teman-temannya di situ.
"Aku sekarang sedang berkencan dengan Bagio, mumpung dia lagi libur. Kami tadi ke sini, rencananya hanya untuk menyapa kalian. Paham saja, kan?!" lanjut Citra lagi.
Teman-teman dari Citra menanggapi perkataan Citra, hanya dengan menganggukkan kepala mereka masing-masing.
"Kenapa kamu buru-buru?" tanya Leon, seolah-olah menahan Citra agar tetap di situ.
"Memangnya kenapa? Suka-suka kami, lah!" sahut Citra sambil berdiri dari duduknya, dan diikuti oleh Bagio yang juga sudah berdiri.
"Kalian pergi saja, Cit! ... Nggak apa-apa." Ody akhirnya ikut bersuara di situ.
"Kalian pasti nggak nyaman memakai pakaian seperti itu, lalu berada di tempat sepanas ini," lanjut Ody.
Ody yang seolah-olah membantu memberikan alasan, agar Leon berhenti memancing keributan itu, juga ikut berdiri, dan tampak ingin mengantar Citra dan Bagio pergi dari situ.
Tanpa berlama-lama lagi, Citra, Bagio dan Ody segera berjalan menjauh dari sana.
"Citra! ... Maafkan aku ... Aku nggak tahu kalau dia akan datang ke sini, karena aku nggak ada mengajaknya," ujar Ody, setelah mereka sudah cukup jauh, dari tempat teman-temannya tadi duduk.
"Nggak apa-apa. Kamu nggak perlu mengantar kami. Nggak mungkin dia berani bertindak lebih jauh, kalau ada di keramaian seperti ini," sahut Citra.
"Okay! Aku kembali ke situ, ya?! Hati-hati di jalan!" kata Ody, lalu berhenti berjalan, dan sempat menyapa Bagio lagi, dengan berkata,
"Bagio! ... Senang bisa berkenalan denganmu. Maaf, karena kita malah bertemu di saat yang kurang tepat."
"Iya. Nggak masalah," sahut Bagio.
Ody kemudian melambaikan tangannya ke arah Citra dan Bagio, sambil dia berjalan kembali ke tempat teman-temannya tadi.
"Maafkan aku," kata Citra, sambil lanjut berjalan pelan bersama Bagio.
"Nggak seharusnya, aku membawa-bawa—"
__ADS_1
Perkataan Citra tidak tersampaikan semuanya, karena tiba-tiba ada dua orang wanita yang menghadang langkah Bagio dan Citra di situ.
"Ternyata memang benar!" ujar salah satu dari wanita itu, yang tampak bersemangat.
"Kak! ... Apa kakak masih ingat denganku? Kemarin, aku meminta untuk berfoto dengan kakak di sini, tapi kakak harus buru-buru pergi....
... Apa hari ini kakak bisa berfoto sebentar denganku?" lanjut wanita itu, dengan suara memelas, sambil menatap Bagio.
Bagio yang kebingungan untuk menjawab apa, lalu melihat ke arah Citra, namun Citra kemudian buru-buru berkata,
"Berfoto saja! Nggak apa-apa. Aku bisa menunggu."
"Iya," kata Bagio, setelah melihat ke arah dua wanita, yang menghadang mereka itu lagi.
Dengan senyum yang mengembang lebar di wajah kedua wanita itu, mereka kemudian bersiap-siap untuk berpose, sambil berdiri berdekatan dengan Bagio.
Kedua wanita itu lalu mengambil foto bersama Bagio secara berganti-gantian, menggunakan ponsel mereka masing-masing.
Sedangkan Citra, tampak bergeser sedikit menjauh dari posisi Bagio dan kedua wanita itu berfoto, dan dia menunggu di situ, sampai Bagio dan kedua wanita itu selesai mengambil gambar.
Meskipun bagio sudah memberi kesempatan, agar kedua wanita muda itu bisa mengambil fotonya bersama mereka, wanita-wanita itu juga masih menyempatkan diri, untuk meminta nama akun media sosial Bagio.
"Terima kasih, kak!" ucap kedua wanita itu secara bersamaan, sambil tersenyum lebar, lalu berjalan menjauh, setelah Bagio berkata, "Sama-sama."
Bagio lalu mengikuti langkah Citra, yang kelihatannya mengarah ke mobil Citra yang terparkir.
"Nggak apa-apa. Bukan masalah yang besar," sahut Citra, yang kemudian berhenti berjalan, karena dia dan Bagio sudah tiba dan berdiri, di dekat mobilnya.
"Aku justru yang belum meminta maaf dengan benar, karena tadi sudah mengaku-ngaku, kalau kamu itu pacarku," lanjut Citra.
Semenjak mereka pergi dari tempat teman-temannya berkumpul tadi, raut wajah Citra sampai sekarang ini kelihatannya tidak berubah sama sekali.
Citra masih tampak lesu, di penglihatan mata Bagio.
"Jadi pacar beneran juga nggak apa-apa," kata Bagio bercanda, sambil tersenyum.
Akhirnya Citra bisa terlihat tersenyum lagi, dan dia lalu berkata,
"Ooh! ... Jadi kamu mau pacaran denganku? Kamu sudah mulai banyak fans, loh!"
"Iya! Tentu saja aku mau jadi pacarmu!" sahut Bagio, yang masih menganggap kalau mereka hanya sedang bercanda.
Citra yang menundukkan pandangannya, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
"Okay! Asal kamu nggak menyesal saja, kalau-kalau kamu nanti bertemu dengan wanita yang jauh lebih cantik dariku....
... Sejak saat ini, berarti kita berdua resmi pacaran," kata Citra, yang sudah kembali mengangkat pandangannya, dan menatap Bagio lekat-lekat.
"Eh ...? Serius?" tanya Bagio kebingungan.
__ADS_1
Citra yang berdiri sambil bersandar di mobilnya, dan berhadap-hadapan dengan Bagio, lalu tampak mengembangkan senyum yang lebar di wajahnya.
Dan tiba-tiba, tanpa aba-aba, Citra lalu mengulurkan kedua tangannya, hingga menggapai kedua pundak Bagio.
Citra lalu menarik Bagio, hingga mendekat kepadanya, dan menahan posisinya tetap seperti itu.
Kali ini, jarak antara wajah Bagio dengan Citra jadi sangat dekat, dan bahkan hidung mereka berdua hampir bersentuhan.
Ada apa ini?
Walaupun panik, Bagio tetap berusaha terlihat tenang di depan Citra, karena kelihatannya Citra hanya ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
"Aku menyukaimu. Bagaimana denganmu? Apa kamu memang mau jadi pacarku atau nggak?" tanya Citra, berbisik di salah satu telinga Bagio.
"A-aku mau jadi pacarmu," jawab Bagio terbata-bata.
Citra lalu mengecup pipi Bagio sekilas, lalu berkata dengan suara berbisik,
"Kita nggak bisa berciuman di sini. Kamu nanti jadi bahan gosip, kalau ada yang melihat dan mengenalimu."
Ckckck! ... Apa sekarang ini Bagio mungkin sedang bermimpi?
Seolah-olah sedang dihipnotis, Bagio yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, hanya berdiri terdiam terpaku di situ.
Bahkan Bagio sampai tidak sadar lagi, kalau Citra ternyata sudah berbalik, dan membuka pintu mobilnya, lalu masuk ke dalamnya.
"Hey!" Suara Citra yang berseru kepadanya, menyadarkan Bagio dari lamunannya. "Apa kamu nggak ikut denganku?"
Bagio lalu buru-buru berjalan ke sisi lain dari mobil Citra, dan ikut masuk ke dalamnya.
Sebelum Citra memasukkan gigi persneling mobilnya, untuk berkendara pergi dari sana, Bagio memberanikan diri untuk bertanya kepada wanita itu.
"Citra! ... Apa kita berpacaran sungguhan?" tanya Bagio, yang ingin memastikan.
Citra yang menoleh ke arah Bagio setelah Bagio memanggil namanya tadi, lalu tampak menatap Bagio lekat-lekat, dan menunda untuk berkendara, walaupun mesin mobilnya sudah menyala.
Tanpa berkata apa-apa, Citra tampak melihat ke sana kemari, seolah-olah sedang memeriksa keadaan di bagian luar di sekitar mobilnya, sebelum dia kembali melihat ke arah Bagio lagi.
"Sini! Mendekat ke sini!" kata Citra, memberi arahan kepada Bagio.
Bagio memiringkan badannya, hingga mendekat ke arah Citra yang duduk di jok supir, di sampingnya.
Dengan cepat, Citra juga mendekat ke arah Bagio, lalu mencium bibir Bagio, hingga beberapa waktu lamanya.
Terang saja Bagio jadi sangat terkejut dengan kejadian itu, tapi Bagio juga harus jujur kalau dia menikmatinya.
Dan rasanya, Bagio tidak mau berhenti begitu saja, walaupun sekarang ini lututnya gemetar hebat, dan jantungnya seakan-akan bisa meloncat keluar dari dadanya.
"Apa sekarang kamu sudah bisa percaya?" tanya Citra.
__ADS_1