Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Sulit Melupakanmu


__ADS_3

Malam ini, rembulan dan bintang tak menampakkan cahayanya, seakan bersembunyi di balik awan. Mereka enggan hadir walau hanya sekedar menerangi jiwa yang sedang gundah.


Rintik hujan yang mulai terdengar di telinga pun kini semakin riuh. Perlahan namun pasti, rintik itu berganti menjadi tetesan air deras membasahi alam yang sunyi tak berpenghuni.


Nasyra duduk di meja belajar sembari memandangi foto seorang lelaki. Lelaki yang pernah hadir dan mengisi jiwanya untuk pertama kalinya. Ia juga memberi kesan pertama cinta yang sangat menyakitkan baginya.


Aku salut pada hatiku yang begitu tangguh ini, sesakit apapun perih yang kurasa, aku masih tegar di sini menjalani kehidupan normal layaknya manusia biasa, batin Nasyra. Lagi-lagi ia menjatuhkan bulir-bulir hangat dari matanya yang sejak tadi sudah menggenang tak tertahan.


Fano Ardiansyah, lelaki berkulit sawo matang, berperawakan tinggi, mempunyai potongan rambut yang rapi, alisnya juga tebal. Serta hidungnya yang mancung semakin membuat lelaki itu tampak sempurna.


Usianya dua puluh lima tahun, lebih tua dari Nasyra lima tahun. Dia seseorang yang begitu perhatian, lembut tutur katanya dan sopan perilakunya.


Namun, kejadian satu bulan yang lalu mengubah pandangan Nasyra terhadapnya. Kebaikannya bahkan sudah tertutup oleh satu kesalahan besar yang ia lakukan pada gadis itu.


Aku lelah ... lelah sekali. Ini sungguh menyiksa. Sampai kapan bayangmu selalu menghantuiku, Kak? Semakin aku berusaha melupakanmu, aku justru semakin mengingatmu, mengingat semua kenangan tentang kita.


Nasyra beranjak dari kursi lalu menuju tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya yang sudah cukup lelah, lalu menarik selimut untuk menghangatkannya dan memeluknya dalam pilu.


Memejamkan mata akan membantunya untuk melupakan sejenak tentang Fano, tentang semua kenangannya yang masih melekat dalam benak Nasyra.


Dini hari, Nasyra mendengar suara ponselnya berdering lama, nyawa dan raganya masih enggan bergeser dari posisi ternyaman. Ia meraih benda pipih itu dari nakas samping tempat tidurnya dengan malas.


“Halo ...,” sapa Nasyra setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


“Hai, apa kabar?”


Suara lelaki itu memekik telinga pada pukul 04.00. Nasyra kembali mengerjapkan matanya untuk melihat layar di ponselnya. Memastikan apakah suara yang didengarnya betul-betul nyata atau hanya mimpi.


“Si—siapa?” tanya Nasyra gugup dengan nada terbata-bata.

__ADS_1


Ia menarik nafas panjang dan bangun perlahan, ia lalu duduk bersender. Nasyra sangat hafal dengan suara lembut itu, hanya saja ia memilih berpura-pura tidak mengenalnya. Nasyra berusaha bersikap normal dan sewajarnya.


“Secepat itukah kau melupakanku Nasyra Arreta?!” .


Mana mungkin aku bisa melupakanmu Kak, tidak semudah itu rasa ini akan hilang, tapi aku tetap harus berusaha, batin Nasyra.


“Maaf, nomornya tidak tersimpan di kontakku," ucap Nasyra berkelit.


Ia menghindari percakapan yang takutnya akan semakin jauh, ia berpura-pura tak memedulikannya, agar Fano berhenti mencarinya.


“Rara ... tolong jangan berpura-pura lagi. Mustahil jika secepat itu kau bisa melupakanku," sahut Fano dari sambungan telepon.


Memang selama ini hanya Fano yang memanggilnya dengan sebutan 'Rara'.


“Jangan ganggu aku lagi!” perintah Nasyra menahan isak tangis, menahan perih rasa sakit yang masih dirasanya.


Ya Tuhan, sakit sekali ini. Dadaku seperti tertusuk tombak yang menembus begitu dalam ke hati. Aku akui, aku sangat merindukannya, merindukan kasih sayang darinya. Namun, aku tidak bisa memaksa, rasa itu sungguh haram bagiku untuk kumiliki. Nasyra lagi-lagi tak mampu berucap, ia hanya memilih menahan tangisnya.


Tanpa berpamitan, Nasyra langsung menutup teleponnya. Ia mematikan ponselnya untuk beberapa jam ke depan.


Setelahnya, ia akan mengganti nomor HP-nya lagi. Sudah ke empat kalinya ia mengganti nomornya, tetapi Fano masih tetap bisa melacaknya. Entah dari mana dia mencari tau, selalu saja ia berhasil menemukan Nasyra.


...***...


Setelah lulus SMA, Nasyra berkerja di sebuah restoran di mana ia pertama kali berkenalan dengan Fano. Fano seorang manajer di restoran itu, semakin lama mereka semakin akrab hingga akhirnya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Ya, mereka memang saling mencintai satu sama lain.


Selama hampir dua tahun tidak pernah ada masalah besar dalam hubungan Fano dan Nasyra. Hanya saja hubungan mereka memang tidak ada yang mengetahui.


Fano melarang Nasyra untuk mengatakan kepada siapa pun. Bisa di bilang mereka backstreet, menjalani hubungan secara diam-diam.

__ADS_1


Hingga terjadilah badai besar yang membuat Nasyra hampir gila, badai itu sudah menghancurkan cinta yang selama ini mereka bangun dengan kebahagiaan.


.


.


Bersambung...


 


...Hay, reader baik...


...tolong tinggalkan jejak ya.. ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2