Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Bertemu Mantan Terkasih


__ADS_3

Dentingan ponsel dari tas Allena mengejutkannya, ia segera merogoh dan menggeser gambar hijau di layar ponselnya.


“Ya, sayang. Aku sudah selesai, aku ke depan sekarang,” cakap Allena sambil berjalan dengan langkah pasti.


Tak lama, Allena sampai di tempat parkir. Fano tampak berdiri bersender di mobilnya menunggu Allena keluar dari salon.


Begitu takjubnya saat Fano memperhatikan penampilan Allena dari atas sampai bawah yang tak biasa. Ia terpaku, netranya tak berkedip memandang wanita yang berjalan ke arahnya itu. Dulu, lima tahun yang lalu, Fano terbiasa dengan penampilan seksi Allena, namun sejak ia tak pernah lagi mengenakan baju seksinya, justru Fano merasa terkesima saat ia mengenakannya lagi.


Wanita itu memakai gaun berwarna navy yang berbahan brokat, detail gaun itu tampak indah melekat di tubuhnya yang ramping. Bagian bawahnya sedikit mengembang dan mempunyai belahan di bagian kiri mencapai pahanya. Juga di bagian bahu yang terbuka namun menyisakan kain pada lengannya.


“Kenapa melihatku seperti itu, sayang? Apa aku terlalu cantik?” tanya Allena dengan nada centil.


Sial! Kenapa dia sangat cantik! batin Fano.


“Kita sudah terlambat, sebaiknya cepatlah naik!” perintah Fano tak memedulikan perkataan Allena dan berpura-pura dingin.


Allena pun masuk ke mobil dengan senyumannya yang sedari tadi terukir jelas. Raut wajahnya tak dapat ia sembunyikan bahwa saat ini, ia sedang sangat bahagia.


...***...


D’Lato Cafe.


Fano berjalan beriringan dengan Allena. Tangannya melingkar pada lengan suaminya. Mereka berjalan dan menyapa beberapa orang di dalamnya. Fano pun kemudian menghampiri sang pemilik kafe yang mengundangnya untuk mengucapkan selamat. Sambil berbincang-bincang dengan lelaki di depannya, Fano juga mengenalkan Allena sebagai istrinya.


Beberapa saat kemudian, tibalah saatnya untuk acara di mulai, tetapi tiba-tiba saja ada tamu yang datang terlambat. Dari kejauhan, semua memperhatikan pintu masuk tersebut, karena penasaran siapakah tamu yang baru datang itu.

__ADS_1


Tanpa di duga, Nasyra dan Rama hadir dalam satu acara yang juga di hadiri oleh Fano. Sebagai sepasang suami istri, mereka juga mengenakan pakaian yang serasi dengan warna yang senada. Nasyra tampak elegan dan anggun saat berjalan berdampingan dengan menggandeng tangan suaminya itu.


Hah?! Nasyra? Apa betul itu, dia? Tapi ... siapa lelaki di sampingnya itu?


Nasyra berjalan perlahan memasuki ruangan tersebut, matanya juga tak sengaja melihat ke arah Fano. Membuat netra keduanya saling tatap dan tak berhenti memperhatikan satu sama lain.


Dalam hati Fano terus bertanya-tanya tentang siapa pria yang berdiri di samping pemilik hatinya itu.


Berbeda dengan Nasyra, sesekali ia hanya melirik ke arah Fano dan pura-pura tidak mengetahui kehadirannya. Namun, tetap saja netra dari wanita itu ingin mencuri pandang, tatapannya sulit untuk teralihkan dari Fano. Keberadaan Fano di depan matanya sudah berhasil mengusik hatinya.


Fano terus memuji kecantikan Nasyra dalam hati. Ia begitu terpukau, membuat perasaannya semakin menggebu-gebu ingin mendekatinya.


Rama terus menggandeng istrinya menuju ke arah pemilik kafe, yaitu Pak Aditama.


"Kak, kita di sini saja," ajak Nasyra, saat Rama mulai mendekati Pak Aditama yang sedang berdekatan dengan Fano serta istrinya.


Mau tidak mau, Nasyra hanya menurut kata suaminya itu, padahal ia enggan bertemu dengan Fano, mantan kekasihnya itu.


"Pak Aditama! Selamat ya, atas pembukaan kafenya, semoga ke depannya semakin sukses."


"Terima kasih, Pak Rama. Terima kasih juga sudah bersedia datang ke acara grand opening D'Lato cafe.


"Sama-sama, Pak."


Mata Fano tak berkedip, ia terus memfokuskan pandangannya pada Nasyra, hingga Allena merasa heran.

__ADS_1


"Fano, sayang ... kenapa ngelamun sih?" tanyanya, penasaran sambil bergelayut manja di lengan Fano.


"Ah, nggak apa-apa," jawabnya singkat sambil melepaskan tangan Allena yang ada di lengannya, karena ia tak mau Nasyra melihat kemesraan itu.


Rama, lelaki berusia dua puluh sembilan tahun itu menjabat tangan Pak Aditama. Kemudian, bola matanya mengarah pada Fano.


"Sepertinya, saya pernah melihat, Anda. Tapi di mana, ya?"


"Mungkin salah lihat," jawab Fano singkat.


"Ah, ya! saya ingat. Anda bukannya waktu itu yang datang ke restoran istri saya?" tukas Rama.


"Maaf, restoran mana, ya? Saya sering ada janji di berbagai restoran."


"Orched Restoran, Anda pernah ke sana, bukan? saat itu saya bertemu Anda di depan restoran," jelas Rama.


Apa? istri?! Siapa yang di maksud istri olehnya? Apa Nasyra?


Bukannya menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Rama, Fano malah asik melamun dan menimbang-nimbang pikirannya tentang Nasyra. Ia masih belum yakin, jika yang di sampingnya itu adalah suami Nasyra. Ya, mantan terkasihnya kini ternyata juga sudah menikah, menambatkan hatinya pada lelaki lain.


Bersambung .....


...Terima kasih sudah mampir, semoga suka dengan ceritanya, ya....


...Jangan lupa, tinggalkan komen dan like nya....

__ADS_1


...Sekarang hari senin, Vote author juga dong, biar tambah semangat.😁...


__ADS_2