Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 55


__ADS_3

Dengan santai, Bagio bersama dengan Citra, berjalan kaki menyusuri jalan perkampungan, yang menuju ke areal persawahan.


Sesekali, Citra menghentikan langkahnya, dan mengambil gambar yang dia inginkan, menggunakan kamera foto yang dibawanya.


Bagio yang sudah hapal letak sawah, dari nama pemiliknya yang disebutkan oleh tetangganya tadi, membawa Citra pergi bersamanya, mengarah langsung ke tempat itu.


Dan dari kejauhan, Bagio bisa melihat Kartono dan satu orang lagi, yang kelihatannya sedang membersihkan gulma, di antara tanaman padi.


Kartono terlihat sedang berbungkuk, dengan kakinya yang terendam lumpur, sampai hampir ke lututnya, dan tampaknya, dia tidak menyadari kedatangan Bagio dan Citra, di situ.


Sampai Bagio sudah berada di dalam jarak yang sangat dekat, barulah Kartono yang memasang raut wajah terkejutnya, lantas terlihat terburu-buru, beranjak keluar dari lumpur sawah.


Dengan cepat, Kartono menghampiri Bagio, lalu menyapa Bagio, dengan berkata,


"Bagio?! ... Kapan kamu tiba di sini?"


"Baru saja," jawab Bagio, lalu memperkenalkan Citra, yang berdiri di sampingnya. "Namanya Citra ... Temanku dari kota."


"Maaf, Non! ... Tanganku kotor!" kata Kartono, sambil memberi salam, walau hanya dengan mengangkat kedua tangannya sedikit, dan mempertemukan kedua telapak tangannya itu


"Ooh! ... Nggak apa-apa, Mas!" sahut Citra, sambil memberi salam, dengan cara yang sama seperti Kartono.


"Namaku Kartono," lanjut Kartono, memperkenalkan dirinya sendiri.


"Namaku Citra," sahut Citra, yang ikut memperkenalkan ulang, dirinya sendiri.


"Untung saja kamu pulang! Aku nggak tahu bagaimana caranya memberitahumu," kata Kartono kepada Bagio.


Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi, ketika Bagio tidak sedang berada di kampung, sehingga bisa membuat Kartono menjadi terlihat gusar sekarang ini, saat berhadap-hadapan dengan Bagio.


"Kenapa?" tanya Bagio, yang kebingungan.


"Kamu bakalan lama di sini?" Kartono balik bertanya, hingga membuat Bagio jadi penasaran.


"Nggak. Paling lambat, sore nanti kami sudah harus kembali ke kota. Karena besok aku harus bekerja lagi," jawab Bagio. "Memangnya ada apa?"


"Tunggu sebentar!" Kartono yang tidak segera menjelaskan kepada Bagio, hanya membuat Bagio jadi semakin penasaran saja.


Walaupun demikian, Bagio tetap menunggu Kartono yang berbalik, dan menemui orang yang bekerja bersamanya di sawah itu.


Kartono terlihat berbincang-bincang sebentar, dengan orang yang masih berdiri di dalam lumpur sawah itu.


Sampai akhirnya, orang yang bekerja bersama Kartono itu, terlihat menganggukkan kepalanya, dan Kartono lalu kembali menghampiri Bagio.


"Kita bisa bicara di pondok itu saja. Tapi...."


Kartono yang terlihat ragu untuk berbicara, akhirnya hanya terdiam, dan tidak meneruskan kalimatnya, sambil melirik ke arah Citra.


Bagio yang mengerti akan maksud dari Kartono, yang kemungkinan besarnya, merasa ragu untuk berbicara, karena adanya Citra di situ.


Bagio kemudian melihat ke arah Citra, lalu berkata,


"Citra! ... Apa kamu masih mau di sini? Atau kamu mau kita kembali ke rumahku tadi?"


"Hmm ... Nggak apa-apa kalau aku di sini dulu? Aku mau berjalan-jalan, sambil melihat-lihat," sahut Citra.


"Oh! Okay! ... Aku akan berbincang-bincang sebentar dengan Kartono. Nggak apa-apa, kan?!" ujar Bagio memastikan.

__ADS_1


"Iya ... Silahkan saja! Aku juga tidak akan pergi terlalu jauh," kata Citra, lalu berjalan pergi dari situ.


Setelah kepergian Citra, segera Bagio dan Kartono pergi ke pondok sawah yang ada di dekat situ, lalu duduk di lantai pondok, dengan kaki yang bergantung ke luar dari lantai.


"Kacau! ... Benar-benar kacau!" ujar Kartono, yang terlihat sangat gelisah.


"Ngomong yang baik! Aku mana ngerti, kalau kamu bicaranya seperti itu!" sahut Bagio.


"Ayahnya Sarimunah ... Dia nggak bayar setoran pegadaianmu, tiga bulan belakangan ini," kata Kartono, yang sontak membuat Bagio sangat terkejut.


"Bagaimana ceritanya? Aku sudah menitipkan uang, untuk dua kali setoran. Seharusnya cuma bulan ini saja yang belum dibayar," ujar Bagio, kebingungan.


"Itu dia! Aku juga nggak mengerti. Uang yang kamu titipkan padaku untuk satu kali setoran, sudah aku berikan padanya. Ditambah lagi dengan uangku, untuk menutupi setoran bulan ini....


... Tapi, beberapa hari yang lalu, ada pegawai dari pegadaian datang ke rumahmu, dan hampir menyegel rumah itu, juga sawahmu," kata Kartono.


Bagio mengerutkan alisnya, sambil memijat-mijat keningnya, karena kepalanya tiba-tiba terasa sedikit pusing dan sakit.


"Aku diberitahu oleh tetangga sebelah rumahmu, waktu pegawai pegadaian itu datang, dan mencarimu sebagai pemilik rumah....


... Aku nggak bisa berbuat banyak. Jadi, aku cuma minta tolong, agar mereka mau mengulur waktu, biar aku bisa membayarnya sedikit-sedikit," lanjut Kartono, menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan ayahnya Sarimunah? Apa kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Bagio.


"Sudah! ... Waktu pegawai pegadaian datang, ayahnya Sarimunah nggak muncul di rumahmu. Tapi, aku pergi menyusul ke rumahnya....


... Keluarga itu memang brengsek. Katanya nanti mereka ganti uangnya. Karena nggak sengaja terpakai, untuk membeli sesuatu," kata Kartono.


"Yang jadi masalahnya, kapan mereka bisa menggantinya?


... Sedangkan dari pegadaian, hanya memberi sedikit waktu untuk pelunasan, sebelum mereka menyita rumah dan sawahmu," lanjut Kartono lagi.


Bagio menghitung-hitung, dan mengira-ngira apa yang harus dia lakukan, agar rumah dan sawahnya, tidak disita oleh pegadaian.


Gaji yang diterima Bagio, memang bisa untuk melunaskan lima kali setoran hutang yang tersisa di pegadaian.


Walaupun jika demikian adanya, maka Bagio tidak akan memiliki sisa uang sama sekali. Namun Bagio tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.


Akan tetapi, itupun kalau setorannya tidak ditambah dengan uang denda, yang biasanya ada, karena keterlambatan pembayaran.


Dan jika ada dendanya, tentu uang yang dimiliki oleh Bagio sekarang ini, masih belum cukup untuk melunaskan hutangnya itu.


Yang ikut menjadi masalah tambahan, hari ini adalah hari Minggu, dan tentu saja kantor pegadaian sedang tutup, jadi Bagio tidak bisa berurusan langsung di sana.


Ditambah lagi, uang Bagio tersimpan di dalam bank.


Bagaimana caranya, dia bisa mengeluarkan uang tunai sebanyak itu, di kampung seperti ini? Yang setahu Bagio, tidak ada yang menyediakan mesin anjungan tunai mandiri.


Bagio mungkin bisa mentransfernya saja, tapi ke dalam rekening siapa?


"Kartono! Apa kamu sudah ada rekening bank?" tanya Bagio.


"Eh! Nggak ada ... Uangku belum sebanyak apa, sampai harus aku menyimpannya ke bank," sahut Kartono. "Kamu sudah ada uang?"


"Aku baru bulan ini bisa terima gaji. Tapi, aku nggak tahu cukup nggaknya, untuk melunaskan sisa hutang. Juga untuk mengganti uangmu," jawab Bagio.


"Kamu nggak usah mikirkan uangku. Bukan itu masalah utamanya. Kita fokus di pelunasannya saja dulu. Karena aku nggak tahu, bagaimana cara mengatasinya sendiri," sahut Kartono.

__ADS_1


"Huuufft...!" Bagio mendengus kasar, karena dia yang juga belum bisa menemukan solusi yang tepat, untuk masalahnya itu.


"Ini gara-gara keluarganya Sarimunah. Mereka yang sudah merugikanmu," kata Kartono, menggerutu, dan tampak sangat kesal.


"Bagaimana menurutmu? Kamu mau nggak, kalau kita sama-sama mendatangi rumah Sarimunah? Aku bisa berhenti bekerja dulu, hari ini....


...Karena kamu yang berhak, untuk menuntut ayahnya Sarimunah. Kalau aku yang datang sendiri seperti waktu itu, mereka malah hanya menertawakanku....


... Kelakuan mereka yang merugikanmu, sudah berkali-kali mereka lakukan. Nggak bisa, mereka dibiarkan begitu saja," lanjut Kartono, panjang lebar.


Bagio memandangi Citra yang terlihat sedang asyik mengambil gambar dengan kamera fotonya, walaupun di areal persawahan itu terasa sangat panas, karena teriknya sinar matahari.


Sebenarnya, Bagio hanya melihat Citra sekedar saja, dan tidak benar-benar memperhatikan gerak-geriknya, ataupun memikirkan sesuatu tentang Citra.


Namun Kartono mungkin telah salah menduga, dan mengira kalau Bagio sedang tenggelam dalam pikirannya tentang Citra.


"Apa akan jadi masalah kalau dia tahu, akan apa yang terjadi?" tanya Kartono.


"Eh! Maksudmu, apa?" tanya Bagio.


"Citra ... Teman barumu itu," jawab Kartono.  "Apa kalian cuma berteman?"


"Aku berpacaran dengannya ... Belum lama," jawab Bagio.


"Wah! Hebat! ... Kamu bisa punya pacar bule! Cantik pula!" ujar Kartono, dengan nada suaranya yang bersemangat.


"Aku sampai nggak terlalu memikirkan, tentang wanita yang secantik Citra, yang bisa kamu bawa pulang....


... Gara-gara terlalu fokus dengan urusan pegadaian, dan ayahnya Sarimunah," lanjut Kartono, sambil menggelengkan kepalanya.


Untuk beberapa waktu lamanya, Bagio dan Kartono, hanya terdiam di situ.


Dan tiba-tiba, Kartono lalu tampak seperti tersentak, seolah-olah ada sesuatu yang mengejutkannya.


"Bagio! ... Kalau memang nggak masalah, meski Citra tahu tentang hutangmu. Bagaimana kalau kita ke rumah Sarimunah sekarang?


... Kamu bawa Citra ke sana. Biar sakit, mata Sarimunah dan keluarganya, melihatnya." Kartono terlihat benar-benar geram, dengan Sarimunah beserta anggota keluarganya.


Bahkan kelihatannya, Kartono memang lebih bersemangat daripada Bagio, untuk membalas dendam kepada Sarimunah.


"Citra sudah tahu, tentang aku yang masih memiliki hutang. Tapi, apa sekarang waktu yang tepat untuk mengajak Citra?


... Bagaimana nantinya? Kalau-kalau ada anggota keluarga Sarimunah, yang malah membuat keributan, saat aku membahas masalah uang setoran," ujar Bagio.


"Ah! Bodo amat!" sahut Kartono, ketus.


"Kalau nanti mereka memang bersikap buruk, yang akan malu, tentu mereka sendiri. Nggak mungkin Citra akan menyalahkanmu," lanjut Kartono.


Bagio lalu terdiam untuk sejenak, sambil berpikir.


Sebenarnya, kalau Bagio memang akan pergi ke rumah Sarimunah, walaupun dia tidak berniat untuk memamerkan Citra, tetap saja Bagio akan membawa Citra bersamanya.


Karena Bagio tidak mungkin meninggalkan Citra sendirian saja. Sedangkan tidak ada satupun warga, yang dikenal oleh Citra di kampung itu, selain Kartono, yang juga akan ikut bersama Bagio.


"Begini saja! ... Terserah, kalau kamu mau membawa Citra ke sana, atau nggak. Yang pastinya, kamu tetap harus mendatangi ayah Sarimunah....


... Nggak mungkin kamu mau memaafkan, kelakuan buruk mereka lagi, kan?! Percuma kamu sampai jauh-jauh merantau ke kota! Kalau ujung-ujungnya, mereka masih saja meremehkanmu."

__ADS_1


Kartono seolah-olah memang tidak mau menyerah begitu saja, dan tetap berusaha meyakinkan Bagio, untuk berkonfrontasi dengan keluarga Sarimunah.


__ADS_2